Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Permainan Emosi


__ADS_3

"Terimakasih sayang, kau selalu tau apa yang aku butuhkan." Ucap Lexan tersenyum tulus mata pria itu berkaca-kaca.


Noora tersenyum simpul, "bukan kah akan lebih baik jika aku selalu tau apa yang membuat mu bahagia?" Gelas di tangan Lexan nyaris terjun bebas ke lantai, andai saja dia tak menggenggam nya erat.


"Hei, kau tak apa? Apa perut mu kembali sakit? Kita ke rumah sakit saja, bagaimana?" Tawar Noora dengan wajah panik.


Lexan menggeleng cepat, bisa-bisa sang istri tau jika dia tak benar-benar sakit perut.


"Tidak, tidak..aku hanya sedikit merasakan gejolak di perutku, jadi aku sedikit terkejut." Ucap Lexan tersenyum kaku. Meletakkan gelas di tangan nya, sebelum dia membuat gelas itu hancur lebur di lantai granit semulus porselen tersebut.


"Kau serius? Apa sungguh tak apa?" Raut kecemasan itu semakin membuat hati kecil Lexan sakit. Kini rasa bersalah nya kian hari kian menumpuk bagai tumpukan batu di atas dada nya.


"Tidak apa-apa sayang, obat mu saja sudah membuat ku pulih. Sekali lagi terimakasih banyak, sudah malam. Ayo, kita beristirahat saja. Kita akan membahas masalah ku lain kali saja, tidak terlalu mendesak." Ujar Lexan yang kini mulai masuk perlahan dalam permainan emosi yang Noora perankan. Sempurna bukan? Jangan ragukan siapa mentor nya, yang jelas seorang suhu dengan kemampuan tak ada tandingan nya.


"Baiklah, tapi jika mendesak kau bisa berbagi pada ku. Itu lah gunanya kita berpasangan, agar bisa saling melengkapi dalam segala kekurangan juga kesulitan." Balas Noora menatap sendu wajah sang suami.


Lexan menarik tubuh sang istri ke dalam dekapan nya. Pelukan pertama setelah mereka menikah, sungguh rasa nya sangat berbeda. Terasa hangat dan menenangkan. Kenapa dia bisa terjebak oleh kehangatan gadis kecil seperti Savina, apa karena dia belum pernah menyentuh istri nya? Apa mungkin perasaan itu akan semakin berbeda setelah dia melakukan nya? Berbagai pikiran bergejolak dalam benak nya. Namun tak mungkin sekarang, saat tanda perzi nahan nya masih terlihat jelas.


Setiba di kamar, Lexan pamit ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuh nya sekali lagi. Walau tak benar-benar bercinta dengan Savina, namun jelas dia telah mengeluarkan setetes peluh kenikmatan karena menikmati permainan jari gadis itu melalui sambungan video call. Dia ingin tubuh nya dalam keadaan bersih saat tidur sembari memeluk sang istri.


Noora menatap datar pada pintu kamar mandi yang masih tertutup sempurna. Tak ada yang dapat menebak, apa isi kepala wanita itu. Noora cerdas dalam banyak bidang akademik, wanita itu tak tersaingi. Bahkan seorang profesor pernah di buat bungkam karena teori nya di patahkan oleh Noora telak di depan mata di hadapan banyak orang.


Apa lagi jika hanya tikus got seperti Lexan, bukan perkara sulit untuk di hadapi. Sekali menjentikkan jari, pria itu akan lebur bersama segala impian kosong nya.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹

__ADS_1


Paul terlihat berjalan tergesa menuju elevator karyawan, pria itu seperti melupakan sesuatu di ruang kerja nya.


"Tolong tahan pintu lift nya, tolong!" seru Paul yang masih beberapa meter lebih dari arah elevator.


Seorang wanita terlihat menjulur kan telapak tangan nya ke arah pintu lift yang hampir tertutup.


Paul masuk dengan nafas tersengal-sengal. Pria itu berlari dari arah parkiran menuju ke sana, jelas saja membuat nafas nya nyaris habis.


"Terimakasih nona" ucap Paul tulus.


"Sama-sama, lain kali aku tak perlu berlari seperti tadi. Itu berbahaya, kau bisa menabrak seseorang jika begitu." Paul terkesiap, suara itu sangat dia kenali. Sembari menelan ludah kasar, Paul menoleh ke samping. Benar saja, wanita yang sudah satu minggu lebih ini tak dia lihat. Kini wanita itu tengah berdiri tepat di samping nya, dengan dress yang terlihat sangat pas di tubuh mungil nya.


"Nona? maaf jika aku lancang, memerintah anda seenaknya." Ucap Paul merasa bersalah.


Setiba di lantai dua, Paul pamit keluar lebih dulu walau hati masih belum rela. Jiwa jomblo nya meronta-ronta ingin bersama wanita itu lebih lama, apa daya, dia bukan siapa-siapa.


Noora tersenyum simpul melihat Paul yang begitu polos. Usia nya baru 22 tahun, pria muda itu baru lulus kuliah tahun ini. Namun Paul sudah bekerja di sana sejak dua tahun lalu, bermodal ijazah SMA milik nya. Lulusan dengan predikat cumlaude Jurusan IT, pria itu tak ingin di pindah kan ke bagian lain. Menurut nya dia sudah nyaman bekerja di bagian CCTV, cukup nyambung dengan bidang nya. Sebagai teknisi CCTV tidak terlalu banyak menyita waktu nya, hanya melakukan koordinasi bersama tim dan memastikan akses kontrol untuk berkerja dengan baik.


"Kenapa kau kembali? apa kau masih merindukan ku heh?" ucap sang rekan menatap heran ke arah Paul sambil tertawa jahil.


"Aku meninggalkan dompet ajaibku, lihat ini.." jawab Paul mengangkat dompet lipat usang milik nya.


"Ck! ku kira benda berharga apa yang membuat mu sampai berkeringat seperti ini." Decak Anton melempar kulit kacang ke arah Paul.


"Ini berharga, kau akan terkejut saat melihat isi nya. Aku khawatir kau akan langsung terkena serangan jantung saat tau benda ajaib apa yang aku sembunyikan di dalam nya." Ucap Paul tertawa renyah.

__ADS_1


Anton mencebik remeh, "tentu saja aku akan sangat terkejut, saat melihat dompet mu hanya berisi koin daripada uang kertas." Ejek Anton yang kini balas mentertawakan rekan nya.


"Nah itu tau, maka nya aku harus segera menyelamatkan nyawa mu. Sebelum kau iseng dan membuka dompet ku lalu berakhir di kamar mayat dari pada IGD." Balas Paul tertawa puas melihat wajah pias yang menatap nya kesal.


Sebelum Anton yang doyan melempar apa saja yang ada di sekitar nya, Paul memilih untuk menyelamatkan jiwa raga nya dari pria itu. Paul berlari kecil menuju elevator, dia khawatir motor butut nya akan di derek karena parkir di bahu jalan tidak pada tempat seharusnya.


Dia begitu panik saat tau dompet nya tertinggal, bukan soal berapa uang yang ada di dalam nya. Namun lebih ke hal lain yang tak boleh di ketahui oleh siapapun.


"Ah, untung saja. Terimakasih pak Jono, atas kerja samanya. Ini ada sedikit recehan buat jajan bakso oak Tarmin." Paul beruntung, Jono security di pos jaga depan memindahkan motor nya ke samping pos.


"Wah, recehan nya orang kaya beda ya..warna nya pink semua." Canda pak Jono, yang berbinar melihat lembar menyilaukan tersebut. Meski dia melakukan nya bukan karena imbalan apapun, tapi rejeki di tolak, itu hukum nya pamali.


"Bisa aja, biasa juga ungu.." balas Paul menimpali selorohan pak Jono, kedua nya tertawa. Paul pamit pergi, kini hanya pak Jono yang terus mengelus kertas tipis tersebut dengan senyum berjuta-juta Watt.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...Jadi sekian dulu perkenalan kita pada kisah Si sulung, Noora Morail Sanders Pratama. Anak pertama, cucu pertama, serta cicit pertama kedua klan hebat tersebut....


...Semoga awal kisah Noora bisa membangkitkan jiwa-jiwa halu tingkat dewa para pembaca. Support othor jika kisah romansa penuh kepelikan ini masih berkenan di hati kalianπŸ™πŸ™πŸ˜šπŸ˜š...


...Tinggal kan jejak untuk membuat jari othor gemas pengen ketak ketik ketak ketik tanpa rasa bosan😘😘...


...Luv yuu kalian semua 🀍πŸ₯°πŸ₯°πŸ€πŸ₯°πŸ₯°πŸ€...

__ADS_1


__ADS_2