
Regyta memalingkan wajah nya ke arah lain, ada perasaan sesak di hati nya kala mendengar selorohan tersebut.
"Aku akan memesankan selusin wig untuk mu, dengan berbagai model dan warna. Dan ya, kau selalu terlihat cantik meski dalam keadaan plontos sekalipun. Tak ada yang mampu menandingi kecantikan seorang Mishy Pratama." Balas Regy menatap sang sahabat dengan tatapan entah.
"Baiklah, belikan aku yang banyak. Mungkin ada pria rabun yang akan jatuh cinta dengan penampilan baru ku nanti. Aku akan sangat senang, ada pria bodoh yang mau berkencan dengan wanita sekarat ini." Kekeh Mishy tertawa hambar.
"Aku akan mendaftar kan mu dalam aplikasi kencan buta. Semoga saja ada pria yang sesuai dengan kriteria mu, lalu kau jadikan kekasih sehari saja. Aku khawatir putra mu akan langsung memutilasi tubuh teman kencan mu nanti, mengingat Miguel begitu protektif terhadap mu." Kedua nya lalu tertawa renyah.
Miguel memang sangat protektif terhadap sang ibu. Untuk itu selama ini Mishy selalu menutup akses bagi para pria yang berniat untuk mendekati nya. Dia cukup menikmati peran nya, sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi kelima anak nya.
Dia tidak merasa kekurangan apa pun, anak-anak nya telah memberikan nya cinta dan perhatian yang lebih dari cukup.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
"Sayang.. bagaimana hasil nya?" Tanya Mylo harap-harap cemas. Pria itu berdiri tak sabar di depan pintu kamar mandi menunggu sang istri yang tengah melakukan tes urine.
Olivia keluar dengan wajah masam, lalu menyerah kan benda pipih di tangan nya. Mylo segera meraih nya kemudian memeluk sang istri dengan begitu erat.
"Aku sesak..." Protes Olivia galak.
"Maaf sayang, aku hanya terlalu bahagia. Lihat ini, dua garis merah. Kita akan menjadi orang tua sekali lagi, aku sudah tak sabar ingin melihat perut mu kembali membuncit. Pasti akan sangat lucu. Kau pendek, bulat dan buncit. Pasti akan sangat lucu, seperti kucing gemuk milik bibi Andin." Sungguh perumpamaan yang di ucapkan Mylo terdengar mengesalkan di telinga Olivia.
"Ya sudah, aku tak jadi hamil. Aku tak ingin tubuh pendek ku gemuk dan buncit seperti seekor kucing." Ketus Olivia sewot. Wanita mini itu berjalan meninggalkan sang suami yang masih belum menyadari kesalahan nya.
__ADS_1
Mylo menggaruk tengkuk nya bingung.
"Kenapa dia marah? Kan kucing makhluk yang lucu..apa hormon kehamilan membuat nya jadi pemarah?" Ujar pria itu cengo. Tak sadar jika diri nya telah secara halus menyentil sisi sensitif bagi para wanita.
"Kenapa wajah mu di tekuk sayang?" Tanya Mahesa menatap heran raut wajah putri nya yang tak secerah mentari pagi di luar sana.
"Mylo mengatakan jika aku seperti kucing bibi Andin. Pendek, gemuk, bulat dan buncit." Olivia melipat bibir nya kesal, Mahesa menatap sengit pada sang menantu yang baru tiba di ruang makan. Pria itu cengengesan sembari mengangkat dua jari nya.
"Aku hanya bercanda sayang, jadi itu yang membuat mu merajuk, hmmm?" Mylo mengecup kening sang istri dengan sayang. Dia lupa istri nya selalu polos, apapun pasti akan dia katakan pada ayah mertua nya yang durjana.
"Jangan sekali-kali menghina putri ku jika kau masih ingin menjadi suami nya." Kecam Mahesa mendesis pelan di samping Mylo.
Mylo hanya bisa memberikan senyuman manis sejuta sesal, semilyar perdamaian pada sang mertua.
Mahesa menginjak punggung kaki sang menantu dengan sepenuh hati. Mylo tak berani protes, Mahesa telah mewanti-wanti agar Olivia tak kembali mengandung. Tubuh mungil nya selalu kesusahan saat kehamilan nya sudah memasuki usia kehamilan matang.
"Kau benar-benar minta di sunat rupa nya!" Geram Mahesa mendesis kesal. Reflek Mylo menutup kepemilikan nya dengan piring. Mertua nya terlalu kejam, apa guna nya menikah kalau tidak bisa mencetak anak dalam jumlah banyak. Istri nya saja tidak protes dia garap setiap hari, dasar mertua jablay batin Mylo kesal.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Tiga bulan sudah berlalu, kini Wira sudah kembali mengambil alih perusahaan yang selama ini di serahkan pada orang kepercayaan nya. Putranya Justin pun kini sudah mulai bersekolah rutin.
Ibu nya pun sudah membaik, hanya saja masih belum bisa menerima Justin sebagai cucu nya. Sang ibu kekeh ingin menjodohkan Wira dengan keponakan sang suami. Namun Wira menolak tegas, tidak akan ada pernikahan lagi dalam hidup nya. Cukup kesalahan sekali yang meski tak dia lakukan. Dia akan menjadi duda selama nya, dan fokus mengurus Justin yang hak asuh nya jatuh ke tangan Wira.
__ADS_1
Sofia, wanita itu rupa nya kembali mengandung. Dan meminta Wira tetap bertahan hingga diri nya melahirkan. Wira bukan pria bodoh, yang akan jatuh ke lubang neraka yang sama. Hingga ketuk palu terjadi, Sofia masih enggan untuk merelakan Wira dari kehidupan nya. Susah payah pengacara Wira melobi wanita licik itu. Dan ya, perkebunan milik Wira dan semua aset pria itu di jadikan simbiosis mutualisme. Sofia akhirnya setuju, dia tak ingin hidup dalam kesusahan.
"Apa jadwal ku hari ini, Jo?"
"Anda ada janji temu dengan seorang klien dari perusahaan Handaru Group, namun sepertinya akan di tunda sementara waktu yang tak dapat di tentukan. Istri tuan Handaru mengalami sebuah insiden di rumah nya dan sedang di rawat di rumah sakit hingga sekarang." Jelas Josua merinci.
Wira terlihat berpikir, kemudian angkat bicara.
"Di rumah sakit mana istri tuan Handaru di rawat? Aku berpikir untuk menjenguk nya sekalian." Ujar Wira tiba-tiba. Josua tercengang, hampir tak percaya namun jelas yang berbicara adalah sang atasan langsung.
"Rumah sakit keluarga Sudibyo, di bilangan Jakarta barat. Apa Anda ingin saya temani, tuan?" Tawar Josua masih belum percaya. Wira pribadi yang sangat dingin dan tak suka hal-hal ribet seperti itu. Hingga ketika mendengar sang tuan ingin menjenguk istri klien nya, tentu membuat Josua sedikit tak percaya.
"Kau handle pekerjaan ku di kantor saja, apa Yuni sudah bisa mulai bekerja besok? Ku lihat kau sedikit kewalahan menghadapi tumpukan pekerjaan seorang diri. Terutama kau seperti nya kurang bersemangat tanpa ada pemandangan indah di hadapan mu." Glek!
Susah payah Josua menelan ludah nya yang terasah sekeras batu kerikil. Yuni Ayunda adalah sekretaris Wira, wanita dengan tubuh sintal yang selalu memamerkan lekuk tubuh nya. Berbeda dengan sekretaris Wira yang lama. Sayang wanita itu memilih resign setelah menikah.
"Mungkin besok. Lagi pula aku tetap bersemangat meski tanpa nya, hanya saja pekerjaan menjadi semakin banyak belakangan ini. Aku hanya sedikit kelelahan saja." Elak Josua.
Wira mengangguk pelan, entah apa maksudnya.
"Baiklah, aku akan ke rumah sakit sebentar setelah menjemput Justin ke sekolah." Ujar Wira mulai merapikan meja nya, dia tak suka banyak tangan orang lain menyentuh barang-barang nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
__ADS_1