KING PSYCHOPATH

KING PSYCHOPATH
SAH


__ADS_3

Selain Kak Ivar, Gilbert, dan juga Agnes, serta jangan ditanyakan bagaimana ekspresi Molly yang baru saja ikut mendengar perkataan dari Pietro tadi yang sangat mengejutkan pendengar.


Begitu pula dengan Pak Pendeta, dia pun sampai langsung membuka mulutnya karena sangat terkejut mendengar perkataan menyeramkan dari Pietro untuknya.


Kak Ivar yang merasa tidak enak dengan Pak Pendeta, dia langsung saja menegur Pietro.


" Pietro!!!, apa yang kamu katakan!! ",, kata Kak Ivar kepada Pietro.


" Apa?? ",, hanya itu yang keluar dari mulut Pietro kepada Kak Ivar.


Kak Ivar langsung saja menarik nafasnya dengan sangat panjang supaya dia tidak marah dengan tingkah sang adik yang selalu menguras emosi dan kesabarannya.


Sedang Gilbert sendiri dia hanya diam saja karena dia sedang sibuk berusaha mengintip wajah dari wanita yang sedang berdiri disamping Kakaknya.


Tidak cuma Gilbert saja yang penasaran dengan Molly, melainkan Agnes juga, sebab Agnes juga ingin melihat wajah wanita yang mau menikah dengan monster seperti Pietro.


" Sudah Pak Pendeta, segera nikahkan dia, jika tidak Gereja ini bisa dihancurkan sama dia ",, kata Kak Ivar kepada Pak Pendeta.


" Oh, ok-ok baiklah ",, jawab segera dari Pak Pendeta kepada Kak Ivar.


Ketika Pak pendeta akan memulai prosesi pemberkatannya, tiba-tiba saja Gilbert menyelanya.


" Tunggu Pak Pendeta ",, cegah dari Gilbert kepada Pak Pendeta.


Pietro yang mendengar Gilbert berani mencegah upacara pemberkatan pernikahannya, dia langsung saja menatap Gilbert dengan tatapan psikopat mode on.


Sedang Molly sendiri dia masih menunduk karena takut dan juga malu dengan semua orang yang ada disitu.


" Iisssshh siIbet kenapa diganggu sih, itu lihat Itonya sudah siap mau menerkam kamu kan!!! ",, kata Agnes kepada Gilbert.


" Hehehe maaf Kak Pietro, Gilbert cuma mau tanya, ko kita saja yang ada disini, apa Kakak tidak mau mengundang kedua orang tua calon istrinya Kakak begitu?? ",, tanya Gilbert kepada Pietro sambil tersenyum garing.


Kak Ivar yang kelupaan dengan kedua orang tuanya Molly, dia langsung menyetujui perkataannya Gilbert.


" Iya Pietro apakah bukannya lebih baik kita mengundang kedua orang tua dari Molly untuk bisa menyaksikan pernikahan kalian berdua?? ",, kata Kak Ivar kepada Pietro.


" Oh namanya Molly?? ",, kata Gilbert dengan suara pelan.


" Apa??.......... nama dia aneh sekali, Oli kenapa tidak kecap saja yang sama-sama hitam ",, sahut dari Agnes kepada semua orang.

__ADS_1


Gilbert langsung menepuk keningnya dengan gemas mendengar perkataan dari sang Kakak ipar tadi.


Sedang Kak Ivar dia malah menggelengkan kepalanya saja dan tidak mempedulikan perkataan dari sang istri, karena bakal lama jika dia tanggapin.


" Pietro jawab Kakak ",, kata Kak Ivar lagi kepada Pietro yang hanya diam saja daritadi.


Pietro yang pernah mendengar jika kedua orang tua Molly sudah meninggal dia tadi langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Molly.


Dan Molly sendiri yang mendengar perkataan dari Kak Ivar serta Gilbert tadi, tanpa sadar Molly langsung meneteskan air matanya, karena dia jadi teringat dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal.


Molly menjadi sangat sedih sekali karena diwaktu dia akan menikah seperti sekarang, kedua orang tuanya tidak berada disampingnya saat ini.


Pietro yang melihat wajah sedih dari Molly yang sedang menangis, dia langsung menjawab singkat perkataan dari Kak Ivar tadi.


" Kedua orang tuanya sudah meninggal ",, jawab singkat dari Pietro kepada Kak Ivar dan masih didengar oleh semua orang yang ada disitu termasuk Pak Pendeta sekalipun.


Semua orang langsung saja terkejut mendengar perkataan dari Pietro tadi.


" Apa benar itu Molly?? ",, tanya Kak Ivar kepada Molly.


Tanpa berbalik badan, dan masih sedang menangis, Molly pun langsung menjawab perkataan dari Kak Ivar.


" Benar Tuan ",, jawab Molly sambil menunduk dengan suara yang bergetar.


Dan benar saja, Kak Ivar, Agnes, serta Gilbert sedang menatap dengan tatapan aneh kearahnya.


" Apa??!!!,.............. bukan aku yang membunuh kedua orang tuanya, kenapa kalian semua menatapku seperti itu, mau aku congkel itu mata kalian dan aku tukar dengan batu!! ",, kata Pietro kepada Kak Ivar, Gilbert, dan juga Agnes.


Sebab tatapan dari Kak Ivar, Agnes serta Gilbert seperti mengatakan jika yang membunuh kedua orang tuanya Molly adalah Pietro, terus Pietro memaksa Molly untuk menikah dengannya.


Yah sekiranya seperti itulah pandangan dari Keluarganya yang diartikan oleh Pietro.


Pak Pendeta hanya bisa speechles mendengar perkataan dari Pietro yang daritadi sangat menyeramkan sekali.


" Sudah Pak Pendeta cepat nikahkan saya!!, jika anda tidak segera menikahkan saya dan dia, anda yang akan saya gantung menggantikan patung Yesus itu disitu!! ",, kata Pietro dengan wajah dingin, datar dan kejam kepada Pak Pendeta.


Pak Pendeta langsung merasa semakin ketakutan saja mendengar ancaman dari Pietro.


Dan Pak Pendeta lalu segera memulai prosesi pemberkatan pernikahan antara Pietro dan Molly.

__ADS_1


" Bisakah Nona mendongakkan kepala anda?? ",, kata Pak Pendeta kepada Molly yang daritadi selalu menunduk.


Molly pun langsung saja mengangkat kepalanya dengan masih ada sisa-sisa air mata dikelopak matanya yang indah.


" Puji Tuhan ",, kata reflek dari Pak Pendeta ketika baru saja melihat wajah cantik sungguh sangat cantik alami dari Molly.


Dan Molly sendiri ketika dia sudah mendongakkan kepalanya dia langsung saja tersenyum sangat manis sekali.


Molly bukan tersenyum karena mendengar Pujian dari Pak Pendeta tadi.


Melainkan Molly tersenyum karena ketika dia mengangkat kepalanya, Molly langsung bisa melihat arwah kedua orang tuanya yang memakai pakaian serba putih berdiri tidak jauh dibelakangnya Pak Pendeta.


Ayah Calvin dan Mamah Elina mereka berdua tersenyum sangat manis sekali kepada Putri satu-satunya yaitu Molly.


Seakan-akan Ayah Calvin dan Mamah Elina merestui pernikahannya dengan Pietro.


Molly lalu mengalihkan pandangannya kearah belakang Pak Pendeta yang sebelah sisi satunya.


Dan disebelah sisi yang satunya Molly melihat sepasang suami istri yang juga sedang tersenyum kepadanya.


Molly menatap arwah sepasang suami istri itu dengan sangat lekat sekali, sebab Molly merasa tidak asing dengan arwah tersebut.


Setelah Molly mengingat-ingat siapa arwah sepasang suami istri tersebut, akhirnya Molly teringat juga, jika sepasang arwah suami istri itu adalah Ayah Eliot Roderick dan Mamah Lykke Roderick, kedua orang tua kandungnya Pietro yang fotonya pernah Molly lihat diruang Keluarga rumah siPietro.


Molly yang tertegun dan Molly yang sedang terkejut karena pada akhirnya dia bisa melihat arwah dari kedua orang tua kandungnya sendiri setelah sekian lamanya dia impikan.


Serta ditambah juga dia bisa melihat arwah kedua orang tua kandung dari siPietro.


Tanpa Molly sadari Pak Pendeta tiba-tiba sudah mengesahkan pernikahannya dengan Piertro, dan saat ini Pak Pendeta menyuruh Pietro untuk mencium Molly yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.


Molly sangat terkejut sekali, ketika Pietro membalikkan badannya untuk menghadap kearahnya, dan semakin terkejut saja ketika Pietro tahu-tahu menciumnya tepat dibibirnya dihadapan semua orang.


Dan ketika ciuman mereka terlepas, Molly sudah tidak melihat lagi arwah kedua orang tuanya dan kedua orang tua dari Pietro.


Dada Molly seakan bahagia dan sesak secara bersamaan, namun dia tidak bisa mengungkapkannya kepada siapapun saat ini.


Hanya air mata yang mampu Molly ungkapkan sekarang.


Sedang Pietro sendiri, setelah Pak Pendeta menyatakan jika dirinya dan Molly sudah sah sebagai suami istri, senyum miring langsung terbit dibibir seksinya itu.

__ADS_1


...๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ...


...***TBC***...


__ADS_2