
Teriakan seorang wanita menggema di sebuah ruangan kedap suara. Wanita itu terus berontak kala seorang dokter dan dua perawat berusaha membantu nya melakukan proses persalinan.
"Berhenti lah berontak nona, bayi mu akan kehabisan oksigen jika tidak segera di lahir kan. Air ketuban anda sudah mengering sejak satu jam yang lalu, itu sangat berbahaya. Sebagai seorang dokter kandungan, kau seharusnya mengerti akan hal ini." Ujar seorang dokter menahan kesal.
Resy terus berusaha menutup kedua kaki nya, wanita itu sengaja melakukan nya. Dia tak ingin anak itu lahir dalam keadaan hidup. Dia tau jika anak nya membawa kesialan untuk nya, bayi cacat itu tak boleh lahir.
"Dia bayi ku, terserah aku ingin dia mati atau tidak. Lebih baik kalian semua keluar dari ruang neraka ini, aku tak butuh bantuan." Teriak Resy di sela rasa sakit yang melilit diperut dan pinggang nya.
"Ck! Kau rupa nya benar-benar menguji ku Resy." Mishy menghampiri ranjang Resy lalu Menampar sang kakak bolak balik. Tamparan keras untuk orang yang sedang menahan rasa marah.
Resy berteriak histeris menahan rasa sakit yang semakin bertambah akibat tamparan kuat Mishy. Tanpa sadar telah menciptakan dorongan kuat untuk melahirkan bayi nya. Saat kedua kaki nya terbuka tanpa sengaja saat Mishy menampar nya, sang dokter berhasil meraih kepala bayi Resy.
"Rupanya anda lebih tau cara menangani pasien ketimbang diriku bu direktur.." kekeh sang dokter setelah berhasil menarik pelan bayi Resy, sebelum wanita itu sadar sepenuhnya.
Setelah bayi itu di bersihkan, Mishy menggendong nya dengan kasih sayang. Memeluk erat memberikan kehangatan pada bayi malang itu.
"Meskipun ibu mu tak menginginkan mu, aku akan merawat mu seperti aku merawat kakak mu dulu. Aku akan menjadi mommy mu sayang. Dan kau akan mendapatkan tiga orang adik nanti. Jadi cobalah untuk berbagi, oke. Jangan serakah seperti ibu mu. Wanita di sana itu, tak baik kau jadikan panutan. Dia jelmaan iblis neraka paling kejam yang pernah ada." Gumam Mishy pada bayi mungil di dekapan nya.
Berat bayi Resy hanya 1,9kg. Sangat kecil dan terlihat begitu rapuh. Mishy meletakkan bayi mungil itu ke dalam inkubator.
"Dewi, tolong siapkan susu khusus untuk nya. Rawat dia dengan baik, dan biarkan dia di sini selama beberapa hari. Aku ingin melihat, bagaimana hati nurani wanita gila itu tergerak saat melihat bayi nya tak berdaya." Dewi hanya mengangguk, semua kebutuhan sang bayi sudah mereka persiapkan.
Tau jika bobot janin Resy di bawah standar, mereka sudah menyiapkan segalanya jauh-jauh hari.
__ADS_1
Resy, wanita itu di suntik obat tidur sesaat setelah bayi nya berhasil di lahir kan meski dengan cara ekstrim. Jika tidak, wanita itu pasti akan kembali berontak.
"Berapa dosis yang kau berikan, Mila?" Tanya Mishy menatap Resy yang mulai tertidur pulas.
"Untuk satu hari penuh, aku rasa nona Resy butuh waktu untuk istirahat lebih lama." Ujar Mila cengengesan. Mishy hanya menggeleng pelan, dia berharap Resy cepat bangun, agar bisa melihat bayi nya yang tengah tertidur nyenyak seperti peri mini.
"Bsiklah, kau dan Dewi bisa bergantian menjaga Minima." Dewi dan Mila tampak cengo. Minima? Siapa yang Mishy maksud kan?
Melihat wajah-wajah yang menyebalkan di hadapan nya, Mishy menghela nafas panjang.
"Dia, bayi mungil itu. Ku beri nama Minima untuk sementara, sampai ibu nya tersentuh untuk memberinya perhatian meski hanya sekedar nama. Kalian bisa memanggil nya Mima saja, agar dia tak insecure mendengar panggilan kalian padanya." Dewi dan Mila tersenyum kaku, sang direktur ada-ada saja. Namun nama panggilan nya cukup bagus menurut mereka.
"Baik budrek.." sahut ke-dua nya bersamaan.
"Bisa kah kalian mengganti nama panggilan untuk ku? Terdengar seperti merk obat sakit bahu di telinga ku." Protes Mishy tak duka.
"Ya ya..itu yang ku maksud." Balas Mishy sekenanya.
πΉπ·πΉπ·πΉπ·πΉ
Dua minggu semenjak bayi nya di lahir kan, tidak ada yang berubah dari sikap Resy. Wanita itu tetap tak peduli pada bayi nya. Mishy tersenyum miris di kursi nya, menatap laptop yang memperlihatkan bagaimana wanita itu terus mengabaikan suara tangisan anak nya sejak tadi.
Kedua tangan Resy sudah tak di ikat lagi, hanya kedua kaki nya saja yang masih di rantai. Terlihat kejam memang, namun itu di lakukan untuk berjaga-jaga, jika saja Resy nekat menyakiti anak nya jika jangkauan di biarkan bebas.
__ADS_1
Rantai itu sepanjang 2 setengah meter, agar Resy bebas bolak balik ke toilet. Ranjang nya sengaja di buat dekat dengan dinding toilet, agar jangkauan rantai nya tidak terlalu kejauhan.
Dan inkubator bayi nya, berjarak 3 setengah meter dari jangkauan nya. Tidak ada benda yang di biarkan di dalam ruangan itu, meski hanya sekedar piring atau gelas air minum. Resy makan dengan di jaga ketat oleh seorang perawat laki-laki. Makan di jaga atau tidak di beri makan sama sekali. Resy memilih opsi yang pertama, dia bertekad memulihkan kondisi tubuh nya agar bisa kabur dari sana.
"Apa dia tuli, tangisan sekencang itu tak mampu menggugah hati nurani nya. Kau benar-benar keterlaluan kak." Geram Mishy tak habis pikir. Wanita hamil itu bergegas menuju ruang rahasia di balik rak buku di belakang meja kerja nya.
Ada dua pintu penghubung ke ruangan Resy, Mishy sudah merancang nya sedemikian rupa. Dengan tembok dilapisi baja, tentu tak akan mudah untuk kabur dari sana. Itupun jika Resy memiliki ilmu sihir.
Klek
Setelah membuka kode kombinasi pintu ruangan Resy, Mishy masuk dengan wajah tak bersahabat.
"Apa kau tuli, putri mu menangis sekeras ini dan kau mengabaikan nya begitu saja?" Sarkas Mishy jengkel. Resy melengos menatap langit-langit kamar nya. Wanita itu berbaring terlentang sambil menyilang kan kaki nya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Aku berharap dia mati saja, kenapa tidak kau antar saja dia ke panti asuhan. Mungkin saja ada pasangan putus asa yang tak kunjung di berikan anak, lalu memilih nya. Lumayan untuk di jadikan pelayan gratis saat besar nanti, anak cacat itu hanya akan merusak garis keturunan ku saja. Lihat Miguel, dia anak yang sempurna. Itu baru keturunan ku." Ucap Resy bangga, sungguh wanita tak tau malu. Anak yang nyaris mati di tenggelam kan di dasar danau karena ulahnya, kini dia anggap sebagai anaknya yang sempurna.
"Urat malu mu sudah putus rupa nya, entah karena terlalu banyak bercinta dengan para pria bajingan. Sehingga tak menyisakan sedikit saja rasa malu di dalam dirimu. Kau benar-benar dalam tahap yang paling kritis rasa malu. Oh ya, sekedar informasi. Karena kau terus mengabaikan putri mu, hari ini aku memutuskan untuk membawa nya keluar dari sini. Aku harap kau tak terlalu kesepian, karena tak lagi mendengar suara tangisan nya. Pernah dengar pepatah mengatakan, jika sudah tiada, baru terasa. Aku harap kau tak masuk dalam kategori itu. Rasanya sangat tak enak, jika kau sampai mengalami nya." Mishy tertawa pelan sembari menatap wanita yang bahkan tak Sudi menoleh pada Putri nya sendiri.
...****************...
...----------------...
...7 Bab guys π±π± kuy dukungan nya ya, biar makin crazy, eh makin semangat crazy up nyaπ€ππ€£π€£...
__ADS_1
...Semoga bisa menghibur kalian semua, hari ini update nya lebih banyak tentang Mishy si wanita setangguh karangπͺπͺ...
...Luv yuu kalian semua, semoga sehat selalu π€π₯°π€ππ...