Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Obrolan pagi


__ADS_3

"Mbok Jum, itu bubur buat siapa? Chaca?" Tanya Resy melihat nampan berisi piring bubur juga semangkuk sup ayam. Charlotte tak menyukai bubur dan semua orang tau itu. Itu kenapa Resy begitu kepo saat melihat bubur tersebut.


"Untuk Mia nyonya, semalam Mia tidur di kamar nona Chaca." Resy tersenyum mendengar penjelasan mbok Jum. Mia tak kuat menahan dingin, sedang kan suhu kamar Charlotte selalu membuat semua orang menggigil kedinginan.


"Baiklah, nanti kau akan menengok nya. Siang nanti berikan sup daging untuk Mia." Titah Resy sopan.


"Baik nyah, mbok permisi ke kamar Mia dulu." Pamit mbok Jum, Resy hanya mengangguk pelan kemudian menuju wastafel untuk mencuci sayuran di keranjang nya.


"Kak, kau menanam nya sendiri?" Tanya Mishy ikut bergabung memilih sayuran yang akan dia masak.


"Tentu saja, aku tidak hanya ahli di ranjang mengolah benih suami ku, tapi aku juga ahli menjadikan benih-benih kecil menjadi sayuran sehat ini." Pamer Resy bangga. Mishy mencebik mendengar kejumawaan sang kakak.


"Aku juga punya kebun juga kolam ikan hias di rumah besar ku." Balas Mishy tak mau kalah, sedang kan kedua pria dewasa itu hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Jiwa keibuan kedua wanita itu telah merubah mereka menjadi pribadi baru yang berbeda. Namun mereka justru semakin mencintai istri masing-masing dengan segala perubahan tersebut.


"Aku juga punya kolam ikan, dan isi nya tak terhingga. Kau akan pusing memilih ikan mana yang akan kau olah. Ikan hias mu tak akan bisa membuat lambung mu kenyang. Dan kebun bunga mu tak bisa membuat mu sehat." Remeh Resy meledak.

__ADS_1


"Di mana kolam nya? Sejak aku terbangun aku tak melihat kolam ikan di mana pun. Apa kau memelihara ikan di dalam kolam renang mu di belakang itu? Oh Astaga! Untung saja aku tak mencebur kan diri ke dalam nya. Pasti kulit mulus dan wangi ku akan menjadi berlendir dan bau amis. Iyuuhhhh..." Resy mendelik jengah.


"Kau lihat ombak yang bergulung di belakang sana? Itulah kolam ikan ku. Kau bisa memilih ikan apa saja yang kau ingin kan. Setiap sore para nelayan akan menjual hasil tangkapan mereka di pinggir pantai, di ujung dermaga kecil yang bisa kau lihat dari balkon kamar yang kau tempati. Lihat lah sesehat apa aku sekarang ini, menjadi bulat dan menggemaskan bukan? Lagi pula makan ikan akan membuat otak semakin cerdas. Kau akan di jauh kan dari kepikunan dini." Celotehan Resy mematik rasa kesal di hati Mishy.


"Lautan ungu itu kau sebut kolam ikan mu, dasar tidak waras!" Kesal Mishy membawa sebaskom sayur yang sudah bersih di cuci ke meja dapur.


"Biru atau paling tidak hijau, apa penyakit Mylo menular pada mu? Ah aku lupa, kalian kan kembar." Ledek Resy tergelak hingga perut nya sedikit berguncang.


Lengan kokoh menopang perut bulat itu dari arah belakang. Resy menghentikan tawa nya lalu menoleh, wangi yang menguar dari tubuh sang suami selalu memabukkan bagi nya.


"Eh? Aku sampai lupa kita ada tamu. Tunggu lah di dalam atau ajak Wira berkeliling. Pagi-pagi begini biasa nya banyak ikan licin dan bening berkaki dua, yang suka jalan-jalan santai mencari penjala di tepi pantai." Ujar Resy membuat suara hentakan di telenan begitu nyaring. Mishy memotong wortel dengan kekuatan super milik nya, mata nya menatap tajam pada sang suami dengan tangan seolah-olah memotong sesuatu yang alot.


Wira meneguk ludah nya susah payah.


"Sayang, hati-hati dengan pisau nya. Kau bisa terluka nanti. Aku akan duduk di teras belakang saja, aku masih sedikit lelah. Aku ingin belajar cara bertani sayuran seperti Jordan. Ku lihat kebun nya sangat subur di samping sana." Ujar Wira mengelus punggung sang istri, sambil menatap wanita itu dengan sejuta senyum untuk keselamatan masa depan nya.

__ADS_1


"Terimakasih suami ku, duduk lah di sana aku akan menyuruh mbok Jum mengantarkan teh hangat mu juga cake tape kesukaan mu. Perhatikan pandangan mu sayang, jika ada ikan licin dan bening berkaki dua, lekas paling kan wajah mu ke arah lain." Wira mengangguk cepat.


Tak apa tak melihat pemandangan bagus di pagi yang cerah ini, asal masa depan nya terselamatkan. Begitu lah pikir Wira, si bucin akut tingkat dewa tersebut.


"Kau lihat suami ku kak, pria itu selalu memuja ku. Apapun yang aku katakan akan langsung di turuti nya tanpa protes. Bagaimana dengan kakak ipar ku yang berondong itu? Apa dia juga memujamu hmmm?" Kini giliran Mishy menyombongkan diri.


"Kau lihat perut buncit ku ini? Apa kau tau aku menolak nya belasan kali, dan pria itu malah menjebak ku dengan obat perangsang agar aku menjadi milik nya. Apa kau tak berpikir jika Jordan ku begitu mencintai ku hmmm?" Balas Resy tak kalah angkuh.


"Haishhh... Kau selalu saja bisa menyaingi ku kak, kau menyebalkan." Kesal Mishy meski wanita itu tak benar-benar marah. Kedua nya pun terbahak menceritakan kebucinan suami masing-masing. Mereka bersyukur di usia yang tak lagi muda, mereka mendapatkan suami yang begitu setia dan tulus.


"Apa Charlotte belum bangun? Ini sudah pukul 7 kurang 5 menit." Tanya Mishy menoleh ke arah lorong menuju kamar Charlotte.


"Biasa dia akan bangun pukul 7 lalu mandi, barulah menantu cantik kita itu akan keluar kamar. Semenjak hamil, Chaca sangat suka berdandan dan menggunakan dress yang membuat nya semakin feminim dan cantik. Dulu di saat kami temukan, Chaca seperti nya pecinta celana jeans dan kaos kebesaran. Dia semakin cantik sekarang, aku tak sabar untuk membuat putra bodohmu itu menangis darah meminta Chaca ku menerima nya." Ucap Resy menerawang gemas.


"Ck! Dia juga putramu kak. Ah, mengingat anak itu aku baru ingat. Semalam aku memblokir kartu kredit yang selalu dia pinjamkan pada wanita Siluman itu. Aku juga membatasi limit pengeluaran nya mulai sekarang. Bersiap saja wanita itu akan uring-uringan dan semakin bersikap menjengkelkan. Mengingat pohon uang nya aku kendalikan mulai sekarang. Enak saja ingin meminta butik milik ku untuk wanita itu. Hissh aku sungguh tak sudi. Lebih baik ku berikan sebagai santunan kepada orang yang lebih membutuhkan." Oceh Mishy dengan hati dongkol.

__ADS_1


__ADS_2