
Setelah terbuka, mata nya melotot sempurna. Kepala Mishy berdarah dan hidung nya juga mengeluarkan darah segar. Dan apa yang dia lihat sungguh membuat nya sesak nafas. Rambut palsu Mishy bergeser dari tempat nya. Dengan tangan bergetar, Resy mengangkat kepala Mishy ke pangkuan nya.
Wanita itu berteriak dalam tangis histeris, berharap seseorang akan mendengar nya. Di tatap nya wajah tirus Mishy dengan hati begitu perih. Lalu melihat pergelangan Mishy yang masih meninggalkan jejak jarum. Dia yakin, Mishy bukan pergi untuk sebuah pekerjaan. Wanita itu sakit parah.
Klek
pintu utama menuju ruangan Resy terbuka, Mia menjatuhkan nampan makanan Resy ketika melihat pemandangan di hadapan nya. Bergegas wanita itu melaporkan apa yang dia lihat pada seisi rumah besar sang nyonya.
"Kau apakan dia nona Resy?!" bentak Jordan mengambil alih Mishy dari pangkuan Resy, meski Resy menolak.
Jordan bahkan hampir melayang kan tamparan jika Mia tak mengingat kan nya. Sang nyonya lebih butuh pertolongan segera.
"Kurung dia kembali, dan jangan berikan wanita itu makanan hingga besok pagi. Itu hukuman nya karena berani menyakiti nona Mishy." Jordan menatap nyalang ke arah Resy yang masih terduduk dengan tubuh bergetar.
Kini tinggal lah Resy dan Mia seorang diri.
"Nona, anda harus kembali masuk ke dalam. Jangan membuat tuan Jordan semakin marah. Entah bagaimana bisa anda keluar dari sana, tak peduli sebaik apa maksud anda. Tapi semua orang telah menganggap anda sebagai wanita yang sangat jahat. Jadi jangan persulit diri anda sendiri. Patuhi kata-kata ku akan lebih baik bagi anda." Nasihat Mia panjang lebar.
__ADS_1
Wanita itu tau Resy telah berubah beberapa bulan terakhir, namun berusaha tetap mempertahankan ego nya di hadapan Mishy. Dan setelah sebulan ini tak lagi melihat Mishy mendatangi nya ke sana, Resy menjadi lebih pendiam. Meski tetap memakan makanan nya hingga habis, tetap saja wanita itu terlihat tak begitu bersemangat.
"Katakan pada ku Mia, apa yang terjadi pada Mishy. Aku yakin Mishy tidak sedang baik-baik saja, dan kau berbohong soal kepergian nya ke luar negeri. Katakan Mia, aku hanya ingin mengetahui keadaan nya saja. Aku mohon..." Mia menatap nanar pada Resy dengan perasaan tak menentu. Dia tak mungkin berkata jujur, namun melihat ketulusan di wajah wanita itu, membuat nya iba.
"Nona Mishy menderita kanker otak stadium akhir, satu bulan ini nona di rawat di sebuah rumah sakit swasta di kota ini. Dan baru saja kembali tadi pagi, nyonya seharus nya tak kemari. nona baru saja melakukan transplantasi ginjal kanan nya." Jelas Mia dengan suara serak. Wanita itu menangis, dia tau perjuangan sang nona dalam upaya menyembuhkan diri.
Resy terpekur, kepala nya seperti tertimpa batu besar. Dada nya seperti ada yang mengikat nya dengan kuat, sesak. Resy kesulitan bernapas dengan baik bahkan lebih sulit dari pada hukuman yang sering Mishy lakukan pada nya.
"Apa keluarga nya mengetahui tentang kondisi nya, Mia?" entah mengapa dia begitu yakin Mishy tak akan mengatakan apapun pada keluarga nya.
Mia menggeleng lemah, tangis Resy semakin keras. Wanita itu memukul dada nya yang terasa sesak.
"Aku harus keluar nona, dan makan siang mu akan ku ganti. Nona Mishy pasti akan marah jika tau kau tak di beri makan yang layak, nona sangat menyayangi anda. Selama nona dalam pengobatan, nona selalu berpesan agar memenuhi semua kebutuhan anda jangan sampai ada yang terlewati. Anda harus tetap sehat, karena anda yang kelak akan mengganti kan peran nya sebagai seorang ibu saat nona pergi." Mia berjalan keluar dengan tergesa-gesa, sebelum diri nya kembali menangis di sana.
"Tidak Mishy, kau tidak boleh pergi kemana pun. Aku tak mengijinkan mu, tak akan pernah
Aku tak akan bisa menjadi seperti dirimu, aku bahkan tak tau bagaimana menjadi seorang ibu apa lagi seorang ayah sekaligus. Aku tak bisa, aku tak mau. Kau harus tetap bertahan, apapun cara nya." Resy berbicara sendiri sambil terus menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
Wanita itu sudah seperti orang linglung, kenyataan yang baru saja dia ketahui membuat nurani nya yang mati hidup kembali. Dia tak mau kehilangan adik sepupu yang begitu menyayangi nya sejak mereka kecil.
Meninggalkan resy dalam sejuta sesal dan rasa sesak akan kenyataan. Wira dan Justin kini tengah menikmati perasaan lega. Lega karena lamaran dadakan nya di terima dengan baik, semua tak lepas dari peran Justin putra nya.
"Apa kita langsung ke rumah bibi cantik, aku membawa baju ganti di tas ku." Ujar Justin bersemangat.
"Pantas saja tas mu terlihat gemuk. Rupa nya kau membawa harta Karun." kekeh Wira mengacak rambut sang anak.
"Aku terlalu bersemangat hari ini, dan aku juga bahagia. Akhir nya daddy bisa kembali bersama bini cantik. Kapan kalian akan menikah, aku sudah tak sabar untuk memanggil nya mommy." Cecar Justin berbinar-binar.
"Dua minggu lagi, bibi cantik harus memulihkan dir nya terlebih dahulu. Pernikahan akan menguras energi, daddy tak ingin bibi cantik mu kelelahan." Ujar Wira menjelaskan, tanpa tau jika orang yang tengah mereka bicara kan tengah berjuang di ujung maut.
Mishy di bawa Jordan kembali ke rumah sakit yang baru saja mereka tinggal kan beberapa jam yang lalu. Mishy sudah merasakan tubuh nya mengalami perubahan, namun dia ingin bertemu dengan anak-anak nya sebelum waktu nya habis. Nyata nya kenyataan tak seindah harapan. Tubuh nya tak mampu bertahan lebih lama.
Suara klakson mobil Wira terus menguar di depan pintu gerbang rumah Mishy, hingga akhir nya seorang pelayan menghampiri. Kebetulan pos jaga sedang kosong. Sang petugas sedang menjadi sopir dadakan ke rumah sakit. Karena Jordan menangku kepala Mishy di jok belakang.
"Tuan Wira bukan?" tanya sang pelayan memastikan, dia baru melihat Wira sekali tadi pagi. Dan dia belum begitu menghapal wajah pria tersebut dengan baik.
__ADS_1
"Benar, aku ingin bertemu dengan Mishy." Jawab Wira dengan senyum ramah, ada binar kebahagiaan di manik bening nya kala menyebut kan nama Mishy.
"Nona sedang di bawa kembali ke rumah sakit tuan, tadi nona pingsan di da...." belum sempat sang pelayan menyelesaikan kalimat nya, Wira sudah memutar tubuh nya menuju mobil. Langkah lebar setengah berlari, pria itu di landa kepanikan luar biasa.