
Noora tiba di rumah tetangga nya dengan membawa sekotak sedang berisi kue pie buah, sebagai buah tangan darinya.
"Selamat malam nona Mora, ayo masuk. Lihat kau sangat cantik malam ini, aku khawatir suamiku akan terus melirik mu dari pada istri nya sendiri." Puji sang nyonya rumah tertawa kecil.
Noora mengganti nama panggilan nya menjadi Mora dari Morail.
"Kau pun terlihat sangat cantik nyonya Rahma, aku sampai berpikir, usia mu mungkin baru saja menginjak 35 tahun." Balas Noora tak kalah memberikan pujian yang membuat nyonya Rahma tersipu.
"Kau bisa saja, aku hampir tak bisa menapaki kaki ludi lantai karena terlalu ringan dan mulai terasa melayang di udara." Ucap wanita itu dengan semburat di pipi gembil nya.
"Wow! Nona Morail kau terlihat memukau, aku hampir berpaling saat melihat mu. Sampai-sampai wanita besar ini hampir tak terlihat karena tertutupi oleh pesona mu yang luar biasa." Sambung tuan Ardiansyah yang baru saja keluar dari area dapur, membawa beberapa buah gelas untuk di bawa ke taman belakang.
Mereka melakukan jamuan makan malam di taman belakang rumah keluarga tuan Ardiansyah.
"Nah! Sudah aku bilang kan, suamiku yang genit ini pasti akan langsung terpesona oleh mu. Aku mulai merasa terbakar sekarang, tolong turun kan sedikit kadar kecantikan mu nona Morail." Canda nyonya Rahma menimpali kalimat gurauan sang suami. Sungguh definisi keluarga yang harmonis dan saling pengertian.
"Ah, maafkan aku nyonya. Besok aku akan mulai tak lagi memperhatikan segala jenis skin care apapun." Seloroh Noora ikut menimpali candaan sepasang suami istri tersebut.
Hingga tiba di belakang rumah, langkah Noora terhenti saat melihat seseorang yang sangat dia kenali sedang berdiri di samping panggangan. Memperlihatkan wajah tengil yang menyebalkan di mata nya. Nyaris saja Noora mengumpat saking kesal nya, kenapa pria itu selalu ada di manapun dia berada.
__ADS_1
"Kenapa kau berhenti di sini nona Mora, bergabung lah di sana." Mau tak mau Noora melanjutkan langkah nya meski hati nya di dera rasa kesal tak terkira.
"Ah ya, aku hampir lupa. Kenalkan, dia adalah Paul. Tetangga baru kita di blok ini. Rumah nya persis di samping rumah mu, kau ingat rumah kosong milik keluarga Doris itu kan? Paul baru menempati nya selama satu minggu ini, jadi belum sempat berkenalan dengan mu." Noora mengetatkan rahang nya menahan dongkol, bisa-bisa nya Paul yang sangat dia hindari, malah kini menjadi tetangga nya.
Dengan senyum penuh keterpaksaan, Noora mengulur kan tangan nya ke arah paul. Yang tentu saja di terima oleh pria itu dengan hati penuh suka cita.
"Paul, tetangga baru mu juga semua orang baik di blok ini." Ucap Paul memperkenalkan diri sembari tersenyum manis, memperlihatkan garis pipi yang sangat rupawan. Namun di mata Noora sangat lah menjengkelkan.
Noora balas dengan menggenggam tangan Paul sekuat tenaga. Senyum Paul semakin lebar, senyum untuk menutupi rasa panas yang menjalar di telapak tangan nya yang terasa remuk.
Kini balas Noora yang tersenyum semanis madu. Senyum yang seolah mengatakan, "rasakan sekarang pembalasan ku".
Malam itu terasa sangat panjang bagi Noora. Para tetangga nya seolah sengaja menciptakan obrolan panjang lebar yang tak ada habis-habisnya. Belum lagi tatapan penuh lope lope terus terarah pada nya. Sungguh Noora ingin menjejal kedua mata Paul dengan saos tiram buatan nyonya Rahma.
Setelah acara makan malam yang membuat tensi Noora naik drastis, wanita itu terlihat berjalan tergesa menuju ke arah rumah nya. Menyesal dia tak membawa mobil saja, meski jarak nya hanya lah empat rumah dari rumah nya.
"Hei! Pelan-pelan, bagaimana ada seorang wanita seanggu ini berjalan bagai di kejar maling." Ujar Paul dengan nafas tersengal-sengal. Pria itu baru saja selesai pamit dengan sang pemilik rumah, menyadari Noora sudah melangkah jauh, Paul pun berlari untuk mengejar nya.
"Terserah aku, kenapa kau selalu saja kepo seperti wanita." Sarkas Noora jengkel. Setiba di halaman rumah nya, wanita itu masuk dan berniat mengunci pagar nya. Namun kesabaran wanita itu kembali di uji, Paul berhasil masuk ke halaman nya dengan wajah tanpa dosa.
__ADS_1
"Astaga! Paul Scout! Apa kau kurang kerjaan? Pulanglah, ini sudah malam aku butuh istirahat." Geram Noora mengeram kesal ke arah paul. Pria itu malah semakin memperlihatkan wajah tengil nya, yang membuat ubun-ubun Noora semakin berasap tebal.
"Pulanglah Paul, apa kau tau etika nya bertamu? Ini sudah malam, jangan membuat malamku seperti mimpi buruk. Okey?" Kini nada nya mulai melunak. Menghadapi Paul sungguh menguras energi nya.
"Baiklah, jika kau berbicara selembut ini sejak tadi kan, tentu aku akan langsung pulang. Sering-sering lah bersikap lembut seperti ini, aku tak ingin melihat calon ibu dari anak-anakku memiliki wajah datar seperti triplek." Setelah melontarkan kalimat yang menyulut api di kepala Noora, Paul melompat melewati pagar pembatas antara rumah nya dan rumah Noora.
Untung saja tinggi nya hanya satu setengah meter.
"Dasar pria gila!" Umpat Noora setengah berteriak kecil. Bisa bahaya jika para tetangga mendengar nya, akan hancur reputasi gadis kalem dan lemah lembut nya di hadapan para tetangga super ramah nya. Dia akan dicap sebagai gadis bar-bar, meski benar begitu lah kenyataan nya.
Sedangkan Paul tergelak sambil berjalan masuk ke dalam rumah nya. Pria itu sengaja memilih kamar yang persis berhadapan dengan balkon kamar Noora. Dan sudah beberapa malam ini, pria itu menjadi ninja dengan melompat ke balkon kamar wanita itu. Hanya untuk memandangi wajah cantik yang telah bersemayam utuh dalam hati nya.
Sungguh kegilaan Paul tak ada tandingan nya. Melompati batas hampir 2 meter menuju balkon kamar Noora, sungguh pertaruhkan nyawa yang luar biasa.
Pagi menyapa dengan suara klakson kang Jumri si penjual sayur keliling langganan Noora. Wanita itu keluar dengan daster batik sepanjang lutut. Rambut nya di jepit asal dan keluar dengan wajah bantal.
"Kang, aku sayur kangkung sama serenteng terasi putih ya. Dada ayam, ceker kelapa parut pokok nya semua bahan buat masak santan." Ucap Noora sembari menahan kantuk. Semalam wanita itu tak dapat tidur nyenyak di kamar nya karena ulah sang tetangga laknat.
Paul bermain gitar dengan menyanyikan lagu-lagu cinta yang membuat kepala Noora pusing. Hingga akhir mya wanita itu menyerah dan pindah ke kamar bawah. Jika saja tidak berpikir jernih, ingin sekali Noora menarik pelatuk pistol nya ke kepala pria gila itu.
__ADS_1