Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Tersiksa nya sang klien genit


__ADS_3

Charlotte meringis melihat mertua nya yang semakin hari, semakin dia ketahui ternyata terkadang sangat konyol sekaligus mendebarkan di saat-saat tertentu.


Miguel rupa nya langsung mandi dan saat keluar, wajah nya terlihat lesu. Istri nya telah pergi, namun senyum nya mengembang sempurna saat mengingat momen panas mereka semalam. Charlotte begitu bersemangat memimpin permainan mereka di tengah perut nya yang membulat sempurna.


"Aishhh...kau membuat ku semakin mencintai mu sayang. Aku harap nanti malam kau akan datang lagi, aku masih merindukan mu istri hantu ku." Gumam Miguel senyum-senyum sendiri.


Klek


Wira melongok kan kepala nya, dan tersenyum geli melihat tingkah Miguel yang kini tengah memeluk bantal milik istri nya.


"Khmmm!" Dehem Wira mengganggu aktivitas menyenangkan bagi Miguel.


"Dad?" Ujar Miguel salah tingkah, seolah tengah ketahuan mencuri sesuatu.


"Hari ini ada meeting dengan salah satu klein perusahaan farmasi nenek, daddy harap kau tak lupa." Ujar Wira mengingat kan kembali.


"Ah ya, hampir saja...aku melupakan nya." Sahut Miguel tersenyum tak jelas. Wira menggeleng pelan, putra semakin dewasa semakin membuat nya khawatir.


"Cepat pakai pakaian mu dengan rapi, dan jangan lagi memakai dasi terbalik juga minyak rambut cair berwarna hijau itu. Kau akan membuat klien kita kabur semua karena mencium aroma nenek tua dari tubuh mu." Ujar Wira menatap serius wajah tengil Miguel yang belakangan sering membuat nya kewalahan menghadapi nya.


"Baik dad...tapi tidak janji." Gumam Miguel di akhir kalimat nya dan itu masih terdengar jelas oleh sang ayah yang baru akan menutup daun pintu.


"Bukan kah itu bagus, siapa suruh selalu mencari kesempatan untuk berdekatan dengan ku. Apa aku perlu menambah ukuran cincin ku agar terlihat lebih besar dan jelas di mata para wanita gatal itu?" Miguel menatap cincin keramat nya, cincin yang di sinyalir berasal dari negeri para arwah tersebut.

__ADS_1


"Seperti nya terlalu kecil, itu kenapa para wanita itu tak bisa langsung melihat nya." Pria terus bergumam tak jelas sembari menatap cincin pernikahan nya.


Bukan tanpa alasan Miguel membeli minyak rambut merk terbaik pada masa nya. Urang aring dengan aroma yang khas dan menyengat tersebut. Agar para wanita risih saat berdekatan dengan nya. Miguel juga sering memakai pakaian dengan asal dan memilih untuk memakai kemeja yang belum di gosok. Itu sengaja, dia ingin membuat pandangan para wanita, menatap nya ilfil.


Namun Gita dan Yoga lah yang terkena imbas nya. Berada satu mobil dengan Miguel membuat kedua insan itu harus ekstra menahan nafas.


Aroma minyak rambut juga minyak angin cap kapak naga geni, membuat kedua mya di landa mabuk perjalanan yang parah meski hanya dalam waktu beberapa menit. Sehingga saat bertemu dengan klien, kedua nya sudah seperti zombie. Menahan mual dan sakit kepala yang luar biasa.


"Kak, kau tak menggunakan produk kecantikan mu lagi kan? Kalau ya, silahkan makan di meja dapur. Kami ingin sarapan dengan tenang tanpa di ganggu aroma laknat dari tubuh mu kak." Ujar Mercy mewanti-wanti, gadis itu berdiri menatap pada sang kakak dengan tatapan menyelidik.


"Hari ini tidak, kakak akan memakai nya ketika akan berangkat bertemu klien." Balas Miguel enteng.


"Kak!" Suara berat Wira membuat Miguel mengangkat dua jari nya.


Mishy menatap sang suami begitu pula sebalik nya.


"Terserah kau saja, pasti kan kau membawa mobil sendiri. Yoga dan Gita biarkan pergi dengan mobil mereka sendiri." Ujar Wira akhir nya.


Miguel tersenyum puas, "baik dad." Sahut pria itu dengan senyum tak berdosa.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Nona Catherine terlihat risih duduk di dekat Miguel, aroma yang menguar dari tubuh Miguel membuat nya mual. Menyesal dia telah memilih duduk di dekat pria tampan itu. Ternyata, rupa tampan nya tak sesuai dengan aroma tubuh nya yang menurut nya menjijikkan.

__ADS_1


Miguel mengatup bibir nya sebisa mungkin bersikap biasa saja, dan tak lupa gaya cool yang cenderung dingin dan tak gampang akrab.


"Jadi bagaimana nona Catherine? Saya harap kerja sama kali ini bisa membuat kedua belah pihak tidak hanya mendapatkan untung, tapi juga semakin kompak dan solid dalam menjalin hubungan kinerja yang lebih baik." Ucap Gita yang ingin segera menyudahi sesi pertemuan tersebut.


Dia sudah menahan mual sejak tadi, selain dua aroma laknat yang biasa Miguel gunakan. Kini Miguel juga menambahkan satu lagi aroma terapi di tubuh nya. Yaitu dengan aroma parfum oplosan versi bapak-bapak alay yang genit dan berperut buncit.


"Ah ya, gimana? Maaf, konsentrasi saya sedikit buyar. Saya setuju semua yang tertuang dalam surat kontrak kerja sama kita, dan untuk pertemuan selanjut nya mungkin akan langsung di lapangan saja. Ada perwakilan perusahaan kami yang akan mewakili untuk bertemu langsung dengan kepala proyek di lapangan." Ucap Catherine cepat menanggapi kalimat Gita. Wanita itu pun sama hal nya dengan Gita, Catherine ingin segera enyah dari sana secepat mungkin.


"Baik kalau begitu pertemuan kita cukup sampai di sini. Apa nona Catherine masih memiliki banyak waktu luang? Kita bisa menambahkan pesanan makanan nya." Tawar Miguel begitu ramah dan mendadak murah senyum hari ini.


Gita bergidik negri di susul Yoga yang segera memotong cepat kalimat sang atasan.


"Saya sudah sangat kenyang, begitu pula dengan Gita. Entah jika nona Catherine, mungkin masih lapar dan ingin menambah beberapa menu. Silahkan saja, hanya saja kami harus pamit untuk undur diri lebih dulu. Ada beberapa pekerja kantor yang tidak bisa di tinggal terlalu lama." Sela Yoga dengan kalimat cepat tanpa jeda.


Catherine melotot mendengar kalimat asisten Miguel yang terkesan ingin menumbalkan nya di sana, agar mati perlahan karena kekurangan oksigen.


"Ah, itu_aku juga tidak bisa berlama-lama, selain sudah sangat kenyang, pekerjaan ku hampir mencapai deadline yang seharus nya selesai sore ini juga." Tolak Catherine terlihat pucat pasi.


Wanita itu begitu gelisah dan berharap Miguel tak keberatan dengan penolakan nya.


"Oh, sayang sekali. Tapi tak apa, baiklah kalian bisa duluan." Ucap Miguel terlihat seperti orang yang kecewa berat.


"Tagihan nya biar aku yang membayar nya tuan Miguel, kalau begitu aku pamit duluan. Taksi ku sudah menunggu di depan. Permisi dan selamat siang." Catherine meraih tas nya dan bergegas keluar dari ruang VIP restoran tersebut. Langkah lemah gemulai nya sejak pertama kali datang kini terlihat berbeda. Kaki jejang nya dia bawa melangkah selebar mungkin agar lekas menjauh dari tempat laknat itu.

__ADS_1


__ADS_2