
Odion hanya mengangguk paham, dan tak bertanya lagi. Tanda tangan berkas kesepakatan pun terjadi, Odion tersenyum puas. Bukan karena mendapat kan proyek dengan nilai fantastis, namun perusahaan Livi Mutiara Group telah menemukan pemilik yang sesungguhnya. Dia ingin mempersembahkan keberhasilan proyek ini untuk menyambut kepulangan sang adik ke dalam keluarga nya.
Setelah basa basi sebentar, mereka pun berpisah. Olivia? Jangan di tanya lagi, meski dengan tumpukan cemilan yang kata nya akan mengalihkan rasa kantuk. Nyatanya Olivia tetap tertidur seperti putri tidur. Dan jangan lupa jejak pulau seribu yang dia lukis di permukaan meja rapat tersebut. Jika di sana ada Betran, di jamin pria itu akan terserang asam lambung.
Betran sangat penjijik, jangankan melihat liur orang lain. Bantal yang terkena air liur nya saja akan langsung dia buang saat itu juga.
Odion hanya tersenyum geli saat melihat liur Olivia yang meleleh hingga memenuhi pipi nya. Ingin sekali dia mengusap nya, namun mengingat kesepakatan nya dengan Mylo, Odion memilih untuk mengurungkan niatnya.
Melihat Mylo yang begitu telaten membersihkan pipi sang adik tanpa rasa jijik, Odion merasa tenang. Olivia nya telah berada di tangan yang tepat.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Satu minggu setelah pertemuan Odion dan Olivia, kini pria itu tengah di landa perasaan harap-harap cemas. Sejak melakukan tes DNA terhadap Olivia, Odion tak dapat tidur nyenyak.
Klek
__ADS_1
Olsen masuk dengan wajah masam, pria itu pasti kesal dengan ulah sang kakak. Maya terpaksa tak bisa menghandle semua pekerjaan nya hari itu, dan berakhir dia harus menemui dua klien sekaligus dalam satu hari.
Parah nya lagi, dua klien tersebut menentukan sendiri tempat dan waktu sesuai jadwal mereka. Olsen sudah seperti pembalap, memacu laju mobil nya ke dua arah berlawanan, hanya berselang waktu jeda 10 menit. Sedangkan jarak normal yang harus dia tempuh sekitar 20 menit. Bayangkan bagaimana cara Olsen memangkas 10 menit waktu nya di perjalanan hingga tiba di tujuan tak kurang satu apapun.
Dan yang paling membuat Olsen marah, sang kakak memberikan deadline hingga pukul 5 sore harus selesai pada Maya. Wanita itu bekerja bagai kuda, sehingga melewatkan jam makan siangnya. Maya bahkan lupa meski sekedar meminum air putih. Alhasil, asam lambung nya naik dan wanita itu terkapar di dalam ruang kerja Olsen. Satu jam kemudian Olsen baru mengetahui nya, membuat rasa lelah nya sepotong hari itu semakin terasa akibat ulah sang kakak.
"Jangan perlihatkan wajah jelek mu di hadapanku, Sen. Aku hanya berniat mengerjai Maya, wanita itu saja yang terlalu manja." Cebik Odion tak mau di salah kan.
"Hanya kau bilang?!" Nada suara Olsen sudah naik 1 oktaf. "Kau membuat nya pingsan dan kakak mengatakan hanya? Astaga! Kenapa kau jahat sekali kak. Ini nama nya diskriminasi terhadap perempuan juga karyawan sebaik dan setelaten Maya. Sungguh aku sangat kesal pada mu."
"Ck! Begitu saja pingsan..." Ujar Odion tetap tak mau di salahkan. Olsen menarik nafas dalam-dalam agar tak menghajar kakak nya sendiri.
"Lain kali jangan keterlaluan kak, Maya bekerja pada ku dengan dedikasi yang tinggi dan selalu mengerjakan pekerjaan nya tepat waktu. Tak pernah sekali pun Maya mengeluh kan jam lembur nya meski dia sudah sangat ingin pulang. Adik nya di rawat di rumah sakit milik keluarga Sanders, sudah 1 tahun ini kak. Adik nya koma pasca operasi pengangkatan tumor di kepala nya, dan sampai sekarang belum ada perubahan." Olsen menatap kakak nya dengan tatapan mengiba.
"Aku mohon, berhenti lah mengganggu sekretaris ku. Maya sudah cukup banyak menanggung beban pikiran, jangan kakak tambah lagi. Kakak tidak bisa menilai penampilan seseorang hanya karena apa yang kakak lihat. Jika Maya pecinta pakaian seksi, itu hak nya. Kalau kakak tidak suka, kakak tidak perlu menoleh pada nya. Cukup jaga pandangan kakak saja, tanpa harus menyalahkan penampilan nya."
__ADS_1
Odion tertegun, entah kenapa kalimat sang adik seperti menubruk relung hati nya. Pria itu menatap wajah sang adik yang mengiba pada nya hanya untuk seorang sekretaris. Apa adik nya menyukai Maya, kenapa hati nya tak rela.
"Baik lah, baik lah...maaf kan kakak, sudah lupa kan tentang Maya. Ada hal yang jauh lebih penting yang ingin kakak sampai kan pada mu. Kakak harap ini mampu menebus kesalahan kakak padamu juga sekretaris mu itu." Ujar Odion dengan nada sedikit tak enak di dengar.
"Cih! Nada suara mu seperti orang yang sedang cemburu saja. Aku semakin curiga ada sesuatu di masa lalu kalian. Jika benar, kakak akan menyesal telah melukai wanita sebaik Maya. Wanita baik itu banyak pengagum nya terlepas dari penampilan nya yang memang selalu menggoda. Maya memiliki inner beauty yang mampu menghipnotis para pria. Andai saja aku sedikit menyukai nya secara pria terhadap seorang wanita, akan ku jadikan Maya kekasih ku. Sayangnya aku hanya menyukai nya dalam bekerja, bukan dengan hati." Tutur Olsen sengaja membuat kedua telinga Odion mengepulkan asap tebal.
"Cih! Wanita yang selalu mengumbar aurat nya kau sebut wanita baik-baik. Mana tau dia memang menjadikan tubuh nya sebagai aset untuk menjerat pria-pria kaya raya. Tidak ada wanita baik-baik yang mau memperlihatkan tubuh terbuka di depan umum. Lihat lah kekasih ku, selalu memakai pakaian tertutup saat di luar. Carilah wanita seperti itu, agar martabat mu sebagai laki-laki ikut terjaga." Nasihat Odin sok bijak.
Olsen mencibir, dia bahkan tak pernah menyukai kekasih sang kakak. Mau wanita itu menggunakan karung goni untuk menutupi seluruh tubuhnya sekalipun, tak akan membuat hatinya tergugah untuk menerima wanita itu sebagai calon kakak ipar nya.
"Kita langsung saja ke topik pembahasan, apa yang ingin kakak sampai kan pada ku. Aku ingin ke rumah sakit nanti untuk mengantarkan makanan. Maya sedang dalam kondisi kurang sehat akibat ulah seseorang yang iseng nya kelewatan." Sindir Olsen, Odion membuang pandangan ke sembarang arah. Dia kesal adik nya selalu peduli pada Maya.
"Dia bisa delivery, jaman sekarang serba canggih. Jangan terlalu memanjakan nya, makhluk bernama wanita, itu gampang baper. Dia akan berharap lebih pada mu jika kau terlalu perhatian. Cukup pesankan dia makanan dan suruh ojek mengantar nya ke sana. Kenapa harus di buat ribet sih!" Gerutu Odion tak suka dengan perhatian sang adik.
"Terserah aku, kenapa kakak yang sewot sih!" Balas Olsen tak kalah ketus. Pria itu merogoh ponselnya lalu menelpon Maya, menanyakan makanan yang diinginkan Maya. Dan itu membuat dada Odion mendidih tak karuan.
__ADS_1
"Sudah selesai? Ayo fokus pada pembahasan kita." Olsen berpindah tempat duduk agar lebih dekat dengan sang kakak. Odion terlihat mulai serius, artinya pembahasan itu pasti sesuatu yang sangat penting.