
Laju mobil terus bertambah, kecepatan satu mobil dengan mobil lainnya semakin saling mengejar, dan sampai saat ini mobil berwarna merah dengan body yang bertuliskan angka seratus tiga puluh sembilan masih memimpin di depan.
Dan mobil itu tentu saja mobil milik Elina sang pembalap wanita kita yang sedang galau karena permasalahan yang sedang dihadapinya saat ini.
Dengan mengendarai mobil sambil menahan amarahnya, Elina terus menambah kecepatannya melebihi para lawannya, supaya dia tidak bisa di kalahkan oleh para pesaingnya.
Iyaps saat ini adalah waktu nya Elina melakukan final balap mobilnya, setelah tadi sekitar dua jam beristirahat di rumah.
Sang Ayah yaitu Ayah Eric yang ingin ikut melihat, dia langsung saja di larang tegas oleh Elina, karena itu pasti akan merusak moodnya dalam menjalani balap mobilnya.
" Dulu sebelum kejadian ini, Elina pasti akan sangat senang sekali jika Ayah sama Mama mau datang menonton pertandingan mobil dari Elina, tapi tidak untuk sekarang ",, kata Elina kepada Ayah Eric.
" Jika sekarang Ayah ingin datang melihat, lebih baik Elina tidak bertanding saja!! ",, sambung lagi perkataan dari Elina kepada Ayah Eric.
Seperti itulah tadi perkataan yang di katakan oleh Elina kepada Ayah Eric.
Sakit,?? tentu saja hati Ayah Eric sangat sakit mendengar perkataan menyakitkan seperti itu dari anak yang di sayanginya.
Tapi bukan salah dari Elina juga jika dia sampai berkata seperti itu kepada sang Ayah, sebab memang sang Ayahlah yang membuat Elina menjadi seperti sekarang.
Hanya terpaku dan terdiam saja tanpa mau menghentikan langkah kaki dari Elina lagi, itulah yang akhirnya di lakukan oleh Ayah Eric.
Dan Ayah Eric saat ini dia sedang menyaksikan pertandingan balap mobilnya di televisi yang ada di dalam kamarnya.
Sedang Danish tentu saja dia menemani sang adik menjalani final balap mobilnya.
Kemarin Danish mengundang Gilbert secara khusus untuk bisa ikut menonton pertandingan Elina di tempat duduk khusus VIP.
Dan sekarang setelah ada kejadian seperti ini, Danish bahkan tidak menghubungi Gilbert lagi, apakah dia akan datang atau tidak, Danish tidak peduli, karena Danish-nya sendiri dia masih belum mau berkomunikasi dengan siapa pun.
Biasanya Danish akan ikut membantu tim milik sang adik, namun kali ini dia memilih diam saja di tempat duduknya, sambil terus mengamati sang adik yang sedang mengadu nyawanya di arena sirkuit.
Elina daritadi sudah menunggu Gilbert di arena sirkuit, namun orang yang di tunggu oleh Elina tidak kunjung datang juga di kursi VIP samping sang Kakak.
" Apakah kamu benar-benar tidak akan datang untuk melihatku Gilbert?? ",, tanya dari Elina di dalam hatinya sambil melihat ke arah bangku sang Kakak.
Hingga sampai pertandingan akan selesai pun, Elina masih belum melihat sama sekali keberadaan dari Gilbert.
" Aaaaarrrrrggghhh ....!!! ",, teriak dari Elina dengan sangat super keras sekali ketika dia akan melewati garis finis.
__ADS_1
Dan yeeaaayy, akhirnya mobil milik Elina bisa melewati garis finis juga di urutan pertama.
Kali ini Elina dalam mengendarai mobilnya, dia tidak menjiwai atau menyatu dengan mesin mobilnya.
Tapi Elina terus memacu kecepatannya, karena luapan emosinya kepada masalah yang sedang di hadapinya.
Itulah mengapa kecepatan yang tadi Elina pergunakan sangat cepat sekali melebihi biasanya.
Biasanya Elina mengendarai mobil balapnya dengan penuh senyuman dan ketenangan, kali ini dia mengendarai mobilnya dengan kemarahan yang menguasai diri.
Elina menang, semua tim sponsornya pun juga ikut senang, tapi tidak dengan Elina-nya sendiri, wajah dia malah terlihat biasa saja, lebih tepatnya malah terlihat sedang menahan amarahnya, dan senyum yang daritadi di perlihatkan oleh Elina adalah senyum keterpaksaan.
Elina langsung menghentikan langkah kakinya ketika dia melihat sang Kakak yang tiba-tiba berdiri di depannya.
" Selamat adikku, Kakak ikut senang kamu bisa memenangkan pertandingan final ini ",, kata Danish sambil memeluk Elina.
Elina yang masih memakai baju balapnya, tentu saja dia langsung membalas pelukan dari sang Kakak.
Foto-foto, wawancara dan apapun itu sudah Elina lakukan, dan saat ini dia sedang berada di ruang gantinya untuk berganti baju dengan baju rumahannya yang tadi sudah dia bawa.
Ketika Elina sudah selesai berganti baju dan baru saja membuka pintu ruang gantinya, tiba-tiba saja dia di kejutkan oleh orang yang daritadi sudah di tunggu-tunggunya.
Iya orang itu adalah Gilbert Roderick.
" Halo Elina, selamat atas kemenangannya ",, kata Gilbert kepada Elina sambil tersenyum manis.
Tidak lupa Gilbert langsung membawa Elina ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan sangat erat sekali.
Elina tidak membalas pelukan dari Gilbert, karena dia masih merasa terkejut, dan ketika rasa keterkejutannya itu sudah hilang dari dalam tubuhnya, Elina langsung saja mendorong cukup kasar tubuh Gilbert yang sedang memeluknya.
" Ada apa Elina,?? apa kamu tidak mau aku peluk?? ",, tanya dari Gilbert kepada Elina.
" Ke mana saja kamu Gilbert?? ",, tanya dari Elina kepada Gilbert.
" Aku sudah menunggu kamu sejak tadi, tapi kamu tidak memperlihatkan diri di hadapanku!! ",, marah dari Elina kepada Gilbert sambil meneteskan air matanya.
" Ssstttt, janganlah marah sayang ",, kata Gilbert sambil mengusap pipinya Elina yang basah karena air mata.
Elina yang merasa marah dengan Gilbert, tangan Gilbert pun tentu saja langsung di tepis olehnya.
__ADS_1
" Apakah kamu marah kepadaku?? ",, tanya dari Gilbert kepada Elina.
" Ketahuilah, aku bahkan sudah datang ke sini sejak kamu belum datang ",, kata Gilbert kepada Elina.
" Bohong!! ",, bantah dari Elina kepada Gilbert.
Gilbert yang dari tadi tersenyum terus, ketika di bantah seperti itu oleh Elina, dia langsung saja menunjukkan wajah seriusnya.
" Untuk apa aku berbohong kepadamu Elina ",, kata Gilbert kepada Elina.
" Aku memang sengaja datang lebih dahulu dari pada kamu, bahkan apa pun yang daritadi kamu lakukan aku melihatnya semua, dan ketika kamu terus mencariku pun aku juga melihatnya ",, kata Gilbert lagi kepada Elina.
" Jika sudah tahu begitu, kenapa kamu tadi sekali saja tidak mau memperlihatkan diri kepadaku, bersembunyi di manakah kamu Gilbert, katakan kepadaku!! ",, kata Elina kepada Gilbert.
" Aku tidak bersembunyi, aku duduk di bangku VIP, hanya saja aku tidak duduk di samping Kakak kamu Danish ",, jawab dari Gilbert kepada Elina.
" Aku malu Elina, malu .... ",, kata Gilbert kepada Elina.
" Malu karena Kakak yang aku sayangi dia sudah membunuh Mama kamu, dan aku juga takut jika kamu sudah tidak mau lagi bertemu denganku Elina ",, lanjut lagi perkataan dari Gilbert kepada Elina.
Elina langsung saja menggelengkan kepalanya ketika mendengar perkataan dari Gilbert.
" Kenapa kamu tidak bertanya dulu kepadaku Gilbert, apakah aku marah denganmu atau tidak?? ",, kata Elina kepada Gilbert.
" Ayo kalau begitu, ikutlah denganku ",, kata Elina kepada Gilbert sambil menggandeng tangan Gilbert.
" Tidak Elina, bagaimana nanti jika kita ketahuan oleh Kakak kamu Danish?? ",, kata Gilbert kepada Elina.
Karena Gilbert saja menemui Elina saat ini dengan cara bersembunyi-sembunyi.
Bukan karena takut, tapi lebih tepatnya Gilbert malu berhadapan dengan Danish.
Gilbert bukan Pietro yang tidak mempunyai rasa malu, karena Gilbert adalah manusia yang berakal normal, bukan seperti Pietro yang otaknya sudah di cuci sepenuhnya oleh sang Kakek dulu.
Setelah Elina menjelaskan kepada Gilbert jika sang Kakak tidak bakal mengetahui kepergiaannya, akhirnya Gilbert mau juga di ajak pergi oleh Elina ke suatu tempat.
Entah di mana tempatnya itu, Gilbert menurut saja, karena saat ini Elinalah yang mengendarai mobil milik Gilbert.
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
__ADS_1
...***TBC***...