
Pagi pun tiba, sekitar pukul tujuh pagi semua orang sudah pada bangun dari tidur mereka yang lelap.
Kecuali Agnes, yang masih stay di dalam kamarnya, sebab badannya tiba-tiba demam karena luka yang sedang di deritanya.
Kak Ivar yang baru saja selesai mandi dan melihat sang istri masih tidur, dia pun mencoba membangunkan.
Akan tetapi, ketika Kak Ivar memegang tubuh sang istri, dia di buat sangat terkejut sekali, sebab tubuh Agnes ternyata sedang sangat panas sekali.
Dan Agnes yang merasa di sentuh oleh Kak Ivar, dia lalu membuka matanya dengan tatapan lirihnya.
" Mama sakit, astaga badan Mama panas sekali ",, kata Kak Ivar dengan wajah yang terlihat sangat khawatir sekali.
" Sebentar Ayah mau ganti baju dulu ",, kata Kak Ivar lagi.
Setelahnya, Kak Ivar langsung saja berlalu menuju ke ruang walk in closet, untuk memakai baju miliknya yang ada di situ.
Ketika sudah memakai baju dengan kilat, Kak Ivar langsung segera mendekati Agnes lagi.
" Mama tunggu sebentar ya, Ayah akan panggilkan Pietro dulu ",, kata Kak Ivar kepada Agnes.
Agnes hanya mengangguk dengan sangat lemas sekali.
Kak Ivar setelahnya, dia langsung segera berlalu ke luar dari dalam kamar untuk mencari Pietro.
Pietro sendiri sudah bangun sejak tadi, dan sekarang dia sedang mengajak bermain baby Chasel dan baby Aluisa di taman belakang dekat kandang si King.
Bersama Molly juga yang sedang menjemur baby Leonardo di taman itu.
Sedangkan Alva juga berada di situ, namun sambil menampilkan wajah sedihnya, sambil menatap si King dan Queen.
" Kamu kenapa sayang, ko terlihat sedih begitu mukanya?? ",, tanya Molly kepada Alva.
Molly yang daritadi melihat Alva bersedih, akhirnya dia mencoba mendekati Alva dan memilih duduk di samping Alva.
" Alva sedang sedih Aunty ",, jawab Alva kepada Molly.
" Sedih kenapa,?? cerita dong sama Aunty ",, kata Molly kepada Alva.
" Semalam Queen menyerang Mama, dan Mama menjadi terluka karenanya, ini semua salah Alva, karena sudah mengeluarkan Queen dari dalam kandang dan tidak mendengarkan perkataan dari Paman Pietro ",, cerita Alva kepada Molly.
" Mama terluka karena Queen, ko Paman Ito tidak cerita ya sama Aunty ",, kata Molly kepada Alva, sambil melihat ke arah Pietro yang sedang mengajak bercanda si kembar.
" Mungkin karena Paman Ito lupa, dia kan sudah tua ",, jawab asal dari Alva kepada Molly.
" Iya, kamu benar Alva, Paman kamu itu memang sudah tua ",, kata Molly kepada Alva.
" Terus bagaimana keadaan dari Mama sekarang sayang, nanti Aunty mau melihat Mama, jika sudah memandikan adik Leon ",, kata Molly kepada Alva.
" Mama semalam sudah di obati sama Paman Pietro Aunty, tapi kenapa sampai sekarang Mama belum ke luar kamar juga sama Ayah, kan Alva jadi khawatir ",, jawab Alva sambil menampilkan wajah bersedihnya.
" Sudah kamu tenang saja, mungkin Mama sama Ayah kamu sedang capek, kan semalam mereka tidurnya larut malam, mungkin bangunnya sedikit ke siangan ",, kata Molly menenangkan Alva.
Alva hanya mengangguk pelan saja kepada Molly.
Dan baru saja Molly menenangkan Alva, tiba-tiba saja Kak Ivar datang dari dalam rumah untuk mencari Pietro.
" Huh,!! ternyata kamu ada di sini, Kakak sudah capek mencari kamu di rumah sebesar ini ",, kata Kak Ivar kepada Pietro.
Pandangan Molly dan Alva langsung saja teralihkan ke arah Kak Ivar, yang sedang menetralkan pernafasannya.
" Ada apa Kak?? ",, tanya Pietro kepada Kak Ivar.
" Ayo cepat bantu Kakak, itu istri Kakak sedang demam, badannya sangat panas sekali ",, jawab Kak Ivar kepada Pietro.
Pietro langsung saja memanggil asisten rumah tangganya, untuk menjaga si kembar terlebih dahulu.
" Mama ",, kata Alva langsung menangis.
" Sudah kamu tenang saja, nanti Mama Agnes akan segera di obati Paman Pietro ",, kata Molly menenangkan Alva.
" Kita lihat Mama Agnes nanti saja ya sayang, biar Mama di obati dulu sama Paman Pietro, setelahnya biar Mama istirahat dulu, yaaa ok cantik ",, kata Molly lagi kepada Alva.
Alva lagi dan lagi hanya mengangguk pelan saja kepada Molly.
Sedangkan Pietro, dia sudah ikut masuk ke dalam kamar Kak Ivar, untuk mengecek kondisinya Agnes.
Pietro memegang dahi Agnes, dan suhu tubuhnya memang benar-benar sangat panas sekali.
Lalu Pietro mengecek luka cakar yang ada di tangan Agnes, dan ternyata tangan Agnes sedikit membengkak akibat luka cakaran tersebut.
__ADS_1
" Ini demam karena lukanya Kak, sebentar akan Pietro ambilkan obat dulu ",, kata Pietro kepada Kak Ivar.
" Kakak siapkan air hangat untuk membersihkan lukanya, sama air minum untuk minum obatnya nanti ",, kata Pietro lagi kepada Kak Ivar.
" Baik ",, jawab Kak Ivar kepada Pietro.
Dan Pietro langsung saja segera pergi ke luar menuju ke ruang penyimpanan obat yang dia punya.
Pietro mengambil sejenis serbuk herbal untuk dia taburkan nanti di dalam air hangat, dan beberapa pil herbal hasil racikan di pabrik obatnya.
Setelahnya, Pietro kembali lagi ke dalam kamar Kak Ivar untuk membantu mengobati tangan Agnes yang terluka.
Agnes tidak berdaya, dia benar-benar lemah tubuhnya sekarang, karena luka cakar yang di berikan Queen kepadanya.
Terlebih, rasa luka itu semakin lama semakin sakit saja dan juga membengkak, itulah mengapa Agnes menjadi demam sangat tinggi seperti sekarang.
" Mana Kak air hangatnya ",, kata Pietro kepada Kak Ivar.
" Ini air hangatnya ",, jawab Kak Ivar sambil mendekatkan air hangat yang sudah dia ambil.
Pietro dengan sangat hati-hati sekali langsung saja membersihkan luka Agnes degan air hangat itu.
" Kak tolong ambilkan air hangat lagi sama handuk kecil ",, kata Pietro kepada Kak Ivar.
Kak Ivar dengan sigap langsung mengambilkan apa yang Pietro inginkan.
Ketika air hangat sudah di depan mata, Pietro langsung membuka kemasan serbuk herbal yang tadi sudah dia ambil, untuk dia campurkan ke dalam air hangat tersebut.
" Ayo sini Kak, tangannya di rendam ini dulu, untuk menghilangkan bakteri yang ada di luka Kakak ",, kata Pietro kepada Agnes.
Kak Ivar yang mendengar perkataan dari Pietro, dia lalu membantu Agnes untuk bangun dari rebahannya, supaya Agnes bisa mencelupkan tangannya yang luka itu ke dalam air hangat tadi.
" Aaaaaaarggghhh perih ",, teriak Agnes, ketika sudah mencelupkan tangannya ke dalam air hangat, yang sudah di campur serbuk herbal.
" Di tahan Kak, biar cepat kempes bengkaknya ",, kata Pietro kepada Agnes.
Sekuat tenaga, Agnes menahan rasa sakitnya, dan sekitar lima belas menit kemudian, Pietro menyuruh Agnes untuk menarik tangannya dari air hangat itu.
" Kak Ivar, lukanya tolong di beri salep lagi, dan ini pil herbal untuk penurun panasnya, setelahnya, ramuan yang semalam aku berikan, Kak Agnes suruh untuk meminumnya lagi ",, kata Pietro kepada Kak Ivar.
" Jika rutin meminumnya, pasti Kak Agnes akan cepat sembuh ",, kata Pietro lagi kepada Kak Ivar.
Pietro hanya mengangguk saja kepada Kak Ivar, setelahnya dia langsung berlalu ke luar dari dalam kamar untuk bermain dengan si kembar lagi.
Baru saja berjalan beberapa langkah, Pietro tidak sengaja berpas-pasan dengan Gilbert dan Elina, bersama baby Alarico yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.
" Kak Pietro, bagaimana keadaan dari Kak Agnes?? ",, tanya Gilbert kepada Pietro.
" Dia demam, dan lukanya membengkak, sudah Kakak obati ",, jawab Pietro kepada Gilbert.
" Gilbert mau melihat Kak Agnes Kak, apa kamu mau ikut sayang?? ",, kata Gilbert kepada Pietro dan Elina.
Elina langsung saja mengangguk kepada Gilbert, sedang Pietro hanya diam saja tidak menanggapi perkataan dari Gilbert.
Gilbert dan Elina langsung saja berlalu masuk ke dalam kamar Kak Ivar, untuk melihat keadaannya Agnes.
Dan Pietro sendiri melanjutkan langkah kakinya, ke taman belakang untuk bermain bersama si kembar.
Sesampainya di taman itu, Molly yang sedang mengawasi baby Chasel dan baby Aluisa, langsung saja bertanya kepada Pietro.
" Bagaimana keadaan dari Kak Agnes Kakanda?? ",, tanya Molly kepada Pietro.
" Dia demam, karena lukanya, sudah Kakanda obati sebentar lagi juga akan sembuh ",, jawab Pietro kepada Molly.
Alva yang masih ada di situ dan mendengar perkataan dari Pietro, dia langsung merasa semakin bersedih saja.
" Apakah Mama akan meninggal Paman?? ",, tanya Alva kepada Pietro.
" Tidak, paling tidak lama lagi juga akan meninggal karena faktor usia ",, jawab Pietro menggoda Alva dengan muka datarnya.
Molly yang mendengar jawaban dari Pietro, dia langsung saja memukul lengan Pietro, dengan sangat keras sekali.
Sebab sudah membuat Alva langsung saja menangis dengan cukup kencang sekali.
Walau bagi Pietro lucu, tapi dia cuma tersenyum miring saja ketika melihat Alva menangis, dan senyuman Pietro terlihat sangat menyebalkan sekali di mata Molly.
" Ssuusst, sudah diam sayang, Paman Ito cuma bercanda saja ko, jangan didengarkan ya ",, kata Molly menenangkan Alva.
" Apakah benar Paman Pietro cuma bercanda kepada Alva?? '',, tanya Alva kepada Pietro.
__ADS_1
" Tidak,!! karena Paman sudah menyuruh Mama Agnes untuk meminum ramuan, padahal itu sebenarnya racun ",, jawab Pietro menggoda Alva lagi.
" Paman jahat!! ",, kata Alva kepada Pietro.
Setelah itu, Alva langsung beranjak berdiri dari duduknya dan berlari ke arah kamar ke dua orang tuanya.
Sepeninggal Alva, Pietro langsung saja tertawa dengan sangat keras sekali, karena sudah berhasil menjahili keponakannya lagi.
Dan Molly yang melihat Pietro bisa tertawa puas seperti itu, dia langsung saja menjewer telinga Pietro dengan sangat gemas sekali.
" Aduh,!! kenapa Mama Molly menjewer telinga Ayah sih ",, gerutu Pietro kepada Molly.
" Itu sebagai hukuman untuk Ayah, karena sudah mengerjai Alva ",, jawab Molly kepada Pietro.
Setelahnya, Molly langsung berdiri dari duduknya dan berlalu pergi dari hadapan Pietro, menuju ke dalam kamar untuk memandikan baby Leonardo.
Sedangkan si kembar baby Chasel dan baby Aluisa sudah mandi sejak tadi, di mandikan oleh Pietro.
Meninggalkan Pietro, kita beralih ke Alva yang sudah masuk ke dalam kamar ke dua orang tuanya.
Alva masuk ke dalam kamar dengan keadaan menangis sejadi-jadinya.
Dan secara bersamaan dengan Agnes yang hampir saja meminum ramuan herbal pereda nyeri yang Pietro berikan.
" Mama stop,!! jangan minum itu!! ",, teriak Alva kepada Agnes.
Dengan segera, Alva langsung saja merebut gelas tersebut dan membuang ramuannya yang ada di dalam gelas itu ke dalam kamar mandi.
Kak Ivar, Agnes, Gilbert dan juga Elina yang melihat kelakuan dari Alva, mereka semua merasa sangat bingung sekali dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Alva tadi.
" Alva kenapa ramuannya di buang?? ",, tanya Kak Ivar dengan heran.
" Itu racun Ayah, bukan ramuan obat herbal ",, jawab Alva kepada Kak Ivar.
" Alva tidak mau Mama meninggal, walau Mama cerewet dan suka mengatur Alva, tapi Alva sangat sayang sama Mama ",, kata Alva lagi kepada Kak Ivar.
" Kata siapa itu racun Alva, itu ramuan obat herbal sayang?? ",, tanya Gilbert kepada Alva.
" Paman Pietro yang mengatakannya sendiri kepada Alva Paman, jika Paman Pietro sengaja memberikan ramuan yang ternyata racun, karena Paman Pietro ingin melihat Mama mati ",, jawab jujur Alva kepada Gilbert.
Gilbert yang mendengar jawaban jujur dari Alva, dia langsung saja mengambil nafasnya dengan sangat panjang sekali, dan mengeluarkannya secara perlahan.
Supaya Gilbert tidak terpancing emosi dengan ulah dari sang Kakaknya, yang selalu bisa membuat semua orang merasa gemas.
" Pietroooo!!! ",, begitulah kata Kak Ivar sambil menahan rasa gemasnya untuk sang adik.
" Gilbert bantu Kak Agnes minum obatnya, Kakak mau menjewer burung Kakak kamu yang satu itu, karena sudah meracuni pikiran Alva ",, kata Kak Ivar kepada Gilbert.
" Baik Kak ",, jawab Gilbert kepada Kak Ivar.
Kak Ivar langsung berlalu ke luar dari dalam kamar untuk mencari Pietro, yang masih bermain dengan si kembar di taman belakang.
Sedangkan Gilbert langsung membantu Agnes untuk meminum ramuannya lagi, dan Alva langsung di berikan pengertian oleh Elina, jika Pietro cuma bercanda saja dengannya.
Kak Ivar yang sudah sampai di depan Pietro, dia langsung saja mencekik leher Pietro, dan membuat si kembar langsung tertawa lucu dengan suara khas baby.
" Apa yang kamu katakan kepada Alva Pietro!! ",, kata Kak Ivar kepada Pietro.
" Pietro tidak mengatakan apa-apa Kak ",, jawab Pietro kepada Kak ivar.
" Lepaskan Kak sakit ",, kata Pietro kepada Kak Ivar.
" Tidak mau,!! karena kamu sudah meracuni pikiran Alva tentang racun ",, jawab Kak Ivar kepada Pietro.
" Ok, jika itu pilihan Kakak ",, kata Pietro kepada Kak Ivar.
Dan tiba-tiba, Pietro bisa membalikkan keadaan dengan tangan Kak Ivar dia pelintir lalu tubuhnya dia banting.
Bantingan yang cukup keras dari Pietro kepada Kak Ivar, membuat Kak Ivar langsung encok seketika.
Sedangkan si kembar yang melihat, mereka berdua langsung tertawa dengan sangat gembira sekali.
" Sepertinya si kembar sangat menyukai atraksi dari Kakak tadi ",, goda Pietro kepada Kak Ivar.
Kak Ivar hanya memandang sebal saja kepada Pietro, sambil memegangi pinggangnya yang terasa sangat sakit sekali.
Sungguh mempunyai adik seperti Pietro, sangat menguras kesabaran sekali bagi Kak Ivar.
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
__ADS_1
...***TBC***...