KING PSYCHOPATH

KING PSYCHOPATH
MOLLY PINGSAN


__ADS_3

Kak Ivar dan Gilbert yang sudah berada di samping ranjangnya Molly, Gilbert langsung melihat ke arah Kak Ivar dan membuat Kak Ivar ikut menolehkan pandangannya ke arah Gilbert.


" Apa?? ",, tanya dari Kak Ivar kepada gilbert.


" Kakak saja yang membangunkan Kak Molly, Gilbert takut khilaf ingin memeluk Kak Molly ",, kata Gilbert dengan kocaknya kepada Kak Ivar.


Kak Ivar yang masih gemas, dia langsung saja memukul kepalanya Gilbert lagi.


" Iisshhh suka sekali ini orang daritadi memukul kepalaku ",, gerutu Gilbert untuk Kak Ivar.


Kak Ivar yang mendengar gerutuan dari Gilbert, dia memilih diam saja tidak mau mempedulikannya.


Kak Ivar memilih untuk mencoba membangunkan Molly dari tidurnya yang lelap itu.


" Molly........... ",, panggil dari Kak Ivar kepada Molly sambil menggoyangkan pundaknya Molly.


" Bangun Molly, kamu makan malam dulu yuk, setelah itu minum obat ",, kata Ivar lagi sambil terus menggoyangkan pundaknya Molly.


" Kenapa dia tidak bangun-bangun Kak, apa jangan-jangan Molly pingsan, karena daritadi kita berisik tapi dia diam saja seperti tidak terganggu sama sekali ",, kata Gilbert kepada Kak Ivar.


Kak Ivar yang mendengar perkataan dari Gilbert, dia langsung mencoba semakin mendekat ke arah Molly untuk mengecek apakah Molly pingsan atau tidak.


" Molly?? ",, panggil dari Kak Ivar kepada Molly sambil mengecek hidungnya Molly apakah masih bernafas atau tidak.


" Nafas dia teratur Gilbert ",, kata Kak Ivar kepada Gilbert.


" Coba cek denyut nadinya Kak, apakah melambat atau masih normal ",, kata Gilbert lagi kepada Kak Ivar.


Kak Ivar pun langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Gilbert tadi untuk mengecek denyut nadi di pergelangan tangan dan juga di lehernya Molly.


" Sedikit melambat namun teratur Ibet, iya ini Molly sepertinya sedang pingsan ",, kata Kak Ivar kepada Gilbert sambil memeriksa denyut nadi di lehernya Molly.


Setelahnya Kak Ivar mencoba membangunkan Molly dengan menepuk-nepuk wajahnya dengan cukup keras supaya Molly bisa merespon panggilannya.


" Molly,!! bangun Molly!! ",, panggil Kak Ivar dengan suara yang sedikit lantang.


Namun tetap saja tidak ada tanda-tanda Molly ingin terbangun dari tidurnya yang lelap itu.


" Aduh bisa mati kita Ibet, jika Kakak kamu itu tahu jika Molly sedang pingsan ",, kata Kak Ivar kepada Gilbert.


Melihat Kak Ivar yang semakin bingung dengan kondisinya Molly, akhirnya Gilbert pun sekarang menjadi ikut-ikutan bingung dan juga takut.


Bahkan Gilbert reflek sampai menggigiti kuku jarinya, karena dia merasa takut akan di bunuh oleh Kakaknya yang Psikopat itu.


Kak Ivar terus mencoba membangunkan Molly dengan terus mengguncangkan tubuhnya Molly maupun menepuk-nepuk wajahnya Molly.

__ADS_1


" Aduuuh bagaimana ini Kak?? ",, kata Gilbert kepada Kak Ivar dengan ekspresi yang benar-benar sangat ketakutan.


" Kamu bantuin Kakak Ibet untuk menyadarkan Molly, jangan membuat Kakak semakin pusing dan takut saja ",, kata Kak Ivar kepada Gilbert.


" Kita panggil Dokter saja bagaimana Kak?? ",, kata Gilbert kepada Kak Ivar.


" Jangaaan,!! nanti bisa bahaya, kamu kan tahu sendiri jika Kakak kamu yang satu itu tidak suka bau-bau rumah sakit maupun Dokter ",, kata Kak Ivar melarang Gilbert.


" Terus bagaimana Kak, Gilbert juga bingung?? ",, kata Gilbert kepada Kak Ivar.


" Sebentar biar Kakak mencoba membangunkan Molly lagi ",, kata Kak Ivar kepada Gilbert.


Dan Gilbert langsung saja mengangguk kepada Kak Ivar.


Kak Ivar terus mencoba dan mencoba untuk membangunkan Molly dari pingsannya yang sesaat itu.


Akhirnya berhasil juga usaha dari Kak Ivar untuk menyadarkan Molly.


Melihat Molly ada pergerakan sudah sadar, betapa senangnya Kak Ivar dan juga Gilbert.


" Aaaah syukurlah lega sekali rasanya ",, kata Kak Ivar melihat Molly sudah sadar.


Sedangkan Gilbert dia langsung saja mengusap dadanya pertanda dia juga merasa lega.


Belum sempat Molly menjawab pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan sangat kasar sekali dan pelakunya pasti kalian semua sudah tahu, yaitu Pietro.


Pietro setelah menelpon Tuan Abraham tadi, dia langsung saja mengendarai mobil mahalnya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali.


Seharusnya perjalanan yang dia tempuh sekitar lima puluh menitan bisa menjadi sekitar tiga puluh menitan.


Pietro yang sudah sampai di rumah Kak Ivar, dia langsung bergegas berlari menuju ke dalam kamarnya.


Dan ketika Pietro sudah membuka kamarnya dia langsung melihat sang Ratu sedang terbaring tidak berdaya diatas ranjangnya.


" Molly!! ",, panggil Pietro kepada Molly.


Sedang Kak Ivar yang melihat Pietro sudah datang, dia langsung menyingkir untuk memberikan ruang kepada Pietro.


Rasa sakit akibat tusukan tadi dipunggungnya, seperti tidak dirasakan sama sekali oleh Pietro.


Karena baginya kesehatannya Molly lebih penting daripada luka tusuk yang dialaminya tadi.


Gilbert yang melihat sang Kakak sudah datang, jantung dia serasa berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


Dan Kak Ivar beserta Gilbert yang melihat baju di punggungnya Pietro penuh dengan darah yang sudah mengering, mereka berdua langsung merasa sangat khawatir sekali.

__ADS_1


Baik Kak Ivar dan juga Gilbert belum berani bertanya kepada Pietro darah apakah itu yang ada di balik punggungnya.


Pietro yang sudah sampai di samping ranjang, dia langsung saja memeluk Molly degan sangat erat sekali.


" Astaga ini suhu badan apa kompor yang sedang menyala ",, kata Pietro ketika memeluk Molly.


Karena badan Molly benar-benar sangat panas sekali melebihi suhu normal orang biasanya.


Eeh Molly yang sedang dipeluk oleh Pietro dia pun tiba-tiba pingsan lagi.


Hal itu tentu saja membuat Pietro menjadi semakin khawatir saja dengan keadaannya Molly.


" Kak Ivar cepat siapkan daun-daunan yang aku sebutkan ",, kata Pietro kepada Kak Ivar.


" Iya apa saja daun-daunan itu Pietro?? ",, kata kak Ivar kepada Pietro.


Kak Ivar sangat tahu sekali dengan kebiasan dari sang adik yang akan selalu membuat ramuan untuk menyembuhkan luka apapun.


Dan Pietro langsung saja menyebutkan dedaunan sejenis daun untuk obat yang sengaja Pietro tanam di halaman samping rumah Kak Ivar.


" Akan Kakak ambilkan dulu ",, kata Kak Ivar kepada Pietro.


Setelahnya Kak Ivar langsung berlalu pergi dari dalam kamar, dan akan diikuti oleh Gilbert namun langsung saja dicegah oleh Pietro.


" Gilbert kamu disini saja!! ",, kata Pietro kepada Gilbert.


" Iya baiklah ",, jawab Gilbert kepada Pietro.


" Kamu Kakak suruh ambilkan alat yang dibuat untuk menumbuk daun-daun yang sedang diambilkan oleh Kak Ivar, siapkan semua alat-alat itu sekarang juga di sini!! ",, kata Pietro kepada Gilbert.


" Iya-iya baiklah ",, jawab pasrah dari Gilbert kepada Pietro.


Dan Gilbert pun akhirnya mengikuti jejak dari Kak Ivar yang keluar kamar untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh Pietro.


Sepeninggalan dari Kak Ivar dan juga Gilbert, Pietro langsung saja mencoba untuk membuat Molly tersadar.


Pietro perlahan melepaskan 6r4 yang dipakai oleh Molly supaya Molly bisa bernafas dengan lancar dan juga aliran darahnya bisa mengalir dengan baik.


Setelahnya Pietro juga mencoba teknik yang diajarkan oleh sang Kakek dulu untuk menyadarkan orang yang sedang pingsan.


Dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Molly sadar juga dari pingsannya yang ke dua kali itu.


...๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2