Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Kedatangan Mishy


__ADS_3

Malam tiba, kegelisahan Charlotte semakin menjadi-jadi. Wanita itu bahkan meminta Mia untuk menemani nya hingga tertidur. Dan Mia tak masalah dengan itu, selain itu adalah tugas nya. Dia juga merasa senang Charlotte dekat dengan nya, tanpa memandang nya sebagai seseorang yang bekerja untuk keluarga tersebut.


Gadis itu memperlakukan semua pekerja di rumah itu dengan sangat ramah. Itu kenapa Charlotte begitu di sukai oleh semua orang.


"Apa kau bisa mendongeng Mia, mama Resy selalu mendongeng untuk ku jika aku kesulitan tidur dan bermimpi buruk." Ujar Charlotte di tengah keheningan di dalam kamar tersebut.


Mia terlihat kikuk. Berdongen? Dia bahkan tak pernah di dongeng kan oleh kedua orang tua nya ketika kecil. Dengan senyum pahit, Mia menatap sang nona.


"Aku tak bisa berdongen, tapi jika itu bisa membuat mu tertidur nyenyak. Aku akan berusaha untuk membuat sebuah cerita dongeng yang pernah aku tonton dulu ketika aku kecil. Aku harap tak membuat mu bosan nona." Kekeh Mia. Charlotte tertawa kecil mendengar kejujuran sang pengasuh sementara nya itu.


Mia sangat menyenangkan, dia selalu merasa memiliki kakak perempuan saat bersama wanita itu.


"Baiklah, semoga aku bisa langsung tertidur. Dan kau tak perlu memutar otak untuk membuat kan aku cerita dongeng panjang lebar." Mia tertawa renyah begitu pun Charlotte.


Tak lama Mia mulai bercerita tentang ketujuh anak domba, yang di tinggal pergi oleh ibu mereka ke hutan untuk mencari makanan. Dan serigala jahat yang berusaha untuk masuk ke dalam rumah, dengan menyamar sebagai ibu dari ketujuh anak domba tersebut.


Lamat-lamat pendengaran Charlotte mulai sayup. Wanita hamil itu mulai menyapa malam dengan mata sedikit terpejam. Hingga akhirnya Mia mampu menyelesaikan cerita nya dengan akhir yang membahagiakan bagi ketujuh anak domba beserta ibu mereka.


Wanita itu tersenyum melihat Charlotte yang sudah tertidur lelap di samping nya seperti bayi. Mia merasakan gelayar aneh saat sedekat itu dengan sang nona muda sang nyonya. Usianya 34 tahun dan Charlotte 25 tahun, namun dia merasa sangat dekat dengan wanita muda itu. Dalam konteks perasaan yang berbeda. Ada getaran tersendiri saat melihat manik coklat terang Charlotte.


"Selamat tidur nona, bermimpi lah yang indah. Semoga kau selalu di limpahi kebahagiaan tak terhingga, sehat selalu calon penerus klan Sanders Pratama. Aku akan menjadi pengasuh mu kelak, menjadi seorang bibi yang selalu menjaga dan menyayangi mu sepanjang hidup sisa hidup ku."


Mia mulai merasakan kantuk, wanita itu ikut terlelap di samping Charlotte untuk menjemput mimpi indah nya sendiri.

__ADS_1


Dua mobil mulai memasuki halaman luas villa kediaman Jordan. Seorang penjaga gerbang memang sudah di kabari sebelum nya sehingga memutuskan untuk bermain catur bersama rekan nya agar tak mengantuk. Mereka tak tau pasti kapan rombongan kecil itu akan tiba, untuk itu mereka berusaha untuk tetap terjaga. Sembari di temani satu teko kaca kopi panas dan setoples semprong manis, buatan mbok Juminah.


"Bagaimana perjalanan anda tuan, nyonya." Sapa Karto si penjaga villa tersebut dengan nada ramah.


"Lancar To, tadi nya mau nginep tidak jadi. Nyonya besar tidak tenang meninggalkan tuan putri kami. Bagaimana kabarnya seharian? Apa Chaca tidak terlalu kesepian?" Tanya Jordan sambil membantu Karto menurunkan koper juga beberapa barang lain nya.


"Nona seharian di kebun belakang sama sore nya ke pantai. Agak murung tapi masih bisa di handle oleh bu bidan." Seloroh Karto. Pria 37 tahun itu selalu memanggil Mia dengan sebutan ibu bidan. karena memang profesi wanita itu sebagai bidan di klinik kecil milik pemerintah kota kecil itu.


"Bagus, Mia memang selalu bisa di andal kan." Balas Jordan mulai menyeret koper ke teras rumah.


"Kak, rumah mu keren. Terlihat minimalis tapi juga memenangkan. Kita harus punya satu lagi yang seperti ini suasana nya sayang. Serasa pulang kampung halaman kalau begini." Celoteh Mishy dengan wajah berbinar. Padahal tadi wanita itu merengek ingin di gendong saat turun. Namun saat melihat penampakan rumah sang kakak, mata sayu nya langsung bersinar mengalahkan cahaya bulan.


"Kita akan membuat nya sesuai keinginan mu sayang, tapi bisakah kita membahas nya besok saja. Aku mengantuk berat sekarang.." ujar Wira mengiba. Membuat kedua sudut bibir Mishy melebar.


"Tidak nyonya, tuan dan nona kecil tidur di bersama tuan dan nyonya." Terang Wati.


Resy hanya mengangguk, untung saja mereka menyiapkan ranjang berukuran besar di dalam kamar yang akan di tempati oleh Mishy dan Wira.


"Baik, selamat beristirahat. Besok pagi bangun lah lebih awal, Chaca biasa bangun pukul 7 pagi. Bawaan bayi nya membuat nya sulit tidur saat malam, aku yakin Mia pasti sedang menemani nya tidur sekarang." Ujar Resy sebelum mereka menuju kamar masing-masing.


Sebelum menyusul sang suami ke atas ranjang, Resy pamit untuk melihat Charlotte sebentar, itu merupakan kegiatan rutin nya selama beberapa bulan ini. Memastikan Charlotte tidur nyenyak sudah seperti tugas pokok bagi nya.


Klek

__ADS_1


Senyum Resy mengembang, melihat Mia tidur sambil memeluk Charlotte seperti yang sering dia lakukan.


"Kasihan kau nak, kau kesulitan tidur dan selalu di ganggu oleh mimpi buruk akibat trauma mu. Sedangkan anak tak tau diri itu malah asyik-asyik nya menikmati malam dengan tidur nyenyak. Kelak dia harus membayar semua nya pada mu sayang, mama janji akan selalu menjagamu. Memberikan hak yang seharus nya kau dapat kan. Mimpi indah nak, juga cucu nenek yang cantik." Resy mencium kening Charlotte kemudian berlalu dari sana.


Diam-diam Charlotte menetes kan air mata haru, Resy yang bukan siapa-siapa nya namun begitu perhatian dan menyayangi nya sedemikian rupa. Sungguh beruntung dia di temukan oleh pasangan suami istri tersebut. Charlotte merasa berada di tengah-tengah keluarga kandung nya sendiri.


Meski kalimat Resy terdengar mengganjal di hati nya. Siapa yang di maksud tak tau diri oleh sang mama angkat. Tak ingin pusing dengan berprasangka buruk, Charlotte memilih untuk kembali terlelap meski sedikit sulit.


Suara kicauan burung menjadi pembuka pagi di sekitar villa tersebut. Mishy yang memang sudah bangun sejak subuh tadi kini ikut bergabung dengan mbok Juminah di dapur. Resy tengah memetik beberapa sayuran di kebun belakang. Waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi, Charlotte bisa di pastikan masih terlelap dalam mimpi indah nya.


Sedangkan Mia bersin-bersin di dalam kamar nya, wanita itu keluar kamar Charlotte pukul 5 subuh. Rasa dingin menusuk hingga ke dalam sum-sum tulang belakang mya, membuat wanita itu memilih melarikan diri dari sana. Selimut hangat sudah terpasang dua untuk membalut tubuh nya, namun tetap tak mampu untuk menghalau hawa dingin dari pendingin ruangan kamar wanita hamil itu.


Tok tok tok


Klek


Mbok Juminah membawa segelas teh jahe untuk Mia. Saat baru selesai solat wanita itu mendengar suara Mia ke dapur sambil bersin-bersin. Dia yakin Mia pasti mengalami flu, dia tau kebiasaan sang nona terhadap pendingin ruangan nya.


"Ini mbok buatkan teh jahe, minum lah dulu. Bubur untuk mu baru mbok dinginkan di meja dapur." Ujar wanita 50 tahun tersebut penuh perhatian.


"Makasih mbok..." Mia kembali bersin, dan kali ini dengan kesebelasan yang ikut keluar dari lubang hidung nya.


Mbok Juminah tertawa pelan melihat ingus Mia meleleh tanpa kendali dari sana.

__ADS_1


"Kau harus minum obat Mia, sebentar aku ambil kan bubur mu. Setelah itu kau makan obat mu." Ucap wanita paruh baya itu kemudian berlalu keluar dari kamar Mia.


__ADS_2