
"Apa kabar mu, Har?" Setelah terdiam cukup lama, kalimat tanya penuh nada kecanggungan membuat kedua pria itu semakin terlihat kaku.
"Baik. Sangat baik setelah akhir nya terlepas dari rantai dosa yang membelenggu ku dulu. Bagaimana dengan mu? Apa yang membawa mu ke kota ini?" Harland mencoba untuk bersikap santai, karena memang tidak ada dendam atau sakit hati yang dia simpan untuk pria di hadapan nya itu. Semua sudah berlalu, lagi pula dia bersyukur telah terlepas dari wanita penyihir seperti Sindy. Anggap saja dia jahat, karena secara tak langsung menumbal kan pria malang itu untuk melepaskan nya dari belenggu cinta buta di masa lalu.
"Syukur lah.. Aku baik, Resy juga baik. Aku ada sedikit pekerjaan di kota ini. Lalu, kenapa kau bisa bisa ada di kota ini juga? Ah, aku lupa..kau seorang pengusaha sukses, jelas kau sedang dalam sebuah perjalanan bisnis, bukan?" Andre tertawa hambar, namun penuh ketulusan dalam setiap kata-kata nya.
"Hanya bisnis kecil-kecilan. Dan kau? Bisnis apa yang sedang kau geluti saat ini. Mungkin saja kita bisa menjadi partner bisnis, modal ku tak banyak. Tapi ku rasa cukup untuk berinvestasi jika kau tidak keberatan." Kedua nya mulai terlihat rileks, meski masih ada sedikit rasa canggung menguasai hati.
"Aku hanya pebisnis kelas bawah. Aku membuka usaha bengkel dan usaha jual beli mobil bekas. Modal ku pas-pasan, tapi cukup untuk tidak membuat putri ku kekurangan. Ku rasa kau tidak akan mau membuang uang mu sia-sia untuk bisnis kecil milik ku. Lihat lah jas ini, sangat kontras dengan jenis pakaian yang ku pakai. Aku tak ingin membuat mu malu, duduk di sini bersama mu saja. Aku merasa tak pantas..." Harland menatap wajah yang terus menunduk di hadapan nya, sementara Andre hanya bisa menatap ubin dengan wajah di penuhi rasa malu dan sesal yang tak terkira.
"Ck! Kau seperti berbicara dengan siapa. Apa kau lupa, dulu kita bahkan sering jajan dengan mengutang di kantin sekolah. Aku tetap Harland Pratama sahabat mu, tidak ada yang berubah. Jas ini? hisshh...aku hanya berusaha menarik simpati calon rekan bisnis ku, mana mungkin aku menemui nya hanya dengan baju kaos bergambar Batman dan celana jeans pendek yang sobek-sobek." Kedua nya pun tertawa renyah. Seperti mengulang masa lalu.
"Jadi katakan, kau kemari untuk bertemu dengan seseorang?" tanya Harland memastikan.
__ADS_1
"Hmm..dia mengatakan ada beberapa mobil bekas yang masih layak. Aku akan memborong nya, tapi sebelum nya aku harus memastikan jika itu bukan mobil curian atau sejenis nya. Aku tak ingin berurusan dengan hukum, putri ku masih sangat membutuhkan diri ku. Orang itu bilang ingin bertemu dengan ku di mall ini. Aku salah kostum, tadi nya ku pikir kami akan bertemu langsung di gudang atau semacam nya seperti rekan bisnis ku yang sudah-sudah." Andre terkekeh malu melihat penampilan nya yang sangat tak cocok untuk melakukan sebuah pertemuan di tempat seformal itu.
"Pukul berapa pertemuan mu?"
"11 siang ini. Sebentar lagi ku rasa..." Andre melirik benda bulat yang melingkar di pergelangan tangan nya. Terlihat bekas lem menempel menyerupai garis lurus di kaca jam tersebut. Andre lekas menarik pergelangan tangan nya lalu menaruh nya di bawah meja. Dia semakin malu akan keadaan nya. Bukan nya dia tak mampu untuk membeli sebuah jam tangan, hanya saja mengingat putri nya bersekolah di sekolah elit di Jakarta. Andre berusaha menekan keinginan nya. Toh masih bisa berdetak, jadi masih layak bagi nya. Gengsi bukan prioritas nya, meski kadang terbersit rasa malu saat menangkap tatapan meremehkan pada penampilan nya. Dia tak peduli. Gengsi tidak akan menambah saldo rekening nya, tidak pula menambah banyak stok beras di rumah nya.
Harland beranjak tanpa berkata-kata, Andre terlihat heran. Saat melihat langkah lebar Harland meninggalkan restoran tersebut. Ada ketakutan tiba-tiba menyeruak di hati nya. Dia tau menu di sana bisa menghabiskan hingga jutaan sekali makan. Dan di atas meja nya, bukan makanan yang murah.
Gluk!
Tangan nya merogoh dompet nya, melirik isi yang hanya ada kurang lebih 800rb rupiah saja. Lalu ATM nya? semua uang itu akan dia gunakan untuk melakukan transaksi bisnis nya nanti, dia khawatir akan kurang jika dia memakai nya.
Di saat pikiran nya sedang kacau, seseorang tiba-tiba menyerah kan sebuah kantung belanjaan berlogo indokaret pada nya.
__ADS_1
"Ganti pakaian mu, aku tau kau pasti akan menolak jika ku berikan yang baru. Jadi pakai milik ku dulu, setelah itu aku akan bergantian dengan mu. Pertemuan ku masih satu jam lagi, bisa jadi akan mundur." Andre menatap tak percaya pada sahabat nya.
Tak terasa, mata nya berkaca-kaca. Harland tak pernah berubah, sejak dulu selalu meminjam kan apa saja pada para sahabat nya termasuk Evan. Dia dan Evan berasal dari tempat yang sama, yaitu panti asuhan. Mereka beruntung karena memiliki otak yang cerdas, sehingga bisa bersekolah di sekolah elit dengan bermodalkan beasiswa.
"Lekas ganti baju mu, dan jangan berpikir untuk memeluk ku. Aku masih normal meski belum laku hingga sekarang. Pergi lah ke toilet, atau kau ingin aku menelanjangi mu di sini." Ujar Harland terdengar galak. Dia hanya merasa canggung. Andre tersenyum lalu menyeka sudut mata nya.
"Makanan ku biar aku yang membayar nya sendiri, sekarang aku masih belum mampu mentraktir mu di tempat semahal ini. Lain kali aku akan mentraktir mu di warung lesehan, aku rasa aku masih sanggup meski kau minta tambah." Harland mencebik tak suka mendengar kalimat merendah diri dari sang sahabat.
"Pergi cepat, atau kau benar-benar akan ku telanjangi di sini nanti!" Ketus Harland tak sabar. Andre tertawa kecil kemudian berlalu menuju toilet untuk berganti pakaian. Dia hanya mengenakan celana kain sepanjang lutut, dan baju kaos biru polos. Tak ada yang bermerek dari apa yang dia gunakan saat ini.
Sedangkan Harland, dia ke sana memang menggunakan pakaian formal. Namun di mobil nya, ada beberapa pakaian santai. Itu merupakan kebiasaan yang sulit untuk di tinggal kan. Dulu saat diri nya tengah merangkak naik, hujan terik adalah mainan nya. Sehingga Harland harus selalu membawa pakaian ganti di jok motor nya, dan itu terbawa hingga sekarang. Dan beruntung nya, karena kebiasaan nya itu ada manfaat nya untuk orang lain.
Pertemuan tak terduga kedua nya, telah berhasil mengikis jarak yang selama ini membentang terlampau jauh. Harland kini merasa sedikit lega, satu beban di hati nya sudah berkurang. Hanya tinggal menunggu waktu, untuk bertemu dengan seseorang yang paling dia harap kan. Meski tak yakin akan bagaimana hasil pertemuan nya nanti.
__ADS_1
Mengingat apa yang dia dengar tadi, jelas akan sulit bagi nya bisa mendapatkan maaf dari wanita baik hati itu. Namun apa salah nya mencoba, begitu lah pikiran nya. Bahkan jika diri nya di suruh mengemis untuk mendapat kan kesempatan kedua, akan dia lakukan dengan suka rela.
Masih terbayang wajah cantik mantan istri nya yang sama sekali tak berubah. Delapan tahun seperti baru kemarin. Wanita itu masih terlihat sangat cantik bahkan semakin cantik saja. Mengingat kebodohan nya di masa lalu, Harland tertawa sumbang. Jika membandingkan kedua wanita itu, jelas Rosy adalah segala-galanya. Benar kata sang ibu, Rosy adalah permata murni yang telah dia sia-sia kan begitu saja.