Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Ingin melamar


__ADS_3

"Ayo duduk, akan kakak jelaskan." Odion membawa Olivia duduk di samping, Olsen pun segera mengambil tempat di sisi lain sang adik. Dia tak ingin di dahului oleh Mylo yang juga terlihat bergerak ke arah Olivia.


Kedua pria dewasa itu sama-sama melempar kan tatapan sengit. Olsen tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil menjadi yang pertama duduk di samping sang adik terkasih.


Olivia bergantian menatap kedua pria yang tengah mengapitnya dengan tatapan menyelidik.


"Kalian terlihat mirip, apa kalian kembar?" Olsen gemas hingga tanpa sadar menggigit pipi bulat milik Olivia, dan itu membuat Mylo berdiri tegak hendak memberi pelajaran pada Olsen.


Tangan nya terkepal erat, dengan dada bergemuruh penuh kemarahan.


"Maafkan kakak, kau menggemaskan sayang. Kami adik kakak saja tapi tidak kembar. Sama seperti mu, hanya saja kau lebih mirip papa ketimbang mama. Itulah kenapa kita tidak terlalu mirip." Ungkap Olsen menangkup pipi adik nya dengan sayang.


"Jadi benar kalian ini kakak ku? Kenapa bisa aku tinggal di desa kalau aku punya keluarga sekaya ini? Apa Kalian tidak menyukai ku ya?" Oh hati, Odion dan Olsen merasa sangat sesak. Pertanyaan lirih sang adik membuat hati ke-dua nya berdenyut sakit.


"Tidak sayang, kau sangat kami sayangi. Ada orang jahat yang sengaja memisahkan kita dan membuat mu jauh dari kami. Kami selalu mencari mu setiap saat, hanya saja baru bisa menemukan mu sekarang." Jelas Odion tak ingin adiknya salah paham. Matanya berkaca-kaca melihat Olivia menunduk sedih.


Olivia mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk sedih. Di tatapnya manik sang kakak untuk mencari kebohongan.


"Apa aku punya poto saat kecil?" Pertanyaan Olivia tentu langsung di jawab anggukan mantap oleh Odion.

__ADS_1


"Tentu saja, kakak akan ambil kan." Odion bergegas menuju sebuah nakas tak jauh dari sana. Membawa sebuah laptop yang berisi poto masa kecil sang adik.


"Coba perhatikan gadis kecil itu," tunjuk Odion pada seorang gadis di dalam video yang di ambil beberapa jam sebelum adik nya menghilang.


Olivia menatap kagum pada gadis kecil dengan gaun princess berwarna biru muda. Mata nya berkaca-kaca. Sekelebat ingatan masa kecil nya terlintas dalam pikiran nya. Masa kecil yang sangat bahagia.


"Apa dia akan merayakan ulang tahun?" Tanya Olivia dengan suara bergetar menahan tangis. Mylo sudah akan menghampiri untuk memeluk gadis nya, namun melihat Odion dan Olsen lebih dulu memeluk tubuh kecil Olivia. Mylo akhir nya kembali mengalah.


"Ya, kau akan merayakan ulang tahunmu yang ke lima tahun. Dan di hari itu terakhir kami melihat mu, setelah dua jam video ini di ambil oleh mama. Kau menghilang entah kemana..." Ujar Odion dengan sura lirih. Bayangan sang ibu yang mengalami depresi masih terlintas jelas di ingatan nya. Dia pun turut menyaksikan bagaimana ibu nya di temukan gantung diri di kamar Olivia. Usia nya sudah 15 tahun kala itu, dan Olsen berusia 10 tahun.


"Lalu di mana papa dan mama?" Deg! Jangan adik kakak itu seperti di kejut mesin listrik. Jika hanya menanyakan sang ayah, maka mereka akan sangat mudah menjawab nya. Namun ibu mereka? Tak mungkin ke-dua nya mengatakan jika sang ibu sudah meninggal karena bunuh diri.


"Papa sedang ke Singapura, balik hari ini. Mungkin akan sampai malam nanti. Kalau mama, mama sudah di panggil Tuhan karena sakit beberapa tahun lalu" Jelas Odion hati-hati. Hati nya perih karena harus berbohong pada adik nya, namun bagaimana lagi, Olivia tak boleh tau kisah suram itu.


Air mata Olivia turun tanpa bisa dia cegah, entah kenapa rasanya sangat sakit. Kala mendengar kepergian sang ibu tanpa ada dirinya, disisi ibu nya kala wanita yang sudah melahirkan nya itu berpulang.


"Sudah..mama pasti sedih melihat mu menangis seperti ini. Sekarang kau sudah pulang, kakak sangat bahagia. Kami sudah meminta mu dari orang tua angkat mu, mereka pun tak keberatan. Kakak juga merenovasi rumah di mana kau di besar kan. Membuat kan toko sembako lengkap agar mereka punya mata pencaharian tetap tanpa harus bekerja di sawah atau kebun orang." Lanjut Odion masih memeluk sang adik dengan erat, menyalurkan kerinduan belasan tahun.


Olivia mendongak mendengar penuturan sang kakak dengan mata berbinar senang.

__ADS_1


"Apa kakak juga memberikan orang tua angkat ku sawah? Kasihan mereka, jika harus membeli beras dari hasil panen sawah orang lain." Sungguh hati Olivia sebaik itu. Dia menyayangi orang tua angkat nya seperti dia di sayangi selama ini.


"Tentu saja, kakak sudah membeli sawah yang sangat luas untuk mereka garap sendiri tanpa bekerja lagi di sawah orang lain. Mereka bisa mengelola nya sendiri atau membayar pekerja upahan. Kau tenang saja, sekarang kehidupan keluarga angkat mu di desa sudah lebih baik. Hanya menunggu rumah nya saja yang masih dalam proses renovasi." Sambung Olsen cepat.


Odion menatap tajam sang adik karena telah berbohong pada Olivia. Namun Odion tak mengetahui sesuatu, Olsen memang telah membeli sehektar sawah untuk keluarga yang telah merawat adik nya.


"Sungguh? Pasti mereka sangat senang, sekarang mau ke sawah jam berapa pun tak ada lagi yang akan memarahi. Dulu ibu sering di marah oleh juragan pelit itu, sekarang pasti dia gigit jari melihat kehidupan ibu berubah lebih baik." Ungkap Olivia tersenyum senang.


keluarga nya sering di jadikan bahan Bullyan, ibu nya hanya seorang buruh tani. Keluarga mereka berada di garis kemiskinan yang hakiki kala itu. Dia bersyukur kedua kakak kandung nya telah membuat kan toko juga membelikan sawah. Anggap saja sebagai hadiah kecil atas kasih sayang yang dia peroleh selama 18 tahun ini.


"Kita akan jalan-jalan ke sana setelah rumah nya selesai di bangun. Bersama papa tentu nya. Kita akan melakukan liburan keluarga." Tutur Odion menghibur kerinduan sang adik pada keluarga angkat nya.


"Aku? tidak di ajak!" sela Mylo terdengar tak suka. Odion mencebik kesal, Mylo sungguh bisa merusak suasana.


"Kau bisa ikut kalau mau, kenapa seperti anak kecil begitu." Gerutu Odion melirik tajam pada Mylo. Dia tak ingin adik nya salah paham, dan mengira diri nya galak. Meskipun nyata nya memang lah demikian.


"Aku akan melamar Olivia setelah tuan Mahesa kembali. Mungkin besok siang, lebih cepat lebih baik." Olsen dan Odion membeliak tak suka mendengar kalimat Mylo. Mereka bahkan belum puas berbagi kasih dan kerinduan, Mylo sudah ingin memisahkan mereka melalui sebuah ikatan.


Sungguh licik batin keduanya mengumpat jengah.

__ADS_1


__ADS_2