
Suasana gedung perkantoran Roxy Sanders Group terlihat mencekam layaknya kuburan. Seorang pria muda tampan berjalan dengan gaya angkuh yang hakiki. Meski banyak mata menatap penuh puja padanya, namun tidak bagi seorang gadis cupu yang bekerja sebagai office girl di perusahaan tersebut. Ketampanan pria itu masih terlalu biasa di matanya.
"Hei, kau! hantarkan kopi susu coklat dengan sedikit gula ke ruangan ku. Jangan terlalu manis jangan hambar juga. Rasanya harus pas. Dan ya, jangan terlalu panas, jangan terlalu hangat. Aku tidak suka keduanya. 5 menit harus sudah ada di atas meja kerjaku." Olivia melongo, mendengar perintah tak manusiawi tersebut. Jaraknya menuju pantry saja pulang pergi sudah memakan waktu 5 menit. Belum termasuk membuat kopi dengan varian tak manusiawi sesuai keinginan sang bos.
"Oliii..! meluncur lah ke pantry, waktu mu tinggal 4 menit kurang tak lebih." Seru Mylo membuyarkan lamunan Olivia. Dengan sekali putar, Olivia berlalu dari hadapan Mylo tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hati nya terlalu kesal, pagi-pagi sudah di suguhkan oleh tugas tak biasa dari pria menyebalkan itu.
"Untung bos, kalau tidak sudah ku racun sejak lama. Seenaknya saja main perintah dengan syarat-syarat aneh untuk pesanan nya. Dia pikir aku ini pelayanan cafe apa!" Desnan melirik teman seperjuangan nya dengan tatapan iba. Sejak pria arogan itu mengambil alih perusahaan, kehidupan tenang Olivia berubah miliyaran derajat. Ada saja ulah sang CEO agar bisa membuat hidup Olivia bagai di neraka.
"Kopi susu coklat, tidak manis tidak hambar, tidak panas juga tidak terlalu hangat." Setelah meniru kalimat yang sudah sangat dia hapal mati di luar kepala nya, Desnan tergelak laknat. Delikan mata tajam Olivia menatap tak senang pada rekan kerja nya.
"Dan satu lagi perintah baru dari bos songong bin ajaib itu. Barang siapa yang mentertawai kesialan ku, di persilahkan untuk menyirami mulut nya dengan menggunakan air panas hingga bibir keriting." Olivia menyeringai venom ke arah rekan nya. Susah payah Desnan meneguk air putih yang terlanjur bersemayam indah di dalam mulut nya.
Olivia memang terlihat culun, tapi gadis 23 tahun itu menyimpan kecantikan tersembunyi yang hanya di ketahui oleh Desnan seorang. Karena mereka berasal dari desa yang sama, sejak kecil hingga dewasa selalu bersama. Ide merantau pun Olivia yang menggagas nya, pria itu akan menikah di kampung nya dengan anak juragan beras. Dan di tuntut mahar yang tak sedikit jumlahnya. Tentu saja Desnan tak sanggup, meski si wanita mengajak nya untuk kawin berlari. Desnan menolak tegas.
Mereka merantau tepat sehari setelah di nyatakan lulus SMA. Dan beruntung satu Minggu menganggur dengan menumpang di kos seorang teman sekampung, kedua nya mendapatkan pekerjaan di perusahaan Roxy Sanders Group. Olivia sebagai office girl, Desnan sebagai office boy.
"Ck! kau ini, kenapa serius sekali. Lihat waktu mu hampir habis, berhenti lah menakar suhu dan gula. Ku rasa itu sudah pas. Pergi sana, antar pesanan pak CEO, atau kau akan berakhir seharian di ruangan nya lagi seperti minggu lalu." Usir Desnan mendorong pelan tubuh Olivia menuju pintu keluar dari pantry.
Olivia mendengus kesal, tugas nya terasa berat jika yang memerintah adalah bos songong menurut versinya. Gadis itu lebih memilih untuk membersihkan satu lantai seorang diri ketimbang berurusan dengan seorang Mylo Pratama.
Hampir lima tahun bekerja, baru satu tahun terakhir ini hidup nya benar-benar di uji layak nya menghadapi ujian nasional akhir tahun pelajaran.
__ADS_1
Sama-sama menegangkan, sama-sama menyebalkan.
Tok tok tok
klek
Olivia masuk dengan wajah yang di paksa tersenyum secercah mentari pagi. Harapan nya hanya satu, agar bisa lekas keluar dari sana tanpa terkena masalah tambahan.
"Kau terlambat 3 menit, hukuman mu seperti biasa. Bersihkan toilet ku, juga ruangan ku. Dan hari ini, kau milikku. Tetap di ruangan ini hingga jam kerjamu selesai. Aku ada meeting, habis kan minumanku jangan sampai bersisa setetes pun. Jangan mencoba untuk kabur, dan jangan berbaring di sofa ku dengan pakaian lusuhmu. Jangan sentuh apapun, jangan beranjak kemana pun. Dan terakhir," Mylo menatap Olivia dengan tatapan yang entah.
"..jangan mengumpat ku di dalam hati mu. Jika aku tau, kau ku karungi dan ku buang ke tempat pembuangan akhir. Paham!" Olivia hanya bisa mengangguk patuh, tersenyum semanis madu yang kini terasa sangat pahit di pangkal lidah nya.
Kata-kata Mylo yang bagai kan kereta listrik berkekuatan supersonik, telah membuat hati nya dongkol luar biasa.
"Jangan merindukan ku, aku tau kau diam-diam sering memandangi fotoku di atas meja." Brak! suara pintu di tutup dengan kekuatan maksimum.
"Astaga! kenapa ada pria yang memiliki tingkat kepercayaan diri terlalu tinggi seperti nya. Oh Tuhan, boleh kah aku membunuh nya saja, aku terlalu lelah menghadapi pria arogan itu. Lama-lama aku bisa terserang stroke di usiaku yang masih imut dan menggemaskan ini." Olivia berjalan menuju sofa, meletakkan gelas minuman pesanan sang tuan songong di sana.
Ekor mata nya melirik sofa empuk di hadapan nya dengan mata penuh bintang bertebaran.
"Katanya hanya tidak boleh berbaring, bukan? artinya kalau duduk boleh dong ya.. Olivia numpang duduk ya pak CEO yang baik." Olivia cekikikan sendiri setelah mengatakan kalimat pujian mengesalkan tersebut.
__ADS_1
"Aah nyaman nya, sofa orang kaya memang beda. Sofa di kos mah per semua, syukur-syukur bokong ku tidak jebol selama ini." Olivia mengambil posisi duduk paling nyaman. Dia akan memanfaatkan waktu hukuman nya dengan sebaik mungkin. Selain bekerja di perusahaan tersebut, Olivia juga bekerja di sebuah restoran mulai pukul 6 sore hingga pukul 10 malam. Jelas tubuh nya lelah, di tambah menghadapi sikap bos iseng yang terus mengerjainya tiada henti.
Sementara Mylo tidak fokus pada meeting nya, mata nya terus menatap layar ponsel nya. Tanpa Olivia tau, jika ruangan tersebut telah di pasangi kamera tersembunyi oleh Mylo.
"Jadi seperti itu pak, hasil laporan keuangan tiga bulan terakhir..." ucap seorang pria paruh baya menutup sesi presentasi nya. Semua mata tertuju pada sang bos. Yang kini tengah tersenyum-senyum sendiri menatap layar ponsel nya.
"Khmmm..!" deheman sang asisten membuat perhatian Mylo teralih kan. Dengan gaya sigap, pria itu menetralkan raut wajahnya.
"Oke, kalau begitu meeting ini bisa di tutup. Berikan semua laporan dari masing-masing divisi pada Betran Pete." Pungkas Mylo terdengar menyebalkan di telinga Betran. Nama nya Betran Santoso, tidak ada embel-embel Pete di belakang namanya. Namun bos laknat nya itu selalu saja memanggil nya seenak jidat.
"Bety, kau lanjut kan oke. Tutup meeting ini dengan senyuman terbaik mu, aku sedikit sibuk hari ini. Jadi, jangan berikan aku pekerjaan apa pun. Tolong handle semua apa yang menjadi bagian ku, bonus mu akan ku transfer nanti malam." Setelah melakukan bisikan gaib di telinga kiri Betran yang baru saja dia panggil Bety. Mylo keluar dari ruang meeting dengan wajah datar. Bagaimana pun image tetap harus di jaga.
Wajah Betran nampak layu, meski di iming-imingi bonus. Tetap saja membuat nya tak suka. Terlebih Mylo selalu memanggil nya dengan berbagai sebutan yang tak enak di dengar.
"Untung sahabat, kalau tidak, sudah ku laporkan kau pada nyonya Rosy." Dengus Betran berbisik pelan pada diri sendiri. Entah pada siapa lagi dia harus mengadu. Nasib nya sungguh sial, punya atasan sahabat sendiri. Seperti memancing ikan di dalam aquarium.
...----------------...
**Taraaaπ€π€ Perkenalan dulu satu bab, kalau banyak peminat nya, kita lanjut ya soyongkuh ππ
Ini masih part si bos songong, arogan dan terselip sikap tengil yang tak di ketahui oleh orang lain. Bayangkan bagaimana image seorang Mylo, akan terjun bebas hingga ke perut bumi jika sampai ada yang mengetahui sifat nya tersebut.
__ADS_1
Tinggal kan jejak cinta kalian, komen kalian hebat-hebat dan membangun. Terimakasih banyak untuk kejelian dan koreksi nya, itu sangat berarti bagi othor ππππ
Luv yuu semuanya π€π€π₯°π₯°**