
Walau baby Leonardo lahirannya di rumah, berkat kesigapan dari sang Ayah, dan keahlian dari Ayah Ito, baby Leonardo bisa lahir dengan sehat, selamat dan juga tidak mengalami hal apapun, semuanya baik-baik saja seperti yang di harapkan.
Karena berhubung Molly belum sadar dari pingsannya, Pietro terpaksa untuk sementara waktu memberikan susu formula terlebih dahulu yang sudah di siapkan untuk baby Leonardo.
Supaya baby Leonardo tidak terus menangis dan merasa kelaparan setelah ke luar dari perut sang Mama.
" Kini tinggal giliran kamu Elina, karena baby Leonardo sudah lahir ",, kata Agnes kepada Elina.
" Iya Kak, doakan yang terbaik untuk Elina ya Kak ",, jawab Elina kepada Agnes dan masih di dengar oleh semua orang.
" Pasti kami akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua Elina ",, kata Kak Ivar kepada Elina.
Elina langsung tersenyum manis menanggapi perkataan dari Kak Ivar.
" Minta tolong kepada Ito saja Elina, jika kamu mau melahirkan ",, canda dari Agnes kepada Elina.
Elina langsung saja tertawa ketika mendengar candaan dari sang Kakak Ipar.
" Iya, bisa di atur itu ",, jawab Gilbert kepada Agnes.
" Kalau begitu, kami ijin mau pulang dulu Kak, ini sudah malam, dan kami juga mau bersih-bersih badan sekalian ganti baju juga, terus langsung tidur deh ",, pamit Elina kepada semua orang.
" Yakin apa langsung bisa tidur?? ",, canda dari Agnes lagi kepada Elina.
Gilbert yang mendengar candaan dari Agnes, dia langsung saja tertawa dengan sangat keras sekali, begitupun dengan Elina yang tertawa dengan tersipu malu.
" Mama ini bisa saja membuat Elina malu, ingat di sini juga ada Alva Ma ",, kata Kak Ivar kepada Agnes.
Gantian Agnes yang tertawa tanpa dosa ketika di tegur oleh sang suami.
" Oh ya Elina, apakah Ayah kamu masih tinggal di rumah kalian?? ",, tanya Kak Ivar kepada Elina.
Sedangkan Pietro yang daritadi juga ada di situ, dia memilih diam saja sambil menggendong baby Leon, yang sedang anteng meminum susu formula dari dot baby nya.
" Masih Kak, hanya saja saat ini Ayah sedang ingin menginap di rumah Kak Danish, mungkin besok Ayah akan menginap lagi di rumah kami ",, bukan Elina yang menjawab, melainkan Gilbert.
Kak Ivar hanya mengangguk saja menanggapi jawaban dari Gilbert tadi.
Dan setelahnya, Gilbert beserta Elina langsung berlalu pergi dari rumah Pietro, untuk kembali ke rumah mereka sendiri yang ada di sebelah rumah.
Sedangkan Pietro, lalu membawa masuk baby Leon ke dalam kamar, untuk dia tidurkan di dalam box baby milik dari si kembar dulu.
Sebab si kembar sekarang, sudah tidur di dalam kamarnya sendiri yang sudah Pietro siapkan khusus untuk mereka.
Pietro yang sudah menaruh baby Leon ke dalam box babynya, dia langsung mencoba mengecek keadaan dari sang istri yang masih setia memejamkan matanya.
Sambil menunggu Molly sadar, Pietro lalu memilih untuk bersih-bersih badannya juga dan berganti baju dengan baju yang bersih.
Setelahnya, Pietro memilih berjaga untuk menjaga baby Leon atau Molly sambil mengecek toko obat herbalnya, yang bisa dia pantau melalui CCTV yang terhubung dengan ponselnya.
Pietro bukan tipe orang yang suka berhadapan dengan laptop atau benda-benda elektronik lainnya.
Jadi jangan heran, jika di novel ini jarang sekali atau bahkan tidak ada adegan Pietro sedang mengerjakan sesuatu di dalam laptopnya.
Sedangkan Kak Ivar dan Agnes beserta Alva, mereka semua masih setia berada di rumah Pietro untuk menunggui kabar selanjutnya tentang keadaannya Molly.
Alva yang merasa jenuh, dia lalu berjalan-jalan menuju ke arah kandang si King.
__ADS_1
Walau waktu sudah malam, namun Alva tidak merasa takut sama sekali, dan sesampainya di kandang si King, Alva melihat King sedang tidur dengan begitu lucunya.
Tanpa merasa takut sama sekali, Alva pun mencoba masuk ke dalam kandang untuk membangunkan si King.
" King ",, panggil Alva kepada King.
King yang mendengar suara orang yang di kenalnya, dia langsung saja membuka mata.
Dan ketika King melihat ternyata Alva yang datang, dia hanya diam saja sambil masih dengan posisi yang sama.
" Apa kamu merasa kesepian di sini King?? ",, tanya Alva kepada King sambil mengusap lembut rambut lebatnya si King.
" Itu Paman Pietro saja sudah mempunyai tiga orang anak, si kembar sudah mempunyai adik, sebentar lagi Paman Gilbert juga akan mempunyai anak, lalu kapan kamu akan memiliki Keluarga sendiri King?? ",, kata Alva mengajak berbicara si King.
Seperti mengerti perkataan dari Alva, tiba-tiba si King langsung terbangun dari rebahannya, dan langsung juga men71l4t wajah Alva dengan lembut.
" Sepertinya kamu mengerti perkataanku King ",, kata Alva sambil tertawa senang.
" Apakah kamu mau singa betina di sini untuk menemanimu dan memberikanmu keturunan?? ",, tanya Alva kepada si King.
King langsung saja menggoyangkan kepalanya pertanda jika dia mau dengan usul dari Alva.
Sudah cukup dekat dengan si King, Alva pun sangat mengerti sekali, mana kata iya dan mana kata tidak dari si King.
" Ok, itu artinya kamu mau, baiklah akan aku sampaikan nanti kepada Paman ",, kata Alva kepada King.
King memilih men71l4t1 ke dua kakinya secara bergantian, tanpa mau mempedulikan perkataan dari Alva lagi.
" Kalau begitu, sekarang kita main dulu yuk, jangan mengganggu Paman Pietro, dia sedang sibuk dan sedang menjaga adik bayi sama Aunty Molly ",, kata Alva lagi kepada King.
Alva lalu keluar dari dalam kandang si King, dengan si King yang terus mengikuti langkah kakinya si Alva ke mana pun dia melangkah.
Setelah Alva sudah mengambil barang yang dia butuhkan, Alva lalu mengajak si King untuk duduk di ruang tamu rumah sang Paman.
Alva menyisir rambut si King dengan lembut, dan Kingnya sendiri yang di perlakukan seperti itu oleh Alva, dia hanya diam saja tidak memberontak sama sekali.
Setelah Alva menyisir rambut si King, dia lalu menguncirnya menjadi dua, sama seperti kunciran dari anak kecil.
Alva mendandani si King ibarat si King adalah adik perempuannya.
Rambut si King yang lebat dan terlihat mengembang, menjadi rapi, karena Alva yang begitu telaten sekali menguncir rambut milik si King.
Entahlah, bagaimana reaksi dari Pietro nanti, jika hewan kesayangannya di buat begitu oleh sang keponakan.
Apakah dia akan marah, ataukah tertawa, kita akan tahu nanti jika Pietro sudah melihat si King.
Kak Ivar dan Agnes yang masih berbincang di ruang Keluarga, tiba-tiba mereka teringat jika waktu sudah malam, namun Alva malah tidak terlihat di pandangan mata.
" Ayah, Alva ada di mana?? ",, tanya Agnes kepada Kak Ivar.
" Ini sudah malam, dia harus tidur sekarang ",, kata Agnes lagi kepada Kak Ivar.
" Mungkin dia sedang bersama si King ",, jawab Kak Ivar kepada Agnes.
Agnes tanpa banyak berbicara kepada Kak Ivar, dia lalu beranjak berdiri dari duduknya untuk menuju ke dalam kandang si King.
Hampir saja sampai di kandang si King, Agnes tiba-tiba di tanya oleh salah satu asisten rumah tangga yang ada di situ.
__ADS_1
" Nyonya apa sedang mencari Non Alva?? ",, tanya asisten rumah tangga itu kepada Agnes.
" Iya, apakah Bibi melihatnya?? ",, tanya balik Agnes kepada asisten rumah tangganya.
" Nona Alva ada di ruang tamu Nyonya bersama si King ",, jawab dari sang asisten rumah tangga kepada Agnes.
" Oh, terimakasih ",, kata Agnes kepada asisten rumah tangga tersebut.
" Sama-sama Nyonya ",, jawab asisten itu kepada Agnes.
Agnes pun lalu berbalik badan menuju ke ruang tamu yang ada di situ.
Dan sesampainya Agnes di ruang tamu, dia buat sangat terkejut sekali dengan kelakuan dari Alva yang sudah menguncir rambut si King dengan begitu lucu sekali.
" Astaga Alvaaaa!! ",, kata Agnes kepada Alva.
" Mama ",, kata Alva kepada Agnes.
" Apa yang kamu lakukan Nak, nanti jika Paman Pietro melihat, pasti dia akan marah kepadamu?? ",, kata Agnes sambil mencoba melepaskan ikatan rambut si King.
" Mama jangan di lepaskan ",, kata Alva dengan merajuk.
" Ini harus di lepasin sayang, nanti Paman Pietro bisa marah kepadamu ",, kata Agnes kepada Alva.
Alva hanya diam saja, sambil menunjukkan wajah cemberutnya, dan dia tidak mau menjawab perkataan dari sang Mama.
" Ayah,!! Ayah sini!! ",, panggil Agnes kepada Kak Ivar.
Kak Ivar yang mendengar namanya di panggil oleh Agnes, dia lalu beranjak dari ruang Keluarga menuju ke ruang tamu.
Dan Kak Ivar langsung saja tertawa terbahak-bahak ketika sudah sampai di ruang tamu, karena melihat penampilan dari si King yang sangat lucu sekali.
" Ayah jangan tertawa, ayo marahi ini si Alva, nanti Ito bisa marah jika si King di kuncir seperti ini ",, kata Agnes kepada Kak Ivar.
" King lucu Ma ",, jawab Kak Ivar masih sambil tertawa.
" Lucu sih lucu, tapi menjadi tidak lucu lagi jika Ito sedang marah, dia sangat menyeramkan sekali jika sudah marah ",, kata Agnes kepada Kak Ivar.
" Ok, baiklah-baiklah akan Ayah bantuin melepaskan ikatan rambutnya si King ",, kata Kak Ivar kepada Agnes.
Sedangkan Alva, masih diam saja dengan bibir yang terlihat cemberut.
" Lagian ini si King kenapa diam saja sih, di kuncir seperti ini sama Alva ",, kata Kak Ivar sambil melepaskan ikatan rambutnya si King.
" Dan kamu Alva, kenapa si King kamu buat seperti ini?? ",, tanya Kak Ivar kepada Alva.
" Habisnya Alva kesepian Ayah, itu si kembar sudah tidur, Ayah sama Mama juga tidak mau membuatkan adik untuk Alva, jadi Alva tidak mempunyai teman jika merasa jenuh ",, jawab Alva kepada Kak Ivar dan Agnes.
Kak Ivar dan Agnes yang mendengar jawaban dari sang putri, mereka langsung saling pandang dengan bibir yang langsung terkunci dengan rapat.
Bukannya tidak mau membuatkan adik untuk Alva, hanya saja, Agnes yang sudah lama tidak KB, tapi tetap saja Agnes belum di berikan kepercayaan lagi oleh Tuhan.
Jadi ya, di umurnya Alva yang sudah genap delapan tahun, dia masih belum mempunyai adik seperti si kembar.
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
...***TBC***...
__ADS_1