KING PSYCHOPATH

KING PSYCHOPATH
GILBERT - PIETRO


__ADS_3

Kak Ivar yang mendengar suara teriakan dari Gilbert pun, dia malah semakin mentertawakan Gilbert.


Dan sepertinya Kak Ivar senang melihat penderitaan Gilbert malam ini.


Walau Kak Ivar tadi juga merasa gemas kepada Pietro, namun setidaknya Kak Ivar sudah mempunyai pengalihan tersendiri dari rasa gemasnya itu dengan sikapnya Gilbert malam ini.


" Sepertinya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak berkat Gilbert, walau tidak ada Agnes di sampingku ",, kata Kak Ivar sambil masih tersenyum sendiri.


Sedangkan si Gilbert, orang yang sedang gila malam ini, setelah puas berteriak-teriak tidak jelas seperti tadi sampai membuat para pekerja yang ada di rumah mewah Kak Ivar pada terkejut semua.


Gilbert langsung saja bergegas pergi ke dalam kamarnya untuk meluapkan emosinya lagi.


Entah kali ini bagaimana caranya Gilbert untuk meluapkan rasa emosinya itu.


Namun yang pasti malam itu walau waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih, dada Gilbert masih merasakan rasa sesak karena gemasnya kepada sang Kakak.


Sedang di dalam kamar Pietro, Pietro yang tadi sudah puas bermanja ria dengan Molly, dia pun lalu berpamitan pergi sejenak kepada Molly ingin ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi barulah Pietro meringis kesakitan dengan luka tusukan yang di dapatkannya tadi karena ulah Tuan Brush.


" Aaah ini sakit sekali '',, kata Pietro sambil mencoba melepaskan baju yang di pakainya.


Pietro daritadi diam saja sambil menunjukkan wajah biasa saja, itu karena Pietro tidak mau membuat semua Keluarganya terutama Molly merasa sangat khawatir dengan keadaannya.


" Aaaaaahhh ",, kata Pietro merintih kesakitan lagi ketika dia menyiram lukanya itu dengan air shower untuk membersihkan darah yang sudah mengering.


Walau Pietro berusaha tangguh, sekecil apapun luka yang di dapatkannya, pastilah Pietro akan merasakan sakit di tubuhnya, karena kita semua sejatinya adalah manusia yang lemah.


Sambil terus menahan rasa sakitnya itu, Pietro pun terus membersihkan lukanya sebisanya, hingga akhirnya dia sudah selesai juga dengan rutinitasnya di dalam kamar mandi.


Pietro yang biasanya dia keluar hanya menggunakan cel4n4 d4l4m saja atau handuk sepinggang, dia sekarang memilih menggunakan bathrobe supaya Molly tidak melihat luka tusukan pisau di punggung sebelah kirinya itu yang cukup dalam juga lukanya.


Ketika Pietro sudah keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat ternyata Molly sudah tertidur cukup lelap di atas ranjang mereka, dalam keadaan masih belum memakai baju atasannya seperti tadi sebelum dia tinggal.


Pietro yang melihat dia lalu berjalan ke arah ranjang untuk memberikan kecupan mesra di pipi Molly sambil membenarkan selimut yang dipakai oleh Molly.


Setelahnya Pietro menyalakan AC lagi dengan suhu yang biasanya dia pakai.

__ADS_1


Pietro yang sudah melakukan itu semua, dia lalu berjalan ke arah ruang walk in closetnya untuk berganti baju.


Namun Pietro malam itu sengaja tidak mau memakai baju dulu cuma memakai celana pendeknya saja, karena dia ingin mengobati lukanya yang terasa sakit itu.


Bahkan masih ada darah segar lagi yang menetes keluar hingga mengotori bathrobe putih yang di tadi pakainya.


" Sudah jam dua belas malam lebih ",, kata Pietro ketika dia melihat jam yang menggantung di dinding kamarnya.


" Aku rasa Kak Ivar sama Gilbert sudah pada tidur ",, kata Pietro lagi masih berbicara sendiri.


Pietro lalu mencoba keluar dari dalam kamar, sambil membawa daun herbal dan penumbuk yang ada di dalam kamarnya tadi untuk dia bawa ke ruang Keluarga.


Sesampainya di ruang Keluarga, Pietro langsung saja membuat ramuan tumbukan daun herbal tadi, untuk nanti dia oleskan di punggungnya yang terluka itu.


Ketika tumbukan daun herbal tadi sudah selesai dia buat, Pietro sedikit kesulitan dalam menaruh tumbukan daun itu di punggungnya yang luka.


" Aaaah sakit, dan ini susah sekali untuk aku gapai ",, kata Pietro sambil terus berusaha mengobati lukanya.


Pietro yang sedang merasa kesakitan, tiba-tiba dia di kejutkan dengan suara seseorang yang sangat di kenalnya, dan suara itu adalah suaranya Gilbert.


" Sini biar Gilbert saja Kak yang mengobati '',, kata Gilbert dengan tiba-tiba kepada Pietro.


Namun ketika Gilbert baru saja sampai di tangga yang terakhir, dia melihat lampu yang ada di ruang Keluarga masih menyala sendiri.


Dan hal itu membuat Gilbert menjadi mengurungkan niatnya yang ingin mencari udara segar di luar rumah.


Gilbert lalu memilih berjalan ke arah ruang Keluarga untuk melihat dan mencoba mematikan lampu ruang Keluarga.


Karena fikir Gilbert siapa tahu asisstan rumah tangga yang bekerja di situ lupa mematikannya.


Namun di saat Gilbert sudah sampai di depan pintu yang terhubung ke ruang Keluarga, dia melihat sang Kakak yaitu Pietro sedang merasa kesakitan serta sedikit kesulitan untuk mengobati luka yang ada di punggungnya.


Rasa marah dan lain sebagainya tadi yang di rasakan oleh Gilbert, seakan sirna sudah melihat sang Kakak sedang merasa kesakitan seperti itu.


Gilbert sangat tahu sekali, sang Kakak Pietro dia akan selalu berpura-pura kuat di depannya maupun di depan Kak Ivar.


" Gilbert kamu belum tidur?? ",, tanya dari Pietro kepada Gilbert dengan ekspresi yang sedikit terkejut.

__ADS_1


" Kenapa Kak memangnya jika Gilbert belum tidur,?? apa biar Kakak bisa menyembunyikan luka ini sendirian saja dari kami ",, tanya dari Gilbert kepada Pietro sambil duduk di sampingnya Pietro.


" Tengkuraplah, biar lebih mudah meresap ini ramuannya ",, kata Gilbert kepada Pietro.


Pietro pun menurut saja ketika Gilbert menyuruhnya untuk tengkurap.


Sambil terus berbicara dan mengobrol, Gilbert pun lalu mengaduk ramuan tadi menjadi satu, setelahnya dia tempelkan ke luka sang Kakak.


" Apakah ini terluka karena terkena tusukan pisau Kak?? ",, tanya dari Gilbert kepada Pietro.


" Iya ",, jawab singkat dari Pietro kepada Gilbert.


" Kenapa tidak di obati daritadi, malah Kakak memilih mengobati Kak Molly terlebih dahulu?? ",, tanya dari Gilbert lagi kepada Pietro sambil terus mengobati lukanya Pietro.


" Karena bagi Kakak semenjak mengenal Molly, melihat Molly sehat dan baik-baik saja, seakan tubuh Kakak juga ikut sehat dan baik-baik saja ",, jawab dari Pietro kepada Gilbert.


" Beruntung sekali Kak Molly bisa di cintai sebesar itu oleh Kakak ",, kata Gilbert kepada Pietro.


" Dan kenapa Kakak tidak jujur saja kepada Kak Molly jika Kakak sedang terluka seperti ini?? ",, tanya dari Gilbert kepada Pietro.


" Kakak tidak mau Gilbert, karena Molly Kakak jadikan istriku bukan untuk melihat Kakak terluka maupun bersedih ",, jawab simple namun sangat mengena sekali di dalam hatinya Gilbert.


Menurut Gilbert ada makna tersembunyi di dalam perkataan dari Pietro yang tadi, dan ingin sekali Gilbert mempraktekkannya nanti jikalau dirinya sudah menikah.


" Sungguh Gilbert banyak belajar dari Kakak dan Kak Ivar bagaimana cara membahagiakan seorang istri ",, kata Gilbert kepada Pietro.


" Memangnya masih ada wanita yang mau menjadi calon istrimu Gilbert, sedangkan kamu saja pendek begitu?? ",, kata Pietro sengaja mengejek Gilbert.


Karena Gilbert memang tinggi badannya pendek sendiri di bandingkan Pietro dan Kak Ivar.


Tapi tetap saja dengan tinggi badannya Gilbert yang segitu, masih terlihat cukup tinggi jika bersanding dengan seorang perempuan.


" Pendek-pendek.......... ini rasakan!! ",, kata Gilbert kepada Pietro sambil menekan lukanya Pietro.


Dan hal itu langsung saja membuat Pietro berteriak kesakitan, namun malah langsung di tertawakan oleh Gilbert dengan sangat puas sekali.


...๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2