Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Pergi


__ADS_3

Satu bulan sudah Olivia menikmati gelar baru nya sebagai nona muda keluarga Jenar. Hubungan nya dengan Mylo tetap berjalan baik, hampir setiap hari Mylo menyambangi rumah Mahesa sekedar untuk sarapan bersama, tak jarang dia membawa Olivia ke kantor untuk menemani bekerja atau sekedar makan siang.


"Nona Olivia, mau bertemu dengan tuan Olsen?" sapa Maya ramah.


"Ya kak, kakak ku tidak sedang ada tamu, kan?" balas Olivia.


"Sekarang masih ada tamu, tunggu saja di sini sebentar. Apa kau sudah makan? aku baru akan pesan nasi Padang dari restoran Padang di seberang jalan sana. Rasa nya endul mendul poko nya. Mau sekalian?" tawar Maya bersemangat, karena ada teman makan siang nya.


"Boleh kak, tapi aku dua porsi ya.." ucap Olivia malu-malu mau. Maya hanya tersenyum geli, dia tau jika Olivia makan dalam porsi tak biasa meski badan nya tetap semungil itu.


"Oke nona, mari kita pesan. Mau tambah lauk apa? lihat sini, lauk nya enak-enak." Maya menyodorkan ponsel nya ke arah Olivia yang tengah duduk di kursi di samping nya.


"Wah! lauk nya banyak pilihan ya kak, aku kaya mau semua deh kak. Eh, kakak ada duit tidak?" Olivia mendadak tak enak sendiri, namun makanan itu terlihat sangat enak di lidah nya.


"Tenang saja, kakak baru habis dapat bonus. Pesan gih, masukkan ke dalam keranjang, nanti kita order sekalian." Titah Maya tersenyum tulus.


Olivia mulai berselancar menscroll mencari menu yang dia sukai. Setelah memesan kedua nya terlibat obrolan ngalor ngidul. Maya banyak memberikan referensi pakaian sesuai untuk gadis seusia Olivia. Namun yang jelas tak seksi seperti diri nya.


Setelah makanan tiba Olivia terlihat tak sabar untuk segera memakan nya. Maya senang melihat Olivia begitu bersemangat saat makan, dia jadi merindukan adik tiri nya. Andai Disa segera bangun, adik nya pasti akan cocok berteman dengan Olivia.


Disa adalah anak bawaan ayah tiri nya ketika menikah dengan ibu nya. Namun Maya sangat menyayangi adik nya itu. Setelah kedua orang tua nya meninggal, dia lah yang menjadi orang tua bagi Disa yang kala itu baru berusia 8 tahun. Dia dan Disa terpaut usia 5 tahun. Maya terpaksa berhenti bersekolah saat baru saja menikmati indah nya bangku SMP.

__ADS_1


Maya bekerja sebagai buruh cuci juga membuat nasi kuning resep peninggalan sang ibu. Padahal usianya baru 13 tahun kala itu. Lalu dua tahun setelah nya dia melanjutkan sekolah nya berkat bantuan beasiswa prestasi dan beasiswa tak mampu dari lurah.


Disa memang sakit-sakitan sejak baru masuk dalam kehidupan nya dan sang ibu, waktu itu usia nya baru 2 tahun. Ayah tiri nya bekerja sebagai seorang security di sebuah Bank swasta dengan gaji yang lumayan untuk mereka sekeluarga. Ayah nya sangat baik, tak pernah membedakan Maya dan Disa. Jika ada sepotong ayam yang tersisa, dia akan membagi dua dengan ukuran yang sama untuk kedua putri nya. Sedang kan dia dan sang istri cukup hanya berlauk kan tempe goreng, kerupuk dan sambal.


Lamunan Maya buyar saat mendengar suara lentingan sendok jatuh ke lantai. Serta makanan yang berhamburan. Wanita itu terkejut bukan main, apa lagi melihat Olivia bergetar ketakutan. Dengan sigap Maya memeluk nya, namun dorongan kuat seseorang membuat tubuh nya terhempas ke dinding.


"Jangan berani-berani nya kau meracuni adik ku dengan cara murahan seperti ini. Kau pikir aku tidak sanggup membeli makanan murah seperti ini, hah!? jauhi adik ku, kau salah jika mengira bisa mengambil hati nya untuk masuk dalam kehidupan keluarga Jenar yang sempurna. Kau hanya wanita murahan yang tak berharga, kau hanya seonggok sampah di mata ku." Desis Odion dengan kejam di depan wajah Maya.


Sekuat tenaga, Maya berusaha menahan tetesan air mata nya agar tak jatuh. Hati nya terlalu sakit mendengar kalimat yang terucap tak manusiawi dari mulut Odion. Dengan sedikit keberanian, Maya menatap tegar wajah pria yang selalu menghina nya tanpa dia tau kesalahan apa yang sudah dia lakukan pada pria itu.


"Aku tak tau apa kesalahan ku pada mu, tuan Odion yang terhormat. Namun kata-kata mu sungguh tak berdasar. Aku menyukai adik mu jauh sebelum aku tau dia seorang nona muda keluarga Jenar. Jika kau merasa bermasalah dengan ku, itu urusan mu. Jangan membuat gadis tak berdosa itu ketakutan karena ulah mu ini. Kakak macam apa kau, adik mu sangat menyukai makanan nya dan kau membuang nya tanpa perasaan." Mata Maya berkaca-kaca, sekali berkedip saja, maka luruh lah tangis nya.


Maya merapikan meja kerja nya, di sana ada Olsen tengah memeluk Olivia. Pria itu menggeleng tak percaya melihat tingkah sang kakak yang sudah sangat keterlaluan.


"Maya, kau bekerja di perusahaan Olivia bukan perusahaan nya. Tetap lah di sini, aku sangat membutuhkan mu." Ujar Olsen berusaha mencegah Maya pergi.


"Maaf tuan Olsen, kehadiran ku hanya akan membuat saudara anda merasa tak nyaman. Lebih baik aku resign saja, mungkin akan ada pengganti ku yang sesuai ekspektasi tuan Odion yang terhormat." Maya melanjutkan mengepak barang-barang nya tanpa menoleh lagi, wanita itu mulai melangkah meninggalkan meja kerja nya.


"Kau puas kak, sudah membuat Livi ketakutan dan membuatku kehilangan sekretaris paling kompeten dalam bekerja? kau sungguh menyebalkan!" Olsen membawa sang adik masuk ke ruangan nya dengan hati yang menahan marah.


Sementara Odion masih menatap pintu elevator yang membawa Maya pergi dari perusahaan itu. Entah kenapa hati nya merasa sakit.

__ADS_1


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Dua Minggu ini mau tak mau Odion harus ikut menghandle pekerjaan Olsen. Adik nya itu masih menyalah kan atas kepergian Maya.


"Huffzz! melelahkan juga bekerja di dua tempat sekaligus." Odion melirik ponsel nya terlihat sebuah pesan dari rekan bisnis nya.


"Kenapa harus club malam sih, kaya tidak ada tempat lain saja untuk melakukan pertemuan." Meski kesal Odion namun tetap menuruti nya.


Setiba nya di club, Olsen langsung menuju ruang VIP di mana rekan bisnis nya sudah menunggu.


"Maaf terlambat tuan Candra, aku sedikit mengalami kendala saat kemari. " Ujar Odion berbasa basi. Dia tak suka melihat para wanita yang berseliweran disana dengan pakaian terbuka.


"Tidak masalah, duduk lah kita bahas bisnis nanti saja. Sekarang mari kita bersulang dulu." ujar pria yang di panggil tuan Candra oleh Odion.


Mau tak mau Odion meminum nya walau hanya seteguk. Mereka mulai membahas masalah proyek, namun baru 5 menit pembahasan, Odion merasakan reaksi lain pada tubuh nya. Terutama saat melihat paha-paha mulus di hadapan nya. Milik bereaksi sempurna.


"Tuan Odion, apa anda baik-baik saja?" tanya tuan Candra meyakinkan.


"Ah ya, tentu. Maaf apa boleh aku ke toilet lebih dulu, panggilan alam." kekeh Odion berusaha tetap menjaga kesadaran nya. Dia tak ingin menerkam wanita ja*l*ang yang ada di sana, lebih baik dia tuntaskan di kamar mandi saja.


"Oh, baiklah. Silahkan.."

__ADS_1


__ADS_2