KING PSYCHOPATH

KING PSYCHOPATH
URUSANNYA PANJANG


__ADS_3

Beralih sejenak ke rumah milik Kak Ivar.


Mobil yang ditumpangi oleh Gilbert akhirnya sampai juga di rumah milik sang Kakak.


Gilbert pun dengan segera langsung saja membantu Kak Ivar untuk keluar dari dalam mobil dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.


Mamah Jaena dan Alva yang melihat kedatangan dari Kak Ivar bersama Gilbert dan Agnes.


Mereka berdua langsung saja segera mendekat ke arah Kak Ivar.


" Ayah pulaaaaang ",, teriak dari Alva dengan sangat senang sekali.


Kak Ivar walau dia sedang menahan rasa sakit di kepalanya itu, dia tetap mencoba tersenyum manis kepada anak perempuan satu-satunya.


" Ayah tidak apa-apakah?? ",, tanya dari Alva kepada Kak Ivar.


" Ayah tidak apa-apa Nak, lihat saja Ayah masih bisa berdiri tegap di depan Alva ",, jawab dari Kak Ivar kepada Alva.


" Tadi Alva takut melihat kepala Ayah mengeluarkan darah, Alva tidak mau Ayah kenapa-kenapa ",, kata Alva dengan suara kecilnya nan lucu.


Kak Ivar yang mendengar perkataan dari sang putri, dia dengan perlahan mencoba berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Alva.


Sedang Gilbert dan Agnes mereka berdua masih berada di sisi kiri dan kanan Kak Ivar supaya Kak Ivar tidak terjatuh.


" Anak Ayah dengarkan Ayah ",, kata Kak Ivar kepada Alva.


" Ayah itu kuat, Ayah itu sehat, dan Ayah itu tangguh ",, kata Kak Ivar lagi kepada Alva.


" Mana mungkin Ayah sakit, kalau Ayah sakit, terus nanti siapa yang akan menjagain Alva sama Mamah?? ",, kata Kak Ivar mencoba memberikan ketenangan untuk sang anak.


" Ayah itu tidak sakit, cuma lagi butuh banyak istirahat saja, jadi doakan Ayah ya Alva, semoga Ayah bisa bermain lagi dengan Alva nanti ",, kata Kak Ivar kepada Alva.


" Mau Alva mendoakan Ayah?? ",, kata Kak Ivar sambil mencubit gemas hidung mancung milik Ava.


Alva pun cuma mengangguk saja kepada Kak Ivar dengan menunjukkan wajah polosnya itu.


" Kalau begitu, Alva jangan ganggu Ayah dulu ya Nak, biar Ayah bisa beristirahat ",, sahut dari Agnes kepada Alva.


" Ayo Alva main lagi bersama Nenek, kan Alva sudah melihat sendiri jika Ayah tidak kenapa-kenapa ",, kata dari Mamah Jaena kepada Alva.


" Iya ayo Nek ",, jawab dari Alva kepada Mamah Jaena.

__ADS_1


Setelahnya Mamah Jaena mengajak Alva untuk bermain lagi bersama di ruang keluarga.


Sedang Agnes bersama Gilbert langsung membantu Kak Ivar untuk masuk ke dalam kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Kak Ivar langsung mencoba berbaring di atas ranjang, namun dia sedikit kesusahan sebab kepalanya cukup sakit jika untuk rebahan.


" Jika nanti Pietro datang ke sini bilang saja Kakak tidak apa-apa dan cuma butuh beristirahat saja ",, pesan dari Kak Ivar kepada Gilbert.


" Baik Kak, kalau begitu Gilbert mau keluar dulu ",, jawab dari Gilbert kepada Kak Ivar.


Kak Ivar hanya mengangguk saja kepada Kak Ivar.


Sedang Agnes dia langsung saja mengurus sang suami dengan membantunya seperti yang diinginkan Kak Ivar, contohnya membenarkan posisi tidurnya supaya nyaman.


Ketika Gilbert sudah keluar dari dalam kamar Kak Ivar, Mamah Jaena yang sengaja menunggu Gilbert dan meninggalkan Alva sejenak, dia pun langsung mencegah Gilbert yang ingin mengambil obat milik Kak Ivar yang tertinggal di dalam mobil.


" Ada apa ya Mah?? ",, tanya dari Gilbert kepada Mamah Jaena.


Dan Gilbert pun memang memanggil Mamah Jaena seperti Kak Ivar dan Agnes yaitu Mamah.


" Sini Nak, Mamah mau bicara sebentar sama kamu ",, kata Mamah Jaena kepada Gilbert.


" Tadi sebelum kalian datang, Keluarga dari Paman kamu datang ke sini sambil membawa beberapa polisi ",, lapor dari Mamah Jaena kepada Gilbert.


" Mereka tidak terima karena Eron di bunuh seperti itu oleh Kakak kamu Pietro, Mamah takut Nak jika Pietro di penjara, dan Kakak kamu itu akan semakin marah lagi dengan Keluarga dari Paman kamu ",, kata dari Mamah Jaena lagi kepada Gilbert.


Mamah Jaena tentu saja dia sudah sangat hafal dan tahu sekali bagaimana sifat dan karakter dari adik ipar anaknya itu, siapa lagi jika bukan Pietro.


" Kapan mereka datang ke sininya Mah?? ",, tanya dari Gilbert kepada Mamah Jaena.


" Sekitar lima belas menitan sebelum kamu datang, dan ketika mencari kamu atau Ivar mereka tidak menemukan, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dan ingin menemui Kakak kamu Pietro ke rumahnya langsung yang ada di tengah hutan ",, jawab dari Mamah Jaena lagi kepada Gilbert.


" Yang datang ke sini Paman atau Bibi Mah, atau .... itu adik perempuannya Eron yang wataknya hampir sebelas dua belas dengan Eron?? ",, tanya dari Gilbert lagi kepada Mamah Jaena.


" Yang datang ke sini seorang perempuan seumuran dengan kamu kalau tidak salah, mungkin dia adiknya Eron yang kamu maksud ",, jawab dari Mamah Jaena kepada Gilbert.


" Urusannya bisa semakin panjang Mah, Gilbert harus segera bertindak, karena jika Kak Pietro tahu akan hal ini, bisa-bisa nyawa Lucy akan melayang juga seperti Kakaknya itu ",, kata Gilbert kepada Mamah Jaena.


Dan Lucy adalah nama adik perempuannya Eron yang dulu pernah menyukai Pietro, namun di tolak mentah-mentah oleh Pietro.


Bahkan Pietro tidak cuma menolak, dia juga mengeluarkan perkataan pedasnya itu untuk Lucy, sehingga membuat Lucy menjadi sakit hati hingga sekarang.

__ADS_1


Apalagi kemarin Lucy juga mendengar jika Pietro sudah menikah, jadi semakin marahlah Lucy kepada Pietro dan dia ingin melihat sendiri bagaimana wajah dari istrinya Pietro yaitu Molly.


Melihat sang Kakak Eron meninggal, sebetulnya Lucy tidak merasakan kesedihan yang mendalam, namun kematian dari sang Kakak yaitu Eron, dibuat kesempatan bagi Lucy untuk mencari masalah kepada Pietro.


Sebab dia masih menyimpan kemarahan untuk Pietro dan cemburu kepada Molly.


" Iya Nak sana cepat bergerak, Mamah juga tidak mau jika Pietro akan berulah lagi, karena jika dia sudah marah, sangat menyeramkan sekali ",, jawab dari Mamah Jaena kepada Gilbert.


" Gilbert mau mengambil obat dulu di dalam mobil, nanti tolong Mamah saja ya yang serahkan kepada Kak Ivar atau Kak Agnes ",, kata Gilbert kepada Mamah Jaena.


" Iya sudah sana ambil dulu obatnya ",, jawab dari Mamah Jaena lagi kepada Gilbert.


" Dan Mah, nanti jangan ceritakan dulu kepada Kak Ivar atau Kak Agnes, takutnya Kak Ivar nanti kefikiran bisa membuat jahitan di kepalanya akan lama sembuhnya ",, pesan dari Gilbert kepada Mamah Jaena.


" Iya, Mamah sudah tahu itu ",, jawab dari Mamah Jaena kepada Gilbert.


Setelahnya Gilbert pun segera langsung saja mengambil obat milik Kak Ivar yang tertinggal di dalam mobil.


Dan ketika sudah mengambil obat itu, Gilbert langsung bergegas pergi ke rumah Pietro, untuk mencegah kemarahan dari sang Kakak untuk ke dua kalinya kepada Keluarga sang Paman.


Sedangkan di rumah sang Paman, saat ini sedang dipenuhi air mata kesedihan yang mendalam dari seluruh Keluarga.


Sebab benar apa kata Gilbert, jika Eron akan kembali cuma tinggal nama saja.


Eron sudah pulang dalam keadaan bersih dan rapi serta juga sudah di masukan ke dalam peti mati.


Semua itu suruhan dari Pietro kepada anak buahnya, karena Pietro tidak mau Keluarga dari sang Paman melihat anaknya mati dalam keadaan mengenaskan seperti itu.


Sungguh masih ada sisi baik juga di dalam diri Pietro untuk Keluarga sang Paman.


Walau sang Paman dan Bibinya Pietro merasa marah dengan sikap Pietro yang sudah membunuh anaknya, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Karena jika mereka memperpanjang masalah dengan Pietro, pasti nyawa mereka semua akan ikut melayang di tangan Pietro.


Sang Paman sendiri sebenarnya sudah melarang putrinya yang bernama Lucy untuk jangan memperpanjang masalahnya dengan Pietro, namun dia tidak mau.


Dan sang Paman sudah pasrah entah apa nanti yang akan terjadi dengan Keluarganya, karena harus berurusan dengan Keluarga Roderick yang bernama Pietro, yang sudah terkenal sebagai orang yang berdarah dingin yang tidak mengenal rasa ampun sama sekali kepada orang lain.


...๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2