KING PSYCHOPATH

KING PSYCHOPATH
KEBODOHAN PIETRO LAGI


__ADS_3

Pietro dibuat speechles ketika dia sudah melepaskan semua pakaiannya Molly.


Sebab dibalik pakaian lusuh milik Molly terdapat body yang sangat indah dan juga putih mulus terawat sekali.


Dan hal itu membuat Pietro sampai reflek membuka sedikit mulutnya karena terkejut serta terpesona melihat keindahan tubuh dari Molly.


" Badan dari wanita ini sangat indah sekali, sangat bersih, dan bahkan p4yud4r4ny4 sangat indah sekali bentuknya ",, kata Pietro sambil m3r3m45 manja kedua bukit kembar milik Molly.


Gubraaaakkk.............!!!, tepuk jidat dengan sekeras-kerasnya untuk kelakuan dari Pietro kepada Molly.


Ramuan yang dulu sering disuntikan oleh Kakeknya kedalam tubuh siPietro, kandungan dari ramuan itu ada yang merusak sel saraf otaknya Pietro yang membuat otak Pietro terkadang tidak bisa berfikir rasional seperti para laki-laki pada umumnya ketika dia tertarik dengan sesuatu, contohnya dengan lawan jenisnya seperti sekarang.


Tapi jangan ditanyakan untuk hal berkelahi, membunuh dan sejenisnya, otak dari Pietro akan bekerja dengan sangat apik serta cerdas sekali untuk menghabisi para musuh dan targetnya dengan sangat rapi.


Itu semua karena sang Kakek dulu menginginkan Pietro menjadi laki-laki tangguh dan terkuat yang ada dimuka bumi.


Hingga sang Kakek lupa untuk mengajari Pietro cara mencintai lawan jenis dan mengendalikan hawa n4f5u bercum6unya ketika dia sedang tertarik dengan lawan jenisnya seperti sekarang.


Jadi jangan salahkan Pietro jika dia seperti itu sifatnya kepada Molly, karena dia tidak bisa mengendalikan ha5r4tnya untuk mencum6u Molly, makanya ketika Pietro didekat Molly dia terlihat seperti laki-laki bodoh.


Berbeda jika Pietro dihadapkan dengan para wanita yang menjadi target mangsanya, tentu saja bukan n4f5u seperti itu yang menguasai Pietro, melainkan n4f5u membunuh yang ada diotak Pietro.


" Kenyal sekali seperti jelly ",, kata Pietro lagi sambil terus memijat lembut bukit kembar milik Molly.


Setelah puas m3r3m45 manja kedua bukti milik Molly, Pietro pun langsung saja mencoba mengh154p kedua bukit itu secara bergantian.


" Bahkan rasanya lebih padat dan kenyal alami tidak seperti para wanita yang menjadi mangsaku dulu ",, kata Pietro sambil berbicara didalam hatinya.


" Sudah aaah, kenapa aku bisa tidak menahan sesuatu dari dalam tubuhku yang tidak bisa aku jelaskan, jika dihadapkan dengan tubuh dari gadis ini ",, kata Pietro mencoba menghentikan aksinya itu.


Pietro pun setelahnya dia langsung saja meninggalkan Molly lagi yang masih pingsan didalam ruang pengobatannya dalam keadaan yang tidak memakai pakaian sama sekali untuk mengambil paperbag yang tadi dibawanya.


Dan ketika sudah mengambil paper bag tersebut, Pietro langsung saja mengeluarkan semua isi dari papebagnya, yang ternyata isinya semua baju-baju perempuan seukuran Molly yang Pietro beli asal tadi dibutik yang ada dikota.


Yaps Pietro tadi ketika sudah mep3rk054 Molly, dia langsung meninggalkan Molly didalam kamarnya, bukan untuk melarikan diri, melainkan pergi membelikan baju untuk Molly.


Sebab Pietro tidak tahan melihat baju yang dipakai oleh Molly yang tidak enak dipandang dimata Pietro.


Sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, akhirnya membuat Pietro cepat sampai dibutik yang dia tuju.


Pietro asal tunjuk saja baju yang sekiranya ukurannya sesuai dengan tubuh dari Molly.


Bahkan ketika Pietro memilih br4 untuk Molly, dia mengukur tangkupan br4nya menggunakan kedua telapak tangannya yang tadi dia gunakan untuk m3r3m45 kedua bukit milik Molly.


Serta tidak lupa segitiga bermudanya juga, Pietro membelikan untuk Molly yang ukurannya mengingat ukuran paha dari Molly.


Hingga akhirnya sekitar dua puluh pasang baju, dress, kaos, celana, semua sudah Pietro ambil.


Dan jangan lupakan Pietro juga membelikan lingerie-lingerie seksi untuk Molly yang berjumlah seratus buah.


Bagi Pietro uang segitu tidak ada apa-apanya, bahkan tidak terlihat berkurang sama sekali jika cuma membeli pakaian yang jumlahnya sedikit itu.

__ADS_1


Jika Pietro disuruh oleh Molly untuk membeli butiknya, pasti akan Pietro lakukan demi Molly.


Pietro pun dengan pelan-pelan dan sedikit kesusahan dia mencoba memakaikan pakaian yang dibelinya tadi ketubuh Molly, tanpa lingerie atas bawah, sebab Pietro tidak bisa memakaikannya sendiri.


" Aaah cantik sekali roknya??, dia terlihat seperti malaikat saja memakai baju sebagus ini ",, kata Pietro ketika sudah memakaikan dress kebadan Molly.


Disaat Pietro sedang mengagumi kecantikan dari Molly yang seperti putri tidur, tiba-tiba saja ponsel yang ada disaku celananya berdering dengan cukup kencang sekali.


Pietro langsung saja mengangkat sambungan telefonnya itu sambil berjalan keluar dari ruang pengobatannya.


Sedang diluar dirumah Pietro, Greta dan Ansel mereka berdua begitu menikmati sekali waktu bersenang-senang mereka diwahana khusus hantu itu.


" Aaaahhh Ansel aku sangat senang sekali, tidak aku sangka jika hantu mempunyai wahana permainan sendiri seperti manusia ",, kata Greta kepada Ansel dengan wajah yang sangat bahagia sekali.


" Jika kamu senang kamu bisa ko kembali lagi kesini ",, kata Ansel kepada Greta.


" Tapi aku tidak punya uang seperti uang kamu itu??, dan kamu ko bisa mendapatkan uang sebegitu banyaknya darimana Ansel?? ",, tanya Greta kepada Ansel.


" Aku bekerja Greta ",, jawab Ansel kepada Greta.


" Bekerja??, hantu seperti kita juga bekerja?? ",, kata Greta kepada Ansel.


" Iya, sebetulnya kita itu sama seperti manusia, ada pekerjaan, rumah tangga, perdagangan, hiburan dan masih banyak yang lainnya, hanya saja kita tidak terlihat seperti mereka ",, jawab Ansel kepada Greta.


" Terus pekerjaan kamu apa Ansel?? ",, tanya Greta kepada Ansel.


" Itu dipabrik yang ada ditengah hutan ",, jawab dari Ansel kepada Greta.


" Iya Pabrik Greta, Pabrik minuman khusus untuk para hantu yang tadi kamu juga minum disana ",, kata Ansel kepada Greta.


Greta pun dia sampai bingung mau berkata apa kepada Ansel.


Sebab selama dia menjadi hantu, dia tidak pernah menemukan hal-hal yang dibicarakan oleh Ansel.


Greta seperti itu, mungkin karena dia daridulu tidak pernah pergi jauh dari Molly, dan selalu tinggal didalam rumah bersama Molly.


Berpindah tempat sejenak, tepatnya dirumah Kak Ivar Kakak kandungnya Pietro dan Gilbert.


Gilbert yang tadi baru saja sampai dirumah mewah milik Kakaknya, dia langsung saja segera masuk kedalam rumah.


Sambil berjalan masuk kedalam rumah, Gilbert sambil juga berteriak-teriak memanggil nama Kakaknya.


" Kak Ivaaar Kaaaaaaaak............. ",, kata Gilbert sambil memasuki ruang Keluarga.


Istri dari Kak Ivar yang baru saja keluar dari dalam dapur dan mendengar teriakan dari Gilbert, dia pun langsung saja berjalan mendekati Gilbert sambil menyahut perkataan dari Gilbert.


" Ada apa sih Ibet teriak-teriak seperti itu seperti dihutan rumah Ito saja??, dan Kakak kamu itu sudah berangkat kekantor daritadi ",, bukan Kak Ivar yang menjawab melainkan istrinya Kak Ivar yang bernama Agnes, yang mempunyai sifat sedikit rada-rada yaaa nanti lihat sajalah.


Bahkan Agnes pun memanggil Gilbert dengan panggilan Ibet, sedangkan Pietro dengan panggilan Ito.


Gilbert dibuat selalu mengusap dada ketika Kakak iparnya memanggilnya dengan panggilan Ibet seperti itu.

__ADS_1


" Selalu Ibet, dan Ibet lagi ",, gerutu pelan dari Gilbert untuk Agnes sang Kakak iparnya.


" Aku kira Kak Ivar belum berangkat Kak, padahal ada hal penting yang ingin aku ceritakan kepadanya?? ",, jawab Gilbert kepada Agnes.


" Cerita soal apa, sini cerita sama Kakak saja ",, jawab Agnes kepada Gilbert.


" Cerita sama Kakak itu sama saja cerita sama orang gila, sama-sama menguji kesabaran ",, kata batin dari Gilbert untuk Agnes.


" Aaah jika cerita sama Kakak, Kakak sering lola alias loadingnya lama, dan sering tidak nyambung ",, kata Gilbert kepada Agnes.


" Tidak nyambung bagaimana??, Kakak masih sehat tidak tuli, pasti Kakak masih bisa menyahut perkataan kamu seperti sekarang ",, jawab Agnes kepada Gilbert.


" Tuh kan, tidak faham apa maksud perkataan dari Gilbert?? ",, kata Gilbert merasa sedikit sebal kepada Agnes.


Agnes pun hanya tertawa tanpa dosa saja seperti biasanya.


" Lha salahnya dari perkataan Kakak itu apa Ibet??, menurut Kakak benar-benar saja ko perkataan dari Kakak tadi ",, kata Agnes lagi kepada Gilbert.


" Sudah terserah Kakak saja ",, jawab Gilbert malas menanggapi perkataan dari Gilbert.


" Oh ya kamu apa tidak menyusul Kakak kamu kekantor Ibet??, malah asik nongkrong disini sama Kakak?? ",, kata Agnes kepada Gilbert.


" Gilbert tidak sedang nongkrong Kakak Ipar, tapi Gilbert sedang mengobrol sama Kakak ",, jawab Gilbert kepada Agnes sambil menahan rasa gemasnya.


" Lhah kan sama saja ujung-ujungnya ",, kata Agnes membantah kepada Gilbert.


" Terserah Kakak sajalah, bicara saja sama tembok atau shofa yang Kakak duduki itu sana, kemarin shofanya Gilbert ajak bicara dia menyahut ",, kata Gilbert dengan asal kepada Agnes sambil berlalu pergi keluar dari dalam rumah lagi.


" Itu anak pasti selalu begitu jika diajak mengobrol denganku, masa iya sih ini shofa bisa diajak berbicara?? ",, kata Agnes untuk Gilbert yang sudah tidak terlihat lagi didepan matanya.


Dan Agnes yang mempunyai sifat yang rada-rada aneh, dia pun yang penasaran akhirnya membuktikan perkataan dari Gilbert tadi dengan mencoba mengajak berbicara shofa yang didudukinya.


" Halo......... apakah benar kamu bisa bicara?? ",, kata Agnes kepada shofa itu.


" Tidak menjawab, Ibet bohong itu sama aku, awas saja jika ketemu nanti ",, kata Agnes untuk Gilbert.


Tidak Agnes, tidak Pietro mereka sama-sama b0d0h dengan versinya masing-masing.


Sedang Pietro yang sudah selesai mengangkat sambungan telefonnya tadi, dia pun langsung saja masuk lagi kedalam ruang pengobatannya untuk memandangi wajah Molly yang masih belum sadar.


" Apakah aku harus pergi malam ini??, tapi bagaimana dengan gadis ini??, karena aku tidak mau jika dia sampai pergi dariku ",, kata Pietro didalam hatinya.


Pietro saat ini sedang bingung, karena dia baru saja mendapatkan tawaran pekerjaan untuk menghabisi nyawa seseorang lagi dan bayaran yang akan dia terima sangat mahal sekali.


Tapi jika Pietro mengambil pekerjaan itu, otomatis Molly akan sendirian dirumahnya dalam keadaan yang masih sakit seperti itu.


Baru kali itu Pietro mempunyai perasaan bingung dalam menerima pekerjaan, hanya karena ada Molly disisinya.


...๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ๐Ÿ› ๏ธ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2