Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Pikul beban mu sendiri


__ADS_3

...Hollaa epribadeeehhh 🤗🤗🤗...


...Kita kenalan sama Noora Morail Sanders Pratama, dulu yuk!...


...Si cantik, dengan dua kepribadian yang selalu membuat kinerja jantung ketar ketir tak karuan....





Seorang wanita baru saja mengganti gaun pengantin nya seorang diri. Kamar yang begitu luas itu terasa semakin luas saja saat dia harus sendirian di dalam nya.


Noora menatap ranjang dengan taburan kelopak bunga di atas nya. Begitu indah di bentuk dengan simbol hati juga nama nya dan sang suami di masing-masing sisi hati tersebut.


"Bagaimana bisa kau harus melakukan pertemuan di saat malam pengantin kita, Lex." Gumam Noora lirih. Wanita yang baru saja melepas masa lajang nya di usia 25 tahun itu, kini terlihat sedikit kesal terhadap sang suami.


Lexan Argasatya, pria yang menjadi kekasih nya sejak di bangku kuliah semester ketiga. Karena kecerdasan nya, Noora lebih dulu di nyatakan lulus dan Lexan masih harus melanjutkan satu tahun lagi masa kuliah nya. Namun hubungan kedua nya berjalan baik hingga kini, tiba di penghujung impian kedua nya.


Merangkai kisah yang mereka satukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Dan baru saja selesai melakukan semua prosesi panjang nan melelahkan, Lexan harus pamit pada Noora karena lupa mengabari salah seorang klien tentang pernikahan nya. Pria itu pamit untuk bertemu dengan sang klien karena tak enak hati membiarkan klien nya menunggu dan kecewa.


Sebagai seorang wanita karir, Noora Sangat lah memahami nya. Namun sangat di sayangkan, kenapa harus di malam yang seharus nya menjadi malam milik nya.

__ADS_1


Dan sudah dua jam berlalu sejak Lexan pamit bertemu sang klien, Noora mulai merasa bosan di dalam kamar besar itu. Beberapa kali mengganti channel televisi, dan tak satupun acara di dalam nya yang mampu mengalihkan rasa bosan wanita itu. Dia ingin menikmati angin malam sejenak, untuk menghalau rasa jenuh karena menunggu sungguhlah membosankan.


Dengan langkah kecil nya, Noora berjalan menuju elevator. Menggunakan topi, masker juga jaket Hoodie yang di padukan dengan celana jeans serta sepatu kets berwarna biru muda andalan nya. Jangan bertanya dari mana semua atribut itu dia dapat kan. Hotel itu adalah milik nya, sangat mudah menyimpan barang-barang itu di tempat yang hanya Noora saja yang mengetahui nya.


Di dalam sana ada orang lain, yang sekelebat dia mengingat jika kedua nya adalah salah satu tamu undangan pernikahan nya beberapa jam yang lalu. Rupa nya mereka juga menginap di hotel ini juga. Noora tersenyum simpul, hotel tersebut adalah hadiah ulang tahun nya yang ke 10, pemberian oleh sang kakek buyut. Harland Pratama, sebelum pria tua itu berpulang beberapa hari setelah nya.


"Kau yakin tak salah melihat tadi?" Tanya si wanita membuat Noora mau tak mau terpaksa menjadi seorang penguping, dari obrolan dua sejoli tersebut.


"Aku yakin tidak salah mengenali, itu benar-benar tuan Lexan. Hanya saja kenapa tuan Lexan malah memasuki kamar itu. Yang ku tau, kamar itu adalah tipe standar minimalis. Tidak mungkin kan, nona Noora membiarkan kerabat tuan Lexan menempati kamar tersebut, sedangkan ini adalah hotel milik nya. Mereka pasti tidak kekurangan kamar suite untuk para kerabat yang ingin menginap." Ujar si pria mengungkapkan pemikiran nya.


"Kau benar, mungkin saja ada salah satu sahabat nya. Kalian para pria suka menghabiskan malam dengan mengganggu para pengantin pria, dalam melakukan ritual suci untuk mencetak benih masa depan." Timpal si wanita berseloroh, kedua nya lalu tertawa. Sesaat kemudian elevator tiba di lobby utama hotel.


Noora tak ikut keluar, namun kembali naik ke lantai dua di mana ruang CCTV berada. Wanita itu tak ingin berprasangka buruk namun juga tak ingin membuat rasa curiga nya berlarut-larut. Setiba di depan ruang utama menuju ruang CCTV, seorang penjaga mencegah nya masuk karena tak mengenali wanita itu.


Noora menurunkan sedikit masker nya kemudian mengerling, agar si pria tak heboh akan kehadiran nya di sana.


Sudut bibir nya membentuk seringai tak biasa, saat melihat suami nya di sambut oleh uluran tangan seorang wanita dari balik pintu yang baru saja terbuka.


"Paul, hubungi bagian resepsionis. Tanyakan, siapa wanita cantik yang menyewa kamar 517 itu. Aku penasaran dengan jari lentik nya yang begitu lincah bermain di dada bidang suami ku." Ucap Noora tersenyum manis. Senyum yang membuat lutut Paul bergetar tak karuan.


Dengan tangan berkeringat dingin, Paul menghubungi resepsionis menggunakan telepon yang ada di ruangan nya di depan.


Setelah mendapat informasi mengenai siapa yang menyewa kamar tersebut, Paul segera memberi tahu kan kepada Noora. Wanita itu terlihat menghela nafas panjang kemudian mengucapkan terimakasih. Sebelum pergi, Noora meminta agar kehadiran nya di sana tak di ketahui oleh siapapun termasuk suami juga orang tua nya.

__ADS_1


Paul hanya mengangguk paham, bagaimana pun Noora adalah pemilik sekaligus seorang direktur utama hotel tersebut. Tentu saja dia akan patuh pada perintah atasan nya, meskipun hotel itu di kelola oleh sang adik Novandra.


Noora duduk di kursi taman tak jauh dari hotel nya. Wanita itu sejenak menatap bangunan hotel yang menjulang tinggi tersebut dengan perasaan tak menentu.


"Harus nya kau tak bermain-main dengan ku, Lex. Kau sungguh tak pandai mencari target sebagai batu loncatan untuk melompat lebih tinggi. Kau ingin mendaki hingga puncak, dengan cara menjadikan ku pijakan mu? Kau salah memilih pijakan, aku tak hanya akan membuatmu naik mencapai impian mu. Tapi aku akan langsung menerbangkan mu menuju pintu neraka." Ucap Noora tersenyum perih.


Kini dia mengerti arti kalimat nasihat sang kakek buyut, sebelum pergi menyusul nenek buyut nya. Jangan pernah menaruh harapan terlalu tinggi di atas pundak seseorang, karena pundak itu belum tentu mampu ikut memikul beban mu. Pikul beban mu sendiri, agar kau dapat menghargai sebuah proses dari pada hasil akhir. Kini dia sadar, Lexan bukan nya sudah tak mampu menjadi tumpuan nya. Namun sejak awal, pria itu lah yang menjadikan nya tumpuan harapan dalam hubungan mereka.


Setelah puas menenangkan diri, Noora memilih kembali masuk ke gedung hotel yang mulai saat ini, akan menjadi pengingat bagi nya. Mengingat kan akan pengkhianat paling sadis dari suami, yang pernah begitu di cintai nya beberapa jam yang lalu.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Suara ketukan pintu kamar membuat Noora lekas menutup laptop nya. Terlihat seorang wanita berparas cantik tersenyum ramah ke arah nya.


"Masuklah Vira, maaf memanggil mu di malam buta seperti ini. Kau pasti bertanya-tanya bukan? Kenapa ada seorang pengantin wanita yang iseng menghubungi mu dan meminta bertemu di saat yang tak biasa seperti ini?" Vira terlihat mengangguk samar. Ada kecemasan dalam benak nya, Noora tak biasa menghubungi di saat-saat seperti ini jika bukan hal yang mendesak dan serius.


Dan melihat kondisi kamar pengantin yang masih terlihat utuh, membuat pikiran Vira mulai berpikir jauh akan kemungkinan buruk. Namun wanita itu lekas menggeleng pelan, menepis praduga tak berdasar dalam benak nya.


"Kau tak ingin duduk Vira, kau pasti lelah bukan?" Deg! Savira terlihat pias, entah mengapa kalimat tersebut seperti menyentil sisi lain hati nya.


"Saya tidak lelah nona, saya menggunakan mobil dan itu tidak membuat ku lelah." Sahut Vira tersenyum simpul. Entah kenapa dia semakin cemas, berpikir ulang mungkin saja dia telah melakukan kesalahan. Namun hingga detik ini, dia tak mengingat akan kesalahan apa yang pernah dia lakukan pada sang atasan.


"Ah, ku pikir kau menginap di salah satu kamar hotel ini. Rupa nya kau lebih memilih pulang meski kau sudah sangat lelah mengurus pernikahan ku." Ucap Noora tersenyum penuh makna. Vira menelan ludah nya susah payah, wanita itu mendadak berkeringat dingin, meski di dalam suasana terasa semakin lembab dan mencekam.

__ADS_1


"Duduk lah Vira, ini bukan jam kerja mu. Kenapa kau setegang ini hmmm? Apa kau sedang melakukan kesalahan padaku?" Nafas Vira tercekat, lidah nya terasa kelu. Ada kisah yang sebaik nya tetap menjadi rahasia. Begitu pun dengan kisah nya.


Setidak nya tidak sekarang, dia tak ingin membuat segala kerja keras nya sia-sia.


__ADS_2