
Lexan merasa di atas awan, pria itu bagai mendapatkan hembusan angin surga. Sang istri semalam pamit akan ke Bandung pagi ini, itu arti nya dia bisa membawa Savina ke rumah nya. Ralat, rumah istri nya.
"Kenapa kau terus menatap ponsel mu?" Tegur Noora yang baru saja keluar dari walk-in closet dengan menyeret sebuah koper berukuran sedang.
Lexan yang terkejut, salah tingkah hingga tanpa sengaja menjatuhkan ponsel nya ke lantai. Karena benda keramat itu jatuh persis dekat ujung kaki Noora, wanita itu berinisiatif untuk mengangkat nya. Saat menunduk, rasa panas menjalar hingga ke dalam otak nya.
Rupa nya Lexan sangat ketakutan jika sang istri mulai meraih ponsel nya, yang sedang dalam mode on di aplikasi chatting berwarna hijau. Dengan menahan rasa sakit yang sama Lexan tetap memperlihatkan sisi cool nya, pria itu meminta maaf pada sang istri dengan raut wajah penuh rasa bersalah. Sesungguh nya dia hanya sedang menahan denyut tak karuan di pelipis kiri nya.
"Kenapa kau juga ikut menunduk? Apa kau tak melihat jika aku sedang mengambil nya juga? Aku tak akan melihat isi ponsel mu jika itu yang kau takutkan." Ucap Noora dengan wajah datar, rasa sakit di pelipis kanan nya, membuat emosi nya seketika meluap begitu saja.
Lexan tercengang, ini pertama kali nya Noora memperlihatkan sisi lain dari diri nya, dan itu sukses membuat jiwa Lexan ketar ketir.
"Maaf sayang, aku tak tau jika kau juga ingin mengambil nya. Aku hanya reflek, tak ada apapun yang aku sembunyikan dari mu. Kau bisa cek sendiri ponsel ku, aku sama sekali tak keberatan." Ujar Lexan masih dengan ekspresi wajah yang sama. Sama-sama menjengkelkan di mata Noora.
Tak tau saja, jika degup jantung Lexan seperti suara genderang. Pria itu bertaruh dengan Nyawa nya yang tak seberapa, untuk memperlihatkan jika tak ada rahasia apapun yang tengah dia simpan.
"Aku bukan istri seperti itu, aku bukan ABG labil yang selalu menuntut pasangan dalam segala hal. Lagi pula aku harus segera berangkat, aku turun duluan. Dan ya, jaga kamar ku dengan baik, aku menaruh kamera tersembunyi di kamar ini untuk memantau mu." Gluk!
Kerongkongan Lexan mendadak kering kerontang, arti nya sang istri bisa melihat ekspresi wajah nya ketika sedang bertukar pesan dengan Savina? Oh Tuhan, selamat kan lah diri nya kali ini. Lexan terus berucap kalimat permohonan kepada sang maha kuasa, agar melewatkan adegan di mana dia pernah menelpon juga berkirim pesan dengan Savina.
__ADS_1
Lexan menyusul sang istri ke ruang makan, wanita itu terlihat sedang berbicara dengan seseorang di sambungan telepon. Pembicaraan yang sangat serius, dengan jarak sejauh itu dia tak dapat mendengar nya sama sekali.
"Sayang?" Sapa Lexan ketika kaki nya mulai memasuki dapur. Dia ingin melihat ekspresi kaget dari wajah wanita itu, namun di luar ekspektasi nya, Noora tersenyum pada nya dan masih terus melanjutkan panggilan nya.
"Baiklah, aku tunggu laporan nya." Noora mengakhiri panggilan nya lalu kembali duduk di kursi nya. Lexan terlihat tak tenang, dia ingin bertanya tentang kebenaran kamera tersembunyi yang di katakan oleh sang istri. Namun itu sama saja akan membuat nya di curigai. Lexan benar-benar frustasi.
"Kau terlihat gelisah, apa kau sakit? Jika sakit tak usah bekerja, aku akan meminta Savina menemani mu di rumah. Agar dia tak sendirian di rumah nya, Savira aku ajak ke Bandung hari ini." Kalimat sang istri bagai kan angin segar bagi Lexan, pria itu hampir tak dapat menyembunyikan rasa bahagia nya.
Tak perlu bersusah payah membawa Savina ke sana dengan berbagai alasan, ketika ada keluarga sang istri tiba-tiba bertandang.
"Baiklah, terserah kau saja mana baiknya. Kasihan juga jika Savina jika tinggal sendirian di rumah mereka kalau Savira kau ajak keluar kota." Ujar Lexan menanggapi dengan bijak. Tak ada yang tau jika hati mya sedang bersorak kegirangan saat ini.
Dua minggu pernikahan nya, dia masih belum bisa menyentuh sang istri. Bukan karena ada jejak apapun di tubuh nya, namun istri nya sedang kedatangan tamu bulanan. Sungguh jiwa haus akan belaian membuat Lexan tersiksa. Savira selalu mengintili sang adik seolah tau jika adik nya itu akan bertemu dengan seseorang. Lexan kesulitan menghubungi Savina karena kadang ponsel Savina berada di tangan Savira.
Seminggu ini dia tak pernah mendapat kan jatah nikmat nya, tentu membuat nya uring-uringan tak jelas. Setahun menjalin hubungan dengan Savina, hampir setiap hari Lexan mendapatkan jatah nya. Pria itu akan berpuasa ketika Savina sedang dalam mode merah. Namun itupun hanya berselang tiga hari pertama, karena di hari keempat Lexan sudah tak mampu lagi membendung hasrat nya.
Menggempur Savina meski harus menahan rasa jijik akibat belepotan cairan berwarna merah milik gadis itu. Lexan tak pernah peduli, yang penting hasrat nya tersalurkan.
πΉπ·πΉπ·πΉπ·πΉ
__ADS_1
Setiba di hotel, Savira terus memeriksa ponsel nya. Perasaan was-was terus mendera wanita cantik itu. Noora sedang mempersiapkan perang nya dengan begitu sempurna. Dan Lexan yang bodoh kini tengah menikmati hidangan terakhir nya tanpa tau bagaimana nasib nya besok.
Lalu adik nya pun sedang menuju pintu karma tanpa gadis itu sadari. Sungguh Savira dilema. Di satu sisi Savina adalah adik kesayangannya, namun di sisi lain, Noora adalah atasan sekaligus orang yang telah memberikan nya kehidupan hingga detik ini.
"Kenapa kau masih saja berhubungan dengan tuan Lexan, Savina? Kau telah menempatkan kakak mu ini di antara pilihan yang sulit. Bagaimana cara ku untuk membawamu ke jalan yang lurus, jika kau sendiri tak ingin melakukan nya." Gumam Savira frustasi.
Sejati nya, Savira tidak benar-benar ke luar kota, begitu pun Noora. Mereka menginap di hotel kecil di ujung kota itu.
Di Kamar lain, Noora menyalakan laptop nya. Terlihat dua insan tengah berenang di kolam renang milik nya. Kedua insan itu sedang bertukar ludah dan saling meremas satu sama lain. Terlihat Lexan bagai singa jantan kelaparan, melahap apa saja yang terpampang di hadapan nya.
Puas bermain di area luar, Lexan membawa Savina naik ke permukaan. Savina mengambil posisi berjongkok dengan dua kaki berlutut di atas kursi santai favorit nya. Noora mengepalkan kedua tangan nya, menahan kemarahan juga sesak.
Bukan lagi sesak karena kecemburuan, karena rasa itu sudah mati sejak malam pengkhianat Lexan pada nya. Lebih pada kemarahan, karena kedua hewan liar itu bercinta dan mengotori rumah impian yang dia bangun dengan segala hasil jerih payah nya sendiri.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
...****************...
...Hollaπ€π€...
__ADS_1
...Apakah cerita Noora masih memiliki peminat?π€π₯² tinggal kan jejak kalian, okeππ...
...Luv yuu kalian semuaπ€ππ€ππ€ππ€...