
"Boleh, aku memulai nya sayang? aku ingin memulainya dengan cara yang benar..." mohon Odion menatap sayu wajah memerah istri nya dengan suara serak. Maya hanya mengangguk pelan meski sebenar nya dia masih menyimpan keraguan. Namun Odion adalah suami nya sekarang, suatu kewajiban bagi nya untuk melayani sang suami meski Odion tidak lah memaksa.
Kedua insan tersebut memulai ritual malam pengantin yang seharusnya, Odion mengerang mencapai puncak berkali-kali. Sungguh tak ada kalimat yang mampu mewakili perasaan nya sekarang, pria itu teramat sangat bahagia. Tak lupa dengan sang jabang bayi, Odion tetap melakukan nya dengan ritme yang tak mempengaruhi sang janin.
"Terimakasih sayang.." Odion menciumi seluruh wajah Maya setelah pencapaian nya yang ke empat. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi, Odion tersenyum bangga melihat tubuh bulat istri nya dengan kucuran peluh percintaan mereka. Rasa nya masih sama, masih sulit untuk di tembus, itu karena hanya Odion lah pria yang menyentuh nya.
"Aku ngantuk.." rengek Maya memejamkan kedua matanya dalam pelukan hangat lengan kekar Odion. Odion terkekeh pelan, jelas saja mengantuk. Sudah hampir pagi, dan mereka baru selesai membuat sejarah manis.
"Tidurlah, aku akan membersihkan nya nanti tanpa menggangu tidur nyenyak mu sayang." Ujar Odion merasa bersalah. Dia begitu bersemangat hingga tak bisa berhenti membuat istri mende*s*ah pasrah di bawah Kungkungan nya.
Odion turun dari ranjang untuk mengambil Air dan handuk bersih, pria itu benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Membersihkan area inti sang istri, juga memberikan saleb luka. Bibir nya membentuk senyuman kepuasan, melihat bagaimana milik istri nya yang sempit baru saja menjepit habis keperkasaan nya.
Meninggalkan Odion yang menikmati malam pengantin nya meski bukan malam pertama. Seorang gadis sedang membuat kan sebuah minuman dengan campuran obat tidur di dalam nya.
Itu adalah cara terakhir yang bisa dia lakukan sebelum sang kakak menjemput nya esok hari. Tugas kemiliteran sang kakak telah usai, dan sudah kembali pulang sejak kemarin sore. Namun si gadis meminta untuk di jemput besok pagi dengan alasan masih ingin menghabiskan pekan terakhir nya di perkebunan. Namun sebenar nya Sofia memiliki tujuan lain. Tujuan yang dia harapkan bisa mengantarkan hubungan nya dengan seorang pria ke arah yang lebih serius.
__ADS_1
Tok tok tok
klek
Sofia melongokkan kepala nya melalui celah pintu ruang kerja Wira. Wira yang tengah sibuk memeriksa laporan hasil panen anggur nya hanya menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada pekerjaan nya.
Langkah kaki Sofia membawa nya mendekati arah meja kerja sang calon target.
"Aku membuat kan kakak kopi, semoga kakak menyukai nya. Takaran nya sesuai dengan yang sering di buat oleh bibi Sera. Minum lah, besok aku akan pulang. Jadi tak akan lagi mengganggu kakak dengan segelas kopi." Kekeh nya menghilang kan rasa gugup nya.
Setelah meletakkan gelas di atas meja, Sofia pamit keluar. Wira menatap nanar punggung gadis yang sudah tinggal bersama nya kurang lebih dua bulan tersebut. Ada perasaan bersalah karena terlalu sering memarahi gadis itu, namun mau bagaimana lagi. Sofia selalu membuat ulah yang berakhir dengan menambah daftar pekerjaan nya saja.
"Ashhh...sial!" umpat pria itu kesal. Wira mengambil beberapa lembar tisu lalu membersihkan nya. Melihat masih ada sisa sedikit di dalam gelas, Wira meneguk sedikit untuk menghargai niat baik Sofia pada nya. Toh besok gadis itu sudah pergi dari perkebunan nya.
Berselang beberapa menit, Wira merasa sedikit mengantuk. Mengherankan, sejati nya kopi yang dia minum memiliki kadar kafein yang tinggi. Seharusnya dia tidak merasa mengantuk, namun sekarang dia merasa sangat ingin tidur saat melihat sofa di sudut ruangan nya.
__ADS_1
Dengan langkah tertatih menahan kantuk, Wira menuju sofa. Merebahkan tubuh nya lalu mulai memejamkan kedua matanya. Tak lama pintu ruangan nya terbuka, memperlihatkan seorang gadis dengan baju tidur transparan masuk dan mulai mengunci pintu ruang kerja Wira.
"Kau nampak sangat tampan kak, andai kau bisa melihat ku sebagai wanita dewasa dan mengerti akan perasaan ku selama ini. Aku tak akan melakukan hal rendah seperti ini untuk mengikat mu. Kau sangat kaku dan dingin pada ku, tak pernah peka akan segala perhatian dan sikap ku yang ingin mendapatkan perhatian mu. Maafkan aku jika caraku salah, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Begitu lah yang sering orang-orang katakan. Aku harap cinta kakak pada ku pun begitu, tumbuh bersama kebersamaan kita setelah ini."
Sofia mukai menanggalkan pakaian nya, lalu naik ke sisi sofa yang memang cukup lebar tersebut. Membuka pakaian Wira hingga tak bersisa, Sofia menatap takjub tubuh kekar pria pujaan nya. Andai dalam keadaan sadar, dia tak sabar melihat reaksi benda yang ikut tertidur lelap bersama sang tuan.
Setelah mereka sama-sama dalam keadaan naked, Sofia meraih gaun tidur nya lalu memakai nya tanpa alas dalam. Menuju pintu lalu membuka kunci nya, dia sudah mengirim pesan pada sang kakak untuk menjemput nya pagi-pagi sekali. Dengan alasan ingin segera bertemu dengan sang kakak. Meski nyata nya Sofia ingin kakak nya memergoki mereka dalam keadaan seperti ini.
"Selamat malam kak, aku mencintaimu. Semoga cinta mu tak lama-lama tumbuh untuk ku, aku merendahkan harga diri ku demi dirimu kak. Jangan buat aku merasa sakit hati lagi." Sofia mulai menggeser sedikit tubuh Wira kemudian ikut berbaring dan memeluk pria itu, tak lupa tetesan darah palsu yang dia pesan online. Dia oleskan pada keperkasaan Wira juga sofa yang akan mereka tiduri.
Sofia juga melakukan mas*tur*basi, dengan tujuan menciptakan len*dir kenikmatan yang akan dia gunakan untuk melumuri milik Wira sebagai bukti akan hubungan mereka. Otak nya sudah berpikir hingga sejauh itu, berbekal pengalaman seorang teman yang sudah sering melakukan hubungan tersebut. Wira butuh pembuktian lebih dari sekedar bercak darah. Entah berhasil atau tidak, dia sudah berusaha sejauh itu.
Dengan sisa nafas yang masih memburu akibat pelepasan nya barusan, Sofia tersenyum puas. Karena kali ini dia menggunakan jari Wira sebagai bantuan fantasi nya.
"Andai kau melakukan nya secara langsung kak, pasti rasa nya akan lebih nikmat." Sofia mencium bibir Wira dengan rakus menggigit kecil hingga meninggal bekas.
__ADS_1
"Astaga! begini saja aku sudah puas, bagaimana jika kau dalam keadaan sadar. Bisa-bisa aku tak bisa berhenti meminta kau meniduri ku kak." Ujar Sofia mulai hilang kendali akal sehat nya. Setelah puas bermain dengan bibir Wira hingga membengkak, Sofia akhirnya tertidur sambil memeluk tubuh Pria itu. memiringkan sedikit tubuh Wira seperti tengah menindih nya.
Sebelum tidur Sofia menatap jam yang menunjukkan waktu pukul 2 dini hari, dia sudah tak sabar menunggu pagi. Pagi yang akan mengantar kan pada masa depan yang dia impikan.