
Tadi sebelum Molly di larikan ke rumah sakit oleh Agnes dan Kak Ivar.
Molly yang baru saja bercanda bersama Agnes tadi di ruang Keluarga, dia lalu meminta ijin ingin beristirahat di dalam kamar kepada Agnes, dan Agnes pun mengijinkannya.
Ketika Agnes melihat Molly sudah sangat kesusahan sekali dalam berjalan, apalagi kamar Pietro ada di atas, Agnes lalu berinisiatif untuk membantu Molly berjalan hingga dia sampai di dalam kamarnya.
" Terimakasih Kak Agnes ",, kata Molly kepada Agnes, ketika mereka sudah sampai di dalam kamar.
" Sama-sama, kalau butuh apa-apa panggil Kakak atau Bibi saja ya Molly, Kakak tinggal dulu ke bawah ",, jawab dari Agnes kepada Molly.
Molly hanya tersenyum saja sambil mengangguk kepada Agnes.
Setelah kepergian dari Agnes, Molly pun mencoba merebahkan badannya di atas ranjang yang ada di situ, sambil memainkan ponselnya.
Udara yang sejuk dari pendingin ruangan, dan tempat yang nyaman, membuat mata Molly lama kelamaan merasa mengantuk dengan sendirinya, hingga akhirnya Molly pun tertidur juga.
Hingga tidak terasa jam makan malam pun tiba, Agnes atau Kak Ivar yang merasa kasihan dan takut jika Molly tidak bisa turun dari atas tangga kamarnya, mereka pun mencoba ingin melihat keadaannya Molly.
Sebab Molly sejak siang tadi setelah masuk ke dalam kamar, dia tidak keluar dari dalam kamarnya sama sekali, bahkan Molly pun tidak memanggil mereka berdua.
Membuat Kak Ivar dan Agnes merasa sangat khawatir sekali dengan keadaannya Molly yang sedang hamil tua.
" Mah ..... ",, panggil Kak Ivar kepada Agnes.
" Iya Ayah, Mamah ada di dapur ",, jawab dari Agnes dengan sedikit berteriak kepada Kak Ivar.
Kak Ivar yang baru saja dari dalam ruang Keluarga, dia pun langsung saja berjalan ke arah dapur untuk menemui sang istri.
" Mah, ini sudah hampir jam makan malam, Mama tidak mau mencoba membantu Molly turun untuk makan malam bersama kita?? ",, kata Kak Ivar kepada Agnes ketika sudah sampai di dalam dapur.
" Tolong Ayah saja sana yang melihat keadaannya Molly, Mama masih repot ini membantu Bibi yang sebentar lagi ini juga akan selesai ",, jawab dari Agnes kepada Kak Ivar.
" Baiklah, kalau begitu Ayah mau melihat Molly dulu, ayo Alva mau ikut Ayah apa tidak?? ",, kata Kak Ivar kepada Agnes dan juga Alva yang ada di situ juga sambil menikmati puding kesukaannya.
" Tidak mau, Alva sedang makan Ayah ",, jawab dari Alva kepada Kak Ivar.
" Ok baiklah, Ayah mau melihat aunty Molly dulu ",, kata Kak Ivar lagi kepada Alva.
Dan Alva hanya mengangguk saja kepada sang Ayah.
Kak Ivar lalu berjalan menuju ke lantai dua tempat di mana kamar Pietro atau Molly berada.
Sesampainya di depan kamar Molly, Kak Ivar pun mencoba memanggil Molly sambil mengetuk pintunya juga.
__ADS_1
" Molly ini Kakak, kamu sedang apa Molly, ayo turun makan malam ",, kata Kak Ivar kepada Molly.
" Molly ",, panggil dari Kak Ivar lagi untuk Molly sambil terus mengetuk pintunya.
Kak Ivar sedikit merasa aneh dengan Molly, karena Molly tidak menjawab panggilannya daritadi.
Dan Kak Ivar yang merasa penasaran serta takut jika Molly kenapa-kenapa, dia lalu mencoba ijin masuk untuk melihat keadaannya Molly.
" Molly, Kakak masuk ya ",, kata Kak Ivar kepada Molly sambil memutar gagang pintunya.
Ketika pintu sudah terbuka, Kak Ivar langsung melihat Molly sedang meringkuk di atas ranjang sambil mengeluarkan keringat dingin dan sambil juga meringis menahan rasa sakit di perutnya.
Kak Ivar tentu saja merasa sangat khawatir sekali melihat keadaannya Molly yang seperti itu.
" Molly,!! kamu kenapa Molly?? ",, tanya dari Kak Ivar sambil langsung duduk di pinggir ranjang.
" Perut Molly sakit Kak ",, jawab lirih dari Molly kepada Kak Ivar.
Molly sebenarnya sudah merasa tidak enak dengan perutnya sejak tadi, setelah dia bangun dari tidurnya.
Tadi ketika Molly baru saja bangun tidur, dia yang melihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Molly lalu memutuskan ingin mandi dan bersih-bersih badannya terlebih dahulu.
Rasa sakit yang di rasakannya itu sekejap hilang dan sekejap hadir kembali, begitu terus hingga membuat Molly sudah sedikit terbiasa.
Ketika Molly sudah selesai berganti baju pun, rasa sakitnya masih ada, membuat Molly lalu mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam kamar dan memilih merebahkan lagi badannya di atas ranjangnya.
" Astaga, apakah kamu akan melahirkan sekarang Molly?? ",, tanya Kak Ivar dengan wajah yang kebingungan sendiri.
Tentu saja Molly tidak bisa menjawab perkataan dari Kak Ivar, karena dia sedang sibuk menetralkan rasa sakit di perutnya itu.
" Tunggu sebentar Molly ",, kata Kak Ivar lagi kepada Molly.
Selanjutnya Kak Ivar berlalu keluar dari dalam kamar Molly untuk memanggil sang istri yaitu Agnes.
" Mamaaaaaahhh!! ",, teriak dari Kak Ivar memanggil Agnes dari lantai dua rumahnya.
" Mah, di panggil Ayah tuh, dia teriak sangat keras sekali ",, kata Alva kepada Agnes ketika mendengar teriakan dari Kak Ivar tadi.
" Iya-iya, ada apakah ya Alva ",, kata Agnes kepada Alva.
" Tidak tahu ",, jawab dari Alva kepada sang Mama.
" Kalau begitu Mama mau melihat dulu ",, kata Agnes kepada Alva.
__ADS_1
Alva hanya mengangguk saja kepada Mama Agnes.
" Mamaaaaaaa!! ",, teriak untuk ke dua kalinya dari Kak Ivar dan terdengar lebih keras dari yang sebelumnya.
Tentu saja Agnes langsung berlari dan bergegas mendekati sang suami.
" Ada apa sih Ayah, teriak-teriak seperti itu?? ",, tanya dari Agnes sambil berjalan menaiki tangga.
" Molly Mah, dia sudah mau melahirkan!! ",, jawab segera dari Kak Ivar kepada Agnes.
" Apa,!! astaga, kita harus segera membawanya ke rumah sakit sekarang juga Ayah ",, kata Agnes kepada Kak Ivar.
Kak Ivar pun lalu kembali lagi masuk ke dalam kamarnya Molly untuk membantu Molly, hingga akhirnya Agnes pun sudah sampai juga di dalam kamar Molly.
" Ayah, wajah Molly sudah pucat sekali, ayo kita segera bawa dia ke rumah sakit!! ",, kata Agnes kepada Kak Ivar.
" Ayo Molly, sini Kakak bantu, apakah kamu bisa berjalan sendiri?? ",, tanya dari Kak Ivar kepada Molly.
" Gendong Ayah saja, kasihan jika di suruh untuk berjalan ",, kata Agnes kepada Kak Ivar.
" Kalau begitu Mama sana siapin mobilnya cepat!! ",, jawab dari Kak Ivar kepada Agnes.
" Baik Ayah ",, jawab dari Agnes kepada Kak Ivar.
Dan setelah itu Agnes langsung bergegas turun untuk menyiapkan salah satu mobil milik mereka.
Sedangkan Kak Ivar, dia sedang berusaha menggendong Molly untuk turun dari dalam kamarnya.
Sedikit kesusahan Kak Ivar dalam menggendong Molly, sebab Molly tidak cuma berat badannya, dia pun juga sedang mengandung baby kembar, itulah yang membuat Kak Ivar begitu sangat hati-hati sekali dalam menggendong Molly.
" Sakit Kak perut Molly ",, kata lirih dari Molly kepada Kak Ivar.
" Aaahh sakit!! ",, jawab dari Kak Ivar kepada Molly.
Karena Molly yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit di perutnya, dia malah menggigit lengan Kak Ivar.
" Sabar Molly, tahan, tapi jangan kamu gigit lengan Kakak, sakit tahu ",, kata dari Kak Ivar kepada Molly.
Dan akhirnya setelah bersusah payah, Kak Ivar sampai juga di mobil yang sudah di siapkan oleh Agnes tadi.
Agnes sebelum ikut pergi menemani Molly dan Kak Ivar ke rumah sakit, dia langsung saja berpesan kepada sang Bibi untuk menjaga Alva sebentar dan untungnya Alva menurut apa kata Mama Agnes.
Setelah itu Agnes pun langsung ikut masuk ke dalam mobil dan Kak Ivar lalu mengendarai mobilnya dengan segera supaya bisa cepat di rumah sakit yang terdekat dari rumahnya.
__ADS_1
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
...***TBC***...