Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Skenario sesi 1


__ADS_3

Rosy tengah menata meja makan saat suami tercinta nya baru saja kembali pulang. Wanita itu menoleh sekilas lalu kembali fokus pada aktivitas nya.


Harland mengayun kan langkah lebar menuju ke arah istri nya yang tengah berdiri sambil memegang nampan.


Grep


Pelukan hangat dari lengan kekar Harland sedikit membuat kegiatan Rosy terganggu.


"Lepaskan pelukan mu sayang, seseorang harus menyelesaikan tugas mulia nya." Tegur Rosy menepuk pelan lengan sang suami dengan sebelah tangan nya.


"Aku merindukan mu sayang, aku berencana untuk pensiun saja. Berjauhan dengan mu walau hanya sehari membuat ku sulit fokus pada pekerjaan." Harland mengurai pelukan, lalu memutar tubuh sang istri menghadap ke arah nya


"Kenapa tidak menjawab panggilan ku tadi? Kau tau bukan, jika aku akan sulit bekerja dengan tenang jika tak mendengar suara indah mu?" Protes Harland menatap wajah cantik di hadapan nya.


Rosy terkekeh geli, dia sengaja tak mengangkat nya. Sehari saja tak meladeni suami bucin nya, rasa nya pasti menyenangkan melihat wajah itu di tekuk menahan kerinduan. Harland selalu merecoki hari nya dengan telepon yang di penuhi dengan kata-kata cinta dan kerinduan.


"Maaf kan aku suamiku, hari ini ponsel ku tertinggal entah di mana. Aku belum sempat mencari nya karena terlalu sibuk memikirkan untuk membuat menu makan malam kesukaan suamiku ini." Rayu Rosy membelai lembut pipi sang suami.


Harland melengkung kan bibir nya, istri nya selalu tau cara untuk menenangkan diri nya. Dia tau istri nya sengaja tak menjawab panggilan nya, dan Rosy pun tau jika berbohong pun tak ada gunanya. Pria bucin itu menyambung semua koneksi cctv ke ponsel nya.


"Baik lah, karena kata-kata mu begitu manis. Maka aku maafkan kali ini..." Rosy tertawa renyah lalu mencium kilas bibir tebal suami nya. Dia tau, suami nya pasti melihat kelakuan nya, yang hanya menatap ponsel yang terus menjerit minta di angkat, sambil tersenyum geli.

__ADS_1


"Mandi lah, malam ini Nathan ingin mengatakan sesuatu pada kita. Katanya sangat penting, kakak juga sudah ku hubungi agar kemari. Kecuali istri nya, sela belakang semakin menjaga jarak dengan ku. Entah lah, aku sedikit heran." Tutur Rosy yang mulai kembali menata meja makan. Sedangkan Maria dan bu Parmi sibuk menyelesaikan beberapa hal di dapur kotor.


"Apa semacam rencana perpisahan nya dengan Resy?" Tebak Harland menerka-nerka.


"Entah lah, Mishy hanya mengatakan garis besar nya saja. Kita tunggu saja nanti, aku juga penasaran." Harland nampak mengangguk-angguk kan kepala nya mengerti. Pria itu berjalan menuju tangga ke lantai atas, pikiran nya berkecamuk. Tadi nya dia ingin bertanya perihal Gisel, namun urung karena melihat istrinya yang terlihat tak mengetahui banyak hal.


Putri nya? Harland tak sepenuhnya memahami Mishy secara pribadi. Putri nya itu begitu banyak menyimpan rahasia besar dalam hidup nya sejak usia remaja. Dia merasa menjadi ayah yang tak peka terhadap situasi anak nya sendiri.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Sela duduk dengan gelisah di ruang keluarga, Roky masih belum sampai hingga sekarang. Beberapa kali Sela menghubungi ponsel suami nya namun nihil, Roky tak mengangkat nya.


"Pa, Gisel boleh ambil ini tidak? Harga nya sedikit mahal, uang Gisel kurang sedikit. Papa bisa menambah nya?" Oh hati, Roky menatap sendu wajah penuh permohonan sang anak. 15 tahun anak itu tak pernah memijak kan kaki nya ke pusat perbelanjaan seperti ini. Dan ketika pertama kalinya, sang anak harus memohon belas kasih nya untuk mencukupi uang nya demi sebuah jaket.


"Dengar sayang, papa mengajak mu kemari agar kau bebas memilih apapun yang kau ingin kan. Ini, pegang lah. Pergilah berbelanja bersama bunda Andin, habiskan waktu para wanita dengan leluasa, hmmm..." Ujar Roky lembut sambil menggenggam kan sebuah kartu sakti di telapak tangan mungil anak nya. Gisel tersenyum haru, dia selalu ingin menapaki kaki nya di tempat itu selama ini. Apa daya, dia tak pernah punya uang cukup.


Padahal Rosy dan Mishy selalu mengajaknya, namun selalu dia tolak dengan berbagai alasan. Dia hanya tak ingin membuat sang ayah semakin merasa bersalah di kemudian hari.


"Makasih pa, yuk bun...kita habiskan uang papa..." Andin tertawa kecil, merasa geli dan lucu melihat tingkah calon anak sambung nya yang terlihat sangat bahagia. Roky pamit untuk memisahkan diri, dan meminta Andin menemani putri nya berbelanja dan melakukan perawatan jika ingin.


Sementara Andin dan Gisel sibuk berbelanja, Roky memacu mobil nya menuju rumah. Dia sengaja mengabaikan panggilan Sela, karena tak ingin di lihat oleh sang anak. Gisel pasti akan gusar karena ketakutan. Trauma putri nya harus di pulihkan, untuk itu dia tak ingin Gisel mendengar sesuatu tentang nama Sela.

__ADS_1


Decitan ban mobil di halaman rumah keluarga Sanders membuat Sela buru-buru merapikan penampilan nya. Lalu berjalan menuju pintu depan untuk menyambut kedatangan sang suami tercinta. Salah, pohon kekayaan nya.


Senyum terbaik Sela berikan sebagai sambutan, Roky hanya tersenyum seadanya lalu masuk tanpa menyapa sang istri. Sela mengekori langkah lebar suami nya menuju ruang keluarga.


"Aku menelpon mu sejak tadi, kenapa tidak kau angkat?" Tanya Sela membuka percakapan.


"Ponselku di silent. Lagi pula aku sedang berkendara, tak baik mengangkat panggilan bukan?" Jawab Roky menatap manik istri nya yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri nya.


"Oh.." singkat. Sela tak ingin memancing perdebatan, sudah lama hubungan mereka berjalan tak sehat. Dia berniat memperbaiki nya. Roky adalah segala ekspektasi nya yang sempurna, dia tak ingin kehilangan sumber kekayaan nya.


"Aku tak bisa berlama-lama, putri ku sedang menunggu ku di mall." Mata Sela membelalak sempurna, putri mana yang Roky maksud. Namun segera dia netral kan ekspresi nya dengan cepat. Dan itu terlihat jelas oleh Roky. Pria itu tersenyum dalam hati nya.


"Resy? Jihan atau Indri pa?" Tanya Sela mulai menyelidik.


"Apa Gisel bukan putri ku? Kenapa kau tak menyebutkan nama nya dalam pilihan mu." Skak. Sela terjebak situasi dari pertanyaan nya sendiri.


"Bukan...bukan begitu maksud ku, Gisel sangat sulit jika di ajak keluar. Kau tau, anak itu mulai liar sekarang. Aku khawatir dia terjebak pergaulan bebas di luar sana. Berbeda sekali dengan saudara nya yang lain." Sanggah Sela mengelak. Dia terlihat gugup karena terus di tatap oleh suami nya.


"Gisel bersama ku sangat mudah di atur dan sangat manis. Kami menghabiskan banyak waktu belakangan ini. Gisel rupanya anak yang sangat cerdas, aku belum pernah melihat Jihan dan Indri membawa pulang medali atau penghargaan lain nya ke rumah. Tapi Gisel punya banyak walau di gudang kan. Entah oleh siapa. Ingin sekali aku memotong kedua tangan orang yang sudah berani lancang membuang segala penghargaan putri ku ke dalam gudang." Ujar Roky menekan kalimat nya dengan nada yang marah.


Sela menelan ludah nya susah payah. Dia lah yang membuang semua penghargaan sang anak agar kedua putri nya yang lain tak merasa tersaingi.

__ADS_1


__ADS_2