Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Kenangan Manis


__ADS_3

"Kenapa?" Maya bertanya bingung saat melihat Olsen berlari kecil seperti kabur dari sang suami.


"Tidak sayang, Olsen hanya meminta hadiah kecil dari ku. Apa kau lelah, kita duduk saja di sana. Kau pasti lapar kan, lihat wajah mu pucat." Alih Odion menatap sang istri penuh perhatian. Dia lebih takut jika istri nya kelelahan.


"Aku baik, aku hanya merasa tak percaya diri. Begitu banyak rekanan bisnis yang di undang, kebanyakan mereka sudah mengenal ku sebagai mantan sekretaris Olsen. Dan melihat kondisi ku seperti ini, pasti mereka akan berpikir buruk tentang ku." Ungkap Maya jujur. Wanita itu menunduk sedih dan juga malu, keluarga Jenar yang terhormat memiliki menantu yang hamil duluan seperti diri nya.


"Sayang, jangan pedulikan mereka. Semua ini salah ku, kau hanya korban. Tapi korban yang sangat aku cintai. Jadi abaikan tatapan tak penting mereka. Kau istri ku sekarang, menantu sulung keluarga Jenar. Papa sangat menyayangi mu meski terlihat tak peduli. Lihat lah, pernikahan yang katanya akan di adakan sederhana saja. Namun malah menjadi pesta pernikahan yang meriah. Papa sungguh-sungguh ingin dunia tau, siapa menantu nya." Tutur Odion menenangkan hati istri nya.


Maya menatap lurus ke arah ayah mertua nya, yang terlihat begitu bersemangat menyapa para tamu undangan lalu memperkenalkan ayah angkat nya sebagai besan nya tanpa rasa malu. Pak Ridwan yang hanya seorang pensiunan, namun di perlakukan dengan sangat baik oleh Mahesa.


Maya tersenyum haru, lalu beralih menatap pasangan yang tengah menebar racun serangga pada para jomblo sejati. Mylo dan Olivia. Mylo dengan telaten menyuapi cake ke mulut Olivia, sesekali mengusap nya dengan tisu. Maya tersenyum geli, kala mendapati beberapa pasang mata menatap iri kemesraan tersebut.


"Kau baik-baik saja sayang?" tanya Odion khawatir.


"Baik, sangat baik malah. Di tambah aku sangat bahagia." Jawab Maya menatap dalam manik suami nya.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau tersenyum? kau tidak sedang tersenyum pada pria lain, kan? aku tak ingin ruang resepsi ini berubah menjadi ruang pertumpahan darah karena aku khilaf memutilasi seseorang." Ujar Odion dengan tatapan waspada.


Maya hanya bisa menghela nafas panjang, suami nya benar-benar menakutkan.


"Aku tersenyum melihat adik mu, dia sangat manis. Pertama kali melihat nya tertidur di ruang kerja Mylo, aku sempat berpikir jika gadis mungil dan menggemaskan itu adalah adik nya. Namun melihat seragam nya, aku ragu. Pikiran ku terfokus pada putri tidur yang sedang mendengkur halus, dari pada pada tujuan pertemuan ku dengan Mylo saat itu. Olivia seperti bayi baru lahir, terlihat sangat polos dan lucu. Aku langsung menyukai nya saat itu juga, gadis manis yang tidur tanpa peduli pada siapa pun. Dan Mylo dengan telaten mengusap air bah yang keluar di sudut bibir nya." Cerita Maya mengenang.


Wanita itu tertawa kecil kala mengingat momen tersebut. Terlihat jelas jika Mylo begitu menggilai gadis mungil sederhana seperti Olivia, tanpa peduli dengan latar belakang nya.


"Adikku itu memang unik, kasihan Mylo seperti mengurus bayi ketimbang di urus setelah mereka menikah nanti. Aku sedang berusaha melakukan perawatan terapi pada saraf otak Olivia. Dokter mengatakan butuh waktu cukup lama, untuk membuat nya pulih meski tak benar-benar pulih sempurna. Usia ikut mempengaruhi, andai di lakukan di usia masih belasan, akan lebih memiliki peluang kesembuhan total." Sambung Odion ikut menatap sang adik yang mulai terlihat menguap berkali-kali.


Entah bagaimana Mylo bisa begitu menggilai sang adik. Meski Olivia mereka sangat cantik, pria lain akan berpikir ribuan kali untuk menjadikan Olivia sebagai seorang kekasih. Apa lagi saat Olivia masih bukan siapa-siapa. Namun cinta Mylo tak memandang latar belakang, tulus dan murni, semurni hati seorang anak remaja yang baru pertama kali mengenal cinta.


Sama seperti pasangan pengantin baru lain nya, Odion dan Maya pun mengalami kecanggungan di malam pertama mereka ketika sudah resmi menjadi suami istri.


"Sayang? kenapa kau belum tidur?" tanya Odion heran. Diri nya baru saja bertemu dengan sang ayah untuk membahas sesuatu sesuatu hal yang penting.

__ADS_1


"Aku..hanya belum terbiasa tidur di tempat asing." Ujar Maya jujur. Namun yang lebih penting Maya hanya sedikit trauma jika hanya berdua dengan Odion. Namun tak ingin membuat Odion tersinggung.


"Sayang..maaf jika aku membuat mu harus terbiasa mulai sekarang. Papa tak mengijinkan ku untuk pergi dari rumah ini meski aku sudah membicarakan nya tadi." Maya terkesiap, dia tak menyangka Odion akan membahas perihal tempat tinggal. Bagi nya tingggal di mana pun tak masalah, dia hanya masih belum terbiasa dengan status baru yang dia sandang.


"Kenapa melotot gitu sih?" ujar Odion gemas sendiri, Pria itu mengecup kilas bibir sang istri tanpa tau jika Maya masih takut kepada nya.


"Kenapa membicarakan tentang hal itu pada papa? aku jadi tidak enak. Tidak masalah mau tinggal di mana saja, aku hanya belum terbiasa dengan status baru ku. Aku masih..." Maya sedikit ragu untuk mengatakan nya, dia tak ingin membuat Odion merasa tersakiti.


"Apa kau masih belum siap menerima ku sepenuh nya sayang? kau belum siap dengan status hubungan kita sekarang ini?" tanya Odion beruntun. Dia mulia sadar arah pembicaraan sang istri, dan sedikit merasa tak nyaman karena terkesan memaksa kan kehendak pada Maya.


Pernikahan mereka terjadi karena desakan sang ayah, dia tau Maya masih belum sepenuh nya menerima diri nya. Namun dia pun mengakui jika dia mengambil kesempatan tersebut untuk mengikat Maya dengan status pernikahan.


Maya terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Di sisi lain hati nya dia merasa senang, ada perasaan yang tak dapat di uraikan. Namun sisi lain hati nya masih merasakan trauma akibat kejadian malam itu, dan masih sulit di hilang kan sepenuh nya.


"Sayang, maaf kan aku. Aku tau perbuatan ku begitu rendah dan aku tak mengelak nya. Tapi ijin kan aku menghapus ingatan buruk dari perbuatan buruk itu. Ijin kan aku mengganti nya dengan bayangan manis yang akan kau kenang seumur hidup mu." Mohon Odion dengan tatapan mengiba. Sungguh dia sangat mencintai istrinya, perasaan cinta yang amat sangat besar.

__ADS_1


Maya menatap lurus wajah sang suami, berusaha mencari kebohongan atau sekedar janji semu. Namun hanya binar cinta yang terlihat dari tatapan sendu sang suami.


Odion maju beberapa centi, mendekatkan wajah nya hingga hampir tak berjarak. Menempelkan bibir nya dan mulai melu*mat bibir tipis istri nya. Maya terlihat tegang, namun dia berusaha melawan traumatis nya agar tak berkelanjutan. Ciuman hangat mulai saling menuntut, Maya hampir kehabisan oksigen akibat ciuman panas tersebut


__ADS_2