
Di kediaman Kak Ivar, Kak Ivar yang sudah bangun dari tidurnya dan baru saja keluar dari dalam kamarnya, dia tidak sengaja berpas-pasan dengan Molly yang baru saja turun dari atas tangga.
Kak Ivar yang melihat tingkah Molly seperti sedang mencari sesuatu pun, dia langsung saja bertanya kepada Molly.
" Molly kamu sedang apa,?? kenapa kamu sampai mengintip di bawah kolong meja?? ",, tanya dari Kak Ivar kepada Molly.
Molly yang di tanya oleh Kak Ivar dia seperti tidak menyadari pertanyaan dari Kak Ivar.
Dan Molly malah melanjutkan mencari sesuatu itu ke dalam lemari bufet yang Kak Ivar miliki.
Kak Ivar yang melihat Molly seperti tidak mempedulikannya, dia lalu mencoba memanggil Molly dengan sedikit lebih keras lagi.
" Molly ",, panggil Kak Ivar kepada Molly.
" Aduh!! ",, kata Molly tiba-tiba mengaduh.
Bagaimana Molly tidak mengaduh, sebab dia terkejut mendengar Kak Ivar memanggilnya berteriak seperti itu, hingga membuat kepalanya terpentok pinggiran lemari bufet.
Kak Ivar yang melihat kepala Molly terpentok seperti itu, dia langsung meringis seperti ikut juga merasakan rasa sakitnya.
" Kak Ivar kenapa sih Kak, Kakak mengejutkan Molly saja ",, kata Molly sambil mengusap kepalanya yang sakit itu.
" Kamu sedang apa,?? daritadi di tanya sama Kakak malah Kakak di cuekin ",, kata Kak Ivar kepada Molly.
" Eh, memangnya daritadi Kakak ada di sini ya,?? ko Molly tidak melihat?? ",, kata Molly kepada Kak Ivar.
Kak Ivar yang mendengar perkataannya Molly, dia langsung saja memutar bola matanya, karena sebal.
Masa iya daritadi dia yang sudah berdiri di situ, Molly tidak melihatnya, apakah badannya kurang besarkah.
" Apa yang kamu cari, kenapa kamu sampai membuka satu persatu lemari bufetnya, hingga mengintip ke bawah kolong meja juga Molly?? ",, tanya lagi dari Kak Ivar kepada Molly.
" Molly sedang mencari Kakanda Kak Ivar, siapa tahu dia sedang mengumpet di situ ",, jawab dari Molly kepada Kak Ivar.
Kak Ivar langsung saja membuka mulutnya mendengar jawaban dari Molly.
Iya kali Pietro bersembunyi di bawah kolong meja sama di dalam lemari bufet yang ukurannya cuma muat untuk satu kakinya Pietro saja, untuk apa,?? begitulah pertanyaan yang tepat kepada Molly.
__ADS_1
Tidak bersembunyi saja, apapun itu yang berpas-pasan dengan Pietro, dia pasti akan takut, cuma keluarganya saja yang tidak takut kepada Pietro.
" Nak Pietro sedang pergi Nak Molly, entahlah dia pergi kemana, karena pagi-pagi sekali dia sudah naik mobil ",, kata seseorang menyahuti perkataannya Molly, dan orang itu adalah Mama Jaena.
Mama Jaena yang baru saja keluar dari dalam dapur dan ketika dia ingin berjalan ke arah ruang keluarga dia tidak sengaja mendengar perbincangan dari Kak Ivar bersama Molly.
" Oh ya sudah Ma, jika Kakanda sedang pergi ",, kata Molly kepada Mama Jaena.
" Memangnya apa kamu tidak tahu kalau suami kamu itu sedang pergi?? ",, tanya dari Kak Ivar kepada Molly.
" Tidak Kak, tadi ketika Molly bangun, ranjang sebelah Molly tahu-tahu sudah kosong ",, jawab dari Molly kepada Kak Ivar.
" Kalian memang pasangan aneh, pergi saja tidak berpamitan seperti itu ",, kata Kak Ivar kepada Molly.
" Biar sajalah Kak, Kakanda juga sudah besar, dia juga sudah bisa buang air kecil sama buang air besar sendiri ",, jawab dari Molly kepada Kak Ivar.
Sungguh jawaban dari Molly, langsung saja membuat Mama Jaena dan Kak Ivar langsung saja membuka mulutnya dengan sangat lebar sekali.
Setelah itu Molly langsung saja berlalu pergi dari situ untuk menuju ke dalam kamarnya lagi, meninggalkan Kak Ivar dan Mama Jaena yang sedang speechles dengan jawabannya tadi.
Tidak sadarkah Molly, jika jawabannya tadi sangat membagongkan sekali untuk Mama Jaena dan juga Kak Ivar.
Tiba-tiba saja Mama Jaena langsung tertawa cukup keras, sebab menurutnya Molly benar-benar lucu sekali.
Sedang Kak Ivar dia langsung saja menggelengkan kepalanya sambil menepuk wajahnya sendiri.
Dan lalu baik Kak Ivar bersama Mama Jaena langsung berpisah ke tujuan mereka masing-masing.
Kembali lagi ke rumah Danish.
Pietro yang sudah hampir saja masuk ke dalam mobilnya, dia tiba-tiba saja di cegah oleh Gilbert dengan menarik lengan sang Kakak.
" Ada apa Gilbert, ayo pulang ",, kata Pietro kepada Gilbert.
Dan Pietro pun langsung ingin membuka pintu mobilnya, namun di urungkan lagi, sebab lagi dan lagi dia tahan oleh Gilbert.
" Kamu kenapa,?? ayo kita segera pulang dari sini ",, kata Pietro kepada Gilbert.
__ADS_1
" Kakak itu yang kenapa!! ",, jawab dari Gilbert kepada Pietro.
" Kenapa Kakak malah membunuh Mamanya Elina, bagaimana nasib dengan hubungannya Gilbert dan Elina Kak, apa Kakak sekali-kali memikirkan perasaan atau kehidupannya Gilbert!! ",, marah dari Gilbert kepada sang Kakak.
Pietro yang melihat Gilbert marah kepadanya, dia hanya diam saja, tanpa memperlihatkan wajah sedih ataupun marah sama sekali kepada Gilbert.
" Yang di pukuli itu Gilbert, bukan Kakak,!! kenapa Kakak malah membunuh seorang ibu yang tidak berdosa dan hanya melindungi keluarganya saja, hah!! ",, kata Gilbert lagi kepada Pietro.
Sepertinya kali ini Gilbert benar-benar merasa marah kepada Pietro.
Dengan santainya, Pietro masih diam saja dengan terus mendengarkan semua perkataan dari Gilbert.
" Pasti setelah ini Elina sudah tidak mau lagi melanjutkan hubungannya dengan Gilbert Kak ",, kata Gilbert kepada Pietro.
" Apa itu keinginan dari Kakak hah!! ",, lanjut terus perkataan dari Gilbert kepada Pietro.
" Setiap wanita yang Gilbert sukai, selalu ujung-ujungnya suka dengan Kakak, setiap kali ada wanita yang mencoba mendekati Gilbert, dia ternyata cuma ingin mendekati Kakak melalui Gilbert, dan kali ini ada wanita yang sudah benar-benar mau dengan Gilbert, kenapa Kakak malah menghancurkan hubungan yang baru saja Gilbert bangun Kak, kenapa Kak,?? kenapa Kakak tega kepada Gilbert!! ",, luapan emosi dari Gilbert kepada Pietro.
Entahlah hati Pietro terbuat dari apa, karena melihat Gilbert marah-marah seperti itu kepadanya, dia hanya diam saja sambil terus menatap dengan wajah flatnya ke arah Gilbert.
" Gilbert tidak pernah meminta apa pun kepada Kakak, Gilbert juga tidak pernah merasa iri kepada Kakak, karena Kakak mempunyai wajah yang lebih tampan dari Gilbert, tapi Gilbert cuma iri ingin segera membina rumah tangga seperti Kakak dan juga Kak Ivar, tapi .............. Iya sudahlah, percuma berbicara kepada robot seperti Kakak ",, lanjut terus perkataan dari Gilbert kepada Pietro.
" Sudah?? ",, kata super simple dari Pietro kepada Gilbert.
Gilbert pun langsung membuka mulutnya ketika cuma itu saja jawaban dari sang Kakak yang sudah di tunggu-tunggunya daritadi.
" Jika sudah selesai marah-marahnya, ayo kita segera pulang ",, lanjut lagi perkataan dari Pietro kepada Gilbert.
" Cepat masuk mobil!! ",, kata Pietro lagi kepada Gilbert.
Dan setelahnya Pietro langsung benar-benar masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Gilbert yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
" Cepat!! ",, kata Pietro kepada Gilbert sambil membuka kaca mobilnya.
Dengan perasaan dongkol, marah, sebal, jengkel, akhirnya Gilbert pun masuk juga ke dalam mobilnya dengan terus menggerutu untuk sang Kakak yang menurutnya benar-benar tidak mempunyai otak.
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
__ADS_1
...***TBC***...