
Satu jam berlalu, para lansia itu kembali masuk ke dalam sana. Jantung Lexan berdetak lebih cepat dari biasanya, keringat dingin mulai membasahi sebagian besar tubuh nya. Ketakutan nya semakin menjadi, kala melihat si tua Mishy mulai memasukkan semacam cairan ke dalam sebuah spuit 50 cc tersebut.
"Kau sudah siap Lex?" Sungguh pertanyaan basa basi yang seharusnya tak perlu. Siapa yang akan siap menghadapi kematian nya sendiri. Lexan terdiam, diam nya menjelaskan jika sungguh dia tak akan pernah siap.
"Maafkan kami semua, maaf jika selama ini aku yang paling bersemangat dalam menyiksa mu. Miguel memang putra kakak ku, tapi aku adalah ibunya. Kau tak akan pernah mengerti, cukup tau saja. Dan aku tak rela kau menyakiti cucu kesayangan ku. Dan maaf jika aku kembali menggores luka di punggung mu, itu karena aku tak terima akan kenyataan hidup yang kembali menerpa kehidupan Noora ku tersayang melalui putri nya. Kau pasti kebingungan, ini bukan salahmu tapi kaulah yang kami jadikan pelampiasan. Anggap saja para lansia ini sedang galau, sehingga menjadikan mu objek yang tepat sebagai sasaran yang tepat pula."
Mishy bersitatap dengan manik Lexan yang penuh ketakutan.
"Tolong ingat ini Lexan, apa yang kami lakukan, semua rasa sakit yang kau alami. Semua itu agar kau belajar untuk tak menyakiti siapapun lagi. Karena kau pun sudah merasakan, betapa tak enak nya menerima luka fisik juga luka batin di saat bersamaan. Sesaat cairan ini masuk ke dalam tubuh mu, maka kau punya beberapa detik untuk mengingat wajah cantik putri mu. Pergilah dengan membawa kenangan tentang nya meskipun cukup singkat. Ucapkan salam perpisahan yang penuh kesan di dalam hatimu, agar kau bisa menyusuri lorong waktu dengan perasaan sedikit lebih damai." Mishy mengakhiri sesi pemberian wahyu singkat nya pada Lexan.
Wanita dengan tangan keriput itu mulai menyuntik kan jarum tajam itu pada lengan kurus Lexan.
Berselang beberapa detik, degup jantung Lexan mukai bekerja tak biasa. Nafas nya tersendat-sendat serta kepala nya tiba-tiba berputar hebat. Dalam ingatan terkahir nya, justru wajah polos penuh kesedihan Silvery lah yang terekam jelas di memori nya. Disisa kesadaran nya, Lexan berusaha untuk mencari jejak wajah sang anak. Namun nihil, bayangan wajah Silvery lah yang menari-nari bagai kaset rusak di otaknya.
Hingga kegelapan menjemput, hanya wajah wajah Silvery yang Lexan bawa sebagai kenangan dalam memori nya.
Para lansia itu saling bertukar pandang, saling menginstruksikan dengan kode masing-masing yang hanya mereka saja yang memahami nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
"Pagi bu dokter.." sapa seorang pria duduk tanpa permisi di sisi kosong di samping Naura. Gadis itu acuh tak acuh, melahap mie kuah kaldu kesukaan nya tanpa peduli pada pria tampan di samping nya.
"Serius amat sih, awas keselek mie baru tau rasa." Ucap nya lagi berusaha menarik perhatian Naura. Namun gadis itu masih bergeming.
__ADS_1
"Mas! Aku pesan mie kuah yang kaya di makan sama bu dokter cantik ini juga dong. Kali aja aku langsung tuli dan bisu pas makan menu yang sama dengan budocan ini." Kali ini kalimat Rafka berhasil membuat Naura tersedak.
"Berisik!" Ketus gadis itu setelah meneguk segelas air putih milik nya hingga tandas.
Bukannya kesal, Rafka malah tersenyum lebar. Akhir nya umpan nya dapat kan? Dokter jutek itu akhirnya teralih kan meski dengan wajah kesal maksimal. Tak apa di tatap jengkel daripada tidak sama sekali, begitu lah pikir Rafka.
Dengan lancang, Rafka mengusap sudut bibir Naura yang masih terlihat sisa kuah mie dengan sedikit bumbu halus. Membuat gadis itu benar-benar murka.
Plak
Suara keras menggema di kantin rumah sakit tersebut. Rafka merasa kan hawa panas menjalar di pipi kiri nya. Tamparan Naura sungguh di lakukan dengan penuh perasaan.
"Jaga sikap mu, aku bukan gadis yang bisa kau sentuh seenaknya seperti wanita-wanita mu itu." Desis Naura menahan gejolak amarahnya. Rafka terpekur, sungguh dia tak marah karena tamparan Naura. Namun tuduhan gadis itu lah yang membuat nya berpikir keras.
Sepanjang koridor menuju ruangan sang adik, Naura tak henti-hentinya berdumel kesal.
"Dasar pria mesum, dia pikir bisa merayuku seperti dia merayu para dokter dan suster genit itu. Enak saja sentuh-sentuh bibir ku, ihhh najis!" Gumam gadis itu berkali-kali mengusap sudut bibir nya.
Brugh
Naura nyaris terjengkang ke arah belakang, jika saja tak ada lengan kokoh dari orang yang tak sengaja dia tabrak menopang tubuh nya.
"Lepas!" Desis Naura marah.
__ADS_1
"Hah? Ah, maafkan aku nona. Aku hanya ingin menolong anda." Ujar seorang pria merasa bersalah, namun ada perasaan hangat kala bersentuhan dengan gadis tersebut. Perasaan yang tak dapat di jelaskan dengan kata-kata.
"Seharusnya kau jalan itu selain pakai kedua kaki ku, gunakan mata mu juga untuk melihat." Ketus Naura tak ingin merasa bersalah.
"Sekali lagi maafkan aku nona, aku sungguh tak sengaja. Anda tidak apa-apa?" Ujar si pria lagi tak enak hati karena lancang menyentuh seorang gadis tanpa ijin.
"Aku baik, kau cleaning servis baru?" Tanya Naura menyelidik. Naura mengenal hampir semua orang yang bekerja di rumah sakit milik keluarga nya. Itu karena selama beberapa tahun menempuh pendidikan dia melakukan praktek kedokteran nya di sana. Dan sekarang menjadi seorang wakil direktur, tentu dia akan tau jika ada pekerja baru. Meski hanya seorang CS.
"Benar nona, saya baru bekerja selama satu minggu ini?" Jawab pria berseragam CS tersebut masih menundukkan pandangan nya.
"Kau mines?" Tanya Naura lagi seperti seorang detektif yang tengah mengintrogasi tahanan nya.
"Ti..benar nona." Jawab si pria sedikit gugup.
"Tidak apa benar! Beri jawaban yang tegas, aku tak suka memiliki pekerja yang tak punya pendirian." Tegas gadis itu membuat si pria ketar ketir.
"Sebenar nya mata saya sedikit tidak nyaman terhadap cahaya, kepala saya akan langsung mengalami pusing yang hebat. Untuk itu saya memakai kaca mata anti radiasi yang di sarankan oleh seorang Dokter." Ungkap si pria apa ada nya.
Naura terlihat manggut-manggut paham.
"Baiklah, jika kau masih tak nyaman dengan situasi di luar, kau bisa meminta pindah ke bagian dalam gedung rumah sakit saja. Aku adalah wakil direktur di rumah sakit ini. Namaku Naura Scout." Ucap Naura sedikit melunak meski dengan nada yang datar.
Sedangkan si pria merasa kan jantung nya berdegup semakin kencang. Keringat mulai membasahi kepala nya yang tertutup topi.
__ADS_1