Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Di tolak halus


__ADS_3

"Kenapa masih duduk di sini? hari sudah senja, ayo masuk.." ajak seorang pria saat melihat wanita nya tengah duduk termenung menatap deru ombak dari balkon. Tatapan Tanpa ekspresi seperti biasa nya.


Sebelum beranjak wanita itu menghembuskan nafas kasar. Seolah beban yang dia tanggung sangat lah berat. Dan seperti biasa nya, si wanita akan memutar arah melalui sisi lain.


Jordan hanya bisa menatap sendu punggung wanita yang masih memasang tembok pembatas dengan nya. Sudah 7 bulan berlalu sejak wanita itu terbangun dari tidur lelap nya. Namun belum ada satu patah kata pun terucap dari bibir nya. Hanya ada kebisuan di antara mereka.


Jordan mengayun kan langkah nya menyusul Resy ke dapur. Wanita itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyalurkan hobinya dalam mengolah bahan baku dapur. Mia hanya sesekali membantu jika di perlukan, selebih nya Mia hanya akan menjadi penonton di kursi dapur. Resy sama sekali tak mau berbicara dengan siapapun.


"Kau akan membuat ayam panggang lagi? mau aku bantu membuat kan lalapan nya?" lagi-lagi Resy bergeming, suasana menjadi semakin tak nyaman. Mia beringsut turun dari kursi nya untuk menghindari situasi awkward tersebut.


Jordan menarik paksa Resy hingga berbalik menghadap nya, pria itu menatap dalam netra wanita yang sudah memporak porandakan ketentraman hati nya.


"Aku tau kesalahan ku sangat fatal pada mu, tapi tolong..lihat aku sekali saja, nilai ketulusan ku tanpa memikirkan hal lain. Aku melakukan semua ini bukan semata-mata untuk menebus rasa bersalah ku, namun untuk membuktikan cinta ku. Aku tau aku tak pantas, aku hanya pria miskin yang kebetulan bekerja pada seorang nona muda yang sangat dermawan. Aku tau jika perasaan ku tak berarti, terutama aku selalu merendahkan mu dulu. Itu semua aku lakukan karena aku tak rela kau bersama pria lain, hati ku marah, aku cemburu. Tapi untuk meraih mu, aku merasa menjadi seorang pengkhianat. Maafkan aku, please..." kata-kata Jordan sama sekali tak mampu menyentuh hati nya meski hanya seujung kuku. Hati Resy masih tetap sekeras batu.


Wanita itu berbalik tanpa berbicara lagi, menerus pekerjaan nya tanpa peduli air mata Jordan yang kini mengalir karena nya.


"Besok kita akan jalan-jalan dan menginap di cottage, bangun lah lebih awal." Setelah mengatakan kalimat singkat berupa pernyataan tersebut, Jordan pergi meninggalkan dapur. Resy masih terus berkutat dengan spatula nya, ada getar tak biasa yang tak di sadari oleh Jordan.


Resy menyimpan trauma yang mendalam. Mengingat rasa sakit yang dia alami, membuat nya selalu memendam ketakutan kala berhadapan langsung dengan Jordan. Wanita itu selalu terbayang bagaimana gesper Jordan mencabik-cabik punggung nya hingga terkoyak parah. Belum sembuh sempurna, ilmuwan gila itu kembali menambah luka nya hingga tak pernah benar-benar sembuh selama satu tahun penuh.


Resy berada dalam fase krisis mental, psikis nya di pental habis-habisan hingga membuat nya menyimpan trauma panjang selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Keesokan hari nya, seperti kata Jordan mereka berdua berkendara menuju sebuah cottage di dekat pantai. Jordan sudah menyewa nya untuk satu minggu penuh, berharap hubungan nya akan membawa perubahan dengan menikmati suasana baru.


"Kita sudah sampai..ayo turun." Ujar Jordan lembut. Resy yang sedikit mengantuk lekas menyegarkan kedua mata nya. Dia tak ingin mengalami drama, tertidur lalu di gendong oleh sang pria.


"Jika mengantuk duduk saja dulu, aku akan mengangkat barang kita terlebih dahulu." Jordan seperti memahami situasi yang di alami oleh Resy, wanita itu menahan kantuk sepanjang perjalanan agar tak tertidur di mobil. 5 jam bukan jarak dekat, namun Resy mati-matian menjaga kesadaran nya agar tetap terjaga hingga mereka tiba.


"Aku baik-baik saja, wajar mudah merasa lelah untuk wanita seusia diri ku." Untuk pertama kali nya, Resy membuka suara. Namun bukan kata-kata yang enak di dengar. Jordan berharap itu pertanda baik, meski kalimat terlontar cukup nyelekit.


"Kau selalu cantik dan menawan di mata ku, dan aku mencintaimu terlepas dari rupa mu yang selalu membuat mu menghindari bersitatap dengan ku. Kau sempurna, akan semakin sempurna jika kau mau membuka hati untuk pria malang ini." Lirih Jordan menatap sendu wanita yang kini lebih dulu duduk di teras cottage. Pria itu akhir nya mengangkat tas mereka lalu membawa nya ke kamar.


Resy mencari pintu lain selain pintu kamar yang di masuki oleh Jordan. Melihat Resy yang kebingungan, Jordan mulai menjelaskan.


"Hanya ada satu kamar, aku akan tidur di depan televisi. Hanya cottage ini yang tersisa," dalih Jordan memberikan alasan. Masih ada dua lagi, dengan dua bahkan tiga kamar. Namun pria itu punya niat Terselubung.


"Semoga kau membawa keajaiban untuk ku.." monolog Jordan menatap seluruh penjuru cottage dengan senyum penuh makna.


Tiba saat nya makan malam, Resy tak memasak apa pun. Kini Jordan lah yang berkutat di dapur. Pria itu membuat spaghetti untuk makan malam mereka berdua.


Setelah menata meja makan yang menurut nya sudah cukup menampilkan suasana romantis, Jordan bergegas menuju kamar Resy untuk mengajak wanita itu menikmati makan malam buatan nya.


Tak ada yang saling membuka suara, hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring. Resy menatap puding mangga di depan nya, sekarang dia mengerti. Kenapa Jordan mampir membeli puding instan ketika di perjalanan, rupa nya pria itu ingin membuat nya sebagai makanan penutup.

__ADS_1


"Coba lah, aku tak tau bagaimana menurut selera mu. Aku sudah mengikuti petunjuk nya, menambah kan susu dan lain-lain. Semoga kau menyukai nya." Jelas Jordan harap-harap cemas.


Resy mengambil sendok lalu mulai mengambil nya sedikit, lumayan lah untuk seorang pemula. Hanya saja rasa nya terlalu manis.


Sendok ketiga Resy merasakan ada sesuatu yang anek, sejati nya puding akan terasa lembut dan mudah di ***** kan dengan lidah saja. Namun meski tergigit pun, sesuatu yang berada di dalam mulut Resy seperti mengunyah batu kecil.


Wanita itu meludahi nya ke dalam telapak tangan nya, terlihat cincin yang sangat indah dengan permata berwarna putih mengkilat. Tak lama terlihat Jordan berjongkok di hadapan kursi Resy, pria itu meraih tangan Resy tanpa rasa jijik akan sepahan makanan di telapak tangan wanita itu.


"Marry me, Resy Sanders! because i love you so hard.." sebuah pernyataan sekaligus permintaan bukan lagi sebuah pertanyaan.


Jordan benar-benar menunjukkan kesungguhan nya, dia ingin menikahi wanita itu dan menjadi kan nya wanita yang selalu bertahta di dalam hati nya. Dan satu-satunya.


"Why me? apa kau sudah mengalami penurunan penglihatan? selain rupa ku yang buruk, aku hanya lah wanita tua yang merana di usia ku yang tak lagi muda. Aku tak butuh apa pun lagi dalam hidup ku, aku sudah pernah menjadi segala nya. Menjadi seorang istri karena berhasil menjebak mantan kekasih ku, menjadi seorang ibu karena sifat ja l ang ku, dan menjadi pemuas bi ra hi pria haus belaian. Di benci dan di musuhi oleh semua orang, apa lagi yang aku cari? kau hanya iba pada ku, rasa bersalah mu membuat mu tak bisa membedakan perasaan mu sendiri. Aku kenyang, terimakasih untuk makan malam nya. Simpan baik-baik cincin mu, aku tau harga nya sangat mahal. Aku tak mampu menggantikan nya jika hilang." Resy meletakkan kembali cincin tersebut ke atas meja.


Jordan menatap sendu wanita yang kini kembali ke kamar nya.


"Jika cara baik tak bisa membuat mu memahami arti cinta ku, maka mari kita lakukan dengan cara lain." Seringai Jordan menatap pintu yang baru saja ja tertutup rapat.


Tok tok tok


klek

__ADS_1


Jordan melongok kan kepala nya, lalu meminta ijin untuk masuk.


__ADS_2