
Masih di rumah super mewah milik Pietro.
Pagi harinya, ketika semua orang sudah pada bangun dan akan segera sarapan di meja makan.
Bahkan Molly juga sudah bisa ikut bergabung dengan mereka, walau harus berjalan dengan tertatih, karena masih merasa sedikit nyeri di bagian inti miliknya.
Tapi setidaknya, Molly sudah bisa duduk bersama dengan para Keluarganya.
Pandangan dari Pietro, eem tidak dari Pietro saja sih, melainkan semua orang yang ada di meja makan itu, yaitu Kak Ivar, Agnes beserta Molly, langsung teralihkan kepada Alva yang sedang ikut sarapan bersama mereka.
Hari ini Alva tidak mau berangkat sekolah, karena dia sedang merajuk kepada ke dua orang tuanya, karena masalah semalam.
Dan Alva yang sedang ikut sarapan bersama mereka, dia tiba-tiba mengucapkan sebuah perkataan kepada Pietro yang mana membuat semua orang sedikit terkejut.
" Paman, carikan atau belikan singa betina dong, biar King punya penerus, kasihan dia sendirian terus di dalam kandang ",,
Begitulah perkataan dari Alva yang membuat para orang dewasa yang ada di depannya langsung saja saling pandang.
" Alva, kenapa kamu meminta singa betina kepada Paman Ito sayang?? ",, tanya Agnes kepada Alva.
" Alva saja kesepian, walau di rumah ini sudah ada si kembar dan baby Leon, bagaimana dengan si King yang tidur di dalam kandang sendirian, pasti dia lebih merasa kesepian daripada Alva Ma ",, jawab Alva kepada Agnes.
Pietro hanya diam saja, dia tidak menjawab atau membantah permintaan dari Alva.
Namun Pietro menatap lekat ke arah Alva, dengan tatapan datarnya dan membuat semua orang tidak bisa mengartikannya.
Ketika baru saja Alva selesai berbicara, tiba-tiba saja Pietro beranjak berdiri dari duduknya, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada semua orang.
Agnes yang melihat sikap Pietro, dia langsung merasa sangat ketakutan sekali, takut jika Pietro akan tersinggung dengan permintaan dari sang anak.
" Aduh Alva, lihat tuh Paman kamu marah, kamu sih permintaannya aneh-aneh ",, kata Agnes kepada Alva.
" Memangnya salah ya Aunty jika Alva meminta singa betina kepada Paman Pietro?? ",, tanya Alva kepada Molly.
" Tidak salah ko, kamu benar, jika Paman kamu marah kepadamu, nanti biar dia saja yang tidur sama King, biar King tidak kesepian lagi ",, jawab Molly kepada Alva sambil tersenyum.
" Ini lagi, kenapa kamu berkata seperti itu kepada Alva Molly, itu suami kamu sedang merajuk ",, kata Agnes kepada Molly.
" Lha terus Molly harus ngapain Kak, biarlah Kakanda merajuk, lagi pula Molly tidak pernah tahu bagaimana Kakanda kalau merajuk ",, jawab Molly kepada Agnes.
" Haish, kamu ini masa tidak pernah tahu bagaimana marahnya suami kamu, Ito kalau sudah marah sangat menyeramkan sekali Molly ",, kata Agnes kepada Molly.
" Sudahlah Ma, Mama tenang saja, biar Papa saja nanti yang berbicara kepada Pietro ",, kata Kak Ivar kepada Agnes.
Baru saja Agnes membuka mulut untuk menjawab perkataan dari Kak Ivar, tiba-tiba saja pandangan mereka semua teralihkan dengan kedatangan Pietro yang sudah siap memakai baju berburunya, komplit beserta alat-alatnya juga.
" Alva, Paman titip si kembar sama baby Leon ya, jagain mereka dan Aunty Molly, karena Paman ingin berburu menangkap singa betina untuk si King, seperti permintaannya Alva ",, kata Pietro dengan tiba-tiba kepada Alva.
Alva yang merasa sangat bahagia sekali, dia langsung saja beranjak berdiri dari duduknya untuk mendekati Pietro.
Dan ketika sudah sampai di depan Pietro, Alva langsung saja memeluk erat ke dua kaki sang Paman dengan sangat sayang sekali.
__ADS_1
" Terimakasih Paman, Alva sayang Paman ",, kata Alva sambil memeluk ke dua kaki Pietro.
Pietro hanya mengusap lembut rambut kepala sang keponakan dengan penuh rasa sayang.
Sedangkan Kak Ivar, Molly dan juga Agnes, mereka bertiga masih diam saja sambil terus memperhatikan interaksi antara Alva dan Pietro.
" Paman berangkat dulu ya Alva ",, kata Pietro kepada Alva.
" Hati-hati Paman ",, jawab Alva sambil tersenyum manis sekali.
Dan seperti biasa, sebelum Pietro berlalu pergi, dia langsung saja berpamitan dulu kepada Molly, untuk memberikan kecupan mesra serta hangat.
Serta jangan lupakan, Pietro juga memberikan ciuman sayang kepada si kembar beserta baby Leon.
Si kembar yang sudah tahu siapa itu Pietro, mereka langsung saja menangis cukup kencang sekali, ketika melihat sang Ayah akan pergi.
Agnes dan Kak Ivar langsung mencoba menenangkan si kembar, supaya mereka tidak menangis lagi.
Sedangkan baby Leon, dia masih anteng di gendongannya Molly.
Setelah memberikan kecupan sayang untuk semua Keluarganya, Pietro pun langsung berlalu pergi dari dalam rumah.
" Lihatlah Mama, apa yang Mama pikirkan tentang Pietro adalah salah besar ",, kata Kak Ivar sambil menenangkan baby Chasel.
" Pietro bukannya marah, justru dia malah langsung mengabulkan permintaannya Alva ",, lanjut lagi perkataan dari Kak Ivar kepada Agnes.
" Sebegitu sayangnya Ito kepada Alva ya Yah, Mama jadi terhura ",, jawab Agnes kepada Kak Ivar.
" Terharu Mama, bukan terhura ",, kata Kak Ivar kepada Agnes.
Molly yang mendengar percakapan antara Kak Ivar dan Agnes, dia hanya menggelengkan kepalanya saja sambil ikut tersenyum.
Sedangkan untuk Pietro yang sudah keluar dari dalam rumah super mewahnya.
Dia langsung saja bergegas masuk ke dalam mobil mewahnya, untuk menuju ke rumahnya yang dulu.
Sebelum pergi, Pietro menyuruh kepada para anak buahnya untuk memperketat lagi keamanan rumahnya selama dia pergi.
Dan Pietro, juga sudah menghubungi semua anak buahnya, yang berjaga di rumahnya yang dulu untuk segera menyiapkan alat-alat berburunya.
Walau sekarang Pietro sudah membawa alat-alatnya, namun itu masih kurang komplit.
Kurang lebih membutuhkan waktu sekitar satu jam lamanya, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Pietro, sampai juga di rumahnya yang dulu yang ada di tengah hutan.
Kedatangan dari Pietro, langsung di sambut sopan dan ramah oleh para anak buahnya.
Semua alat-alat yang Pietro butuhkan, sudah pada di siapkan sebelumnya oleh para anak buahnya.
Dan ketika Pietro melihat tanaman obat herbalnya tumbuh dengan subur, dia begitu sangat senang sekali, karena itu artinya semua anak buahnya menjaganya dengan sangat baik.
Setelahnya, Pietro mengajak lima orang anak buahnya untuk ikut bersamanya, untuk berburu singa betina liar yang ada di dalam hutan.
__ADS_1
Pietro menyuruh beberapa anak buahnya untuk memasang perangkap di jalan yang biasa di lalui oleh para kawanan singa.
Walau Pietro sudah pindah ke kota dan tinggal di sana, namun Pietro masih sangat ingat sekali bagaimana cara berburu di dalam hutan.
" Tuan Pietro, sepertinya ini ada jejak kaki singa lagi ",, kata salah satu anak buah kepada Pietro.
Pietro yang mendengar perkataan dari anak buahnya, dia langsung saja menunduk untuk melihat jejak kaki tersebut.
" Iya, benar ini jejak kaki seekor singa ",, jawab Pietro kepada para anak buahnya.
" Ayo kita ikuti jejak kaki ini ",, kata Pietro lagi.
Pietro dan ke lima anak buahnya sudah semakin dalam saja menyusuri hutan itu.
Dan semakin dalam lagi, akhirnya Pietro beserta ke lima anak buahnya, tidak sengaja melihat tiga ekor singa betina yang sedang memakai seekor bangkai binatang.
" Jangan banyak bergerak, dan jangan menimbulkan suara ",, kata Pietro sambil berbisik.
Semua anak buahnya langsung mengangguk patuh kepada Pietro.
Pietro dan ke lima anak buahnya, terus memantau dan mengintai ke tiga ekor singa betina itu.
" Kita cari yang belum mempunyai pasangan, karena biasanya singa itu belum pernah melahirkan sama sekali, karena saya akan menjodohkannya dengan si King ",, kata Pietro kepada para anak buahnya.
" Baik Tuan ",, jawab serempak dari para anak buah tersebut kepada Pietro.
Ketika ke tiga kawanan singa betina itu sudah merasa kenyang, mereka lalu membubarkan diri menuju ke kawanan mereka yang lain.
Pietro dan ke lima anak buahnya, masih terus mengikuti ke tiga ekor singa tersebut, hingga akhirnya sampai juga di kawanan para singa.
Ada satu di antara ke tiga ekor singa betina tadi yang hanya diam saja, tidak mendekati singa jantan maupun anak-anak singa yang ada di situ.
Karena ke dua singa yang lainnya setelah datang, mereka langsung mendekati anak-anak singa, dan singa jantan yang sedang duduk santai di situ.
" Saya rasa kalian sudah tahu, singa mana yang harus kalian tangkap ",, kata Pietro kepada para anak buahnya.
" Iya Tuan ",, jawab dari anak buah kepada Pietro.
Pietro dan ke lima anak buahnya, masih setia menunggu pergerakan dari singa betina yang sedang mereka incar.
Walau merasa jenuh dan bosan, akhirnya singa betina yang mereka incar pergi berlari ke dalam hutan lagi.
Itu artinya Pietro beserta anak buahnya untuk bergerak cepat.
Dan ketika keadaannya sudah tepat, Pietro langsung saja menembakkan sebuah suntikan bius hasil racikannya sendiri dan mengenai sasaran.
" Kalian ikuti singa itu, karena sebentar lagi dia akan lemas tidak sadarkan diri ",, kata Pietro kepada para anak buahnya.
Benar saja, tidak lama, berjarak sekitar tiga meter dari tempatnya berdiri tadi, singa tadi langsung lemas tidak sadarkan itu.
Dan para anak buah Pietro yang melihat, mereka semua langsung saja membawa singa betina itu dengan cara di pikul menggunakan kayu yang cukup besar sekali dengan ke empat kaki dari singa itu mereka ikatkan ke kayu tersebut.
__ADS_1
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
...***TBC***...