
Resy terlihat menelisik ke berbagai penjuru, mencari sesuatu yang dia yakin masih ada di sekitar sana. Dan ya, pandangan nya menangkap sosok yang dia cari. Senyum wanita itu melengkung sempurna.
"Kau lihat itu adik ku," tunjuk Resy menggunakan isyarat dagu nya, Mishy mengikuti arah pandangan sang kakak dan terdiam sejenak.
"Aku tak menyangka, jika ja la ng kecil itu adalah anak kemarin sore." Ungkap Mishy seolah sudah mengetahui sesuatu. Resy menatap nya dengan tatapan menyelidik.
"Aku tanpa sengaja mendengar Noora mengeluarkan uneg-uneg nya di toilet restoran di pagi pertama pernikahan nya. Hanya sebatas rasa sakit yang Lexan perbuat, aku tak menyangka buruan kita hanya lah anjing kecil yang sedikit liar." Mishy menyeringai penuh rencana.
"Mau kita apakan para makhluk terkutuk ini? Kali ini aku serah kan semua rencana pada mu, aku bagian akhir nya. Aku selalu suka bagian itu." Ucap Resy dengan seringai tak kalah menakutkan.
"Kau tak adil kak," protes Mishy tak terima.
"Aku akan menyisakan sedikit untuk bagian mu, dan sedikit bagian untuk besan lemah lembut kita. Wanita dengan sikap keibuan yang lebih mendominasi, biasa nya akan lebih garang dari dari singa jantan jika milik nya di usik." Kedua nya kemudian tergelak dengan banyak rencana tersusun di benak masing-masing.
"Kita akan makan lagi?" Tanya Mishy saat mereka mengikuti buruan kecil yang kini terlihat sedang bergandengan tangan menuju sudut restoran.
"Aku butuh makanan sehat, ayo kita pesan beberapa makanan yang mengandung sedikit protein dan kalori. Aku ingin masa otot ku kembali seperti saat muda. Tak lucu jika lengan ku kendor dan tak mampu terayun sempurna saat kita bertarung melawan sepasang curut." Mishy tertawa kecil.
"Baiklah, ayo kita makan sepuasnya. Buat hama kecil itu menyesali perbuatannya hingga tak mampu lagi menahan rasa malu." Balas Mishy tersenyum penuh arti.
Jadilah kedua wanita paruh baya itu memulai misi baru, sebagai detektif dadakan.
"Kau harus mulai merubah sedikit penampilan mu. Celana akan membuat mu bisa menendang lebih tinggi. Percayalah padaku, kau tak perlu takut aset kesayangan Wira terlihat oleh mata sialan cucu menantu kita. Aku khawatir pria muda itu akan langsung menegang saat melihat nya." Ucap Resy frontal.
__ADS_1
Puk!
Sepotong kentang goreng mendarat di kening Resy. Membuat wanita itu semakin tertawa renyah. Namun masih dalam batasan agar tak memancing reaksi orang di sekitar mereka.
Tak lupa kamera dengan kualitas super milik Resy terus merekam adegan romantis tak jauh dari meja mereka.
Sedangkan Wira terlihat tak karuan, sang istri tak kunjung mengangkat panggilan nya. Tentu saja, ponsel wanita itu sedang dalam mode silent.
Klek
Terlihat Jordan masuk dengan wajah tak kalah muram. Kedua pria itu rupa nya memiliki janji dengan istri masing-masing untuk makan siang bersama. Namun kedua wanita itu malah sibuk menekuni profesi baru tanpa ingat akan janji tersebut.
"Jangan curhat pada ku!" Ketus Wira langsung membangun tembok pembatas.
"Apa istri mu sedang menculik istri ku lagi?" Tanya Jordan langsung. Membuat mata Wira melotot tak senang.
"Enak saja!" Sewot pria itu melempar pulpen nya ke arah Jordan.
"Ponsel istri ku tidak aktif, pasti di sengaja. Siapa sih yang menciptakan mode pesawat menyebalkan di setiap ponsel. Dasar tidak punya pekerjaan!" Ketus Jordan dengan nada sewot maksimal. Kedua pria bucin itu terlihat sedang menahan kesal di benak masing-masing. Begini lah yang terjadi jika para istri tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
Klek
Mylo masuk dengan wajah yang berbanding terbalik. Senyum merekah terlihat jelas di wajah nya. Wira mendelik iri, begitu pula Jordan. Kedua nya selalu kesal melihat ekspresi Mylo yang selalu terlihat menyebalkan menurut mereka berdua. Entah karena mereka iri atau entah lah.
__ADS_1
"Kenapa dengan wajah kalian? Padahal di luar hari sangat cerah, kenapa di dalam sini terlihat begitu mendung. Ck! Apa kau lupa bayar listrik? Ruangan mu terlihat buram tak bercahaya." Celoteh Mylo duduk di samping Jordan yang menatap nya dengan tatapan entah.
"Kenapa? Apa aku semakin tampan? Aku tau, terimakasih sudah menatap ku penuh pujian." Ujar Mylo semakin menjengkelkan.
"Ada urusan apa kau kemari? Mau pamer kebahagiaan mu lagi? Kau salah waktu dan tempat. Kami sedang tak ingin mendengar kisah romansa mu." Ujar Wira berjalan gontai menuju sofa tunggal.
"Cih! Kalian terlihat seperti para pria yang di tinggal selingkuh saja." Ucap Mylo tanpa tau jika kalimat nya menyulut bara di kepala kedua pria tersebut.
Buru-buru Wira beranjak lalu meraih kunci mobil nya, meninggalkan Mylo yang terbengong dan Jordan yang terlihat berpikir keras.
"Wira ken...." Jordan pun beranjak dan segera keluar dari sana, kini Mylo benar-benar sendirian. Pria itu terheran-heran melihat kedua ipar laknat nya meninggal kan dia yang tengah bertamu tanpa perasaan.
"Kenapa mereka tak menghargai ku sama sekali? Ck! Awas saja, akan aku adukan kalian pada kedua saudari ku." Omel Mylo kesal. Pria itu akhirnya ikut menyusul keluar meski tak tau kemana kedua pria tadi pergi.
"Padahal aku ingin mentraktir mereka makan siang di warung lalapan kang Jamal." Monolog pria itu berjalan menuju elevator. Warung kang Jamal adalah warung favorit mereka, dengan ayam kampung super di geprek dengan sambal terasi. Membuat liur Mylo hampir menetes setiap kali mengingat makanan favorit sang istri tersebut.
Sedang kan kedua wanita kesayangan para pria bucin itu terlihat baru saja keluar menuju basement mall.
Wira yang baru tiba lekas berseru layak nya pasangan yang sudah lama tak berjumpa. Sungguh membuat Mishy ingin menghilang kan diri dari sana. Tatapan aneh muda mudi membuat jiwa nya mendadak insecure.
"Sayang, astaga! Kau membuat ku hampir saja terserang stroke karena berpikir kau sedang berkencan dengan pria lain. Kenapa kau tak mengangkat panggilan ku, apa guna nya ponsel mu itu jika hanya untuk pajangan di dalam tas." Cerocos Wira membuat Mishy meringis menahan malu. Kalimat Wira seolah lupa berapa usia mereka. Bagaimana bisa sang suami berpikir hingga sejauh itu.
"Ponsel ku sedang aku silent, maaf kan aku. Ayo kita pulang." Mishy mengedipkan mata nya ke arah sang kakak yang sudah mulai akan melempar amunisi pada suami nya. Resy hanya bisa menghela nafas berat. Tak tau jika suami nya tengah kelimpungan akibat diri nya mengaktifkan airplane mode di ponsel nya.
__ADS_1
"Kenapa kau tak mengabari ku sayang, kau tau aku bisa mati karena tak mendapat kan kabar mu lebih dari setengah hari saja." Omel Wira masih berlanjut di dalam mobil.