
Resy menatap iba pada bagasi mobil nya. Mishy benar-benar menganggap jika kediaman nya sungguh berada di daerah pedalaman nun jauh dari peradaban. Wanita itu membeli banyak stok bahan makanan juga oleh-oleh yang akan dia berikan pada Charlotte.
"Ck! Kenapa wanita itu begitu meremehkan tempat tinggal kita sayang. Dia pikir kita sungguh tinggal di goa, begitu?" Kesal Resy menggerutu pada sang suami. Jordan hanya bisa tersenyum simpul, dia tak menyangka jika nona muda nya begitu serius menanggapi situasi mereka saat ini.
Wanita itu mungkin mengira Resy tinggal di daerah yang jauh dari peradaban. Resy menggeleng tak percaya, sepupu nya sungguh menyebalkan setelah menikah dan mempunyai anak.
"Apa semua ini sudah cukup kak? Aku khawatir kita akan bolak balik ke kota hanya untuk membeli persediaan makanan. Bukankah perjalanan kemari butuh waktu 6 jam kata mu? Sebutkan saja apa lagi yang harus ku beli, tenang saja, suami ku tidak pelit." Resy berdecih sebal. Bukan tersinggung lebih pada kesal melihat adik sepupu nya terus beranggapan jika mereka tinggal di daerah terpencil.
"Ini sudah lebih dari cukup. Kau hanya akan membuat berat beban mobil ku saja. Tempat tinggal ku memang jauh dari kota besar, tapi di sana juga kota meski hanya kota kecil. Kau benar-benar membuat ku kesal." Omel Resy menutup pintu bagasi sebelum sang adik menambah muatan di mobil nya lagi.
"Aku kan hanya berjaga-jaga kak," ujar Mishy tersenyum tanpa dosa.
Setelah semua barang sudah selesai di masukkan ke dalam mobil, dua mobil tersebut mulai membelah jalanan kota menuju perbatasan. Jika Resy dengan perasaan gundah karena memikirkan reaksi Charlotte, lain hal nya dengan Mishy. Wanita itu terus berceloteh sepanjang jalan, menceritakan betapa antusias nya dia ingin segera berjumpa dengan sang calon menantu juga bakal cucu nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Di villa, Charlotte merasakan gelisah sejak siang selesai diri nya menyantap makan siang bersama Mia. Kegelisahan tak mendasar yang mendadak membuat diri nya seakan di kejar-kejar oleh seseorang.
"Nona Chaca, anda terlihat sangat gelisah ku perhatikan sejak kita selesai makan siang tadi. Apa ada yang salah? Maksud ku, apa kau merasa tak nyaman dengan perut mu? Berbaring lah, aku akan memeriksa perut mu sebentar." Mia terlihat khawatir melihat sang nona nampak begitu gelisah. Wanita muda itu duduk berdiri lalu berjalan mondar mandir tak jelas.
"Entah lah Mia, aku merasa gelisah saja. Seperti seseorang yang sedang bersembunyi dari hal jahat dan was-was akan di ketahui. Apa ini wajar, maksud ku kau mengatakan jika hormon ibu hamil itu tidak stabil. Apa aku sedang mengalami ketidakstabilan horman atau emosi tertentu, Mia?" Charlotte menatap Mia harap-harap cemas. Wanita itu terlihat berkeringat kecil akibat pikiran nya mungkin sedang berpikir keras sekarang.
"Itu wajar nona, mungkin karena ini pertama kali nya anda berjauhan dengan nyonya. Dan anda merasa kesepian tanpa anda sadari. Bagaimana jika kita berjalan santai ke pantai, sore-sore begini pasti ramai. Banyak anak-anak dan para nelayan yang baru saja pulang mencari ikan. Nyonya juga meminta ku membeli beberapa ikan segar. Jadi, ayo bersiaplah." Ajak Mia mengalihkan kegundahan hati Charlotte.
__ADS_1
Mia sudah tau perihal kedatangan tamu sang nyonya, untuk itu dia sengaja membawa Charlotte ke pantai agar para pelayan bisa berbenah kamar untuk tamu majikan nya. Jika Charlotte di sana, wanita itu pasti melontarkan banyak pertanyaan yang tak mungkin bisa mereka jawab.
"Mia, apa aku perlu memakai cardigan? Aku sedikit gerah sebenar nya, hanya saja aku takut mama akan marah jika aku ketahuan keluar tanpa dia." Tunjuk Charlotte pada cardigan yang menggantung di hastok gantung.
"Pakai saja nona, angin laut sangat kencang jika sore hari. Nyonya akan marah pada ku jika tau anda keluar tanpa menggunakan atribut wajib itu." Seloroh Mia terkekeh kecil.
Charlotte akhir nya mengangguk lalu memakai nya, wanita itu sering merasa gerah belakangan ini. Itu kenapa suhu pendingin di ruangan nya selalu terasa membekukan siapa saja di dalam nya.
🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Miguel berjalan lesu dari parkiran mobil menuju ke dalam mansion. Pikiran nya kacau, Clara terus-menerus meneror nya perkara pembelian butik. Sedangkan sang ibu tidak ada di rumah. Itu yang baru saja dia ketahui dari penjaga gerbang rumah mereka.
"Huuppzz! Begini banget punya calon istri yang tak mau kalah dari siapapun." Gumam Wira merasa lelah. Pria itu menghempas kan bokong nya di sofa kamar nya. Di saat seperti ini, diri nya malah teringat pada Charlotte. Wanita sederhana yang tak pernah bosan mengingatkan nya untuk beristirahat dan makan tepat waktu.
Miguel merogoh saku celana nya, pria itu menatap sekeping obat sakit kepala yang tadi siang di berikan oleh Gita pada nya.
"Aku merindukan mu, Chalot. Maaf untuk semua rasa sakit mu, maaf atas luka yang ku toreh kan. Aku harap kau mau memaafkan ku.." Miguel memejamkan kedua mata nya, bayangan wajah Charlotte saat memelas pada nya agar tak lagi di sentuh terus menghantui nya. Berputar-putar bak kaset rusak di kepala nya.
"Aku tak menyesali nya, tapi aku ingin berterimakasih sudah menjaga nya dan memberikan nya pada ku meski harus ku renggut secara paksa." Miguel akhir nya terlelap dalam rasa lelah. Lelah hati juga lelah pikiran. Kerinduan nya pada Charlotte semakin hari semakin tumbuh subur, dan perlahan mengikis rasa untuk sang kekasih tanpa dia sadari.
Sementara di tempat lain, Clara terlihat tengah bercumbu mesra dengan seorang pria paruh baya di ruang VIP sebuah club malam.
"Om..geli.." rengek Clara.
__ADS_1
"Tapi kau suka kan, ayo naik sayang..." titah sang pria buncit tersebut dengan suara parau.
Clara menarik ujung dress ketat nya hingga sebatas perut nya.
Pertukaran peluh pun terjadi. Tak peduli ada beberapa pasang makhluk lain yang juga melakukan aktivitas fisik yang sama di dalam sama. Suara lenguh dan saling meneriakkan nama satu sama lain seperti alunan melodi yang semakin membakar gai rah para makhluk biadab tersebut.
Clara tergolek tak berdaya setelah pencapaian nya, kini gantian si pria yang mengambil alih. Clara berbaring pasrah di atas sofa. Si pria besar itu mulai menghujam milik Clara dengan kekuatan maksimal. Mengingat jika ukuran keperkasaan nya hanya separuh dari harapan kepuasan.
Berpacu dalam peluh yang bercucuran deras, kedua nya sama-sama berlomba untuk mencapai batas akhir dari permainan tersebut.
Lenguhan panjang seperti suara lolongan anjing jalanan memenuhi ruangan tersebut. Semburan lava pijar membanjiri liang lembab tersebut bagai kawah merapi yang meluap-luap.
"Apa kau subur sayang..." Tanya si pria setelah menjeda beberapa saat. Mencabut milik nya lalu duduk di sofa menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia rasakan. Sedangkan Clara masih berbaring di posisi semula dengan satu kaki masih bersandar di punggung sofa dan satu lagi di luruskan dan di naikan ke atas kedua paha polos sang pria.
"Aku tidak tau, siklus ku sedikit kacau belakangan ini, lagi pula aku akan menikah dua minggu lagi. Jika hamil pun tak masalah, semua orang akan mengira aku mengandung anak suami ku." Sahut Clara enteng.
Seorang pria yang baru saja selesai melakukan ritual yang sama di sofa lain menghampiri Clara yang masih tergolek lemas.
"Hai cantik, masih ingin lanjut sesi kedua? Aku siap..." Clara menoleh dan melihat pria yang cukup tampan dengan benda panjang besar menjulang di depan wajah nya. Wanita itu tersenyum genit sambil menggigit bibir bawah nya. Membuat si pria tersenyum puas.
"Tuan Bowo, boleh aku yang melanjutkan nya..?" tanya nya pada pria yang baru sana akan memejamkan kedua mata nya.
Anggukan kecil Bowo membuat nya kembali tersenyum puas. Lalu menarik tubuh Clara dan melepaskan semua yang masih menempel di tubuh wanita itu. Kini Clara benar-benar polos seperti bayi baru lahir, namun bayi yang penuh lumuran cairan dosa.
__ADS_1