
"Papa tidak setuju Nat, kau tau pengorbanan ibumu sebesar apa untuk mu. Aku merelakan istri ku secara tak langsung mengakhiri hidup nya demi dirimu. Dan kau ingin membuat pengorbanan nya sia-sia? tidak Nathan! Lupakan Resy, jika dia sudah memilih pria lain, apapun alasannya tidak dibenarkan jika kau ingin dia kembali padamu. Akan ada banyak hati yang terluka, keluarga Sanders bukan tandingan kita. Lalu keluarga Artakusuma? mereka setingkat lebih tinggi di atas kita. Jangan sia-sia kan pengorbanan mama mu nak, papa mohon." Lirih pria paruh baya itu pada putranya dengan tatapan penuh permohonan.
Hati Nathan bagai di siram air panas, perih. Ketika melihat pria yang rela kehilangan istri nya demi memberikan kehidupan pada nya. Lalu bagaimana dengan hatinya? dia masih sangat mencintai Resy, meski sadar jika wanita itu telah mengkhianati cinta nya.
"Pikir kan perkataan papa nak, papa hanya memiliki dirimu setelah mama pergi. Jangan buat pria tua ini menyusul ibumu dengan cara yang salah." Setelah mengucapkan kalimat peringatan bernada ambigu, Roy pergi menuju kamar nya. Hati pria paruh baya itu masih berduka atas kepergian istri nya dua setengah tahun lalu. Hari-hari terakhir nya bersama sang istri sebagai sebuah perpisahan, masih melekat kuat di ingatan nya.
Pengorbanan seorang ibu tak terhingga, itulah yang di lakukan oleh wanita kesayangan nya. Kondisi Nathan sudah sangat kritis, namun transplantasi jantung belum mereka dapat kan. Di detik keputusan asaan itu, ide gila terbersit di pikiran sang istri. Karena hanya dia yang bisa melakukan donor pada sang anak selama ini, mulai dari donor darah hingga ginjal nya. Dan istri nya kembali berkorban untuk kesekian kalinya.
Tak ada yang bisa menolak keinginan wanita keras kepala itu, Amelia akan tetap melakukan aksinya dengan mengakhiri hidup nya sendiri. Hingga akhirnya dokter pun setuju meski terdengar gila. Wanita menghabiskan dua jam terakhir hidupnya dengan memberikan seluruh sisa cinta nya untuk sang suami. Sungguh momen yang paling mengharukan sekaligus menyedih kan bagi Roy. Selama operasi transplantasi jantung berlangsung, Roy terus menggenggam erat tangan sang istri. Hingga akhirnya suara jeritan mesin monitor holter berbunyi keras. Roy menatap nanar wajah pucat sang istri yang terlihat tersenyum kecil.
Tak ada air mata yang keluar, dia sudah berjanji akan melepaskan jalan sang istri menuju keabadian dengan lapang dada.
Kembali ke saat ini, Roy menekan keras dada nya. Rasa sesak itu masih sama, sakit atas kehilangan sang istri masih seperti baru kemarin. Dan dia tak ingin putra nya menyia-nyiakan pengorbanan wanita tercinta nya.
🥰🤍🤍🥰🤍🤍🥰
Beralih ke rumah besar milik keluarga Pratama, seorang wanita baru saja selesai menyajikan makanan di atas meja makan. Beberapa kali, Rosy melirik pada jam dinding di sudut ruang makan.
"Aku pulang sayang.." bisik Harland di telinga sang istri, lengan kekar nya memeluk erat pinggang kecil Rosy.
"Kenapa kau selalu tiba-tiba datang seperti siluman..." decak Rosy kesal, namun hati nya merindu.
__ADS_1
Harland tertawa pelan, diri nya berangkat ke Surabaya subuh tadi sebelum sempat sang istri terbangun. Seperti biasa, Harland selalu ingin semua urusan nya cepat selesai dan segera kembali pulang di hari yang sama.
"Apa aku terlambat untuk ikut makan malam sayang?" ekor matanya melirik ke arah meja makan yang di penuhi oleh berbagai jenis makanan sehat.
"Hampir saja, aku sudah berpikir untuk mengajak duda keren di depan rumah kita untuk makan malam bersama. Sayang sekali jika makanan sebanyak ini hanya aku dan putra tengil mu yang memakan nya." Jawab Rosy sekenanya.
Wajah Harland langsung masam.
"Jika selangkah saja duda gatal itu berani memijakkan kakinya melewati gerbang rumah kita, akan aku potong kedua kakinya lalu ku gantung di depan pos jaga. Agar tidak ada lagi pria genit yang berani melirik mu." Ancam Harland dengan nada kesal.
Rosy tertawa renyah, duda gatal yang di maksud oleh Harland adalah Roy. Mendiang istri pria itu adalah salah satu teman baik Rosy ketika masih remaja. Juga pernah menjadi pasien nya ketika wanita itu mendonorkan ginjal nya pada sang anak.
Cerita Rosy menyentil sisi hati Harland. Sungguh pengorbanan seorang wanita tak ada dua nya. Terutama itu di lakukan untuk anak-anak mereka.
"Kau juga hebat sayang. Kau memilih mengandung anak-anak ku meski tau, jika nyawamu terancam. Aku tak akan bisa menembus nya hingga kapan pun. Jadi pria malang itu suami sahabat mu? kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku? bukankah mereka sudah satu bulan di sini?" kesal Harland namun tidak lah marah. Dia hanya ingin mengenal semua teman-teman istri nya.
"Bolehkah aku mengundang mereka makan malam di sini, mungkin minggu depan. Aku berharap Mishy bisa pulang walau sebentar. Anak itu seperti menyimpan sesuatu tanpa kita ketahui. Aku resah memikirkan nya." Adu Rosy berkeluh kesah.
"Mishy lebih pendiam sekarang, tak ada lagi yang membuat mansion ini gempar karena suaranya yang cempreng." Seloroh Harland, namun jauh di dalam hati nya. Pria itu merasakan hal yang berbeda. Mishy nya telah berubah selama dua tahun terkahir. Gadis periang dan cerewet itu kini menjadi lebih pendiam.
"Apa kau sadar sayang, Mishy menjadi tak lagi seceria dulu ketika pertunangan Resy. Mishy bahkan tak menghadirinya dan memilih terbang ke Paris malam itu juga. Apa kau memikirkan hal yang sama dengan ku?" tanya Rosy memastikan perasaan nya sambil menatap sang suami.
__ADS_1
"Entah lah sayang, aku tak berani menebak. Yang ku lihat hubungan mereka baik-baik saja. Wira tak mungkin mengenal Mishy kita, juga sebalik nya. Jadi mungkin saja memang ada pekerjaan yang tak bisa Mishy tinggalkan. Kau tau seorang model profesional jam terbangnya lebih tinggi dari seorang CEO atau chairman. Jangan berpikir macam-macam dulu oke, tak enak pada Roky dan Sela. Mereka sangat menyayangi anak-anak kita." Ujar Harland memberikan sedikit nasihat dengan bijak.
Walau dalam hatinya pun memikirkan hal yang sama. Teringat di malam pertunangan Resy dan Wira. Tanpa sengaja dia melihat Wira menepis kasar tangan putri nya. Dan setelah itu, Mishy pamit pergi dengan alasan ada pekerjaan mendadak. Dia tak ingin ikut campur, dia tau anak-anak nya cukup mampu untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Jujur hatinya sakit, ketika melihat putri kesayangan nya diperlakukan tak baik.
"Hubungi teman mu itu sayang, minggu depan kita mengadakan jamuan makan malam di gazebo belakang." Ujar Harland mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Mungkin mengundang beberapa orang lagi akan semakin seru. Sudah lama kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga sulit untuk mengatur waktu berkumpul bersama." Ide brilian itu muncul begitu saja, dia ingin mengenal sosok Wira selain di kenal sebagai seorang pengusaha. Lebih ke pribadi pria itu.
Semoga saja dugaan nya salah, dan ke-dua nya tidak saling mengenal. Kejadian itu mungkin hanya salah paham belaka. Bisa jadi. Dia tak ingin berburuk sangka pada calon menantu ipar nya sendiri.
...----------------...
...----------------...
Oke gengs, othor ngebut bikin beberapa bab meski berlomba dengan waktu. Anak-anak sedang menghadapi ujian tengah semester, jadi emaknya sedikit riweh karena mesti ngemong bayik 2 tahun juga.
Semoga cerita nya bisa menghibur pasukan emak-emak rumahan seperti saya. Karena jujur, tugas emak-emak lebih sulit daripada para bapak-bapak.
Di tuntut serba bisa dan strong sepanjang masa. Jadi jangan galau kalau ada yang bilang, "oh gak kerja ya," hei kita ini justru wanita karir yang sesungguhnya. Banggalah pada tugas mulia sebagai IbRuTaYaBa. Karena pahala luar biasa.
Salam semangat, sehat selalu dan senantiasa berbahagia readers ku tercinta 💪🤍😇
Luv yuu kalian semua 🥰🥰
__ADS_1