Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Malaikat Maut Sesungguhnya


__ADS_3

"Aku kasihan pada mu kak, kau terlahir dari seorang ja*l*ang dan berkahir menjadi wanita murahan. Kau benih klan Sanders yang rusak parah. Lihat, siapa yang paling menyedihkan. Aku yang kau jadikan seorang janda tanpa sempat menuai manis nya menjadi seorang istri? Atau diri mu yang melakukan hal rendah demi sebuah ambisi tanpa peduli pada harga diri?"


Mishy yang tenang, sungguh tak dapat di tebak. Resy yang gegabah selalu mudah untuk di pahami setiap pergerakan nya. Resy berlari menuju ke arah Mishy dengan pisau yang dia genggam di tangan kanan nya.


Sayang sekali, Resy lupa dengan siapa dia berhadapan. Mishy tersenyum samar melihat bagaimana cara Resy menyerangnya.


Wanita hamil itu tersungkur, menahan bobot perut yang tak ringan juga rasa sakit yang mulai menjalar di tubuh nya.


"Aku sudah memberimu kesempatan untuk enyah dari sini kak, seharusnya kau menyadari satu hal. Aku adalah wanita yang kau hancurkan segala-galanya. Seharusnya kau berpikir matang sebelum datang kemari menyerahkan diri mu ke kandang serigala. Sayang sekali, otak pas-pasan mu tak menangkap sinyal misterius dari ku." Mishy terkekeh kecil, lalu berjalan perlahan menuju ke arah Resy yang masih berusaha bangun.


Wanita itu menginjak punggung tangan Resy lalu menarik rambut wanita hamil itu tanpa belas kasih. Hingga membuat Resy meringis menahan sakit yang amat sangat.


"Apa kau pernah mendengar, jika orang yang menyimpan luka nya dalam diam jauh lebih sakit, dari pada mereka yang mengatakan diri mereka terluka parah meski hanya tergores pisau? Aku adalah salah satu dari orang yang di maksud. Wanita tenang seperti ku bisa menjadi maut, bagi siapa saja yang berani menyentuh kehidupan ku terlalu dalam. Dan kau akan tau siapa aku sebenarnya kak, adik yang selalu kau anggap bodoh karena mau menjadi tameng mu sejak kecil. Aku tak sebodoh itu, kakak ku sayang." Kekeh Mishy menatap wajah menahan ringisan di depan nya.


"Lihat lah, kau sudah masuk dalam hidup ku terlalu jauh, sampai-sampai aku ingin sekali menguliti mu hidup-hidup saking marahnya." Resy bergidik negri, Mishy seperti bukan Mishy yang dia kenal selama ini.


"Lepaskan aku ja*la*ng!" Teriak Resy di sisa keberanian nya.

__ADS_1


"Aku? Ja*l*ang? Lalu di sebut apa diri mu yang membuka kedua kaki mu pada sembarang pria di luar sana? Apa itu hanya definisi dari wanita kesepian yang butuh belaian? Kau sungguh lucu, aku ingin tertawa keras saking lucunya." Mishy tertawa dalam seringai mengerikan. Resy meneguk ludah kasar berkali-kali.


Entah mengapa dia merasa nasibnya tak akan berakhir baik di tangan Mishy kali ini.


"Lepaskan aku, kasihani lah anak ku jika kau tak peduli padaku. Kau wanita murah hati yang pernah aku kenal, kali ini berikan kemurahan hati mu sekali lagi. Demi anak ku, ku mohon." Lirih Resy terisak dalam rasa takut yang mulai menggerogoti jiwa nya. Dia tak ingin mati konyol di tangan sepupu nya yang terlihat seperti seorang psikopat.


Mishy kembali tertawa sumbang, tawa penuh ironi yang lebih mendominasi. Terlihat jelas jika wanita itu tengah menyimpan luka yang tak kecil. Namun tak tau kemana harus membagi kisah pilu nya, tak tau pada siapa dia meminta pertolongan untuk menyembuhkan luka nya. Dia merasa sendirian di tengah begitu banyak perhatian dan cinta dari keluarga nya. sejati nya, dia butuh sandaran dan belaian hangat seorang suami di samping nya. Namun semua sudah tak mungkin lagi, dia benar-benar wanita malang yang selalu kesepian kala malam menjemput hari terang nya.


"Kau benar-benar membuat leluncon yang sangat mengharu kan kak. Sayang sekali, Mishy yang kau kenal, sudah lama mati. Mati bersama kepergian suami nya yang kau kirim ke akhirat dengan tak berperasaan." Mishy menatap manik penuh ketakutan di hadapan nya dengan tatapan tak terbaca.


Klek


Seorang pria dan dua orang wanita masuk ke dalam ruangan Mishy dengan pakaian medis berwarna hijau. Resy membeliak saat melihat siapa yang berdiri dengan tatapan mengejek pada nya. Setidak nya itu yang dia lihat, meski kedua nya menatap nya dengan tatapan biasa saja.


"Mila? Dewi? Kalian mengkhianati ku!" Tuding Resy dengan perasaan tersakiti. Wanita itu mulai berontak ingin membuat perhitungan pada kedua orang yang dulu bekerja untuk nya.


"Apa Anda tidak salah? Kami hanya bekerja pada siapa kami di bayar lebih besar. Dan kami tak pernah benar-benar bekerja untuk mu. Kami bekerja demi dedikasi pada rumah sakit di mana kami mengabdi, bukan pada mu." Ujar Mila dengan penuh keberanian.

__ADS_1


Resy menggeleng tak percaya, bagaimana bisa Mila yang patuh pada nya dan dewi yang selalu bisa dia kendalikan. Kini kedua nya membelot secara terang-terangan.


"Lakukan bagian yang seharusnya, aku tak ingin melihat belas kasih terbaca di wajah kalian. Ini perintah, lakukan dengan bersih." Resy meronta kala seorang pria mulai menahan tubuh nya, dan Dewi berperan memberikan semacam suntikan pada lengan Resy. Mila, wanita itu bersiap dengan masker bius di tangan nya. Semua punya peran masing-masing.


Sungguh tak ada yang menyangka, wanita sebaik Mishy bisa berbuat hal sekejam itu karena hati nya terlalu dalam terluka. Oleh orang yang dulu pernah begitu dia sayangi sejak kecil.


Mishy keluar dari ruangan nya seolah tak ada yang terjadi. Meninggalkan Resy yang di bawa ke sebuah ruangan yang sengaja dia rancang selama dua bulan ini.


"Mishy? Ku kira kau ada di ruangan, aku baru saja akan menemui mu. Mama mengajak kita makan siang bersama, wanita tua itu menjadi sangat menyebalkan belakangan ini." Ujar Andin mengadu.


Mishy tertawa kecil, Rasty selalu meneror nya setiap hari semenjak Mishy memilih tinggal di apartemen tepat di depan rumah sakit. Dengan alasan agar lebih dekat dengan tempat nya bekerja.


"Mama pasti merindukan calon cucu nya, aku akan ikut. Ayo, aku ingin makan siang di restoran RoseLove. Aku ingin makan steak daging dengan nasi, dan jus mangga. Pasti sangat lezat..." Tanpa terasa liur Mishy menetes sedikit melalui sudut bibir nya.


Andin terkekeh geli, lalu merogoh tisu dari tas nya. Mishy terkesiap saat merasakan usapan lembut di bibir nya, rupanya Andin tengah mengusap air liur nya. Pipi bulat Mishy memerah menahan malu.


"Hei! Lihat pipi bakpao ini, semakin merona seperti tomat." Goda Andin membuat Mishy memajukan bibir hingga belasan meter.

__ADS_1


__ADS_2