Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Ego


__ADS_3

"Sel, aku titip ini di sini dulu ya..nanti kalau dua sejoli itu sudah lebih tenang, tolong berikan. Mereka butuh asupan nutrisi yang banyak, mengingat hari ini adalah hari yang luar biasa." Sela tersenyum mengerti. Diri nya pun merasakan hal yang sama, bagaimana pun Mishy di tangani oleh team nya.


"Kau sudah memberikan catatan pada dokter jaga di ICU?"


"Sudah dok, dua spuit 20 ml antibiotik dan satu spuit 10 ml anti nyeri." Terang dokter Sela mengulang laporan yang sudah dia tulis di buku rahasia pasien.


"Anak itu benar-benar membuat kita semua dalam masalah besar. Bagaimana bisa otak kecil nya berpikir hingga sejauh itu. Seharus nya gadis kecil itu ku bius saja untuk beberapa jam setelah pemasangan gips palsu di tangan nya. Astaga! bisa-bisa nya aku terjebak oleh permainan anak yang bahkan belum genap berusia 8 tahun. Ini sungguh membuat lisensi kedokteran ku di pertanyakan. Benar-benar memalukan..!" Dokter Bambang mengusap kasar wajah nya. Pria itu terlihat sangat frustasi.


Sementara Mylo kini tengah di jaga oleh dua orang perawat khusus di ruangan nya. Sejak tadi pria kecil itu terus mencari sang adik. Meski sudah di katakan jika adik nya baik-baik saja, Mylo tetap tidak percaya. Dia terakhir melihat sang kakak tersedak air laut yang tak sedikit.


"Kalau begitu, antar aku ke ruangan adik ku..kenapa kami di pisah? apa mama di sama bersama nya?" Mylo terus mencecar dua perawat itu dengan berbagai pertanyaan berulang. Membuat kepala dua perawat itu berdenyut pusing tak karuan.


"Mama sedang menjaga adik di ruangan lain." Suara seorang pria tiba-tiba menyela. Mylo menatap datar pria di hadapannya, lalu kemudian memalingkan wajah nya. Harland tersenyum simpul melihat tingkah putra nya yang sangat persis dengan sang ibu. "Kau ingin menemui nya? kalau begitu, bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu..." tawar Harland kemudian. Dia berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan anak nya.


"Aku tidak lapar. Lagi pula kau siapa? kenapa masuk ruangan orang lain dengan tidak sopan." Ketus Mylo tanpa menoleh, kedua tangan nya di taut kan. Anak itu terlihat gelisah.


Harland duduk di ujung ranjang, menatap wajah tampan putra nya penuh kerinduan dan perasaan haru. Rosy telah berkorban begitu banyak untuk nya, rela mengandung benih nya meski telah di sakiti sedemikian rupa. Harland berjanji akan menebus nya hingga sisa hidup nya kelak. Semoga saja pintu hati wanita itu masih bisa dia ketuk sekali lagi.


"Maaf kan papa nak, jika sudah membuat mu tak nyaman." Harland berusaha meraih tangan kecil Mylo, namun anak itu menepis nya. Hati nya mencelos pedih. Anak nya menolak nya secara terang-terangan. Kini dia mengerti, apa yang di lakukan anak perempuan nya, pasti di luar sepengetahuan anak laki-laki nya. Terlihat bagaimana Mylo menolak nya, dia tau, anak itu cenderung memiliki perasaan yang besar pada ibu nya.


Harland tidak marah, sudah seharusnya seperti itu. Dia yang terlalu percaya diri, mengira jika kedua anak nya menginginkan nya. Nyata nya hanya sang putri yang menginginkan nya. Tak apa, itu cukup untuk nya. Dia akan berusaha menaklukkan dua hati keras itu nanti, agar bisa menerima nya sepenuh hati.


"Maaf jika papa lancang, makan lah dengan perawat. Papa akan menunggu di luar..." Harland tersenyum manis lalu mengusap pelan sisi kepala sang anak yang tidak di perban.


Setelah ayahnya keluar, tangis Mylo pecah sejadi-jadinya. Anak mana yang tak ingin di kasihi oleh ayah mereka. Diri nya pun sama, namun mengingat air mata sang ibu yang sering mengalir diam-diam karena mengingat perbuatan ayah nya di masa lalu. Mylo lebih memilih kehilangan kasih sayang seorang ayah, dari pada melukai hati sang ibu.

__ADS_1


Harland belum sepenuhnya menutup pintu, mendengar tangis pilu sang anak. Hati nya sakit tak terkira. Dia tau putra nya tak ingin melukai hati sang ibu. Dapat dia lihat binar cerah yang coba Mylo sembunyikan di balik manik bening nya.


Harland duduk di sofa di luar ruangan sang anak. Menekan dada nya yang terasa sesak. Hingga sebuah usapan tangan kokoh membuat atensi nya teralih.


"Andre? kenapa kau kemari lagi? ku pikir kau sudah pulang?" tanya Harland bingung.


Andre duduk di samping sahabat nya, wajah nya sudah terlihat lebih segar. Andre menumpang mandi di toilet umum di rumah sakit tersebut.


"Aku numpang tidur di musholla, juga mandi setelah nya. Efek anti nyeri hanya bertahan satu jam saja, aku lapar. Tapi uang ku basah semua, jadi aku berinisiatif untuk menjempur nya dulu di samping teras musholla. Tapi aku malah tertidur, saat aku bangun. Uang ku raib semua, untung dompet ku masih teronggok di sana. Aku lebih takut kehilangan kartu identitas ku dari pada uang. Tapi karena aku sangat lapar, aku masuk kembali. Siapa tau kau punya recehan yang bisa ku pinjam untuk membeli sebungkus nasi campur." Cerita Andre blak-blakan.


Pria itu bahkan terkekeh saat menceritakan hari sial nya. Tidak ada raut gengsi terpancar di wajah tampan pria itu. Sejenak Harland seperti tengah menelisik struktur wajah Andre. Seperti tidak asing, dari samping diri nya seperti melihat bayangan seseorang di wajah tampan pria itu. Andre memiliki wajah kebule-bulean, untuk itu dulu pria itu bergonta-ganti pacar ketika mereka remaja. Mengandalkan wajah nya yang di sebut mirip anak orang luar, ketimbang lokal.


"Aku ada beli makanan, tapi sepertinya tertinggal di ruang tunggu ICU. Dari mana kau tau aku di sini?" Harland bertanya heran. Setelah puas meneliti wajah sahabat.


Harland menatap iba pada sahabat nya. Hidup Andre jungkir balik sehingga membentuk pria itu menjadi tahan banting akan rasa malu.


"Tunggu sebentar di sini, aku akan mengambil nasi yang ku beli tadi semoga belum di buang seseorang. Aku hanya malas jika harus keluar lagi." Andre hanya mengangguk sembari memejamkan kedua matanya. Punggung nya terasa sangat nyeri, dan kini suhu badan nya mulai naik akibat rasa sakit itu.


Beberapa menit berlalu, suara langkah kaki membuat Andre mau tak mau membuka kedua matanya kembali. Kepala nya juga sakit, mungkin efek asam lambung nya yang naik.


"Rosy.." gumam nya lirih.


"Aku sedang menunggu Harland membawakan ku makanan, setelah selesai aku akan pergi." Ujar Andre mengiba, tanpa peduli pada penilaian Rosy terhadap nya. Lambung nya harus dia utama kan, terutama ada sang anak yang masih bersandar penuh pada nya. Dia tak boleh sakit, meski sudah sekarat sekalipun.


Rosy bergeming, wanita itu melewati Andre begitu saja. Andre bernafas lega, paling tidak dia tak perlu beradu argumen dengan wanita itu saat ini. Sumpah demi apapun, tenaga nya hanya tersisa kurang dari 7 persen saja.

__ADS_1


Tak lama Harland kembali datang dengan beberapa kantong plastik di tangan nya.


"Makan lah, setelah itu minum obat." Titah Harland penuh perhatian. Wajah Andre sudah seperti mayat hidup, sangat pucat. Pasti efek rasa nyeri yang coba pria itu tahan sejak tadi.


Andre menyambut plastik tersebut dengan hati girang, pria itu makan satu setengah bungkus nasi. Harland sengaja membuka satu lagi agar Andre memakan nya.


"Terimakasih, kau tidak makan juga? kau pasti belum sempat makan, bukan?" Andre baru saja selesai mencuci tangan nya di wastafel tak jauh dari sana.


"Aku belum lapar. Mungkin nanti, aku ingin mengajak Rosy makan bersama." Ucap Harland penuh harap.


"Kau sudah mengobrol dengan nya?" tanya Andre penasaran.


"Sudah, belum...entahlah. Tidak bisa di katakan sudah. Rosy hanya memaki ku tiada henti saat mulut nya terbuka ke arah ku. Sudah sepantasnya seperti itu, aku tidak marah sama sekali. Aku hanya berharap bisa tinggal selama anak-anak ku belum pulih. Kau tau, Mylo menolak ku, Rosy membenci ku dan putriku, mati-matian berkorban agar kami bisa bersatu menjadi sebuah keluarga. Anak itu memasukkan beberapa obat injeksi ke dalam cairan infus nya tanpa sepengetahuan dokter. Bukan kah itu tindakan berani?"


"Sebesar itu harapan Mishy agar memiliki sebuah keluarga yang utuh. Entah bagaimana aku akan mewujudkan nya. Rosy tak bisa ku raih, wanita itu... terlalu tinggi untuk bisa ku gapai." Cerita Harland dengan wajah frustasi. Andre berusaha menyimak kisah sahabat nya, meski tak tau harus bagaimana cara menolong pria itu. Dia tak punya kuasa apa pun, untuk makan saja, tidak sampai mengemis. Itu sudah untung.


"Mungkin Rosy masih butuh waktu. Ini terlalu mendadak untuk nya. Bayangkan, 8 tahun berusaha bertahan tanpa mu di samping nya. Lalu kini kau tiba-tiba hadir, pasti akan sangat sulit untuk di terima. Rosy takut kau akan mengambil anak-anak nya, di berjuang tak mudah untuk menghadirkan kedua anak kalian ke dunia ini. Tanpa dukungan mu, perhatian apa lagi kasih sayang. Cobalah pahami posisi Rosy melalui sudut pandang nya. Rosy wanita mandiri, dia tidak terbiasa membagi segala kesulitan nya pada seseorang. Kau harus masuk ke dalam hidup nya perlahan, bukan sebagai seorang ayah bagi anak-anak nya. Tapi sebagai orang asing yang baru dia kenal, dengan begitu akan mudah bagi Rosy melihat mu sebagai Harland yang baru." Nasihat Andre panjang lebar.


Hanya itu yang bisa dia lakukan, dia tak mau terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadi sang sahabat walau diri nya peduli.


Sementara di balik pintu, sepasang telinga mendengar kalimat demi kalimat dari kedua pria tersebut. Ada getar tak biasa mengusik hati nya, namun dinding ego nya masih terlalu tinggi dan kokoh.


∆Mari-mari, tabur jejak kalian soyongkuh😘😘


Tiga bab meluncur sempurna, jangan minta lagi yaa😁 Othor mau rehat kan otak sejenak. Sistem penyimpanan data nya sudah mulai memanas🤭🤧🤣 Kalau khilaf, ada lah satu bab lagi nanti😁😝😝

__ADS_1


__ADS_2