
...Bab ini sambungan bab (Doa tulus Justin)...
...Sekarang kalau update sering nyempil sendiri masuk ke tengah-tengah tanggal kemarin๐ญ๐ญ...
...Sudah chat admin, semoga segera di atasi dengan baik๐ฅบ...
...Harusnya hari ini ada 7 bab, tapi aku hitung cuma 6. Rupa nya dia nyelip di tengah tanggal 25....
Setelah beberapa menit, akhir nya panggilan Wira di angkat juga.
"Hallo, kediaman tuan Wira ada yang bisa di bantu?" suara seseorang yang sangat dia kenali. Sera, kepala pelayan di rumah nya.
"Di mana Justin?" tanya Wira to the poin.
"Tuan muda ke perkebunan tuan, hari ini Justin ingin memantau para pekerja sebagai hari pertama nya memegang perkebunan. Tuan muda juga akan ke kota kata nya tadi setelah dari perkebunan, untuk membeli beberapa keperluan untuk panen raya dua minggu lagi." Sesak, itulah yang Wira rasakan.
Justin benar-benar dewasa sejak dini seperti permintaan nya semalam.
"Tolong katakan pada Alfonso agar mengantar Justin ke bandara, sekarang. Tak perlu membawa apapun, cukup diri nya saja. Jangan katakan apapun pada Sofia mengenai ini, aku tunggu di bandara." Klik.
Ketika sambungan terputus, sang kepala pelayan menyeka sudut mata nya. Dia turut bahagia akhir nya sang tuan mulai membuka pintu hati nya untuk Justin yang malang.
Justin terlihat bingung saat melihat jalan yang mereka lewati berjalan berlawanan arah menuju perkebunan. Dia baru saja dari toko pertanian, untuk membeli beberapa kebutuhan perkebunan yang di serahkan Wira pada nya. Dan setelah selesai sang sopir malah membawa nya tak tentu arah.
"Apa kita tidak salah jalan Alfonso? ini bukan jalan kembali ke perkebunan." Tanya Justin mulai cemas. Apakah pria paruh baya itu di perintahkan untuk membuang nya jauh. Berbagai pikiran buruk mulai menghantui otak kecil nya.
Sang sopir hanya diam, karena itu adalah perintah sang tuan. Justin duduk tak tenang, perjalanan mereka sudah satu jam lebih dan sang sopir tak ada niat untuk berhenti sama sekali. Dari perkebunan menuju kota tempat nya berbelanja tadi sekitar satu jam. Andai mereka kembali ke jalan yang seharusnya, sekarang mereka sudah tiba di perkebunan.
__ADS_1
Akhirnya perjalanan dua jam itu telah membawa mobil tersebut ke lobby sebuah bandara. Justin menatap heran sekaligus kagum, seumur hidup dia belum pernah berjalan sejauh ini ke pusat kota. Anak itu menatap takjub pemandangan hiruk pikuk para manusia yang terlihat berlalu lalang di bandara besar itu.
"Ayo kita turun tuan muda," Justin hanya menuruti, apa dirinya akan di deportasi jauh dari negara ini. Tiba-tiba hati nya berdenyut sedih, sebenci itu kah Wira pada nya. Matanya berkaca-kaca. Andai sang paman masih ada, paman nya lah yang menjadi satu-satunya tempat ternyaman bagi nya. Namun sang paman pun pergi satu tahun yang lalu.
"Justin.." Justin terkesiap melihat siapa yang ada di hadapan nya. Bukan kah seharusnya Wira sudah berada dalam penerbangan nya sekarang. Ingin dia berlari memeluk pria itu namun dia sadar siapa dirinya.
"Paman? aku pikir kau sudah pergi.." Ujar Justin sekenanya, dia tak tau harus menunjukkan reaksi seperti apa. Kini panggilan nya pun dia rubah, Wira bukan ayahnya dan dia harus tau diri.
Hati Wira perih mendengar Justin tak lagi memanggil nya dengan sebutan daddy seperti biasa nya. Justin benar-benar membangun tembok pembatas dengan nya.
Langkah pelan Wira menghampiri Justin yang masih mematung di tempat nya dengan pakaian ala pekerja perkebunan.
Pria itu memeluk tubuh kecil Justin dengan berjuta sesal di hati nya. Justin tidak bersalah apapun, tak ada yang ingin terlahir lalu di abaikan. Dan dia ikut menorehkan luka di hati pria kecil itu dengan sengaja.
"Maaf kan daddy Justin, maaf.. ayo kita mulai hubungan baru yang lebih baik, ikut lah bersama daddy. Apa kau mau, hmm?" Justin tak dapat lagi menahan air matanya. Pria kecil itu mengangguk cepat tanda setuju. Wira tersenyum senang, kedua nya menuju loket untuk check_in. Wira sudah memesan kan tiket untuk Justin. Dan paspor Justin pun sudah dia urus beberapa jam yang lalu dengan cara kilat.
Sang sopir menatap punggung dua pria berbeda generasi itu dengan tatapan sendu. Dia senang Wira tak benar-benar meninggalkan Justin dalam asuhan Sofia. Entah apa jadi nya anak itu tanpa Wira di samping nya.
๐น๐ท๐น๐ท๐น๐ท๐น๐ท๐น
Perjalanan panjang Wira dan Justin akhir nya mengantarkan kedua pria beda generasi itu ke tempat baru. Tempat di mana segala kisah-kisah akan di mulai. Tempat di mana suka duka di jalani mau tak mau.
"Apa ini di sebut Jakarta, dad?" Tanya Justin menatap kagum tugu Monas yang mereka lewati. Justin tak henti-hentinya menatap apa saja yang mereka lewati di sepanjang jalan. Wira tersenyum melihat antusiasme sang anak.
"Benar. Apa kau menyukai kota ini, son?" tanya Wira menoleh sekilas pada Justin yang masih sibuk menatap pemandangan kota kelahiran sang ayah.
"Aku sangat menyukai nya, dad. Apa kita akan menetap di sini selama nya?" Binar bening Justin menatap penuh harap akan pertanyaan nya pada sang ayah.
__ADS_1
Wira menghela nafas panjang, dia pun bingung. Tinggal di kota yang sama dengan wanita yang masih dia cintai hingga kini, sama saja seperti menjerat leher nya dengan tali tambang. Sesak. Wira takut tanpa sengaja bertemu dengan Mishy sewaktu-waktu, dan menyaksikan kebahagiaan wanita itu bersama suami nya. Dia masih belum siap, dan tak akan pernah siap.
"Dad?" Wira tersenyum kemudian mengangguk meski hati nya ragu. Dia ke sana hanya untuk menjenguk sang ibu, itu pun jika ibu nya mau bertemu dengan nya. Mengingat diri nya telah pergi begitu lama dan tak pernah memberi kabar sama sekali.
Wira menatap rumah yang dulu tempat nya bermain ketika masih kecil, kini hanya tinggal sebuah cerita kenangan di buku usang. Kedua orang tua nya memilih berpisah dan memulai kehidupan masing-masing.
"Wow! Rumah daddy besar sekali..!" Seru Justin menatap kagum bangunan mansion milik Wira. Rumah itu di serah kan pada nya, karena orang tua nya pun selain sudah memiliki kehidupan baru, juga sudah memiliki rumah tempat pulang lain.
"Ini juga rumah mu, Justin. Kau putra daddy.." ujar Wira lembut. Justin tersenyum lebar, senyum yang selama ini berusaha dia raih kini telah dia dapat kan. Wira telah menerima nya dengan sepenuh hati.
"Ayo ke kamar mu, Daddy sudah meminta pelayan menyiapkan nya sebelum kita pulang." Wira mengajak Justin menuju lantai atas, kamar Justin hanya berjarak satu kamar dari kamar nya.
Meninggalkan Wira dan Justin yang akan menyesuaikan kehidupan mereka yang baru, Mishy kini tengah melakukan sesi kemoterapi nya di sebuah rumah sakit swasta. Yang jelas bukan rumah sakit milik keluarga nya.
"Apa aku bisa langsung pulang setelah keadaan ku membaik, Regy?" Wanita yang di panggil Regy menatap malas pada sahabat nya itu.
"Kau harus di rawat terlebih dahulu, kau tau efek kemoterapi tidak lah bagus. Jadi menurut lah pada ku sesekali, atau kau akan ku beri obat tidur hingga dua hari ke depan." Mishy tertawa kecil, dia tau Regyta tak akan tega pada nya. Apa lagi kondisi nya yang tak baik-baik saja.
Bibit penyakit sang ibu kini menjalar dalam kepala nya, mempengaruhi saraf mata nya hingga membuat penglihatan nya sedikit terganggu.
Satu tahun ini, Mishy melakukan pengobatan. Namun baru mau melakukan kemoterapi setelah di bujuk oleh sang sahabat tiga bulan yang lalu. Kini Mishy mulai mengalami kerontokan rambut yang cukup membuat nya gusar. Ini adalah sesi ke lima nya, namun tubuh nya bereaksi signifikan.
Dia hanya berharap dari ketiga anak nya, tak ada satupun yang membawa bibit penyakit mengerikan itu.
"Apa aku bisa memesan wig di apotik, Regy? Jika ada, pesankan aku dua dengan model rambut kekinian. Aku ingin tetap terlihat cantik tanpa kebotakan." Ujar Mishy bercanda namun terselip keseriusan di balik candaan ringan nya.
Wajah nya sekarang terlihat sangat pucat, kemoterapi nya baru selesai satu jam yang lalu. Dan wanita itu harus menahan efek dari proses tersebut. Mual muntah dan rasa sakit yang menjalar di dalam setiap sendi tulang nya terasa sangat menyiksa.
__ADS_1