KING PSYCHOPATH

KING PSYCHOPATH
MASIH BERKUNJUNG KE MAKAM


__ADS_3

Selesai berkunjung ke makam Ayah Eliot dan Mama Lykke, mereka semua lalu melanjutkan lagi perjalanan mereka, menuju ke makam Ayah Calvin dan Mama Elina.


Saat ini, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, karena memang pemakaman yang ada di desa tempat tinggal Molly dulu, ada di sebuah kaki bukit, yang tempatnya masih sangat-sangat asri sekali.


Dengan di penuhi pohon-pohon yang rindang, serta jangan lupakan pemandangannya sangat indah sekali.


Membuat pemakaman itu jarang sekali di jamah semua orang, jika mereka tidak mau mengunjungi sanak saudara mereka yang sudah meninggal.


Yang namanya makam, pasti ada kesan mistisnya, namun jika keadaan belum gelap, justru tempat pemakaman ke dua orang tua Molly di makamkan, akan menyuguhkan pemandangan yang sangat indah dan membuat siapa saja menjadi betah untuk berziarah.


Hampir tiga jam lamanya, mereka semua berada di dalam perjalanan menuju ke makam Ayah Calvin dan Mama Elina.


Hingga akhirnya kejenuhan mereka di dalam mobil, terbayar dengan pemandangan dan udara yang begitu menyejukkan mata dan hidung mereka semua.


" Waaaah, makam di sini indah sekali, bagus pemandangannya ",, kata Agnes yang terpesona dengan pemakaman Mama Elina dan Ayah Calvin.


" Iya Kak, di sini memang indah ",, jawab Molly menyahuti perkataan dari Agnes tadi.


" Dulu saja waktu kecil, Molly sering menghabiskan waktu di sini, termenung di pinggir makam Mama, sambil menikmati pemandangan dan juga mengenang kebersamaan Molly dengan Mama ",, kata Molly lagi dengan wajah yang terlihat bersedih.


Pietro yang melihat kesedihan dari Molly, dia langsung saja merangkul pundak Molly, untuk memberikan ketenangan.


" Ayo, kita berkunjung ke makam ke dua orang tua kamu Molly ",, kata Kak Ivar kepada Molly.


Molly hanya mengangguk saja kepada Kak Ivar, dan mereka semua lalu berjalan mengikuti langkah kaki Molly, yang berjalan ke arah makam ke dua orang tuanya.


Molly sedikit kebingungan mencari makam dari ke dua orang tuanya, sebab ada beberapa makam yang tidak terawat dan tertutup rumput liar yang tinggi menjulang.


" Makam ke dua orang tua kamu mana Molly?? ",, tanya Agnes kepada Molly.


" Iya Kak, di mana,?? kenapa kita daritadi hanya berdiam diri di sini saja?? ",, tanya Gilbert juga kepada Molly.


" Seingat Molly ada di sini, tapi yang mana, karena ada beberapa makam yang di tumbuhi rumput begini ",, jawab Molly kepada semua orang.


Molly lalu berjongkok untuk mencabuti rumput liar yang menutupi hampir keseluruhan batu nisan.


Dan ketika rumput yang dekat dengan nama sudah tercabut, akhirnya baru ketahuan, jika makam yang sedang di datanginya adalah makam dari ke dua orang tuanya.


" Ini makamnya, ini makam Ayah Molly ",, kata Molly ketika sudah melihat nama sang Ayah di batu nisan itu.

__ADS_1


Dan Molly semakin semangat untuk mencabut semua rumput yang menutupi keseluruhan batu nisannya.


Pietro yang melihat sang istri seperti itu, dia langsung saja membantu mencabut rumputnya, lalu di ikuti oleh Kak Ivar dan yang lainnya.


Molly yang sudah di bantu oleh semua orang, dia lalu beranjak berdiri untuk mendekati makam yang satunya, yang ternyata memang makam dari Mamanya, yaitu Mama Elina yang juga di tumbuhi rumput liar yang cukup tinggi.


" Mama ",, kata Elina sambil mencabuti semua rumputnya.


" Molly datang Mama, maafkan Molly yang tidak merawat makam Mama ",, kata Molly lagi sambil semakin semangat mencabuti semua rumput tersebut.


Ketika Molly sedang mencoba mencabuti semua rumput itu, tiba-tiba dia terduduk lemas sambil menangis di makam sang Mama.


Pietro yang melihat tiba-tiba Molly menangis, dia langsung segera menghampiri, karena dia merasa sangat khawatir sekali dengan keadaan dari sang istri.


Begitupun dengan yang lainnya, mereka juga merasa tidak tega dan khawatir dengan keadaannya Molly.


" My Queen ",, kata Pietro sambil membangunkan Molly.


Pietro langsung memeluk Molly dengan sangat erat sekali, sambil mengusap punggung Molly yang sedang menangis sesenggukan.


" Tenanglah, ada Kakanda di sini ",, kata Pietro kepada Molly.


Molly tidak menjawab perkataan dari Pietro, dia lalu berbalik badan dan langsung memeluk batu nisan sang Mama.


" Molly tidak merawat Mama lagi, hingga banyak rumput liar yang mengotori rumah Mama, maafkan Molly ",, kata Molly masih sambil menangis.


" Dan Maafkan Molly juga Mama, karena Molly sudah lama tidak mengunjungi Mama ",, kata Molly lagi dengan suara yang terdengar cukup pilu sekali.


Semua orang, terutama Agnes dan Elina yang melihat Molly menangis, mereka pun tanpa sadar juga ikut meneteskan air mata.


" Tenanglah My Queen, ayo kita doakan mereka ",, kata Pietro mencoba menenangkan Molly lagi.


Molly hanya mengangguk saja kepada Pietro, sambil berdiri dengan kepala yang dia sandarkan di dada sang suami, Molly pun juga terdiam dengan terus menatap ke arah makam ke dua orang tuanya.


Masih sama seperti tadi, Kak Ivarlah yang memimpin jalannya doa, dan si kembar saat ini sedang di gendong oleh Agnes serta Gilbert.


Beberapa menit kemudian, setelah Kak Ivar sudah selesai berdoa, mereka semua lalu menaburkan bunga yang tadi sudah mereka beli ketika di perjalanan ke atas batu nisan ke dua orang tuanya Molly.


Wajah sedih dan sayu masih terlihat di wajahnya Molly, karena Molly masih ingin berlama-lama di makam ke dua orang tuanya.

__ADS_1


Ketika Molly dan Pietro, hampir bersamaan menabur bunga di makam ke dua orang tua mereka, pandangan mereka tiba-tiba di buat terkejut, karena ada sepasang arwah yang berdiri persis di samping makam tersebut.


" Ayah, Mama ",, kata Molly ketika melihat arwah ke dua orang tuanya.


Sedangkan yang lainnya setelah menabur bunga tadi, mereka lalu melangkahkan kaki mereka untuk kembali ke dalam mobil sambil menikmati pemandangan yang sangat indah sekali.


Jadi, mereka semua tidak mengetahui, jika Molly dan Pietro saat ini sedang melihat arwah dari Ayah Calvin dan Mama Elina.


" Berbahagialah Molly ",, kata Ayah Calvin kepada Molly sambil tersenyum manis sekali.


" Titip Molly ya Nak ",, kata Mama Elina kepada Pietro sambil tersenyum juga.


Pietro hanya mengangguk saka kepada arwah ke dua mertuanya, dan arwah dari Mama Elina serta Ayah Calvin lama kelamaan menjadi pudar dengan sendirinya bersama cahaya.


Kepudaran dari arwah Ayah Calvin dan Mama Elina, diiringi dengan air matanya Molly yang sedang menetes.


Setelahnya, Pietro mengajak Molly untuk kembali ke dalam mobil menyusul yang lainnya.


Molly hanya mengangguk pelan kepada Pietro, dengan menahan perasaan rindu yang teramat dalam sekali untuk ke dua orang tuanya.


Sebelum berlalu, Molly menoleh lagi ke arah makam ke dua orang tuanya, karena rasanya Molly ingin sekali berlama-lama sendirian di situ, seperti dulu yang sering dia lakukan.


Tapi sekarang, dia sudah mempunyai keluarga sendiri, keluarga yang harus dia jaga, terutama si kembar dan juga baby yang sedang di kandungnya, membuat Molly harus selalu tegar dan menjadi bintang seperti harapan sang Ayah, supaya selalu bersinar walau keadaan sedang sulit sekalipun.


" Nanti Kakanda akan menyuruh anak buah Kakanda untuk merawat makam Mama dan Ayah ",, kata Pietro sambil terus berjalan ke arah mobil.


" Terimakasih Kakanda ",, jawab Molly kepada Pietro.


" Sudah jangan menangis lagi ya, karena air matamu ini sangatlah berharga sekali ",, kata Pietro sambil mengeratkan pelukannya di pundak Molly.


Molly hanya tersenyum super manis saja menanggapi perkataannya Pietro.


Dan ketika mereka semua sudah sampai di mobil milik mereka masing-masing, mereka lalu memilih kembali pulang ke rumah super mewah milik Pietro.


Namun ketika di perjalanan pulang, mereka semua yang merasa lapar, Pietro lalu mengajak mereka semua mampir dulu ke sebuah restoran mewah yang menyediakan pemandangan yang sangat indah sekali.


Karena restoran itu berada di daerah dataran tinggi, yang tentunya tempatnya sangat menyatu sekali dengan alam, dan pemandangannya juga bisa memanjakan mata sekali.


Sama persis dengan kesukaannya Pietro yang suka menyatu dengan alam, dan tidak suka dengan keramaian.

__ADS_1


...๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ...


...***TBC***...


__ADS_2