Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Kesal nya Gita


__ADS_3

Senyum sejuta dolar menyala di kedua bola mata nya. Untung saja kapasitas penyimpanan ponsel nya cukup memadai untuk melakukan pekerjaan sampingan tersebut.


"Bermain lah dengan panas anjing liar, aku akan sabar menunggu hingga kau mencapai puncak mu. Puncak kehancuran maksud ku." Kikikan kecil itu sangat kecil. Mungkin hanya diri nya saja yang mendengar nya. Tangga itu jarang di lewati, karena tak ada yang rela membuat baju meraka basah oleh keringat lelah. Kecuali dua insan yang tengah barter ludah tersebut.


Suara lenguhan terdengar sedikit mengusik sang jiwa penguntit tersebut. Jiwa jomblo nya meronta-ronta untuk bergegas pergi dari sana, namun mengingat jika apa yang dia lakukan akan menambah saldo di rekening nya. Suka tak suka, dia harus bertahan dalam ketidaknyamanan itu.


"Dit.. sekarang.." pinta si wanita mulai tak tahan dengan permainan jari si pria yang keluar masuk dalam tempo yang semakin meningkat.


"As you wish baby.." hentakan pertama lolos begitu saja tanpa halangan. Si penguntit menatap ngeri, sungguh di luar ekspektasi nya. Si pria akan kesusahan saat menerobos gawang lawan, nyata nya semudah mencocol kentang goreng ke dalam mangkuk saus sambal. Sungguh wanita yang luar biasa, jam terbang nya sudah tak di ragukan lagi.


Sang tuan tak perlu repot-repot melakukan pemanasan berlama-lama, atau minimal memberikan sedikit pelumas body lotion agar jalan menuju puncak surga tercapai sempurna. Karena lorong menuju ke sana sudah terbuka lebar bagai gerbang neraka, yang siap melahap siapa saja sang pendosa yang terlihat di hadapan nya.


Terdengar lenguhan panjang di menit ke tujuh belas, akhir nya pekerjaan sampingan yang menyiksa batin tersebut usai. Keringat dingin tak hanya mengalir deras di tubuh kedua insan laknat di bawah sana, namun juga di tubuh si penguntit.


Bergegas meninggalkan area panas, diri nya menuju toilet umum di samping pantry. Setelah mencuci wajah nya yang baru saja menyaksikan adegan live, dia menuju pantry untuk membuat kopi. Dia butuh energi kafein dalam jumlah besar sekarang.


"Huffzz! Aku akan mengajukan pengadaan AC di tangga sialan itu. Kenapa elevator sesempit itu harus di pasang pendingin yang menusuk pori-pori kulit. Dasar pasangan jahanam..."

__ADS_1


"Gita..?.kau seperti nya sedang kesal..kenapa tak berbagai dengan ku saja, aku siap menjadi pendengar yang baik." Ujar seorang pria mencolek dagu Gita membuat wanita itu reflek muntah meski hanya mengeluarkan air.


"Jangan menyentuh ku tuan Raditya omes, aku mual, sungguh." Adit terlihat bingung, namun pria itu berusaha tetap bersikap baik dengan memijat punggung Gita. Yang ada gadis itu malah semakin muntah tak terkira. Muncul dugaan di benak adit, jangan-jangan Gita sedang berbadan dua.


"Kau tidak sedang hamil, kan?" Sejenak Gita mencerna, kemudian menginjak keras kaki pria tampan itu tanpa peduli jika pria itu akan marah.


"Aku bukan wanita murahan yang bisa kau masuki di sembarang tempat layak nya seorang ja l ang! Jangan sama kan aku dengan wanita-wanita mu di luar sana. Kelas kami berbeda!" Selesai mengeluarkan kalimat menampar telak harga diri pria itu, Gita melenggang pergi tanpa beban.


Sedangkan Adit masih termangu menatap punggung kecil Gita yang pergi meninggalkan nya dalam rasa marah.


"Ck! Semua wanita sama saja, awal nya jual mahal lalu kemudian mulai mematok harga untuk sekali pelepasan. Cih! Lihat saja jika terbukti kau benar-benar hamil, aku orang pertama yang akan membayar lubang nikmat mu itu hingga kau tak mampu meski sekedar merangkak." Ucap nya dengan seringai jahat.


Hari ini adalah hari yang paling berat bagi Mishy, di mana dia harus berpisah sementara dengan Charlotte juga calon cucu nya. Kedua orang tua gadis itu sudah ada di sana, semua berkat usaha Wira membuat kedua orang itu mau mengikuti anak buah nya.


Charlotte nampak begitu bahagia, meski reaksi pertama kedua orang tua nya tidak lah sebaik harapan nya. Kedua nya mengira Charlotte sengaja melarikan diri karena ingin menutupi kehamilan nya. Setelah mendengar penjelasan Resy dan permohonan maaf yang tulus dari Mishy. Hati sepasang Lochlan tersebut akhir nya melunak.


Kedua nya pun memutuskan untuk tinggal di sana untuk turut merawat sang putri tercinta. Resy pun tak keberatan, dia pun khawatir jika dirinya melahirkan lebih dulu maka tidak ada yang akan merawat Charlotte jika Mia sibuk mengurus nya.

__ADS_1


"Ya ampun sayang, mom sungguh tak rela berpisah dari mu meski hanya sejenak. Kak, tolong jaga baik-baik mereka untuk ku. Kirimi aku video aktivitas yang Charlotte lakukan." Pinta Mishy entah untuk yang keberapa kali nya.


"Ya ya, aku akan mengirim kan video nya setiap jam pada mu, sekarang pergilah sebelum matahari semakin naik. Perjalanan kalian lebih lambat dari siput. Bisa-bisa kalian sampai di kota besok pagi." Usir Resy mendorong pelan sang adik menuju mobil.


"Ck! Kau niat sekali mengusirku. Kau pasti ingin memonopoli Charlotte dan calon cucu ku bukan?" Tuduh Mishy kesal.


"Ya, aku memang berencana akan menguasai nya, kau puas. Wira, tolong pasangkan sabuk pengaman pada istri mu. Berikut tali tambang juga lakban mulut nya agar dia tak cerewet sepanjang perjalanan. Konsentrasi mu bisa buyar karena wanita tua ceriwis ini." Wira tergelak renyah, istri nya memang lebih cerewet sejak menjadi seorang ibu. Dan lebih cerewet lagi saat tau akan menjadi seorang nenek.


"Aku lebih suka istri ku seperti ini, aku tak perlu was-was jika dia hanya diam dan menatap ku datar." Ujar Wira memberikan pembelaan pada sang istri. Mishy tersenyum penuh kemenangan. Suami nya memang selalu bisa di andalkan dalam hal apapun.


"Cih! Dasar pria tua bucin..ya sudah, berhati-hati lah menyetir. Kabari aku di setiap tikungan, aku sedikit khawatir dengan cara mu mengemudi." Ingat Resy dengan raut cemas dan sedikit meremehkan.


"Tenang saja, aku hanya belum terbiasa berkendara sejauh ini. Kami terlalu kaya sehingga biasa pergi kemanapun menggunakan private jet." Ungkap Wira sombong, Mishy terkikik geli. Suami nya mulai ikut miring seperti diri nya, menyombongkan kepunyaan mereka pada sang kakak.


Bibir resy semakin mencebik kesal, suami istri di hadapan nya itu benar-benar minta di tenggelam kan ke tengah laut.


Brak! Resy menutup pintu mobil dengan cara ekstrim. Wira dan Mishy semakin tergelak renyah. Di balik kemudi Wira beberapa kali menekan klakson sebagai tanda perpisahan. Resy mengusap air mata nya diam-diam. Sejati nya wanita itu masih merindu, namun situasi masih belum memungkinkan untuk kembali bersama orang-orang yang dia kasihi.

__ADS_1


Jordan merangkul bahu istri nya, dia tau apa yang sedang di sembunyikan oleh sang istri di pelupuk mata nya.


"Tak akan lama, kita akan kembali ke kota. Berkumpul bersama dan menghabiskan hari tua kita bersama mereka yang sangat kau rindukan." Bisik Jordan mengecup dalam pucuk kepala istri nya dengan sayang.


__ADS_2