
Gilbert yang melihat sang Kakak malah pergi meninggalkannya tanpa ada sepatah katapun, membuatnya semakin jengkel dan gemas saja.
" Kak Ivaaar,!! Gilbert masih belum selesai marah-marahnya, kenapa Kakak malah pergi!! ",, teriak dari Gilbert kepada Kak Ivar.
Dan Kak Ivar yang mendengar teriakan kemarahan dari Gilbert, dia hanya melambaikan tangannya sambil terus berlalu pergi.
" Hiiiiiihhhhh!!! ",, kata Gilbert lagi sambil menggenggam ke dua tangannya dengan sangat kuat sekali.
Setelahnya Gilbert langsung berlalu pergi juga menuju ke dalam kamarnya, untuk menuntaskan rasa gemasnya kepada ke dua Kakak-kakaknya itu.
" Kak Ivar dan Kak Pietro malam ini mereka berdua sudah membuatku ingin makan seseorang!! ",, kata Gilbert ketika sudah sampai di dalam kamarnya.
Gilbert lalu berjalan ke arah ranjangnya untuk mengambil gulingnya yang berada di atas ranjang.
" Hei Kak Pietro, Kakak itu sudah kejam, jengkelin, sukanya mengancam dan satu hal lagi Kakak itu juga bodoh!! ",, kata Gilbert kepada guling tersebut.
Guling itu Gilbert ibaratkan sebagai Pietro sang Kakak ke duanya.
" Gilbert malam ini rasanya ingin, iiihhh, iiihhh, ihhhh ",, kata Gilbert lagi sambil terus menonjok guling itu dan juga menggigitnya.
Semua itu Gilbert lakukan karena dia sedang merasa sangat gemas sekali kepada Pietro dan tidak bisa kesampaian.
" Dan kamu Kak Molly!! ",, kata Gilbert lagi sambil mengambil sebuah bantal.
" Kak Molly itu sangat cantik sekali, bahkan kecantikan Kakak itu tidak pernah Gilbert lihat dari semua wanita yang pernah Gilbert lihat dan kenal ",, kata Gilbert mengajak berbicara bantal tadi.
" Tapi kenapa Kak Molly itu sangat bodoh juga sama seperti Kak Pietro sih, kan Gilbert rasanya jadi gemas sendiri!! ",, kata Gilbert lagi kepada bantal itu sambil mencekik bantal tersebut.
" Masa iya AC dingin karena berjauhan dengan remotnya, yang benar saja dong Kak Molly ",, gerutu terus menerus dari Gilbert kepada bantal yang sedang dipegangnya.
" Kalian berdua sama-sama cocok, cocok untuk Gilbert musnahkan dari bumi ini, biar Gilbert tidak stres terus menghadapi tingkah kalian berdua!! ",, kata Gilbert lagi.
Dan kali ini Gilbert memukul-mukulkan bantal dan guling tadi secara bersamaan seperti sedang kerasukan setan.
" Hah-hah-huh-huh, capek juga ternyata ",, kata Gilbert sambil menghela nafasnya yang sedang berantakan.
" Setidaknya aku puas bisa memarahi ke dua Kakak terbodohku itu ",, kata Gilbert sambil melepaskan kancing kemeja yang dipakainya.
Ketika kemarahan Gilbert belum terlalu reda, tiba-tiba saja ponsel yang ada di dalam saku celananya berdering dengan cukup kencang sekali.
__ADS_1
Dan ketika sudah dilihat oleh Gilbert siapa yang sedang menelponnya, ternyata yang menelpon adalah Kak Ivar menggunakan nomor pribadi.
" Apa??!! ",, kata Gilbert kepada Kak Ivar.
" Kamu tidak makan Gilbert?? ",, tanya Kak Ivar kepada Gilbert.
" Sini turun temani Kakak makan malam ",, kata Kak Ivar lagi kepada Gilbert.
" Tidak,!! Gilbert sudah kenyang, kenyang marah-marah!! ",, jawab Gilbert kepada Kak Ivar.
Dan Gilbert langsung saja mematikan sambungan telepon dari Kak Ivar secara sepihak.
Kak Ivar yang melihat sambungan teleponnya sudah di matikan oleh Gilbert, dia langsung saja melanjutkan makannya lagi sambil tertawa sendiri seperti orang gila.
Kak Ivar terus membayangkan ekspresi dari Gilbert yang pastinya Gilbert masih uring-uringan sendiri dartadi di dalam kamarnya, karena tingkah dari Pietro dan juga Molly.
Dan memang benar tebakan dari Kak Ivar, kalau Gilbert sedang seperti itu di dalam kamarnya.
Gilbert yang sudah selesai mematikan sambungan telepon dari Kak Ivar, tiba-tiba lagi dia mendapatkan telepon dari Pietro.
" Ini lagi si bodoh menelponku juga ada apa ",, kata Gilbert ketika melihat nama Pietro sedang menelponnya.
" Halo!! ",, kata Gilbert dengan nada judes kepada Pietro.
" Sekalian jangan lupa nanti dibawa juga bekas makanannya Molly ini ",, sambung lagi perintah dari Pietro kepada Gilbert.
Semakin marahlah Gilbert, karena sang Kakak yang satu itu seenaknya sendiri menyuruhnya seperti itu, di saat dia masih merasa gemas dengan tingkahnya tadi.
" Beresin sendiri, enak saja menyuruh Gilbert, aku capek!! ",, jawab dari Gilbert kepada Pietro.
Dan sama seperti tadi, Gilbert langsung saja mematikan sambungan teleponnya Pietro secara sepihak.
" Yang satu seperti tidak mengerti keadaanku sekarang, yang satu sesuka hatinya memerintahku terus, resiko anak bungsu!! ",, gerutu dari Gilbert lagi sambil marah-marah.
Belum selesai Gilbert berbicara, tiba-tiba lagi dan lagi ponselnya berdering kembali.
Kali ini tanpa melihat siapa yang sedang menelponnya, Gilbert langsung saja mengangkat sambungan telepon tersebut sambil marah-marah.
" Ada apa lagi, Gilbert tidak mau kalau Gilbert di suruh-suruh, bereskan saja sendiri!! ",, kata Gilbert kepada orang yang menelponnya.
__ADS_1
" Maaf, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk saya menelpon anda Tuan Gilbert ",, jawab dari orang yang sedang menelpon Gilbert.
" Eeh......?? ",, kata Gilbert sambil langsung menjauhkan ponselnya untuk melihat siapa yang sudah menelponnya.
" Elina?? ",, kata Gilbert yang melihat nama Elina tertera di panggilan masuknya.
" Eh Elina, tidak-tidak, jangan di matikan panggilannya ",, kata Gilbert dengan segera kepada Elina.
" Maaf tadi aku tidak melihat dulu siapa yang sedang menelponku, karena daritadi ke dua Kakakku sedang menggangguku terus hingga membuatku marah-marah seperti tadi ",, lanjut lagi penjelasan dari Gilbert kepada Elina.
" Oh ya tidak apa-apa Tuan ",, jawab dari Elina kepada Gilbert.
" Kamu ada apa Elina menelponku, apakah kamu sudah rindu lagi kepadaku, padahal kita sudah seharian bersama?? ",, kata Gilbert sambil menggoda Elina.
" Ehem, ini saya cuma mau mengatakan jika dompet anda terjatuh di ruang tamu tadi, apakah anda tidak menyadari akan hal itu Tuan?? ",, kata Elina kepada Gilbert.
Gilbert langsung saja merogoh serta mengecek semua kantong yang ada di celananya, dan memang benar dompetnya tidak ada di dalam saku celananya.
Gilbert sendiri seharian tadi, dia memang bersama Elina untuk menemani Elina latihan sebelum dia tanding final balap mobil lusa depan.
Sungguh Gilbert sangat senang sekali ketika dia di ajak oleh Danish Kakak kandungnya Elina untuk melihat Elina bisa latihan balap mobil untuk turnamen lusa depan.
" Biarlah simpan kamu dulu Elina, karena kamu besok juga yang akan membawa dompetku itu ",, jawab dari Gilbert sedikit menggombal kepada Elina.
" Emm maaf Tuan Gilbert, apa maksud dari perkataan anda ya?? ",, kata Elina kepada Gilbert.
" Tidak ada, sudah malam kamu tidur ya, istirahat Elina, karena saya juga mau tidur dulu capek ",, kata Gilbert kepada Elina.
" Iya baiklah Tuan selamat malam ",, kata Elina lagi kepada Gilbert.
" Malam juga Elina ",, jawab Gilbert kepada Elina sambil tersenyum sendiri.
Dan setelah itu sambungan telepon mereka pun terputus juga.
Mood Gilbert yang tadinya anjlok karena tingkah dari ke dua Kakaknya beserta Molly.
Sekarang mood Gilbert langsung membaik ketika baru saja mendapatkan telepon dari Elina.
Kehadiran dari Elina di dalam kehidupannya Gilbert sekarang, seperti menjadi mood booster saja, serta bisa mencairkan api yang tadinya membara di dalam diri Gilbert langsung padam seketika.
__ADS_1
...๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ๐ ๏ธ...
...***TBC***...