Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
otak lemot


__ADS_3

Kembali ke susu coklat bubuk kemasan kotak, "bukan kah kau sendiri yang bilang, aku tidak boleh berisik. Jadi aku makan saja sendiri tanpa menawari mu, kau 'kan sibuk." Ujar Olivia membela diri dan bergumam di ujung kalimat nya.


Raut wajah Mylo semakin masam menatap Olivia yang masih sibuk mengunyah biskuit Regal kesukaannya.


"Suap aku Oli.." ujar Mylo geram sembari menekan kalimat nya. Olivia buru-buru bertindak sebelum singa di hadapan nya keluar taring.


"Kau hanya perlu mengkode saja, agar aku menyuapi mu. Sekarang aa...buka mulut mu.." Mylo membuka mulutnya ogah-ogahan, bukam karena dia tak mau, namun seperti biasa gengsi dan image harus tetap yang paling utama.


Tok tok tok


Klek


Betran menatap malas adegan suap menyuap di hadapan nya. Sungguh tontonan yang menyebalkan bagi kaum jomblo seperti dirinya.


"Perwakilan dari Perusahaan Livia Permata Group sudah tiba. Apa harus menunggu adegan mesra ini berakhir atau aku saja yang mewakili mu ke ruang meeting. Hawa-hawa nya kau sangat ingin menikmati kemesraan ini berlama-lama." Betran bergumam di ujung kalimat nya sambil menatap ke sembarang arah.


Jiwa jomblo meronta ingin menabok kepala sang atasan menggunakan sepatu nya, andai saja tak berpengaruh pada pemecatan dirinya secara tidak hormat.


"Aku akan menemuinya langsung, Olivia akan ikut dengan ku. Dan kau, tolong rapikan meja ku saat kami keluar nanti. Di bersihkan sebersih-bersih nya, paham!" Betran hanya bisa mengangguk pasrah. Setiap kali si Oli mesin itu membuat ruangan Mylo berantakan, alamat diri nya yang akan terkena imbas nya.


"Kenapa aku harus ikut? Kan aku bisa di sini saja sekaligus membersihkan ruangan mu seperti biasa?" Tanya Olivia heran. Senyum lebar di bibir Betran melengkung sempurna, namun hanya sesaat seperti angin lewat. Sebelum sang atasan laknat menghempas nya dari kenyataan.


"Menurut lah pada ku Oli, lagi pula Betran tak ada pekerjaan lain. Dari pada dia menganggur dan menghabiskan anggaran perusahaan tak jelas, lebih baik dia membersihkan ruangan ku. Dia senang bisa melakukan nya, berbakti padaku sama seperti berbakti pada orang tua nya. Ayo, jangan membantah lagi." Olivia akhirnya hanya bisa menurut seperti biasa nya.

__ADS_1


"Pak asisten, cake dan biskuit nya aku bawa ya...aku takut mengantuk di dalam jika terlalu lama bengong." Ujar Olivia berbisik seakan takut Mylo mendengar nya.


"Ck! Tidak perlu meminta ijin nya, ini semua aku yang membelinya. Meski menggunakan uang nya terlebih dahulu, nanti aku akan mengganti nya sekalian ongkos kau membersihkan ruangan ku. Bawa semua cemilan mu, Bety bantulah si mungil kesayangan kita ini mengemas makanan itu ke dalam boks sedang itu." Titah Mylo seenak dengkul.


Betran mendengus kesal, sejak kapan Olivia menjadi kesayangan nya? Gadis kecil lemot itu bahkan sering membuat kepala nya pusing, saat berbicara dan di tanggapi tak nyambung oleh otak pas-pasan si kerdil itu.


"Sudah?" Olivia mengangguk dengan senyum lebar sembari memeluk boks sedang di dekapan nya. Boks itu bahkan terlihat lebih besar dari ukuran tubuh nya. Sungguh peri mungil yang menggemaskan.


"Ayo, Oli. Bety, saat aku kembali, ruangan ku harus sudah kinclong, ok?" Mylo mengedip kan sebelah mata nya, membuat Betran bergidik ngeri.


Mylo berjalan dengan Olivia yang terus mengekori nya seperti anak ayam takut di tinggal oleh induk nya. Setiba di ruang meeting, Mylo berubah menjadi pribadi yang dingin dan datar seperti biasa nya.


"Maaf atas keterlambatanku tuan Odion. Silahkan duduk..." Mylo menyalami rekan bisnis nya dengan gaya yang penuh wibawa. Olivia sampai di buat menganga kala melihat pria menyebalkan yang nampak begitu berbeda di hadapan nya itu. Seperti melihat sosok lain dalam tubuh yang sama.


Mata Olivia berbinar, dia lah yang menata ruang meeting tersebut. Otomatis pujian itu untuk nya, bukan?


"Terimakasih banyak tuan Pasedeon, aku lah yang menata nya..." Ujar Olivia mesen-mesem di belakang tubuh Mylo. Odion menoleh dan hanya melihat tubuh Mylo saja, membuat bulu kuduk nya tiba-tiba meremang.


"Aku seperti mendengar suara seorang anak perempuan, apa kau mendengar nya juga tuan Mylo?" Tanya Odion untuk sekedar meyakinkan, jika telinga nya masih berfungsi dengan baik.


"Ah ya, dia..." Mylo menoleh, tubuh mini Olivia memang sering tak terlihat jika berdiri di antara orang-orang yang tumbuh normal.


"Dia office girl di perusahaan ku, juga kekasih ku. Aku tak ingin meninggal kan nya sendirian di ruangan ku, jadi aku memutuskan untuk membawa nya saja. Aku harap anda tidak keberatan tuan Odion." Namun kalimat Mylo tak di tanggapi oleh Odion.

__ADS_1


Pria itu melangkah perlahan ke arah Olivia berdiri. Matanya berkaca-kaca, setelah jarak mereka hanya tinggal sedepa. Odion menyentuh pipi bulat Olivia dan itu berhasil menyulut api di dada Mylo.


Tanpa peduli akan merusak citra serta kerja sama mereka, Mylo menghadiahi Odion dengan bogem mentah tepat di rahang pria itu. Siapa yang tak tau dengan berita burung tentang anak sulung tuan Mahesa tersebut. Pria paling di takuti karena siapa yang berani berurusan dengan nya, pasti akan menghilang bagai angin lalu.


"Dasar pria cabul! Berani sekali kau menyentuh Oli kesayangan ku, cari mati hah!" teriak Mylo yang terbakar api cemburu kembali memberikan pukulan tak terkendali yang hanya di tangkis oleh Odion. Mylo tak ahli dalam hal bela diri, terlihat dari cara pria itu membabi buta menyerang Odion. Odion lebih memilih untuk mengalah saja, salah nya juga tiba menyentuh kekasih orang lain seenak nya.


Nafas Mylo ngos-ngosan, Odion menyeka sudut bibir nya yang mengeluarkan darah. Sedangkan Olivia mematung sambil memeluk boks camilan nya seakan takut benda itu di rampas oleh seseorang.


Mylo tersadar saat melihat Olivia yang tak bergerak di tempat nya berdiri. Segera pria itu menghampiri lalu memeluk tubuh bergetar Olivia setelah berhasil menyingkirkan boks ke atas meja.


"Sssuhhttt..maaf kan aku, tenanglah...sudah tidak apa-apa, kami hanya saling menyapa dengan gaya pria sejati. Jangan takut, aku di sini..." Pelukan hangat Mylo mampu menenangkan hati Olivia. Gadis itu tersenyum manis di dekapan kekasihnya.


"Aku hanya terkejut, aku takut kalian akan membuat boks cemilan ku jatuh. Aku belum puas memakan nya tadi..." Kletak!


Rahang Mylo dan Odion nyaris terjun bebas mencium lantai. Jadi Olivia bukan ketakutan karena melihat mereka berkelahi? Tapi gadis kerdil itu lebih takut makanan nya tak terselamatkan jika ikut terkena amukan kedua pria besar itu. Sungguh Mylo ingin menelan gadis itu bulat-bulat saking gemas nya.


Olivia mendongak setelah Mylo mengurai pelukan nya.


"Jangan berkelahi lagi di depan ku, terutama saat aku sedang memegang sesuatu yang bisa jatuh dan rusak." Setelah mengatakan kalimat menyebalkan tersebut, Olivia meraih kembali boks makanan milik nya lalu duduk di kursi putar di ujung meja panjang di hadapan nya. Gadis itu terlihat sangat manis dan polos, saking polos nya, Mylo harus menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-paru nya.


Mylo hanya bisa menghela nafas panjang, sabar adalah hal yang wajib bagi nya dalam menghadapi otak mungil Olivia.


"Apa kau masih ingin melanjutkan rapat kerjasama ini tuan Odion?" Tanya Mylo dengan nada sinis. Odion hanya tersenyum samar, melihat betapa besar cinta sang calon rekan bisnis nya. Membuat niat kerja sama tersebut semakin kuat. Pasti akan menarik bekerja sama dengan seorang pria bucin yang bahkan terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaan nya kala kekasih nya di ganggu oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2