KING PSYCHOPATH

KING PSYCHOPATH
KEJUTAN UNTUK LUCY


__ADS_3

Lucy yang tadi setelah pulang dari rumah Pietro, dia bukannya pulang ke rumahnya untuk mengantarkan sang Kakak di peristirahatannya yang terakhir, malah pergi hang out bersama teman-temannya di sebuah bar yang ada di kotanya.


Lucy merasa sangat gembira sekali, karena dia bisa melampiaskan rasa bencinya itu kepada Pietro.


Walau dia tidak bisa melihat Molly, namun setidaknya Lucy sudah cukup merasa puas dengan tindakannya itu.


Lucy berfikir akan melukai Molly nanti saja, karena sekarang ancaman terbesarnya sedang berada di dalam penjara.


Jadi Lucy mengira jika melukai Molly bisa di lakukan kapan pun yang dia mau.


Lucy cukup lama sekali menghabiskan waktunya di bar tersebut bersama para teman-temannya.


Bahkan semua pelayat yang ada di rumahnya, beserta para Keluarga besarnya, juga sudah pada pulang ke rumah mereka masing-masing, namun Lucy masih asik di bar tersebut dan belum teringin pulang sama sekali.


Ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, akhirnya Lucy yang sudah capek dan dia juga sudah puas hang out bersama teman-temannya.


Akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, keadaan rumahnya pun terlihat sangat sepi sekali.


Lucy tidak ada fikiran apa-apa ketika dia sudah masuk ke dalam rumahnya.


Sebab Lucy mengira jika ke dua orang tuanya sudah pada tidur.


" Lampunya tidak dinyalakan, tumben sekali ",, kata Lucy berbicara sendiri.


" Ah, mungkin Ayah sama Mama lupa, atau mungkin mereka masih sedih karena kepergian dari Kak Eron, biar sajalah ",, kata Lucy masih berbicara sendiri.


Namun ketika Lucy sedang ingin menaiki tangga dan ingin masuk ke dalam kamarnya, lampu rumahnya pun tiba-tiba saja menyala sendiri.


Bukan lampunya yang menyala yang membuat Lucy terkejut, melainkan ketika lampu sudah menyala dia langsung melihat Pietro sudah duduk di ruang Keluarga sedang memandangnya dengan tatapan yang sangat menyeramkan sekali.


" Pi........ Pietro?? ",, kata Lucy dengan nada yang terdengar terkejut sekali.

__ADS_1


" Halo Lucy, apakah kamu terkejut melihat saya ada di sini?? ",, kata Pietro sambil menaikan ke dua kakinya di atas meja di depannya.


" Bagaimana kamu bisa ada di sini, seharusnya kamu ..... ",, perkataan Lucy langsung terputus.


" Di dalam penjara, bukan begitu Lucy yang ingin kamu katakan?? ",, sambung perkataan dari Pietro kepada Lucy.


" Huh!! ",, Pietro tersenyum miring sambil menatap Lucy dengan tatapan yang menyeramkan sekali.


" Kamu tidak akan bisa memenjarakanku Lucy, mau kamu masukkan aku ke dalam neraka sekalipun, aku bisa keluar dari dalam sana ",, kata Pietro yang terdengar menyeramkan sekali di telinga Lucy.


Pietro yang tadi sudah menelpon sang Jenderal Kepolisian, sang Jenderal akhirnya datang juga sekitar satu jam kemudian, di dalam kantor polisi tempat Pietro sedang di tahan.


Sang Jenderal langsung saja menyuruh para anak buahnya untuk segera melepaskan Pietro tanpa syarat apapun.


Walau sebenarnya para anggota Polisi tersebut merasa bingung dan heran dengan sikap dari Sang Jenderal, namun mereka tetap menuruti perkataan dari sang Jenderal tersebut.


" Jenderal, bukannya laki-laki itu seharusnya diberikan hukuman berat atau hukuman mati, karena tindakannya itu Jenderal?? ",, tanya berani dari salah satu anggota Polisi kepada sang Jenderal.


" Tapi Jenderal ",, sahut dari anggota polisi yang lainnya kepada Sang Jenderal.


" Kamu tidak tahu siapa laki-laki yang baru saja kalian tangkap itu, untung kalian semua masih hidup, jika dia tidak terima, mungkin saat ini saya akan bersiap-siap mendatangi pemakaman kalian semua ",, jawab dari sang Jenderal kepada bawahannya lagi.


Tetap saja sang Jenderal akan berusaha keras untuk membebaskan Pietro, walau Pietro bersalah sekalipun tetap sang Jenderal tidak akan berani menangkap Pietro.


Dan ketika Pietro sudah keluar dari dalam penjara mengendarai mobil pribadi milik sang Jenderal.


Pietro pun langsung bergegas menuju ke rumah sang Paman dan Bibi.


Paman beserta sang Bibi ketika baru saja selesai memakamkan Eron, dia dibuat sangat terkejut sekali melihat kedatangan dari sang keponakan, yang sudah membuat mereka kehilangan anak sulungnya itu.


" Pietro mau apa kamu datang ke sini, bukankah rasa marah kamu itu sudah terbalaskan kepada Eron, dan dia juga sudah berada di dalam kuburannya sekarang??!! ",, kata sang Paman yang menahan rasa marahnya kepada Pietro.


" Dimana Lucy?? ",, kata tenang dari Pietro sambil langsung duduk di shofa ruang Keluarga.

__ADS_1


" Kami tidak tahu, sejak tadi dia tidak ada di rumah dan dia belum pulang sampai sekarang, bahkan dia tidak menghadiri acara pemakaman dari Kakaknya ",, jawab dari sang Paman kepada Pietro.


" Dia tadi sudah memasukkanku ke dalam penjara ",, jawab tenang dari Pietro.


Paman dan Bibi Pietro langsung sedikit merasa terkejut mendengar perkataan dari Pietro.


" Kalian silahkan pergi dari sini, atau kalian berdua mau menyaksikan putri kalian itu meregang nyawa di hadapan kalian berdua ",, kata Pietro dengan sangat santai sekali kepada Paman dan Bibinya.


" Bibi mohon Pietro, jangan kamu habisi juga nyawanya Lucy, dia anak Bibi satu-satunya sekarang, jika dia meninggal juga, bagaimana dengan hari tua kami Pietro?? ",, kata memohon dari sang Bibi kepada Pietro.


" Kenapa kalian memusingkan hari tua kalian, sedangkan Lucy sendiri tidak pernah mempedulikan kalian berdua selama ini ",, jawab dari Pietro kepada sang Bibi.


" Jadi lebih baik kalian pergi dari sini cari kebahagiaan kalian sendiri atau kalian ingin menyaksikan Lucy mati di tanganku!! ",, sambung lagi perkataan dari Pietro kepada Paman dan Bibinya.


" Jika kamu melakukan itu, Paman sendiri yang akan memasukkanmu ke dalam penjara Pietro, dan Paman yakin jika kamu saat ini sedang melarikan diri dari penjara bukan!! ",, kata tegas dari sang Paman kepada Pietro.


" Hahahahahahahaha ............ ",, Pietro tertawa dengan sangat menggelegar sekali di dalam rumah tersebut.


" Masukkanlah jika Paman ingin memasukkanku ke dalam penjara, karena pasti tidak ada satu jam aku sudah di keluarkan lagi dari sana ",, kata Pietro kepada sang Paman yang sedang menunjukkan wajah marahnya itu.


" Ok, jika Paman dan Bibi ingin melihat Lucy mati di depan mata kalian, nanti akan aku perlihatkan pertunjukkan yang sangat apik sekali, sehingga bisa membuat kalian berdua nanti akan terkesan selama hidup kalian ",, kata Pietro lagi dan lagi kepada Paman dan Bibinya.


" Sudah yuk Ayah, kita pergi saja dari sini, sudah cukup hati Mama sakit karena sikap Pietro, dan Mama tidak mau semakin tambah sakit hati lagi sekarang ",, kata sang Bibi kepada sang Paman.


" Ingat Pietro, sampai kapanpun Paman tidak akan pernah mau memaafkan sikap kamu ini yang sudah berani membunuh ke dua anak Paman!! ",, ancam dari sang Paman kepada Pietro.


" Tenang saja Paman, lagipula Paman mau memaafkanku atau tidak, tidak ada ruginya untuk aku, sekarang kemasi barang-barang kalian dan cepat pergi dari sini!! ",, jawab dari Pietro kepada sang Paman.


Akhirnya sang Paman dan sang Bibi, memilih pergi juga dari rumah tersebut entah kemana, namun satu hal yang pasti mereka tidak mau menyaksikan anak mereka yang perempuan harus mati juga di tangan Pietro saat ini.


...๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2