KING PSYCHOPATH

KING PSYCHOPATH
NASIHAT DANISH


__ADS_3

Meninggalkan baby dua A sekarang kita berpindah ke Gilbert sejenak.


Tadi ketika Gilbert berpamitan pergi kepada Pietro dan Molly, dia memilih berjalan-jalan menyusuri taman rumah sakit yang ada di situ.


Ketika Gilbert melihat ada bangku kosong, dia pun memilih untuk duduk di bangku taman tersebut.


" Rasanya hatiku terasa hampa ",, kata Gilbert untuk dirinya sendiri.


" Aku kira setelah enam bulan tidak bertemu perasaan ini untuk Elina akan berubah, ternyata sama saja, masih ada cinta untuknya di dalam hati ini ",, kata Gilbert masih berbicara sendiri.


" Andai aku datang lebih cepat, aku pasti lebih dulu bisa mendapatkanmu Elina dan merubah jalan cinta ini ",, kata Gilbert lagi masih berbicara sendiri.


Gilbert terus melamun dan melamun, hingga tanpa dia sadari suasana sore hore digantikan dengan gelapnya sang malam.


Sedangkan di sisi lain, lebih tepatnya untuk Elina.


Elina yang tadi sudah meninggalkan rumah sakit, dia memilih untuk kembali lagi ke rumah mewahnya.


Elina tidak jadi mengunjungi sang Ayah, karena mood dia hari itu benar-benar sudah sangat berantakan sekali karena baru saja bertemu dengan Gilbert.


Sambil melamun, tadi Elina terus mengendarai mobilnya, hingga akhirnya tanpa dia duga sampai juga di rumah mewahnya.


Sesampainya di rumahnya, Elina langsung saja masuk ke dalam kamarnya, dan langsung saja tengkurap di atas ranjang mahalnya dengan air mata yang terus mengalir dengan sangat deras sekali dari ke dua bola matanya.


" Sakit sekali, setelah penantianku untuk bertemu Gilbert, tapi ternyata dia sudah menikah dengan perempuan lain ",, kata Elina dengan berderai air mata.


" Sangat sia-sia sekali penantianku selama ini ",, kata Elina lagi dengan sangat pilu sekali.


Sambil terus menangis, tanpa Elina sadari dia akhirnya tertidur juga dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.


Baru sekitar lima belas menit Elina memejamkan matanya, dia pun di buat terkejut ketika mendengar ponsel yang ada di sebelah kepalanya berdering dan bergetar cukup keras sekali.


Tanpa melihat siapa yang sedang menelponnya, Elina pun langsung saja mengangkat sambungan teleponnya tersebut.


" Halo ",, kata Elina dengan suara serak khas orang baru saja menangis.


" Elina apa kamu sedang menangis?? ",, tanya orang itu kepada Elina.


" Kakak ",, kata Elina sambil menangis lagi.

__ADS_1


Iya yang sedang menelpon Elina adalah Danish sang Kakak.


" Ada apa Elina kamu menangis, cerita sama Kakak, siapa tahu Kakak bisa membantu kamu ",, kata Danish dengan nada yang terdengar sangat khawatir sekali.


" Gilbert ",, kata Elina dengan suara sesenggukan.


" Gilbert,?? ada apa dengan Gilbert,?? apakah kamu baru saja bertemu dengannya?? ",, kata Danish kepada Elina.


" Iya Kak, dan dia ternyata sudah menikah, bahkan istrinya sedang hamil saat ini ",, jawab Elina kepada Danish.


" Hah, menikah?? ",, kata Danish sedikit tidak percaya perkataan dari Elina.


" Iya Kak ",, jawab dari Elina lagi sambil terus menangis.


" Sekarang kamu tenangkan diri dulu, sebentar lagi Kakak akan datang ke situ, kamu sudah berada di rumah kan?? ",, kata Danish kepada Elina.


" Iya ",, jawab singkat dari Elina kepada Danish.


Setelahnya sambungan telepon mereka pun terputus juga.


Elina setelah selesai menerima telepon dari sang Kakak, dia lalu berjalan gontai menuju ke dalam kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih badannya.


Elina yang sudah mandi dan bersih-bersih badannya, dia memilih untuk rebahan lagi di atas ranjang dengan masih ada sisa-sisa air mata yang terus keluar dari kelopak matanya.


Beberapa menit kemudian, sang Kakak yang sudah pulang dari bekerja, dia memutuskan untuk berkunjung terlebih dahulu ke rumah Elina.


Seperti biasanya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Danish langsung saja masuk ke dalam rumah Elina dan langsung menuju ke dalam kamarnya Elina.


Ketika Danish sudah membuka pintu kamar Elina, dia langsung melihat wajah Elina terlihat bengkak karena daritadi menangis terus.


" Elina ",, kata Danish sambil bergegas berjalan menuju ke arah ranjang.


" Kakak ",, kata Elina kepada Danish.


Danish yang sudah berada di samping ranjang, Elina tanpa basa basi dia langsung saja memeluk sang Kakak untuk mencurahkan rasa kesedihannya itu.


" Sussstt, tenanglah Elina ",, kata Danish kepada Elina sambil mengusap punggung sang adik.


" Sekarang ceritakan kepada Kakak bagaimana ceritanya kamu bisa bertemu dengan Gilbert ",, kata Danish sambil duduk di depan Elina.

__ADS_1


Dengan mata yang terus menangis, Elina pun lalu bercerita kepada Danish bagaimana pertemuan tidak sengajanya dengan Gilbert di rumah sakit tadi.


Semuanya Elina ceritakan kepada Danish, kecuali dengan dirinya yang mengaku sudah mempunyai seorang calon suami dengan meminta tolong kepada seorang laki-laki yang tidak di kenalnya ketika masih di rumah sakit.


" Itu mungkin cuma pikiran kamu saja Elina ",, kata Danish kepada Elina.


" Maksud Kakak apa?? ",, tanya dari Elina kepada Danish.


" Jika memang benar Gilbert sudah menikah, tentu saja Kakak sudah lebih dulu tahu dari pada kamu Elina, karena Kakak adalah rekan bisnis Perusahaan mereka ",, jawab dari Danish kepada Elina.


" Bisa jadi wanita itu adalah sahabat atau saudaranya yang meminta tolong Gilbert untuk di antarkan ke Dokter kandungan ",, kata Danish lagi kepada Elina.


Sedikit lega, iya hanya sedikit itulah yang di rasakan oleh Elina ketika sudah mendengar penjelasan dari sang Kakak.


" Sudah kamu tidak perlu berpikir yang tidak-tidak jika kamu belum mendengarnya sendiri dari Gilbert jika wanita tadi adalah istrinya Gilbert ",, kata Danish mencoba menenangkan Elina.


Elina hanya bisa diam saja sambil terus mencerna semua perkataan dari Danish.


Dan apa yang di katakan oleh Danish memang ada benarnya juga menurut Elina.


" Itu tadi Kakak bawakan makanan untuk kamu, ayo kita makan dulu ",, kata Danish lagi menyadarkan Elina yang sedang melamun.


" Untuk mencari tahu apakah Gilbert sudah menikah atau belum pastinya membutuhkan banyak tenaga bukan, ayo kalau begitu mari kita makan, Kakak sudah lapar daritadi ",, sambung terus perkataan dari Danish kepada Elina.


" Iya ayo Kak ",, jawab dari Elina kepada Danish.


Setelahnya walau masih terlihat bersedih namun tidak seperti sebelumnya, Elina pun langsung saja berlalu dari dalam kamar menuju ke ruang makan bersama sang Kakak.


Sedangkan Gilbert sendiri yang sudah kembali masuk ke dalam ruang perawatannya Molly, sepuluh menit kemudian, dia berpamitan pulang kepada Molly, Pietro, Kak Ivar serta Agnes yang ada di situ.


Gilbert ijin pulang ingin beristirahat, sebab dia sejak pulang kemarin belum beristirahat dengan tenang sama sekali.


Tentu saja Pietro, Kak Ivar dan semua orang mengijinkannya, dan mereka juga merasa kasihan dengan Gilbert yang terlihat murung dan lemas sekali wajahnya.


Mereka semua mengira jika Gilbert merasa kecapekan, padahal aslinya Gilbert terlihat seperti itu, karena hatinya sedang merasa tidak baik-baik saja karena baru saja salah paham dengan Elina.


...๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2