
Elina yang sudah masuk ke dalam kamarnya, dia tadi langsung saja menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang sekali.
Rasa gemuruh di dalam dadanya langsung di rasakan oleh Elina kepada ke dua orang tuanya.
Elina tidak menyangka, kalau ke dua orang tuanya mempunyai pemikiran yang seperti itu kepadanya.
Padahal selama ini ke dua orang tuanya, Elina merasakan jika mereka tidak pernah mengekang dan membebaskannya dalam segala hal, termasuk memilih pasangan hidup.
Namun ini, tiba-tiba saja tanpa ada kabar sama sekali, tahu-tahu Ayah Eric dan Mama Juni langsung ingin menjodohkan Elina, dan hal itu tentu saja membuat Elina sangat terkejut sekali.
" Elina kecewa sama Ayah dan juga Mama ",, kata Elina sambil duduk di pinggir ranjangnya.
" Gilbert sudah mendiamkanku, di tambah suasana rumah membuatku muak sekali, rasanya aku ingin pergi saja dari sini!! ",, kata Elina lagi masih berbicara sendiri.
Setelah itu Elina lalu melihat ke arah jam tangannya dan ternyata masih menunjukkan pukul sebelas siang.
" Masih jam sebelas siang, bisa untukku meluapkan emosiku!! ",, kata Elina lagi kepada dirinya sendiri.
Elina lalu beranjak dari atas ranjang dan berjalan ke arah ruang walk in closetnya.
Ketika sudah selesai berganti baju, Elina pun langsung saja keluar dari dalam kamarnya.
Ayah Eric, Mama Juni dan juga Danish beserta Luke yang melihat Elina baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan sudah berganti pakaian, mereka semua kecuali Luke langsung bertanya kepada Elina.
" Mau kemana kamu Elina?? ",, tanya dari Ayah Eric, Mama Juni dan juga Danish secara bersama-sama.
Elina memilih langsung pergi dan tanpa mempedulikan atau menjawab sama sekali pertanyaan dari mereka semua.
" Lihatlah, begitulah sikap dari Elina jika dia sedang marah, dan Danish yakin jika Elina saat ini ingin pergi ke sirkuit, karena memang itu hobynya untuk meluapkan rasa marahnya ",, kata Danish kepada ke dua orang tuanya.
" Mohon maaf Tuan Danish, kalau boleh tahu di manakah arena sirkuitnya itu ya Tuan, saya ingin meluruskan saja perjodohan ini dan berbincang berdua saja bersama Elina ",, tanya dari Luke kepada Danish.
Danish pun langsung saja menyebutkan alamat sirkuit yang biasanya Elina datangi kepada Luke.
" Kalau begitu Tuan Eric, Nyonya Juni, saya permisi sebentar ingin menyusul Elina ",, ijin dari Luke kepada Ayah Eric dan juga Mama Juni.
" Iya Nak hati-hati di jalan ",, jawab dari Mama Juni kepada Luke.
__ADS_1
" Iya Nak Luke, bujuklah Elina, siapa tahu dengan kamu bujuk, dia jadi mau menikah dengan kamu ",, kata Ayah Eric kepada Luke.
" Akan saya usahakan Tuan Eric ",, jawab dari Luke kepada Ayah Eric.
Ayah Eric hanya mengangguk saja kepada Luke.
Dan setelah berpamitan, Luke langsung saja berlalu pergi dari dalam rumah Danish untuk menyusul Elina yang sudah pergi menaiki taksi.
Sedangkan Gilbert yang sudah sampai di rumah Kak Ivar, dia pun langsung saja mengeluarkan semua barang-barang belanjaannya dari dalam bagasi mobil untuk dia bawa masuk ke dalam rumah.
" Kak Agnes, Kak ...... ",, panggil dari Gilbert sambil membawa masuk semua barang belanjaannya.
" Ada apa sih Gilbert?? ",, tanya dari Kak Ivar yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
" Kak Agnes mana Kak, ini semua barang belanjaan yang di butuhkan sudah Gilbert beli semua ",, kata Gilbert kepada Kak Ivar.
" Dia sedang keluar bersama Alva dan Mama ke supermarket depan, Alva tadi ingin minta dibelikan jajan ",, jawab dari Kak Ivar kepada Gilbert.
" Sudah kamu bawa masuk dulu saja sana semua barang belanjaannya, dan suruh Bibi saja yang menyimpankannya ",, kata Kak Ivar lagi kepada Gilbert.
" Oh ya, ko kamu sendirian, di mana Nona Elina?? ",, tanya dari Kak Ivar kepada Gilbert.
" Dia Gilbert turunkan di jalan, karena tadi dia kentut di dalam mobil dan bau sekali kentutnya ",, jawab dari Gilbert dengan asal sambil berlalu masuk ke dalam dapur.
Kak Ivar langsung speechles mendengar jawaban aneh dari Gilbert, sambil membuka sedikit mulutnya.
Dan untuk Pietro sendiri yang masih di dalam kamarnya bersama Molly.
Mual yang Pietro rasakan ternyata tidak bisa hilang begitu saja, bahkan jika Pietro tidak bisa menahan rasa mualnya itu, Pietro langsung saja muntah-muntah dengan hebat lagi di dalam kamar mandi.
Molly yang merasa sangat kasihan sekali kepada Pietro, dia mencoba membuatkan teh herbal yang ada di rumah Kak Ivar, namun masih belum ada efeknya sama sekali di tubuh Pietro.
" Kakanda, Molly harus bagaimana jika Kakanda muntah-muntah terus begini?? ",, tanya dari Molly kepada Pietro.
" Sudah biarkan saja, nanti ini juga hilang sendiri ",, jawab dari Pietro kepada Molly.
" Tapi kan Kakanda, Molly merasa sangat khawatir sekali kepada Kakanda ",, kata Molly kepada Pietro dengan menunjukkan wajah sedihnya itu.
__ADS_1
" Sudahlah My Queen, tidak perlu bersedih begitu, ayo sini tidur di samping Kakanda ",, kata Pietro kepada Molly dengan suara lirih.
Molly yang sedang duduk di pinggir ranjang pun akhirnya menurut saja, dan dia lalu merebahkan badannya di ranjang sampingnya Pietro.
Mencium aroma tubuhnya Molly, Pietro pun semakin mendekatkan saja wajahnya ke dada Molly.
Dan Pietro langsung memeluk Molly dengan sangat erat sekali, seakan ingin menenggelamkan wajahnya itu ke dada kenyal milik Molly.
" Biarkan begini saja dulu My Queen ",, kata Pietro kepada Molly sambil memejamkan matanya.
Molly yang mendengar perkataan dari Pietro dia pun langsung membalas pelukannya Pietro, sambil menyelimuti tubuh mereka berdua menggunakan satu selimut yang sama.
Tangan Pietro yang tidak bisa diam, lama-lama membuat baju yang di pakai oleh Molly sampai tersingkap ke atas.
Hingga akhirnya terlihat dengan jelaslah dada kenyal milik Molly di depan wajahnya Pietro persis.
Molly antara mau dan tidak mau, namun dia tidak bisa menolak jika Pietro ingin, akhirnya Molly pasrah saja ketika Pietro sedang memasukkan jelly kenyal miliknya itu ke dalam mulutnya.
Pietro menikmati jelly milik Molly dengan sangat nikmat sekali, seperti anak bayi yang sedang menyusu kepada Mamanya.
Dan dengan menyusu seperti itu, lama kelamaan membuat Pietro bisa tertidur dengan sendirinya serta dia tidak merasakan rasa mual sama sekali.
Molly yang melihat Pietro sudah tertidur, dia pun langsung saja menarik jelly kenyalnya itu dari dalam mulutnya Pietro.
Setelahnya Molly langsung ikut memejamkan matanya untuk tidur siang bersama Pietro.
Sungguh kali ini Pietro yang kejam tidak ada di mata Molly, yang ada adalah Pietro yang lucu dan menggemaskan, sebab ternyata penawar rasa mual yang tadi dirasakan oleh Pietro adalah dengan menyusu kepada Molly.
Cuma kepada Molly saja, Pietro menunjukkan sikap yang selama ini semua orang tidak pernah melihatnya, dan Molly tidak tahu akan hal itu.
Bahkan Molly tidak tahu bagaimana karakter Pietro di luar sana, bagaimana kekejaman dari Pietro Roderick yang di takuti oleh para orang-orang penting yang ada di Negara mereka.
Yang Molly tahu Pietro adalah laki-laki baik, bertanggung jawab, menyayanginya dan juga laki-laki yang sangat peduli dengannya.
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
...***TBC***...
__ADS_1