
Semalam Pamannya Pietro yang tidak bisa tidur di dalam kamar hotelnya.
Iyaps, si Paman memilih mengajak sang istri untuk menginap di hotel sementara waktu, sampai waktu yang tidak di ketahuinya.
Paman yang tidak bisa tidur, dia hanya bisa termenung di dekat jendela kamar hotel, sambil menikmati pemandangan dari luar jendela.
Sang Bibi yang sudah tidur dan tidak sengaja meraba ranjang di sebelahnya sudah kosong dan terasa dingin.
Dia pun mencoba membuka matanya dan langsung melihat sang suami sedang berdiri di dekat jendela kamar.
" Ayah tidak tidur??",, tanya dari Bibi kepada Paman.
" Bagaimana Ayah bisa tidur Ma, jika anak kita malam ini bisa dipastikan akan meninggal ",, jawab dari sang Paman tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.
" Kita bisa berbuat apa Ayah,?? kita tidak bisa berbuat apa pun untuk melawan Pietro, percuma saja kita melawan atau melaporkannya kepada polisi ",, kata Bibi kepada Paman.
" Itulah yang Ayah sesali Ma, kenapa kita begitu lemah dihadapannya Pietro ",, jawab si Paman kepada Bibi sambil berjalan ke arah ranjang.
Bibi pun langsung menangis mengingat nasib mereka sudah bisa di pastikan tidak mempunyai anak lagi.
" Jujur Ayah sayang sama Pietro, Ayah juga tidak bisa menyalahkan Pietro sepenuhnya, yang Ayah sesalkan kenapa dulu Ayah tidak mencoba mengambil Pietro dari Kakeknya sekuat tenaga Ayah ",, kata Paman kepada Bibi sambil duduk di pinggir ranjang.
" Jika Ayah bisa mengasuh Pietro juga dulu bersama Ivar dan Gilbert, mungkin Pietro tidak diciptakan menjadi mesin pembunuh seperti ini oleh Kakeknya ",, lanjut lagi perkataan dari Paman kepada Bibi.
" Jika sudah begini, apakah Ayah masih mau berhubungan dengan mereka semua?? ",, tanya dari sang Bibi kepada Paman.
" Tidak lagi, Ayah sudah sakit hati kepada Pietro, karena dia sudah menghabisi ke dua anak kita Ma ",, jawab dari sang Paman kepada Bibi.
" Bagaimanapun juga Eron dan Lucy adalah anak kandung kita Ma, kita yang membesarkan mereka dengan susah payah, walau sikap mereka banyak yang tidak kita sukai, tetap saja mereka anak-anak kita Ma ",, lanjut lagi perkataan dari sang Paman kepada istrinya.
Bibi hanya bisa menangis dan terus menangis cukup pilu sekali, karena kemarin niat mereka ingin berkunjung melihat sang keponakan, malah berakhir tragis untuk keluarganya.
" Mama tidurlah lagi, Ayah belum bisa tidur, dan besok Ayah ingin kembali lagi ke rumah untuk melihat keadaan ",, kata sang Paman kepada sang Bibi.
" Jangan dulu Ayah, bagaimana kalau Pietro masih ada di rumah kita?? ",, cegah dari sang Bibi kepada Paman.
" Tidak, Ayah rasa Pietro sudah tidak berada di rumah kita lagi Ma, jika tujuannya sudah terpenuhi ",, jawab dari sang Paman kepada Bibi.
" Dan Ayah juga sudah mencoba menghubungi Lucy, ponselnya tersambung tapi tidak di angkat sama sekali sama dia ",, kata Paman kepada Bibi.
Bagaimana Lucy mau mengangkat panggilan dari sang Ayah, sedangkan dia saja sudah berada di dalam istananya yang megah itu di dalam tanah.
__ADS_1
" Besok Mama ikut iya Ayah ",, kata Bibi kepada Paman.
" Baiklah jika Mama mau ikut, sekarang tidurlah lagi Ma ",, jawab Paman kepada Bibi.
" Iya Ayah, Ayah sini juga tidur bersama Mama, nanti kalau sakit bagaimana ",, kata sang Bibi mengajak tidur sang suami.
Akhirnya mau tidak mau walau tidak bisa memejamkan matanya, karena kepikiran dengan sang putri yaitu Lucy, sang Paman pun mencoba untuk tidur juga.
Pagi pun tiba, jika di dalam rumah Kak Ivar sedang terjadi kehebohan dari Gilbert, karena baru saja dikerjai oleh sang Kakak yaitu Pietro.
Berbeda lagi di hotel tempat sang Paman dan Bibi menginap.
Mereka saat ini edang bersiap-siap ingin keluar dari dalam kamar hotel tersebut, untuk pergi ke rumah mereka sendiri.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lumayan, akhirnya mobil milik sang Paman sampai juga di halaman rumah mewahnya.
" Pintu gerbangnya tidak dikunci ",, kata batin dari sang Paman ketika ingin membuka pintu gerbang rumahnya.
Sang Paman yang sudah membuka pintu gerbangnya dengan lebar, dia pun langsung saja memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan rumahnya.
Apakah sang Paman dan Bibi tidak mempunyai asisten yang bekerja di rumahnya.
Paman dan Bibi akhirnya memberikan pesangon dan gaji kepada mereka semua untuk segera pergi dari situ.
Paman yang sudah memarkirkan mobilnya, dia pun bersama Bibi langsung saja keluar dari dalam mobil tersebut.
" Lampunya masih menyala Ayah ",, kata sang Bibi kepada Paman dengan jantung yang bertalu-talu.
" Coba Ayah buka dulu pintunya, apakah di kunci atau tidak ",, kata dari sang Paman kepada Bibi.
Sang Bibi pun hanya mengangguk saja kepada Paman.
Setelahnya Paman mencoba membuka pintu rumahnya menggunakan kunci cadangan yang dia punya.
" Pintunya ternyata di kunci Ma, dan untung saja Ayah membawa kunci cadangannya ",, kata sang Paman kepada Bibi.
" Cepat buka Ayah, Mama sudah tidak sabar ingin segera masuk ",, kata Bibi kepada Paman.
Ketika pintu sudah terbuka, Paman dan Bibi langsung saja masuk ke dalam rumah mereka.
Di dalam rumah masih terlihat biasa saja, tidak ada yang berantakan sama sekali, tidak ada hal yang mencurigakan apa pun di dalam rumah tersebut.
__ADS_1
" Semuanya masih rapi Ayah ",, kata sang Bibi kepada Paman.
" Iya Ma, coba kita lihat ke kamarnya Lucy ",, jawab dari Paman kepada Bibi.
" Ayo Ayah ",, jawab sang Bibi kepada suaminya.
Mereka berdua lalu berjalan menaiki tangga untuk menuju ke dalam kamarnya Lucy.
Sesampainya di depan kamar Lucy, sang Paman langsung membuka pintunya.
Kamar yang semalam diberantakin semua oleh Lucy, sekarang sudah rapi seperti sedia kala seperti tidak ada bekas apapun.
Itu semua karena sudah di rapikan oleh anak buah dari si Pietro.
" Di sini tidak ada menunjukkan apa-apa Ma, tapi dimana Lucy ",, kata sang Paman kepada Bibi.
" Ini Ayah ponselnya Lucy ada di atas meja dan barang-barang miliknya pun juga ada di sini semua ",, kata sang Bibi kepada Paman.
" Ini kunci mobilnya ada juga, tapi tadi ko di luar Ayah tidak melihat mobilnya?? ",, kata sang Paman lagi.
" Mungkin di dalam garasi Ayah ",, jawab dari Bibi kepada Paman.
" Bisa jadi, ayo kita periksa semua yang ada di rumah ini Ma ",, kata sang Paman mengajak sang Bibi.
Bibi pun hanya mengangguk saja kepada Paman, setelahnya mereka berdua lalu memeriksa semua setiap sudut ruangan, dan tempat-tempat yang ada di rumah mereka.
Mereka tidak menemukan hal mencurigakan sama sekali, semuanya masih rapi seperti biasanya.
Namun ketika mereka tiba di halaman belakang rumah, Paman dan Bibi menemukan sebuah gundukan tanah yang cukup besar sekali.
Karena rasa penasaran yang cukup besar, dan pikiran mereka sudah tidak karuan, akhirnya sang Paman mencoba menggali gundukan tanah itu sendirian menggunakan sekop dan peralatan seadanya.
Dan ketika mereka melihat ada seperti rambut kepala, firasat mereka sudah semakin tidak karuan saja.
Hingga gundukan itu setelah di gali lebih dalam lagi, akhirnya sang Paman menemukan jasad dari putrinya yaitu Lucy yang sudah mati, kulitnya juga sudah membiru serta tubuhnya kotor penuh dengan tanah.
Tangis dari sang Paman dan Bibi pun langsung pecah, melihat putri mereka sudah meninggal dan di kubur dengan cara seperti itu di halaman belakang rumah mereka.
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
...***TBC***...
__ADS_1