
Meninggalkan Pietro sejenak dengan segala kekejamannya, sekarang kita beralih ke Elina yang sedang dalam perjalanan pulang di antarkan oleh anak buah Pietro.
Walau itu mobil milik Elina, akan tetapi Elina memang sedang disopiri anak buah Pietro, yang memang di tugaskan oleh Pietro untuk mengantarkan Elina pulang.
Di dalam mobil, Elina hanya mampu diam saja sambil memikirkan semua kejadian yang baru saja di alaminya tadi di dalam Cafe.
Setibanya di rumah mewahnya, Elina langsung saja keluar dari dalam mobil untuk masuk ke dalam rumahnya.
Akan tetapi, ketika dia akan masuk ke dalam rumah anak buah Pietro tiba-tiba memanggil namanya.
Tentu saja Elina langsung menghentikan langkah kakinya itu.
" Iya ada apa Tuan?? ",, tanya Elina kepada anak buah Pietro.
" Ini kunci mobilnya Nona, saya sudah mengantarkan anda dengan selamat seperti perintah Tuan Pietro ",, jawab anak buah tersebut kepada Elina.
" Oh, iya maaf lupa, terimakasih Tuan ",, kata Elina sambil mengambil kunci mobilnya.
" Saya permisi ",, pamit dari anak buah itu kepada Elina.
Elina hanya mengangguk saja kepada anak buah tersebut, dan setelahnya Elina langsung berlalu masuk ke dalam rumahnya serta langsung menutup pintunya dan juga menguncinya dengan sangat rapat sekali.
Elina masih sedikit syok, dan dia jujur selama hidupnya tidak pernah mengalami kejadian yang memalukan seperti tadi.
Jadi Elina sangat-sangat bersyukur sekali bisa di tolong oleh sang Kakak Ipar yaitu Pietro, karena Elina tidak tahu jika tidak ada Pietro di sana, apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Elina yang sudah masuk ke dalam rumahnya, dia langsung menuju ke dalam kamarnya, di dalam kamar Elina langsung memilih bersih-bersih badannya untuk membersihkan semua sentuhan dari Sam yang tadi sudah berani menyentuh dagu dan juga p***tnya.
Selesai mandi, Elina memilih untuk menuju ke dalam dapurnya, di dalam dapur dia langsung membuka kulkas ingin membuat sesuatu untuk Gilbert nanti.
Akan tetapi sayang sekali, kulkasnya hampir semua bahan makanan miliknya sudah habis, dan hal itu membuat Elina menjadi pusing sendiri.
" Kenapa hanya tinggal sayur ini dan itu saja, bagaimana aku bisa memasakkan sesuatu untuk Gilbert nanti?? ",, kata Elina berbicara sendiri di depan kulkas.
" Aku mau belanja keluar ke supermarket rasanya masih sangat takut sekali, bagaimana ini, mau pesan makanan pun aku sedang ingin memasak ",, kata Elina lagi untuk dirinya sendiri.
Elina terus saja berpikir bagaimana caranya untuk bisa membeli semua bahan-bahan masakan yang di inginkannya.
Ketika Elina sedang sibuk berpikir, tidak sengaja ponsel miliknya yang dia taruh di atas meja makan berdering dan bergetar.
__ADS_1
Elina langsung berjalan ke arah meja makan tersebut untuk mengambil ponselnya.
Melihat nama sang Kakak yaitu Danish, Elina pun langsung segera mengangkat sambungan teleponnya.
" Halo Kak Danish?? ",, sapa Elina kepada Danish.
" Elina, apakah kamu sedang berada di rumah sekarang?? ",, tanya Danish kepada Elina.
" Iya di rumah Kak, ada apa memangnya?? ",, jawab Elina kepada Danish.
" Ayah katanya ingin melihat kamu, mungkin dia rindu, bisakah kamu ke sini?? ",, tanya Danish kepada Elina.
" Emm, maaf Kak, bagaimana kalau Kakak yang ke sini ke rumah Elina, Elina tidak bisa ke situ Kak ",, jawab Elina kepada Danish.
" Memangnya kenapa kamu tidak bisa ke rumah Kakak, apa Gilbert melarang kamu untuk menemui Kakak dan Ayah?? '',, tanya Danish kepada Elina.
" Tidak Kak, hanya saja Elina baru saja mengalami hal buruk tadi, dan Elina tidak bisa menceritakannya sekarang melalui telepon kepada Kakak ",, jawab Elina kepada Danish.
" Baiklah, kalau begitu biar Kakak saja yang ke sana bersama Ayah ",, kata Danish kepada Elina.
" Emm, Kak bolehkah Elina sekalian meminta tolong kepada Kakak?? ",, kata Elina kepada Danish.
" Iya apa,?? katakanlah ",, jawab Danish kepada Elina.
" Baiklah adikku sayang, nanti Kakak akan penuhi isi kulkas kamu itu ",, kata Danish kepada Elina.
" Terimakasih Kakak, Elina tunggu kedatangan kalian berdua ",, kata Elina dengan sangat senang sekali.
Bagaimana Elina tidak senang, jika permasalahannya sudah di pecahkan oleh sang Kakak.
Setelah mendengar jawaban dari Danish, sambungan telepon mereka pun terputus juga.
Dan Elina sambil menunggu sang Kakak dan sang Ayah sampai di rumahnya, Elina memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di dalam kamar.
Sedang Gilbert dia masih bekerja di kantor bersama Kak Ivar untuk membahas pekerjaan atau proyek yang sedang mereka tangani saat ini.
Berbeda dengan Gilbert dan Kak Ivar, dibeda tempat lagi ada Kak Agler dan Ayah Janu.
Kak Agler yang sedang meeting dengan clientnya di luar kantor dan tidak sengaja Cafe yang dia kunjungi tersebut berada tidak jauh dengan rumah Kak Ivar.
__ADS_1
Di dalam hati kecil Kak Agler, Kak Agler ingin sekali membelikan sesuatu untuk adik angkatnya itu, siapa lagi jika bukan Molly.
Sekitar pukul sebelas siang lebih, akhirnya meeting yang Kak Agler jalani sudah selesai.
Sebelum berlalu dari dalam Cafe, Kak Agler memesan makanan yang sekiranya Molly suka dan penghuni rumah Kak Ivar juga suka.
Dan setelah semua makanan yang di pesannya sudah berada di tangannya, Kak Agler pun langsung berlalu menuju ke rumah Kak Ivar.
Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit lamanya untuk Kak Agler sampai di rumah Kak Ivar.
Kebetulan juga, yang membukakan pintu untuk Kak Ivar adalah Molly.
Dan Molly yang melihat kedatangan dari sang Kakak angkatnya, dia langsung merasa sangat senang sekali.
" Waaah, ada Kak Agler ke sini, ayo silahkan masuk Kak ",, kata Molly kepada Kak Agler.
Kak Agler langsung tersenyum manis kepada Molly, dan Kak Agler lalu masuk ke dalam ruang tamu bersama Molly.
" Kakak sengaja datang ke sini untuk memberikan ini untuk kamu sama yang lainnya Molly, ini bukalah ",, kata Kak Agler ketika baru saja duduk di sofa yang ada di situ.
" Banyak sekali makanannya Kak, dan hmm sepertinya enak, terimakasih Kak Agler ",, jawab Molly dengan sangat senang sekali.
" Sama-sama Molly, Kakak senang melihat kamu senang dan tersenyum seperti ini ",, kata Kak Agler kepada Molly.
" Oh ya, di mana yang lainnya, suami kamu, Nyonya Agnes sama si kembar, ko kelihatannya sepi sekali rumah ini?? ",, tanya Kak Agler kepada Molly.
" Kak Agnes sedang pergi ke supermarket Kak, katanya mau belanja bulanan, sedangkan si kembar sedang tidur, dan kalau suami Molly dia sedang pulang sebentar untuk memberi makan si King ",, jawab Molly kepada Kak Agler.
" Pulang,?? pulang ke mana,?? bukannya ini juga rumah kalian, dan lalu siapa itu si King Molly?? ",, tanya Kak Agler kepada Molly.
" Bukan Kakak, ini bukan rumah Molly, tapi rumah Kak Ivar dan Kak Agnes, rumah Molly dan Kakanda ada di tengah hutan, dan King itu singa peliharaan kami ",, jawab Molly sambil tersenyum kepada Kak Agler.
" Hah singa,?? kamu memelihara seekor singa Molly?? ",, kata Kak Agler dengan ekspresi sangat terkejut sekali.
Molly hanya mengangguk saja kepada Kak Agler.
Dan Kak Agler memang belum mengetahui jika sebenarnya, rumah yang sudah sering dia datangi ini bukanlah rumah Pietro dan Molly, melainkan rumah Kak Ivar.
Namun bukan itu yang membuat Kak Agler terkejut, akan tetapi mendengar Molly memelihara seekor singa yang membuat Kak Agler seperti terkena serangan jantung mendadak.
__ADS_1
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
...***TBC***...