
Setelah mengetahui itu semua, Linn terus memperhatikan dengan sangat serius sekali, jika baby Ansel sedang bersama baby A.
Walau baby Ansel masih kecil, tapi apa yang di lakukannya kepada baby A, terlihat seperti tanda-tanda laki-laki yang sedang jatuh cinta kepada seorang perempuan.
Itulah hasil pengamatan Linn kepada anak ke duanya, yaitu baby Ansel.
Tidak terasa, hari-hari telah berlalu, kehamilan Molly dan Elina tidak terasa juga sudah menginjak trimester ke dua, alias sudah enam bulan saja.
Masa-masa kehamilan Elina membuat Gilbert merasa sangat repot sekali.
Sebab pasalnya, Elina pernah mengidam ingin melihat semua pohon yang ada di sekitar rumah mewahnya, di cat berwana kuning yang mentereng.
Padahal Gilbert, sangat membenci sekali warna-warna yang terlihat cerah seperti itu, sama seperti sang Kakak Pietro.
Karena kemauan Elina tidak di turuti ketika masa mengidamnya, dia pun marah dan ngambek kepada Gilbert, hingga hasilnya Gilbert tidak mendapatkan jatah selama satu minggu lamanya.
Mau tidak mau, dan Gilbert juga sudah tersiksa karena sudah tidak di beri jatah selama satu minggu oleh Elina, akhirnya setelahnya Gilbert menuruti semua permintaan dari sang istri.
Walau setelah selesai di cat semuanya, Elina menyuruh Gilbert untuk mengecat ulang semua pohon itu dengan warna jingga.
Jika Gilbert tidak mencintai Elina, saya yakin Gilbert pasti sudah menyuruh sang Kakak, untuk mencincang tubuh Elina untuk di jadikan santapannya si King.
Karena berhubung Gilbert sangat-sangat mencintai Elina, iya dia menuruti kembali keinginan dari sang istri, yang ingin melihat semua pohon itu di cat kembali berwarna jingga sambil menahan perasaan dongkol yang tertahan.
Demi jatah batin yang kembali lagi, Gilbert rela mengecat ulang semua batang pohon itu sendirian, karena itu permintaan dari Elina.
Jika kemarin Elina pernah mengidam seperti itu kepada Gilbert, beda halnya dengan Molly yang mengidam Pietro untuk menjadi seorang wartawan televisi.
Pietro yang sangat irit berbicara, cerewet hanya kepada Molly saja, di suruh untuk menjadi seorang wartawan.
Sungguh benar-benar tidak masuk akal sama sekali, dan bisa-bisa kamera yang sedang mengshootnya, akan meledak terlebih dahulu, karena tatapan tajam dari matanya.
" Jangan ya Mama Molly, Kakanda tidak bisa menjadi seorang wartawan ",, kata Pietro pada waktu itu kepada Molly.
" Tapi Molly ingin melihat Kakanda masuk ke dalam televisi dan menjadi pembawa berita seperti dia ",, jawab Molly sambil menangis.
Pietro hanya bisa menarik nafasnya dengan sangat panjang sekali, dan menghembuskannya dengan kasar mendengar permintaan aneh mengidamnya Molly kemarin.
" Ini semua gara-gara wartawan laki-laki 514l4n itu!! ",, gerutu Pietro di dalam hatinya.
Karena Molly menginginkan Pietro menjadi seorang wartawan, sebab ketika dia sedang menonton televisi, tidak sengaja Molly melihat seorang wartawan yang wajahnya cukup tampan, hampir sebelas dua belas dengan Pietro.
Itulah mengapa, Molly ingin sekali melihat sang suami killernya menjadi seorang wartawan yang cerewet seperti wartawan itu.
Molly marah, Molly mendiamkan Pietro, karena Pietro tidak mau mengabulkan permintaannya.
Dan ketika Kak Ivar sedang berkunjung ke rumah super mewah milik Pietro, dia tidak sengaja melihat Pietro termenung sendirian di taman belakang, sambil mengusap rambut lebat milik si King yang duduk di sampingnya.
" Ternyata kamu ada di sini, Kakak tadi mencarimu di toko herbal milikmu Pietro ",, kata Kak Ivar kepada Pietro.
__ADS_1
" Ada apa Kakak mencariku?? ",, tanya Pietro tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.
" Ada apa dengan wajah kamu, kenapa wajah kamu terlihat seperti mau buang air besar ",, bukannya menjawab, Kak Ivar malah bertanya balik sambil menggoda Pietro.
Pietro hanya menatap Kak Ivar sambil memberikan lirikan tajamnya.
Kak Ivar yang melihat lirikan mautnya si Pietro, dia langsung saja tertawa terbahak-bahak.
" Sekarang, katakan kepada Kakak, apa kamu sedang ada masalah?? ",, tanya Kak Ivar sambil ikut duduk di samping Pietro.
" Molly mengidam ingin melihatku menjadi seorang wartawan Kak ",, jawab Pietro kepada Kak Ivar dengan suara lemasnya.
" Pppffftttt ",, Kak Ivar reflek menahan suara tawanya.
" Buwahahahaaahaha ",, akhirnya Kak Ivar kelepasan tertawa juga, ketika sudah tidak bisa menahannya.
Pietro semakin suntuk saja, ketika Kak Ivar bukannya membantunya, malah mentertawakannya seperti itu.
" Permintaan mengidamnya Molly kali ini sungguh sangat Kakak dukung sekali Pietro ",, kata Kak Ivar reflek sambil memukul lengan Pietro.
" Sudahlah Kak, Kakak jangan tertawa terus, sekarang bantu aku untuk membujuk Molly, bisa karatan aset aku ini, karena sudah dari kemarin dianggurin terus ",, kata Pietro kepada Kak Ivar.
" Menjadi seorang wartawan tidaklah mudah Pietro, harus ada skill khusus untuk mempelajarinya, terlebih lagi kamu juga tidak bisa masuk televisi sembarangan terus tiba-tiba menjadi seorang wartawan untuk memenuhi mengidamnya Molly ",, kata Kak Ivar kepada Pietro.
" Nah itu Kakak tahu, jadi aku harus bagaimana Kak?? ",, tanya Pietro kepada Kak Ivar.
Kak Ivar terdiam sejenak, untuk memikirkan solusi permasalahan yang sedang dihadapi sang adik.
" Nanti malam kan ada pertandingan sepak bola tuh di televisi, nah kamu yang mencoba menjadi komentatornya saja, bagaimana?? ",, kata Kak Ivar kepada Pietro.
" Kakak kan tahu sendiri, kalau Pietro tidak tahu apa itu sepak bola Kakak ",, kata Pietro kepada Kak Ivar.
Iyaps, walau Pietro seorang laki-laki, tapi dia tidak pernah bermain sepakbola sama sekali, dan tidak mengerti bagaimana jalannya pertandingan sepak bola.
Karena kesukaan Pietro ya seperti sang Kakek, berada di dalam lab untuk menciptakan hal-hal baru atau ramuan yang baru.
" Iya, sebisa kamu sajalah, yang terpenting Molly terhibur ",, jawab Kak Ivar kepada Pietro.
" Caranya?? ",, tanya Pietro kepada Kak Ivar.
" Nanti kamu juga tahu ",, jawab Kak Ivar kepada Pietro sambil tersenyum mencurigakan.
Akhirnya, singkat cerita malam pun tiba, dan malam ini Gilbert serta Elina juga di undang oleh Kak Ivar untuk menyaksikan Pietro menjadi sang komentator bola.
Kak Ivar, Agnes, Molly, si kembar, Alva, Gilbert dan Elina, sudah pada berkumpul di dalam ruang keluarga yang ada di rumah super mewah milik Pietro.
Kak Ivar ternyata sudah menyuruh anak buah Pietro untuk membuatkan layar proyektor khusus pertandingan sepak bola yang sedang tayang malam itu, dengan Pietro yang berada di balik layar untuk menjadi komentatornya.
Mikrofon juga sudah Kak Ivar siapkan, walau sebenarnya Molly tadi tidak setuju dengan ide dari Kak Ivar, namun entah bagaimana ceritanya, Kak Ivar bisa membujuk Molly, hingga akhirnya Molly pun menyetujui ide dari Kak Ivar.
__ADS_1
Dan di sinilah sekarang, lampu sudah mulai di padamnya dengan pertandingan bola akan segera di mulai, membuat semua orang langsung memandang serius ke layar proyektor yang ada.
" Iya permisa yang nyata maupun tidak nyata, di sini Pietro Roderick, menyiarkan secara langsung di balik layar proyektor yang sudah di sediakan ",,
Pietro sudah mulai mengomentari jalannya pertandingan sepak bola.
" Pertandingan sepak bola kali ini antara pemain X dan pemain Y yang akan segera di mulai pukul ......... ",,
" Dan kali ini di pimpin wasit Buldoser yang akan memimpin jalannya pertandingan sepak bola ",,
Semua orang langsung tertawa, ketika mendengar nama sang wasit, sebab nama aslinya Fito di rubah menjadi Buldoser oleh Pietro, karena badannya yang cukup gemuk menjadi seorang wasit.
" Ooo, sayang sekali, bola yang sedang menggelinding tidak masuk ke dalam gawang si lawan, mungkin pemainnya tidak melakukan foreplay terlebih dahulu ke dalam gawang tersebut, membuat gawangnya menjadi marah kepada bolanya ",,
Lagi dan lagi semua orang tertawa mendengar perkataan aneh dari Pietro.
" Iyak, pemain dari X akan mengoper bola, apakah dia akan mer3m45-r3m45 terlebih dahulu bolanya, supaya bola itu bisa masuk sampai ke dalam dan terasa nikmat nantinya, aaah sayang sekali, bola itu masuk tapi hanya sebatas bibirnya saja, dan tidak sampai ke dalam, mungkin batang di sebelah bolanya pendek, jadi tidak menyentuh ujungnya ",,
Hahahahahaha, hadeeuuh, Pietro mengomentari pertandingan sepak bola apa pertandingan yang lain sih, karena membuat kita semua menjadi salah fokus.
" Ayo pemain Y, jangan mau kalah dengan pemain X yang sangat pandai menggiring bola, namun tidak bisa memasukannya, semoga saja bola dari pemain Y panjang dan aaaaah bisa membuat gawang lawan mend354h keenakan ",,
" Suami kamu gila Molly ",, kata Agnes sambil tertawa dengan terpingkal-pingkal.
Molly pun hanya tertawa saja menanggapi perkataannya Agnes.
" Alva jangan didengarkan ya, Paman kamu sedang gila ",, kata Gilbert kepada Alva.
" Iya Paman, lagipula Alva tidak paham dengan apa yang di katakan oleh Paman Pietro ",, jawab Alva kepada Gilbert.
" Bagus ",,, jawab Gilbert kepada Alva.
" Sampai detik ini, belum ada yang bisa saling memuaskan satu sama lainnya, ayo siapa yang lebih dulu bisa memuaskan gawang mereka masing-masing ",, kata Pietro lagi terus menjadi komentator bola yang absurd.
Molly saja sampai tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
" Aaaaah, sayang sekali, sampai waktu yang hampir saja menipis, belum ada yang pipis atau kempis-kempis dalam permainan sengit mereka, mungkin mereka semua kurang obat herbal, makanya minum obat herbal khusus laki-laki yang hanya di jual di toko obat King Pietro, jangan lupa mampir dan beli sebanyak-banyaknya ",,
Hadeeeuuh!!! kenapa malah jadi ngiklan sih si Pietro.
Semua orang sangat terhibur sekali dengan aksi kocak Pietro dalam menjadi komentator pertandingan sepak bola.
Dan berkat Molly, Pietro yang irit bicara, menjadi cerewet, karena masa mengidamnya pada waktu yang ingin melihat Pietro menjadi sorang wartawan.
...🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴...
Kalian terhibur tidak, dengan aksi aneh dari Pietro😂🤣.
...🛠️🛠️🛠️🛠️🛠️🛠️🛠️🛠️🛠️🛠️🛠️🛠️🛠️...
__ADS_1
...***TBC***...