KING PSYCHOPATH

KING PSYCHOPATH
MEMBAHAS PERNIKAHAN


__ADS_3

Di saat semua orang sedang sibuk berbincang, tiba-tiba saja Pietro menyelanya karena dia ingin mengajak Molly beserta baby kembarnya untuk masuk ke dalam kamar.


Semua orang langsung saja mengangguk dan membiarkan Molly, Pietro beserta baby C dan baby A beristirahat di dalam kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Pietro langsung saja menaruh ke dua babynya itu ke dalam box baby yang sudah di belikan khusus dari sang Kakak yaitu Kak Ivar untuk ke dua ponakannya.


Dan Molly sendiri, saat ini sudah mencoba merebahkan badannya di atas ranjang untuk berisitirahat.


Karena badan Molly masih belum sepenuhnya fit dari pasca persalinan yang kemarin baru saja di jalaninya itu.


" My Queen istirahat ya, apakah My Queen membutuhkan sesuatu, akan Kakanda belikan?? ",, kata Pietro kepada Molly.


" Ayah Ito memangnya mau ke mana,?? apakah Ayah Ito mau pergi?? ",, tanya Molly kepada Pietro.


" Kakanda mau pulang ke rumah sebentar, untuk mengecek keadaannya si King dulu, sekalian mau memberinya makan ",, jawab Pietro kepada Molly.


" Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan Kakanda, titip salam saja kepada si King ",, kata Molly kepada Pietro.


Hanya mengangguk saja menanggapi perkataannya Molly.


Dan Pietro seperti biasanya sebelum pergi, dia akan memberikan kecupan manis di pipi serta dahi Molly.


Berhubung sekarang Pietro sudah mempunyai anak, tidak lupa juga Pietro menyempatkan waktunya sejenak untuk mencium ke dua anak kembarnya tersebut.


" Jangan rewel ya anak Ayah, awas kalau rewel akan Ayah lempar ke atas gunung ",, kata Pietro kepada ke dua anaknya.


Sungguh pesan yang sangat menyesatkan sekali dari seorang Ayah kepada anaknya, tapi memang seperti itulah sifat Pietro, unik dengan segala keunikannya.


Molly walau dia mendengar perkataan dari sang suami kepada ke dua anaknya, tapi dia tidak marah, malah Molly langsung saja tersenyum, karena bagaimanapun juga Pietro mempunyai cara tersendiri dalam mendidik anak-anak mereka kelak nanti.


Dan Molly juga tahu, sekejam-kejamnya Pietro, dia tidak akan menyakiti anak kandungnya sendiri.


Setelah berpamitan kepada ke dua anaknya dan Molly, Pietro langsung saja bergegas keluar dari dalam kamar untuk menuju ke dalam mobilnya.


Dan ketika Pietro melewati semua orang yang masih berkumpul di ruang Keluarga, dia hanya mengangguk singkat saja dengan terus berlalu tanpa berkata apa pun kepada semua orang.

__ADS_1


Mama Jaena yang juga melihat Pietro, dia pun langsung saja berpamitan kepada semua orang.


" Nak Pietro pergi, Mama mau melihat Molly dulu, takutnya dia tidak bisa menangani si kembar ",, kata Mama Jaena kepada semua orang.


" Iya Ma ",, jawab Kak Ivar kepada Agnes secara bersamaan.


Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum saja kepada Mama Jaena.


" Alva ikut Nek ",, kata Alva kepada sang Nenek.


Mama Jaena tentu saja langsung menggandeng tangan Alva untuk berlalu masuk ke dalam kamar Molly.


Sepeninggalan dari Mama Jaena Gilbert pun mencoba mengutarakan maksudnya kepada sang Kakak dan calon Kakak iparnya yaitu Danish untuk menikahi Elina.


" Emm Kakak, ada yang ingin Gilbert sampaikan kepada kalian semua ",, kata Gilbert kepada semua orang.


" Katakanlah saja Gilbert ",, jawab Kak Ivar kepada Gilbert.


" Gilbert ingin segera menikahi Elina Kak, apakah kalian semua merestui hubungan kami?? ",, tanya Gilbert kepada semua Kakaknya.


Kak Ivar, Agnes dan juga Danish sebelum menjawab pertanyaan dari Gilbert, mereka bertiga bisa kompak saling pandang satu sama lainnya.


" Tentu saja Kakak akan merestui hubungan kamu Gilbert, jika Elina adalah wanita yang bisa membuat kamu bahagia ",, jawab Kak Ivar kepada Gilbert.


" Terimakasih Kakak ",, kata Gilbert kepada Kak Ivar.


Kak Ivar hanya tersenyum saja menanggapi Gilbert.


" Apakah kamu tidak mau menanyakannya kepada calon Kakak Ipar kamu Gilbert, kamu juga kan butuh restu darinya ",, kata Agnes kepada Gilbert.


Gilbert langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah Danish yang ternyata sedang melihat ke arahnya dan juga Elina.


" Iya-iya, calon adik iparku, aku akan merestui hubungan kamu dengan Elina, jaga Elina dengan baik seperti aku menjaganya, jangan sakiti dia dan jangan buat dia sampai meneteskan air matanya, berjanjilah kepadaku ",, kata Danish kepada Gilbert.


" Aku berjanji Kakak Ipar, aku berjanji!! ",, jawab mantap dari Gilbert kepada Danish.

__ADS_1


" Aku akan pegang janji kamu Gilbert ",, kata Danish kepada Gilbert.


Dan Gilbert langsung mengangguk mantap kepada Danish.


" Kalau begitu, kapan kalian berdua akan melaksanakan acara pemberkatan kalian?? ",, tanya Kak Ivar kepada Gilbert.


" Kalau bisa dalam waktu satu minggu ini Kak, yang terpenting kita berdua sudah sah dulu, untuk masalah resepsi Elina tidak mempermasalahkannya ",, bukan Gilbert yang menjawab, melainkan Elina sendiri.


Ternyata tidak Gilbert saja yang sudah merasa tidak sabar ingin segera menikah, Elina pun sama saja seperti Gilbert.


Gilbert yang mendengar jawabannya Elina, dia langsung saja tersenyum manis, sambil menggenggam erat tangan Elina.


" Ok, jika itu permintaan kalian berdua, Kakak akan membantu sebisa Kakak, dan kado apa yang ingin kalian minta kepada Kakak, Gilbert?? ",, kata Kak Ivar kepada Gilbert.


" Nanti sajalah Kak, Gilbert belum kesampaian ingin meminta kado apa kepada Kakak ",, jawab Gilbert kepada Kak Ivar.


" Oklah kalau begitu, dan jangan lupakan kasih tahu Kakak kamu Pietro tentang pernikahanmu ini, karena jika tiba-tiba kamu menikah tanpa memberitahukan kepadanya, jangan salahkan Pietro jika dia membuat keributan lagi di acara pemberkatan kalian berdua ",, pesan Kak Ivar kepada Gilbert.


" Siap Kak, nanti jika Kak Pietro sudah pulang, Gilbert akan berbicara berdua sama dia ",, jawab Gilbert kepada Kak Ivar dan masih di dengar oleh semua orang.


Mereka semua lalu membahas bagaimana konsep pernikahannya Gilbert dan Elina.


Walau pernah ada selisih paham di antara ke dua keluarga itu, yang namanya sudah berjodoh, seberat apapun ujiannya, mereka akan tetap bersatu.


Dan kunci utama dalam menjalin sebuah hubungan harus ada sifat kedewasaan dalam menghadapi setiap masalah yang ada.


Danish yang sudah melihat senyum kebahagiaan terpancar di wajah sang adik, di dalam hati kecilnya dia ikut senang, karena kebahagiaan Elina adalah kebahagiaan untuknya juga.


Ketika di rasa pembahasan mereka sudah selesai, Danish dan Elina langsung saja meminta ijin ingin pulang ke rumah mereka sendiri.


Gilbert ingin sekali mengantarkan Elina pulang, akan tetapi Elina menolaknya dengan halus, karena dia ingin pulang bersama sang Kakak saja dan menyuruh Gilbert untuk beristirahat saja di dalam kamar.


Karena tidak mau bertengkar lagi, Gilbert pun akhirnya mengalah dan membiarkan Elina pulang bersama calon Kakak iparnya, yaitu Danish.


Dan Gilbert menyuruh Elina nanti jika sudah sampai rumah untuk segera mengabarinya.

__ADS_1


...๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ...


...***TBC***...


__ADS_2