
Seperti sebelumnya, dan dari dulu ketika sang Kakek masih hidup, Pietro akan selalu diam saja mendengarkan semua ceramah dari Kakak, Paman atau Keluarganya yang lain.
Tapi mereka semua tidak mengetahui, walau diluar Pietro terlihat sangat mendengarkan sekali apa yang mereka sampaikan, tapi sejatinya Pietro tidak mendengarkan sama sekali nasihat yang mereka berikan kepadanya.
" Pietro tolong dong kecilkan n4f5u kamu itu, kasihan Molly, nanti dia bisa meninggal jika kamu terus-terusan mengajaknya bercinta ",, nasihat dari Kak Ivar kepada Pietro.
" Badan kamu besar, badan Molly kecil, apa kamu tidak kasihan jika Molly kegencet badan kamu itu Pietro?? ",, kata Kak Ivar lagi kepada Pietro.
" Jangan terus-terusan mengajak Molly bercinta ya adikku ",, nasihat lagi dari Kak Ivar kepada Pietro yang daritadi hanya diam saja tidak membantah sedikit pun perkataannya.
Kak Ivar sebenarnya sangat senang sekali menasihati Pietro, sebab Pietro tidak banyak membantah dan selalu diam saja mendengarkannya.
Tapi yang tidak disukai oleh Kak Ivar dari Pietro, adalah setelah mulutnya diam, Pietro akan langsung lupa apa yang baru saja dikatakan olehnya kepada Pietro.
Berbeda dengan Gilbert, walau Gilbert sering membantah Kak Ivar ketika Kak Ivar memberinya nasihat, tapi Gilbert setelahnya dia akan menuruti nasihat dari Kak Ivar dengan tidak mengulanginya lagi.
Disaat Pietro diam menunduk mendengarkan Kak Ivar yang terus berbicara, dan Kak Ivar sendiri terus mencoba memberikan siraman kolbu kepada Pietro.
Tiba-tiba saja pandangan mereka berdua teralihkan dengan kehadiran dari Molly yang baru saja keluar dari dalam kamar, dan sudah cantik memakai gaun pengantin yang Kak Ivar belikan tadi.
Kak Ivar tersenyum manis ketika melihat Molly benar-benar sangat cantik sekali memakai gaun pengantin pemberiannya tadi walau tidak memakai makeup sama sekali.
Rambut yang Molly gulung keatas dengan asal, dan dia gerai sedikit dibagian depan, membuat kecantikan alami dari Molly terlihat semakin terpancar saja walau tidak memakai makeup.
Bahkan Pietro yang melihat kecantikan alami yang dimiliki Molly, dia tidak sadar sampai membuka mulutnya karena saking terpesonya melihat Molly.
Dengan mata yang seperti terhipnotis karena wajah cantik milik Molly, Pietro tiba-tiba saja berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Molly.
Molly sendiri dia sedikit merasa malu ketika Pietro dan Kak Ivar memandang kearahnya dengan tatapan yang berbeda artinya.
Sekilas Molly juga melihat penampilan dari Pietro yang terlihat begitu gagah, tampan, dan juga semakin manly saja dengan memakai jas pengantin yang berwarna hitam itu.
Dan Pietro yang sudah sampai didepannya Molly, dia langsung mendongakkan wajahnya Molly yang sedang menunduk menggunakan jari telunjuknya.
" Kamu sangat cantik sekali ",, kata Pietro kepada Molly.
Mata mereka saling beradu dan mengunci, hingga Molly dan Pietro seperti terhipnotis dengan tatapan mereka masing-masing sampai-sampai mereka lupa jika masih ada Kak Ivar disitu.
Dan Kak Ivar sendiri yang melihat sang adik sebegitu terpesonanya melihat Molly dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
__ADS_1
" Emm Tuan,.......... ",, kata Molly kepada Pietro.
" Apa?? ",, jawab Pietro dengan suara lembut sekali kepada Molly.
Membuat Kak Ivar sampai melongo mendengar suara lembutnya Pietro kepada Molly tadi.
" Bisakah anda membantu saja menaikan zipper gaunnya?? ",, kata Molly kepada Pietro.
Ketika mendengar perkataan dari Molly, tanpa banyak berbicara, Pietro langsung saja menarik tubuhnya Molly untuk dia peluk.
Sambil memeluk Molly, Pietro berusaha menaikan zipper gaun pengantin milik Molly yang ada dibelakang punggungnya.
Kak Ivar yang melihat adegan romantis dari sang adik, dia hanya membiarkannya saja, sambil menunggu sang adik puas bermesraan dengan Molly.
Jantung Molly ketika melihat tingkah Pietro kepadanya, entah kenapa langsung saja berdegub dengan sangat kencang sekali.
Dan degub jantung yang dirasakan oleh Molly berbeda dari yang biasa dia rasakan.
Pemandangan dan adegan romantis dari Molly bersama Pietro harus terhenti karena suara dering ponsel milik Kak Ivar yang tiba-tiba berdering cukup kencang.
Kak Ivar yang melihat nama Gilbert dipanggilan masuk ponselnya, dia langsung saja mengangkat sambungan telefonnya itu.
" Kakak ada dimana??, sudah ditunggu sama Pak Pendetanya daritadi, bahkan Pak Pendeta sudah habis sepuluh piring karena kelamaan menunggu Kakak sama calon istri barunya Kakak ",, kata Gilbert kepada Kak Ivar dengan sangat mengawur sekali.
" Cepat Gilbert tunggu, kalau masih lama lagi Kakak datangnya, Gilbert akan tinggal pulang!! ",, lanjut lagi perkataan dari Gilbert kepada Kak Ivar.
Bahkan Kak Ivar belum sempat menjawab perkataan dari Gilbert, dia sudah mematikan sambungan telefonnya terlebih dahulu.
" Apa sih maksudnya Ibet, siapa yang dia maksud calon istri baruku ",, kata Kak Ivar kepada ponselnya.
Setelah itu Kak Ivar langsung menyuruh Pietro untuk segera masuk kedalam mobilnya.
" Ayo Pietro cepetan, nanti jika kalian sudah resmi menikah bisa dilanjutkan lagi adegan mesra-mesraannya ",, kata Kak Ivar kepada Pietro dan Molly.
Eeeh dasar siPietro ketika mendengar perkataan dari Kak Ivar, bukannya menunggu Kak Ivar terlebih dahulu.
Pietro malah langsung saja menggendong Molly seperti karung beras untuk dia masukkan kedalam mobil milik Kak Ivar dan meninggalkan Kak Ivar sendirian didalam rumahnya.
Kak Ivar yang melihat tingkah dari Pietro, dia berdoa didalam hatinya semoga Molly betah nantinya jika menjadi istri dari seorang Pietro Roderick.
__ADS_1
Dan Kak Ivar yang melihat Molly digendong seperti itu oleh Pietro, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja walau sebenarnya Kak Ivar juga merasa kasihan kepada Molly.
Kak Ivar tidak tahu saja jika Agnes sang istri sudah menunggunya daritadi diGereja, sambil menangis menunggu kedatangan dari Kak Ivar.
Dan Pak Pendeta yang melihat Agnes daritadi menangis tidak diam-diam, dia hanya bisa berdiam dirisaja ketika Agnes ditanya bukannya menjawab malah semakin kencang pula suara tangisannya.
Pak Pendeta merasa jika Agnes sedang kemasukan roh jahat, jadi Pak Pendeta dengan santainya malah berdiri didepan Agnes sambil terus membacakan doa-doa dengan tangan yang dia taruh dikepala Agnes.
Gilbert yang melihat tingkah Pak Pendeta seperti itu kepada Kakak Iparnya, dia hanya diam saja sambil terus menahan suara tawanya.
Karena Pak Pendeta dan Agnes terlihat sangat lucu sekali, bahkan Agnes sendiri yang sedang dibacakan doa-doa oleh Pak Pendeta dia hanya diam saja seperti tidak mempedulikannya sama sekali.
Kembali kePietro, Molly dan Kak Ivar yang sudah berada didalam mobil untuk menuju keGereja tempat Pietro akan menikah.
Molly yang duduk disampingnya Pietro dia terus memainkan telapak tangannya dengan cemas dan bahkan keringat dingin pun sudah keluar dari dalam tubuhnya.
Kak Ivar yang melihat keadaan Molly dibalik spion tengah mobil, dia langsung mecoba bertanya kepada Molly.
" Molly, kamu kenapa??, apa kamu tegang dan gugup?? ",, tanya Kak Ivar kepada Molly.
Molly langsung mengangguk cepat dengan gerakan kaku sekali.
" Tidak perlu tegang seperti itu, jika kamu sudah menikah dengan Pietro kamu tidak perlu takut jika suatu saat akan hamil ",, kata Kak Ivar kepada Molly.
Molly hanya diam saja tidak menanggapi perkataan dari Kak Ivar.
Dan Pietro yang melihat keadan dari Molly yang ketakutan seperti itu, dia hanya melirik sekilas saja tidak mempedulikannya sama sekali.
Kak Ivar tidak tahu saja jika Molly ketakutan dan tegang bukan karena Pietro, melainkan Molly tidak tahan naik mobil sebab perut dia seperti dikocok-kocok.
Serta Molly juga merasa takut jika nanti tiba-tiba saja dia kecelakaan didalam mobil.
Wajar saja Molly bersikap seperti itu, karena dia belum pernah naik mobil diseumur hidupnya, jadi sekarang ketika untuk pertama kalinya Molly naik mobil dia sangat tegang, mual dan juga ketakutan sekali.
...πππππππππππππ...
Ambyarrrr.............π€£π€£π€.
...π οΈπ οΈπ οΈπ οΈπ οΈπ οΈπ οΈπ οΈπ οΈπ οΈπ οΈπ οΈπ οΈ...
__ADS_1
...***TBC***...