Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Silvery yang polos


__ADS_3

"Wah wah! Apa yang sedang kalian bahas di sini nona-nona? Apa pria tampan ini boleh ikut bergabung hmm?" Kelakar Paul seolah baru tiba di sana. Pria itu berjalan dengan gagah menuju di mana kedua wanita kesayangan nya tengah berada.


"Kami sedang mendiskusikan menu makan malam, apa kau punya ide dad?" Ucap Noora tersenyum manis pada sang suami.


Paul terlihat berpikir sejenak, kemudian menyebutkan sederet menu yang dia inginkan.


"Bagaimana? Sangat variatif bukan?" Tanya Paul bangga, seakan menu yang dia sebut kan tinggal di sulap maka semua siap.


Noora mendelik kesal, sedang kan Naura tertawa kecil melihat tingkah kedua orang tua nya.


"Kau bisa pesan ke restoran saja jika ingin semua makanan yang kau sebut kan tadi. Kami sedang sibuk. Ayo sayang, hari ini mommy akan memasak menu kesukaan cucu mommy saja. Jangan hiraukan pria tua tak tau diri ini. Duduk lah dengan manis sambil menonton gosip terhangat hari ini, mommy tak ingin melihat mu berkeliaran di dapur dengan membawa perut besar mu ini. Mommy ngeri melihat nya." Ucap Noora menggandeng lengan sang anak munju ruang keluarga, sedang kan Paul mengekor dari arah belakang.


"Kau tak adil sayang, kenapa hanya cucu kesayangan ku saja yang kau masakan makanan kesukaan nya. Princess pasti akan sedih jika kakek nya tak di masak kan sesuatu." Rengek Paul menarik-narik pelan ujung baju sang istri seperti bocah minta jajan.


"Ck! Dasar manja. Cucuku pasti malu memiliki kakek seperti dirimu, suka iri dengan cucu sendiri." Kesal Noora mendelik ke arah sang suami.


"Masakan iga bakar seperti yang Daddy katakan tadi mom, aku juga seperti nya ingin mencicipi nya juga." Sela Naura menengahi.


"Baiklah sayang, ini mom lakukan untuk mu." Paul mencium pipi bakpao sang anak sebagai ungkapan rasa terimakasih nya, karena Naura telah membantu nya untuk mendapatkan menu kesukaan nya tersebut.

__ADS_1


"Cih! Kau selalu memanfaatkan putri juga cucuku, dasar kakek tua tak tau malu." Ucap wanita itu kemudian berlalu meninggalkan sang anak di ruang keluarga.


Paul tergelak renyah, dia sangat suka melihat sisi galak istri nya itu. Sangat menghidupkan suasana menurut nya, jika berhasil membuat wajah Noora di tekuk sempurna.


"Bagaimana pekerjaan suamimu sayang? Apa Rafka sudah bisa menguasai manajemen, bersamaan dengan mengatur jadwal nya sebagai seorang dokter di tempat praktek. Rafka pasti sedikit kesulitan dalam beradaptasi." Tanya Paul memulai pembicaraan ringan bersama sang anak.


"Lumayan untuk seorang pemula, dari seorang dokter kandungan merangkap profesi sebagai seorang akuntan publik. Pria itu terlihat sedang frustasi di awal-awal, sungguh kasihan sekali suamiku yang malang." Ucap Noora tertawa kecil.


Paul menatap haru senyum putri sulung nya, sungguh kasih sayang nya tak ada kurang sedikit pun pada sanga anak.


"Katakan pada Rafka agar tak terlalu memaksa kan diri, belajar perlahan saja. Dua profesi itu jelas bertolak belakang, wajar saja jika Rafka sedikit kesulitan. Ilmu dasarnya saja sudah berbeda jauh." Nasihat Paul bijak.


"Spadaaa, any body home?" Seru seorang gadis dari arah pintu depan. Membuat atensi Paul dan Naura teralihkan. Terlihat Silvery melangkah lebar sambil menenteng beberapa paper bag berlogo sebuah toko baby shop.


"Apa yang kau beli lagi, sayang?" Tanya Paul menatap kantong belanjaan sang anak.


"Hanya beberapa pakaian bayi untuk keponakan ku yang tampan." Jawab Silvery mendudukkan dirinya di samping sang kakak.


"Princess, Silver. Sudah berapa kali daddy katakan padamu." Protes Paul tak terima. Entah mengapa dia selalu menyukai anak perempuan, karena bisa di pasangkan pernak pernik lucu yang selalu membuat nya lapar mata kala melihat nya. Paul selalu gemas melihat kebutuhan aksesoris anak-anak perempuan, untuk itu dia sangat berharap cucu nya adalah bayi mungil yang cantik.

__ADS_1


Namun Silvery lebih suka bayi laki-laki, karena menurut nya lebih pas jika anak pertama itu laki-laki, agar bisa menjaga adik-adik nya kelak. Kedua insan beda generasi itu memiliki sudut pandang yang berbeda soal bayi di perut Naura. Kadang membuat Noora kesal sendiri melihat nya.


"Aku mau nya laki-laki, jadi aku membeli beberapa baju bayi dengan gambar super Hero yang lucu-lucu. Kakak lihatlah, tadi aku memilih sendiri. Eh? Tidak, tidak. Aku memilih dengan seorang pria yang ku kenal di perpustakaan tadi siang." Ucap Silvery tanpa dosa, dia telah kabur dari kelas les nya dan membuat sang pengawal dalam masalah besar.


"Kau kabur lagi? Astaga! Kasihan sekali Sandre, pria malang itu pasti di cecar oleh kemarahan mommy." ucap Naura seolah diri nya tak tau jika Sandre telah di marahi dan di berikan peringatan terkahir oleh sang ibu. Sungguh pria yang malang.


"Aku bosan kak, miss Niken selalu membahas tema yang hampir sama setiap kali sesi pertemuan. Beberapa teman di kelas ku bahkan ada yang tertidur di kursi belakang. Jadi, aku memutuskan untuk kabur saja dari pada berada di kelas tapi malah tak fokus pada pelajaran. Bukankah lebih baik begitu?" Balas Silvery menatap polos pada sang kakak.


Naura sejenak menatap sang ayah yang berusaha menahan tawa, wanita itu hanya bisa menghela nafas panjang. Susah jika ingin berdebat dengan sang adik, di jamin tak akan menang.


"Katakan siapa yang kau kenal di perpustakaan tadi? pria atau wanita?" Cecar Naura menatap penuh selidik pada sang adik.


"Seorang pria tampan, sangat tampan sampai-sampai aku langsung jatuh hati pada nya pada pandangan pertama. Ternyata jatuh cinta itu terasa sangat mendebarkan, ah aku sangat merindukan calon kekasih ku." Ucap Silvery membuat Paul dan Naura melongo tak percaya.


"Kau bahkan baru mengenalnya Silver, belum tentu dia pria baik. Bagaimana jika adalah pria tak baik? Aku tak setuju, mulai besok aku akan ikut mengantar mu ke tempat les. Kau sungguh tak bisa di biarkan berkeliaran seorang diri, bisa-bisa kau kembali pulang membawa seorang calon suami dan membuat mommy terkena serangan jantung." Sungut Naura kesal.


"Ishhh kakak sama saja seperti mom, daddy..." Rengek Silvery namun Paul hanya mengangkat bahu seraya menggeleng pelan. Menandakan jika keputusan Naura sudah final. Silvery menghentak kan kaki pelan, menatap kesal pada sang kakak.


"Silvery? Kau baru pulang? Apa kau tau, Sandre kelimpungan mencari mu sepotong hari ini? Dari mana saja kau?" Kesal sang ibu menyemprot kan kemarahan nya seperti biasa jika sang anak berulah.

__ADS_1


"Aku berbelanja pakaian bayi untuk cucu kesayangan mu mom. Lihatlah, aku membelikan beberapa warna kesukaan mommy, bergambar Minion dan pisang Ambon." Ucap Silvery memamerkan barang belanjaan nya pada sang ibu. Paul mengatup bibir nya menahan tawa.


__ADS_2